AKU tidak mampu berbuat apa-apa. Setiap saat aku memikirkan nasibku dan kondisi keluargaku. Aku bingung. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, tapi aku akan berusaha. Akan aku usahakan semampuku.
Sebut saja namaku Dio. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Aku tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis. Ya, sekarang aku paham apa penyebab sebuah keluarga tidak harmonis.
Orang tuaku tidak cukup uang untuk terus membiayai kebutuhan hidup kami. Kakakku, Afan, tidak bekerja. Kalian boleh menyebut ia sebagai beban keluarga. Ya, karena memang begitu adanya.
Adikku yang paling bungsu, Rei, seorang anak perempuan yang cukup rajin. Sepertinya orangtuaku juga berharap lebih kepada dia ketimbang aku. Apa boleh buat, aku memang kurang meyakinkan, saat ini pula aku masih menganggur, walaupun ijazah S1 sudah kudapatkan.
***
Malam itu aku tak sempat menoleh jam di dinding rumahku yang berjamur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh di belakang rumahku. Benar saja, apa yang aku takutkan. Banjir bandang menerjang pemukiman kami di bantaran sungai.
Seketika itu aku bergegas memanggil seluruh anggota keluargaku di bilik sebelah. Untunglah mereka masih bersamaku. Kami bergegas menuju tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. Dalam situasi seperti itu aku sempat berpikir untuk kembali ke rumah, karena banyak parabotan yang perlu diselamatkan, walaupun rata-rata harganya murah tapi sangat berarti bagi keluarga kami.
Keringat kami telah bercampur dengan guyuran air hujan ketika kami sampai di sebuah balai banjar. Tempat itu aman, tak kena banjir. Tampaknya balai itu akan menjadi rumah kami sementara, setidaknya untuk malam ini.
Dadaku bergetar, saat itu aku tak melihat Bapak, padahal dari tadi kami bersama-sama menuju ke tempat ini.
“Bu, Bapak ke mana?” tanyaku pada Ibu dengan nada sedikit meninggi. Aku panik.
“Bapak balik ke rumah, Nak. Kata Bapak, dia mau ambil prabotan. Siapa tahu ada yang bisa dibawa,” sahut Ibu yang tampak berusaha tenang. Tapi sorot matanya menyiratkan rasa khawatir.
“Apa, Bapak balik ke rumah?” sahutku tambah panik, mengingat banjir sekarang aku rasa lebih tinggi dari sebelumnya. Tadi saja sudah sepinggang lebih orang dewasa.
Aku sempat berpikir untuk menyusul Bapak ke rumah, tapi aku dicegah oleh Afan.
“Dio, tenanglah! Banjir seperti ini sudah sering terjadi, jangan terlalu khawatir dengan Bapak!”
Kakak mencoba menenangkanku. Tapi aku heran, kenapa Kakak sesantai itu dalam situasi seperti ini. Bukan hanya Kakak, seluruh angota keluargaku tampak biasa-biasa saja. Mungkin saja aku terlalu berlebihan memikirkannya.
Berselang beberapa menit, Bapak datang. Dengan napas terengah-engah karena harus berjalan menerobos banjir. Bapak berhasil menyelamatkan sebuah kompor gas. Ia panggul kompor itu di pundaknya. Bukan kompor yang berhasil dibawanya yang membuatku lega, tetapi melihat Bapak kembali.
Tenyata kami mengunggsi di balai tersebut lebih dari dua hari. Ini di luar perkiraanku. Banjir baru benar-benar surut pada hari ketiga. Setibanya di rumah kami bergegas membersihan rumah dari tumpukan lumpur. Hampir setiap musim kami melakukan kegiatan ini.
Bantuan sembako, selimut, pakaian layak pakai dan obat-obatan seakan datangnya sudah terjadwal untuk kami para warga bantaran sungai. Ya, apa boleh buat, di dalam benak kami sangat ingin pindah, tapi uang kami tidak pernah cukup. Kami hanya berusaha terus bersyukur, masih untung kami tidak digusur.
