23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 6, 2025
in Esai
Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Sumber Foto: Kolase dari penulis

BUKU “Kelemahan dan Kekuatan Manusia Bali (Sebuah Otokritik)” karya Made Kembar Kerepun, yang disunting oleh Jiwa Atmaja, adalah sebuah karya yang unik sekaligus berani. Jarang sekali kita menemukan sebuah buku yang menyoroti watak kolektif suatu masyarakat dengan jujur, bahkan cenderung telanjang, tanpa basa-basi. Buku ini tidak ditulis untuk meninabobokan orang Bali dengan pujian atau romantisasi budaya, melainkan sebaliknya: menjadi cermin yang kadang membuat kita tidak nyaman saat menatapnya.

Di awal buku, penulis menggarisbawahi bahwa salah satu kelemahan paling mencolok dari orang Bali adalah enggan menerima kritik dan kurangnya tradisi otokritik. Orang Bali lebih suka menerima pujian, tetapi cepat tersinggung ketika kelemahan dirinya disorot. Sikap mental seperti ini, menurut Kerepun, berimplikasi panjang: masalah-masalah mendasar dalam kehidupan masyarakat seringkali dibiarkan berlarut-larut, tidak pernah diselesaikan secara tuntas, hanya ditutup dengan seremonial atau euforia sesaat.

Buku ini lalu memetakan kelebihan sekaligus kelemahan watak orang Bali, disertai pelajaran dari sejarah bangsa lain. Misalnya, ada bab khusus tentang “Pariwisata Bali Belajar dari Keterpurukan Etnis Hawaii”. Di sana, penulis menekankan bahwa orang Bali seharusnya bercermin dari pengalaman Hawaii, yang pernah kehilangan kendali atas tanah, budaya, dan identitasnya karena serbuan pariwisata dan kapitalisme global. Peringatan ini terasa relevan sekali bila kita bandingkan dengan situasi Bali hari ini: tanah sawah dan tegalan dijual menjadi vila, pura-pura di sekitar destinasi wisata terdesak oleh kepentingan ekonomi, dan krisis lingkungan semakin nyata.

Salah satu kekuatan orang Bali, menurut buku ini, adalah kemampuan menjaga harmoni sosial melalui adat, agama, dan budaya. Sistem banjar, desa adat, dan tradisi gotong royong adalah modal sosial yang luar biasa. Namun, di sisi lain, kekuatan ini bisa berubah menjadi kelemahan ketika solidaritas lebih dipakai untuk menutup mata terhadap penyimpangan, atau ketika adat justru dijadikan alat legitimasi kekuasaan. Pertanyaan reflektif pun muncul: apakah struktur adat Bali saat ini benar-benar menjadi pelindung masyarakat, atau justru perlahan dikooptasi oleh kepentingan politik dan ekonomi?

Dalam bab-bab lain, Kerepun juga menyinggung mentalitas ketergantungan dan kecenderungan untuk cepat puas. Orang Bali sering merasa sudah cukup hebat karena pariwisatanya mendunia, karena budayanya dipuji, dan karena Bali menjadi ikon global. Tetapi mentalitas puas diri ini berbahaya. Bali kini menghadapi tantangan serius: kemacetan parah, sampah menumpuk, air tanah menyusut, dan krisis lingkungan yang kian meruncing. Bila masyarakat hanya terbuai dengan pujian tanpa berani mengakui kelemahan diri, bukan tidak mungkin Bali akan mengalami “keterpurukan etnis” sebagaimana pernah terjadi di Hawaii.

Buku ini menekankan pentingnya introspeksi kolektif. Orang Bali, bila ingin tetap bertahan dalam pusaran globalisasi, harus berani melakukan otokritik. Misalnya, dalam dunia pendidikan, apakah generasi muda Bali masih dibekali dengan kekuatan moral dan kearifan lokal, atau justru dibiarkan larut dalam budaya instan dan pragmatis? Dalam dunia pariwisata, apakah Bali berani menata ulang model pembangunan agar lebih berkelanjutan, atau tetap mengejar angka kunjungan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan?

