24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 6, 2025
in Esai
Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Sumber Foto: Kolase dari penulis

BUKU “Kelemahan dan Kekuatan Manusia Bali (Sebuah Otokritik)” karya Made Kembar Kerepun, yang disunting oleh Jiwa Atmaja, adalah sebuah karya yang unik sekaligus berani. Jarang sekali kita menemukan sebuah buku yang menyoroti watak kolektif suatu masyarakat dengan jujur, bahkan cenderung telanjang, tanpa basa-basi. Buku ini tidak ditulis untuk meninabobokan orang Bali dengan pujian atau romantisasi budaya, melainkan sebaliknya: menjadi cermin yang kadang membuat kita tidak nyaman saat menatapnya.

Di awal buku, penulis menggarisbawahi bahwa salah satu kelemahan paling mencolok dari orang Bali adalah enggan menerima kritik dan kurangnya tradisi otokritik. Orang Bali lebih suka menerima pujian, tetapi cepat tersinggung ketika kelemahan dirinya disorot. Sikap mental seperti ini, menurut Kerepun, berimplikasi panjang: masalah-masalah mendasar dalam kehidupan masyarakat seringkali dibiarkan berlarut-larut, tidak pernah diselesaikan secara tuntas, hanya ditutup dengan seremonial atau euforia sesaat.

Buku ini lalu memetakan kelebihan sekaligus kelemahan watak orang Bali, disertai pelajaran dari sejarah bangsa lain. Misalnya, ada bab khusus tentang “Pariwisata Bali Belajar dari Keterpurukan Etnis Hawaii”. Di sana, penulis menekankan bahwa orang Bali seharusnya bercermin dari pengalaman Hawaii, yang pernah kehilangan kendali atas tanah, budaya, dan identitasnya karena serbuan pariwisata dan kapitalisme global. Peringatan ini terasa relevan sekali bila kita bandingkan dengan situasi Bali hari ini: tanah sawah dan tegalan dijual menjadi vila, pura-pura di sekitar destinasi wisata terdesak oleh kepentingan ekonomi, dan krisis lingkungan semakin nyata.

Salah satu kekuatan orang Bali, menurut buku ini, adalah kemampuan menjaga harmoni sosial melalui adat, agama, dan budaya. Sistem banjar, desa adat, dan tradisi gotong royong adalah modal sosial yang luar biasa. Namun, di sisi lain, kekuatan ini bisa berubah menjadi kelemahan ketika solidaritas lebih dipakai untuk menutup mata terhadap penyimpangan, atau ketika adat justru dijadikan alat legitimasi kekuasaan. Pertanyaan reflektif pun muncul: apakah struktur adat Bali saat ini benar-benar menjadi pelindung masyarakat, atau justru perlahan dikooptasi oleh kepentingan politik dan ekonomi?

Dalam bab-bab lain, Kerepun juga menyinggung mentalitas ketergantungan dan kecenderungan untuk cepat puas. Orang Bali sering merasa sudah cukup hebat karena pariwisatanya mendunia, karena budayanya dipuji, dan karena Bali menjadi ikon global. Tetapi mentalitas puas diri ini berbahaya. Bali kini menghadapi tantangan serius: kemacetan parah, sampah menumpuk, air tanah menyusut, dan krisis lingkungan yang kian meruncing. Bila masyarakat hanya terbuai dengan pujian tanpa berani mengakui kelemahan diri, bukan tidak mungkin Bali akan mengalami “keterpurukan etnis” sebagaimana pernah terjadi di Hawaii.

Buku ini menekankan pentingnya introspeksi kolektif. Orang Bali, bila ingin tetap bertahan dalam pusaran globalisasi, harus berani melakukan otokritik. Misalnya, dalam dunia pendidikan, apakah generasi muda Bali masih dibekali dengan kekuatan moral dan kearifan lokal, atau justru dibiarkan larut dalam budaya instan dan pragmatis? Dalam dunia pariwisata, apakah Bali berani menata ulang model pembangunan agar lebih berkelanjutan, atau tetap mengejar angka kunjungan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan?