Kalaupun nanti kami digusur, kami akan melawannya, karena kami tidak punya pilihan. Di dalam hati yang terdalam, kami sadar, kami mendirikan rumah pada tempat yang tidak seharusnya. Entah siapa yang punya tanah, kami pun tidak benar-benar tahu.
***
Musim penghujan nampaknya telah berakhir, kami beraktivitas seperti biasa. Kami membayar iuran bulanan. Katanya iuran tersebut adalah uang retribusi bangunan. Kami bayarkan saja, yang terpenting kami tetap bisa tinggal di rumah ini.
Warga sekitar rumahku juga memiliki nasib yang sama. Sama-sama mendirikan bangunan ilegal. Aku menyebutnya ilegal, walaupun beberapa tetanggaku mengklaim dirinya sudah memiliki sertifikat hak milik tanah dan bangunan. Entah bagaimana ceritanya bantaran sungai bisa dibuatkan sertifikat, yang jelas-jelas tiang pondasi rumah kami pun setengahnya berada pada badan sungai.
Tapi aku sempat mendengar obrolan tetanggaku. Mereka dapat memiliki sertifikat karena tahu orang dalam, dan dengan membayar beberapa juta, sertifikat sudah bisa dimiliki. Bapak sempat ditawari mengurus sertifikat oleh salah seorang tetanggaku. Kalian mungkin bisa menebak reaksi Bapak, ia sangat antusias. Tetapi Bapak tidak pernah benar-benar mengurusnya sampai selesai, karena memang uangnya tidak sampai ke sana. Uang kami selalu habis untuk kebutuhan pokok.
Sebenarnya aku sudah sangat muak dengan keadaan seperti ini, tapi hidupku bagaikan diperkosa keadaan, senang tidak senang aku harus tetap menikmati. Harapan dan kenyataan tidak selalu berjalan beriringan.
Jika diingat-ingat kami seharusnya dapat hidup berkecukupan, andai saja tanah dan kebun yang diwariskan oleh mendiang Kakek tidak habis dijual oleh Bapak. Untungnya ada Ibu yang berusaha sabar dengan keadaan seperti ini.
Aku mendengar cerita dari teman-teman Bapak di warung depan ketika aku membeli segelas minuman ringan. Kata mereka, Bapak bertemu dengan Ibu di sebuah warung tuak di desa sebelah. Entahlah, benar ataupun tidak aku juga tidak pernah menanyakannya secara langsung kepada Bapak dan Ibu. Itu urusan mereka.
Suatu malam, tepatnya jam berapa aku tak tahu. Aku sempat mendengar bapak dan ibu bertengkar hebat. Mereka saling menyalahkan, bahkan mereka saling menghujat dengan kata-kata yang kurang pantas. Aku juga mendengar beberapa kalimat dari Bapak.
“Kamu masih untung, aku mau menikah dengan wanita penghibur sepertimu!” Bapak membentak dengan nada yang cukup keras.
Balasan Ibu juga tak mau kalah dengan Bapak.
“Laki-laki tidak tahu diuntung, sudah kere masih banyak tingkah. Jika aku tidak sayang dengan kalian semua, terutama anak-anak, aku sudah menikah dengan laki-laki lain!”
Sesaat kemudian Ibu terdiam setelah aku mendengar suara hantaman keras di pintu kamar. Sepertinya pintu itu dihantam oleh Bapak. Kemudian aku mendengar suara Ibu menangis, disusul suara motor Bapak yang kerasnya terdengar seperti bentakan Bapak.
Bapak keluar, entah ke mana. Tapi biasanya kalau sudah seperti itu, datang-datang Bapak selalu teler. Ya, Bapak mabuk, aku sampai hapal dengan kebiasaannya.
Perlahan aku membuka pintu kamar, langkah kakiku gemetar karena mendengar pertengkaran mereka barusan. Di sana, Rei sudah memeluk Ibu. Aku menatapnya.
“Ibu, Ibu tidak apa-apa?” tanyaku singkat saja.
Ibu hanya mengangguk di pundak Rei. Air matanya mengalir membasahi baju merah yang dipakai Rei. Rei menenangkan ibu sampai akhirnya air matanya tidak mengalir lagi, tapi matanya sudah terlanjur sembap karena terlalu lama menangis.