Refleksi ini semakin relevan bila dikaitkan dengan kondisi Bali pasca banjir besar September lalu yang menelan korban jiwa dan merusak infrastruktur serta rumah-rumah warga. Bencana itu menyadarkan kita bahwa persoalan Bali bukan hanya soal pariwisata dan budaya, tetapi juga kerentanan ekologis. Alih fungsi lahan, pembangunan yang tidak terkendali, serta abainya pemerintah dan masyarakat terhadap tata ruang membuat Bali semakin rentan terhadap bencana alam. Apa yang diingatkan Kerepun dalam bukunya—tentang kelemahan orang Bali yang sering enggan mengkritisi diri dan hanya menyelesaikan masalah secara seremonial—terbukti masih terjadi. Setelah banjir reda, kita kembali larut dalam rutinitas tanpa ada upaya serius membenahi akar masalah.

Buku Kerepun juga menyinggung soal kepemimpinan. Ia menyoroti kelemahan para pemimpin Bali dari zaman kerajaan hingga era modern. Kritik ini sangat tajam, sebab kepemimpinan di Bali kadang lebih sibuk dengan simbol-simbol budaya ketimbang mencari solusi substantif. Kita bisa melihat kenyataan hari ini: dikotomi dresta versus sampradaya yang memecah belah, pembangunan besar-besaran yang mengorbankan lahan produktif, atau konflik antara adat dan investor yang sering tidak jelas penyelesaiannya. Semua itu adalah cermin dari kelemahan kepemimpinan, yang seharusnya belajar dari otokritik seperti dalam buku ini.

Namun, otokritik bukan berarti pesimisme. Buku ini juga menyajikan harapan: bila orang Bali mau mengakui kelemahan dirinya, lalu mengelolanya dengan kesadaran kritis, maka kekuatan budayanya dapat menjadi modal luar biasa. Bali bisa menjadi model dunia tentang harmoni antara tradisi dan modernitas, antara spiritualitas dan pembangunan. Modal dasar seperti Tri Hita Karana, gotong royong, dan kesenian yang mendidik seharusnya tidak hanya dijadikan jargon, melainkan benar-benar dihidupkan dalam kebijakan publik.

Membaca buku ini di tengah kondisi Bali yang penuh paradoks—antara budaya agung dan krisis ekologis, antara pariwisata kelas dunia dan bencana banjir yang menelan korban jiwa—membuat kita tersadar bahwa introspeksi adalah jalan satu-satunya. Bali tidak boleh hanya menari di panggung global sambil meratap di halaman rumah sendiri.

Kerepun seakan mengajak kita semua, baik orang Bali maupun mereka yang mencintai Bali, untuk jujur melihat kenyataan: memuji keindahan sah-sah saja, tetapi keberanian mengakui kelemahan jauh lebih penting demi masa depan.

Buku “Kelemahan dan Kekuatan Manusia Bali” layak disebut sebagai salah satu karya reflektif paling penting tentang Bali modern. Ia bukan buku akademis kaku, melainkan otokritik yang mengajak pembacanya bercermin. Bagi generasi muda Bali, buku ini adalah peringatan agar tidak larut dalam euforia budaya yang dipuji dunia, melainkan berani mengoreksi diri dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Dan bagi kita yang mencintai Bali, buku ini mengingatkan: Bali bukan hanya destinasi wisata, melainkan tanah air dengan manusia, budaya, dan alam yang perlu dijaga dengan kesadaran kritis. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK
Tags: Bukubuku baliManusia Baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peluncuran Buku Puisi Film Kebangkitan: Puisi Menyapa Film, Film Menyapa Puisi

Next Post

Manusia Bali Membunuh Bali?

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Manusia Bali Membunuh Bali?

Manusia Bali Membunuh Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co