Refleksi ini semakin relevan bila dikaitkan dengan kondisi Bali pasca banjir besar September lalu yang menelan korban jiwa dan merusak infrastruktur serta rumah-rumah warga. Bencana itu menyadarkan kita bahwa persoalan Bali bukan hanya soal pariwisata dan budaya, tetapi juga kerentanan ekologis. Alih fungsi lahan, pembangunan yang tidak terkendali, serta abainya pemerintah dan masyarakat terhadap tata ruang membuat Bali semakin rentan terhadap bencana alam. Apa yang diingatkan Kerepun dalam bukunya—tentang kelemahan orang Bali yang sering enggan mengkritisi diri dan hanya menyelesaikan masalah secara seremonial—terbukti masih terjadi. Setelah banjir reda, kita kembali larut dalam rutinitas tanpa ada upaya serius membenahi akar masalah.

Buku Kerepun juga menyinggung soal kepemimpinan. Ia menyoroti kelemahan para pemimpin Bali dari zaman kerajaan hingga era modern. Kritik ini sangat tajam, sebab kepemimpinan di Bali kadang lebih sibuk dengan simbol-simbol budaya ketimbang mencari solusi substantif. Kita bisa melihat kenyataan hari ini: dikotomi dresta versus sampradaya yang memecah belah, pembangunan besar-besaran yang mengorbankan lahan produktif, atau konflik antara adat dan investor yang sering tidak jelas penyelesaiannya. Semua itu adalah cermin dari kelemahan kepemimpinan, yang seharusnya belajar dari otokritik seperti dalam buku ini.

Namun, otokritik bukan berarti pesimisme. Buku ini juga menyajikan harapan: bila orang Bali mau mengakui kelemahan dirinya, lalu mengelolanya dengan kesadaran kritis, maka kekuatan budayanya dapat menjadi modal luar biasa. Bali bisa menjadi model dunia tentang harmoni antara tradisi dan modernitas, antara spiritualitas dan pembangunan. Modal dasar seperti Tri Hita Karana, gotong royong, dan kesenian yang mendidik seharusnya tidak hanya dijadikan jargon, melainkan benar-benar dihidupkan dalam kebijakan publik.

Membaca buku ini di tengah kondisi Bali yang penuh paradoks—antara budaya agung dan krisis ekologis, antara pariwisata kelas dunia dan bencana banjir yang menelan korban jiwa—membuat kita tersadar bahwa introspeksi adalah jalan satu-satunya. Bali tidak boleh hanya menari di panggung global sambil meratap di halaman rumah sendiri.

Kerepun seakan mengajak kita semua, baik orang Bali maupun mereka yang mencintai Bali, untuk jujur melihat kenyataan: memuji keindahan sah-sah saja, tetapi keberanian mengakui kelemahan jauh lebih penting demi masa depan.

Buku “Kelemahan dan Kekuatan Manusia Bali” layak disebut sebagai salah satu karya reflektif paling penting tentang Bali modern. Ia bukan buku akademis kaku, melainkan otokritik yang mengajak pembacanya bercermin. Bagi generasi muda Bali, buku ini adalah peringatan agar tidak larut dalam euforia budaya yang dipuji dunia, melainkan berani mengoreksi diri dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Dan bagi kita yang mencintai Bali, buku ini mengingatkan: Bali bukan hanya destinasi wisata, melainkan tanah air dengan manusia, budaya, dan alam yang perlu dijaga dengan kesadaran kritis. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK
Tags: Bukubuku baliManusia Baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peluncuran Buku Puisi Film Kebangkitan: Puisi Menyapa Film, Film Menyapa Puisi

Next Post

Manusia Bali Membunuh Bali?

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Manusia Bali Membunuh Bali?

Manusia Bali Membunuh Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co