Oh ya, saat pertengkaran itu, kami semua berada di rumah. Cuma Afan tampaknya sangat asik dengan gadgetnya bermain game. Sudahlah aku juga tidak peduli. Seketika terbersit dalam pikirannku, tentang apa yang dibicarakan orang-orang di warung depan tadi. Begitu cepat ditunjukkan kepadaku jawabannya. Aku tidak perlu menanyakanya lagi dengan Bapak atau Ibu, mereka sudah menjawabnya.
***
Saat ini aku sedang berada di sebuah toko pakaian. Aku sudah bekerja. Sekarang aku tidak peduli dengan ijazah yang aku miliki. Sebelumnya aku berusaha idealis, dengan melamar pekerjaan sesuai dengan jurusan kuliahku. Tapi apa daya, surat lamaranku tidak pernah dibalas. Silakan saja kalian menilaiku, apakah aku masih kurang keras berjuang. Mungkin ratusan lamaran sudah kubuat. Tapi aku selalu kalah dengan mereka yang katanya punya orang dalam. Sangat susah, begitulah kenyataanya.
Aku sudah bisa sedikit membantu keperluan di rumah. Aku sempat membeli beras, walaupun dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Lumayan menurutku. Sisa uangku mungkin hanya cukup untuk bensin pulang dan pergi bekerja. Berangkat kerja mencari uang, uangku juga habis untuk berangkat kerja.
Miris nasibku, tapi lebih sakit lagi ketika mendengar tetanggaku membicarakan diriku yang lulusan sarjana tapi tidak bekerja. Intinya pekerjaanku ini bisa dibilang pelarian, agar pergi dari rumah saja. Untungnya sekarang aku tidak menjadi beban keluarga lagi.
***
Bulan November telah tiba, awan hitam belum tampak. Tahun ini sepertinya hujan terlambat turun. Biasanya pada bulan September akhir atau Oktober awal, hujan sudah turun di wilahyahku. Tidak turun hujan, seperti anugerah bagiku dan keluargaku, mungkin warga di sekitarku juga. Aku bisa tenang dan tidak perlu menguras tenaga membersihkan rumah pascabanjir musiman, seperti sebelum-sebelumnya. Aku juga bisa tetap bekerja, tidak terpaksa cuti karena menjadi warga yang terdampak banjir.
Cuaca hari itu cukup cerah hanya terlihat beberapa awan mendung di utara. Aku bekerja seperti biasa. Adik, Bapak dan Kakak, mereka semua di rumah. Mereka membantu Ibu membungkus keripik singkong dan talas.
Sekarang Ibu telah memiliki langganan di warung-warung sekitar. Awalnya Ibu hanya iseng-iseng saja menawarkan, karena kebetulan saat itu menggoreng cukup banyak. Kebetulan pemilik warung di depan adalah tetangga sebelah rumahku, ia sempat mencicipi dan katanya kripik buatan Ibu enak.
Dari situlah awalnya, sampai sekarang Ibu sudah memiliki kurang lebih delapan warung langganan. Hasil jualan keripik ini sangat membantu perekenomian keluargaku.
Suasana rumah kami perlahan membaik, karena sekarang semua sibuk bekerja. Jarang aku mendengar Bapak dan Ibu bertengkar. Rei, adik bungsuku tambah rajin. Afan juga sudah lebih baik. Tidak selalu jari-jarinya sibuk dengan game yang ia mainkan. Aku sangat bersyukur dengan perubahan yang terjadi pada keluargaku ini.
***
Aku tidak mengingatnya dengan jelas, saat tersadar bajuku basah, dadaku sesak, aku tidak bisa bernapas dengan baik. Beberapa saat kemudian aku hampir tidak sadarkan diri kembali. Beruntung bagiku ketika itu ada petugas medis yang dengan sigap menempelkan bantuan oksigen pada wajahku.
Perlahan aku dapat bernapas dengan baik. Tapi tubuhku begitu lemah, menggerakkan tanganku saja rasanya begitu berat. Sesekali aku mendengar beberapa orang berbicara di sekitarku, tapi aku tidak mendengarnya dengan jelas.
