24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Simpang Jumpa di Terminal Ubung

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 7, 2025
in Esai
Simpang Jumpa di Terminal Ubung

Terminal Ubung | Foto: Arief Rahzen

​DI awal Oktober 2025, matahari Bali tak benar-benar ramah di atas aspal. Panasnya menyengat kaca-kaca kios, memantul di badan-badan bus yang lelah. Di Terminal Ubung, panas itu menjadi bagian dari udara. Bercampur dengan aroma solar, keringat, dan rokok kretek yang tak pernah padam. Inilah Ubung, sebuah titik lebur. Terminal di mana perjalanan dimulai, berakhir, atau sekadar singgah untuk mengambil napas.

​Terminal ini organisme yang hidup. Denyut nadinya dari deru mesin bus dan motor. Darahnya dari arus manusia yang tak henti mengalir. Di sini, Bali menanggalkan sejenak wajah pariwisatanya yang memesona. Wajah Ubung lebih jujur, sedikit bopeng, namun penuh cerita. Terminal ini jadi panggung bagi perjumpaan singkat yang tak direncanakan.

​Lihatlah rombongan penumpang yang baru turun dari bus Surabaya. Wajah-wajah lelah setelah semalaman di jalan. Bicara mereka kental dengan logat Jawa Timur-an. Tawa mereka lepas, meski punggung digantungi ransel besar dan tangan menenteng kardus oleh-oleh. Mereka migran nusantara. Mereka bukan pencari pantai dan pura yang sunyi. Merekalah pencari kerja, penyambung keluarga, atau sekadar peziarah di tanah rantau. Bali bagi mereka bukan liburan, melainkan harapan. Mencari Bali Dream.

​Lalu ada warga Bali. Seorang ibu berkebaya putih hendak pulang ke desa di utara. Seorang bapak dengan pakaian adat sederhana, baru saja kembali dari Odalan di Badung. Bahasa Bali mereka halus, mengalir seperti air di antara riuh bahasa Indonesia dengan berbagai dialek. Mereka bergerak dengan tempo yang berbeda. Lebih tenang, lebih mafhum dengan ritme terminal yang sibuk. Bagi mereka, Ubung adalah bagian dari rutinitas, sebuah gerbang yang harus dilalui.

​Di antara arus manusia itu, berdirilah para penghuni tetap terminal. Pedagang yang gesit. “Aqua! Aqua! Kopi!” Suara mereka serak, terlatih oleh ribuan penawaran setiap hari. Wajah mereka terpanggang matahari. Mereka menawarkan kelegaan sederhana. Sebotol air dingin di tengah hari yang terik. Sebungkus rokok untuk membunuh waktu tunggu. Interaksi mereka dengan penumpang merupakan tarian singkat. Tawar-menawar cepat, pertukaran uang dan barang, lalu masing-masing kembali ke jalurnya.

​Kemudian, ada para ojek pangkalan. Mereka duduk bergerombol di bawah pohon atau di emperan jalan. Mata mereka awas, memindai setiap wajah baru yang turun dari bus. “Ojek? Ke mana? Canggu? Sanur?” Tawaran mereka jadi campuran antara keramahan dan desakan. Merekalah pemandu pertama bagi para pelancong yang bingung. Negosiasi dengan mereka jadi pelajaran pertama tentang ekonomi jalanan Bali. Harga bisa melambung dan menukik dalam hitungan detik. Tergantung raut wajahmu, caramu berbicara, dan seberapa bingung kau terlihat.

​Di sinilah simfoni bahasa tercipta. Seorang pemuda dari Lombok dengan logat khas Sasak bertanya arah pada seorang sopir dari Banyuwangi. Obrolan mereka diselingi tawa, meski beberapa kata mungkin tak sepenuhnya dipahami. Seorang turis bule dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata menanyakan tiket, dibantu oleh seorang mahasiswa Klungkung yang kebetulan lewat. Tidak ada sekat yang kaku. Kebutuhan untuk berkomunikasi meruntuhkan dinding etnis dan bahasa. Semua menjadi setara oleh tujuan yang sama: melanjutkan perjalanan.

​Di Ubung, waktu terasa melar. Ruang tunggu raksasa. Satu jam bisa terasa seperti sepuluh menit ketika kau asyik mengobrol dengan sesama penumpang. Atau terasa lama sekali, ketika bus Trans Metro Dewata yang ditunggu tak jua tiba. Di jeda-jeda inilah kehidupan terminal benar-benar terlihat. Seorang bapak membuka bekal nasi bungkusnya, membaginya dengan teman seperjalanan yang baru ia kenal. Anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki, tawa mereka menjadi musik latar yang kontras dengan wajah-wajah letih orang dewasa.

​Ada semacam solidaritas tak terucap di sini. Solidaritas para musafir. Semua orang tahu rasanya rindu rumah. Semua orang paham lelahnya duduk berjam-jam di dalam bus. Maka, sebatang rokok yang ditawarkan, atau seulas senyum tulus, menjadi isyarat kecil yang bermakna besar. Kita semua sama di hadapan jalanan yang panjang.

​Ketika senja tiba, warna terminal berubah. Cahaya matahari melembut. Lampu-lampu neon mulai menyala, memberi wajah baru pada kios-kios sekitar terminal. Aktivitas tidak surut, hanya berganti rupa. Bus-bus malam mulai bersiap. Calon penumpang gelombang berikutnya mulai berdatangan. Ubung tidak pernah benar-benar tidur. Ubung hanya meredup sejenak, mengumpulkan tenaga untuk menyambut fajar dan ribuan cerita baru yang akan tiba esok hari.

​Ubung ialah kepingan kecil dari potret Bali. Di sini ada mozaik yang bising, percakapan ringkas, namun penuh daya hidup. Terminal ini menjadi bukti bahwa di tengah segala perbedaan, kita semua adalah para pelancong dalam sebuah perjalanan besar. Dan terkadang, di sebuah terminal yang panas dan riuh, kita menemukan secuil kemanusiaan. {T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN

Mengakrabi Bali via Jalanan
Gerak-gerik Budaya Bali
Tags: denpasarterminalTerminal Ubungtransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Zarra Apsara Keluar dari Zona Nyaman Lewat “Haunted House Party”

Next Post

“Sanurian Fishing Tournament 2025”: Sebanyak 363 Orang Memancing dari Atas Jukung di Laut Sanur

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
“Sanurian Fishing Tournament 2025”: Sebanyak 363 Orang Memancing dari Atas Jukung di Laut Sanur

“Sanurian Fishing Tournament 2025”: Sebanyak 363 Orang Memancing dari Atas Jukung di Laut Sanur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co