***
Sepertinya saat di perjalanan aku tertidur, begitu tersadar aku melihat tanganku sudah terpasang selang infus. Seketika itu juga aku teringat dengan Ibu, Bapak, Rei dan Afan. Aku menangis dengan kencang di ruangan itu, sampai-sampai pasien yang berapa di sampingku pun ikut terbangun mendengar tangisanku. Mungkin tangisanku terdengar sampai ke luar ruangan, hingga salah satu perawat menghampiriku dan menanyakan kondisiku.
“Selamat sore, Adik. Bagaimana keadaannya? Adik yang tenang ya, nanti saya jelaskan perlahan!” Begitulah perawat itu berbicara kepadaku. Di dalam hatiku aku ingin bertanya kepada perawat itu, tapi suaraku tidak dapat terucap, hanya tangisku saja yang terdengar.
“Adik, Adik tenang, ya. Silahkan tarik napas perlahan, tenangkan diri!” Kembali perawat wanita itu mencoba menenangkanku. Sembari ia mendekatkan air minum dengan pipetnya mendekat ke mulutku. Aku minum dengan perlahan. Sampai akhirnya aku merasa sedikit lebih tenang. Kemudian aku bertanya kepada perawat itu.
“Suster, saya kenapa?” Begitu tanyaku singkat dengan suara berat dan pelan.
“Adik, tenang, ya! Adik sekarang berada di rumah sakit, adik sedang dirawat. Sekali lagi, Adik tenang, agar kondisi Adik tidak memburuk. Saya sampaikan, Adik adalah korban banjir bandang di bantaran Sungai Ayung yang terjadi seketika pada dini hari kemarin. Untung adik masih selamat ditemukan tersangkut pada tiang jembatan. Warga dan petugas yang melihat Adik bergegas membantu mengevakuasi Adik!” Begitu penjelasan perawat tersebut kepadaku.
Seketika itu isak tangisku semakin menjadi. tetapi aku sempatkan bertanya bagaimana nasib anggota keluargaku yang lain.
“Ibu saya, Adik, Kakak dan Bapak bagaimana nasibnya, Bu Suster?’ tanyaku dengan diiringi tangisan.
“Adik, saat ini petugas dan relawan masih berusaha mengevakuasi warga yang terdampak banjir bandang. Kita berdoa saja, mudah-mudahan keluarga Adik dapat ditemukan dengan selamat!”
Penjelasan perawat tersebut tidak dapat menenangkan hatiku. Aku menagis terus-menerus, sampai akhirnya tanganku disuntikkan sesuatu, mungkin obat penenang. Semenit kemudian aku menjadi sangat mengantuk.
Begitu berat rasanya membuka mata. Efek obat biusnya masih terasa. Setelah mendengar penjelasan perawat kemarin, aku berusaha menenangkan diri. tapi jujur saja aku tetap sesekali menagis, karena aku belum mengetahui bagaimana nasih keluargaku.
Sekitar dua hari kemudian aku sudah dinyatakan sehat secara fisik. Bergegas aku mencari keluargaku yang lain. Aku selalu menanyakan mereka kepada petugas yang berada di posko bencana. Setiap hari aku berada di sana, hanya untuk menunggu kabar mereka.
Saat itu hari sudah menjelang malam, aku mendengar berita bahwa telah ditemukan beberapa korban. Aku selalu berharap itu bukan keluargaku. Tapi setelah diumumkan nama-nama korban bencana tersebut. Korban berjumah 19 orang dan terbanyak merupakan warga penghuni bantaran Sungai Ayung.
Dunia seakan runtuh, kakiku lemas, air mataku mengalir seketika tak terbendung, dadaku sesak. Petugas dan relawan memintaku untuk memastikan, apakah benar mereka semua keluargaku. Dengan sekuat tanaga, aku melihat Ibu, Bapak, Rei dan Afan terbujur kaku. Seketika itu aku sudah tak ingin hidup lagi. [T]
Penulis: I Made Buda Antara
Editor: Adnyana Ole



























