12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Bali Membunuh Bali?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
October 6, 2025
in Esai
Manusia Bali Membunuh Bali?

Kecak Atlas | Foto: Nyoman Mariyana -- Foto hanya ilustrasi

SEMUA masalah yang saat ini terjadi di Bali membuat mata orang Bali terbelalak: ternyata semua kearifan ekologi yang dibungkus melalui wacana luhur Tri Hita Karana dan Sad Kerthi tidak menemukan bentuk konkret di tengah kegilaan investasi pariwisata massal. Bencana banjir yang terjadi baru-baru ini membuka tabir lain: Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung dalam kondisi kritis, tutupan pohon hanya 3 persen. Belum lagi sungai-sungai yang lain. Aling fungsi lahan tak terbendung. Persoalan sampah yang hanya menghasilkan “sumpah serapah” masyarakat. 

Bisa jadi, praktik kearifan ekologi Bali itu telah hilang sejak wacana-wacana itu ditiupkan—lebih-lebih yang meniupkan adalah kekuasaan yang berkolaborasi dengan kapital. Lalu yang tersisa hanya “estetika wacana adiluhung” yang indah menempel pada baliho politik, iklan pariwisata, dan latah diucapkan para pejabat. Namun perih jika direnungkan—apalagi  mencari relevansi empirisnya. Absurd, memang. Tapi inilah Bali sane mangkin.

Bukankah kegairahan pada sesuatu yang “metafisik” bersumber dari kegagalan dalam kehidupan fisik? Bukan tidak mungkin inilah yang dialami Bali. Kegagalan merawat alam fisik Bali menghasilkan “seremonial dan ritual” yang bisa jadi sebentuk pelarian atau pengungkapan rasa bersalah kolektif.

Guru saya seorang sastrawan Bali sering menyebut istilah “sastra paraga”— membadankan sastra. Apakah sastra perlu dibadankan? Bukankah sastra disebut sastra jika ia telah “berbadan”?

Jangan-jangan yang terjadi sebaliknya: di Bali ada badan-badan yang menolak sastra. Karena bagi mereka yang dimanja kenikmatan duniawi jangka pendek, yang diperlukan saat ini bukan sastra, tapi artha dan bala. Lalu kutipan-kutipan sastra hanya digunakan sebagai “pemanis” dan legitimasi untuk memuluskan jalan menuju kekuasaan.

Selain itu, ada kencenderungan historis orang Bali yang jelas ini adalah bentukan kolonial dan rezim orde baru: mencari-cari kambing hitam atas berbagai persoalan yang menimpa Bali! Pokoknya semua masalah yang terjadi saat ini bukan karena orang Bali, tapi “jeleme dauh tukad”, karena orang asing, karena pendatang. Manusia Bali dianggap tidak mungkin menjual Bali, apalagi merusak Bali. Orang Bali cinta damai, mendambakan keseimbangan, meskipun mengorbankan keseimbangan mental mereka.

Hampir setiap hari manusia Bali mendoakan Bali. Mereka melaksanakan serangkaian ritual megah berbiaya mahal untuk menjaga keseimbangan Bali. Jadi, bukan orang Bali yang membunuh dan merusak Bali. Benarkah begitu?

Realitasnya, manusia Bali pernah memiliki sejarah kelam. Saling bunuh sesama Bali, saling tikam sesama Bali, saling serang sesama Bali. Hukum adat kasepekang, kanorayang, hanya berlaku untuk sesama Bali. Manusia Bali sudah terbiasa menghukum sesama Bali. Menghardik sesama Bali.

Manusia Bali adalah bagian dari masalah Bali saat ini. Budaya koh ngomong atas masalah yang dialami Bali menghasilkan kebiasaan membatinkan semua masalah yang dihadapi orang Bali. Bukankah sikap koh ngomong manusia Bali atas kerusakan Bali ini justru menegaskan bahwa manusia Bali yang membunuh Bali? Setiap bersuara kritis, apalagi terhadap kekuasaan, di “framing” sebagai bukan Bali. Jadi ukuran “kebalian” orang Bali: mendep, nuut, manut, sing demen uyut!

Akhirnya, karena semua masalah dibatinkan dalam diri, hasilnya adalah guncangan psikologis yang jika tak mendapat ruang penyaluran dalam medan ritual hanya menghasilkan problem lain: bunuh diri!

Selain itu, kehidupan hedon orang Bali saat ini tentu bersumber dari hasil menjual Bali. Ritual-ritual mewah digelar bukan lagi bersumber dari hasil pertanian Bali, tapi hasil gemerlap turisme massal. Carik “ngelekas” menjadi vila, restoran, dan semua produk alih fungsi lahan untuk memanjakan turisme, hasilnya menaikkan status kelas sosial ekonomi: hidup mewah, rumah megah, tempat suci yang megah, dan ritual yang megah. Ini siklus kontemporer yang terjadi di Bali.

Nyaris tak banyak muncul sikap mengkritik diri atas semua masalah yang terjadi. Ini menjalar sampai ke pemegang kekuasaan. Kebiasaan melempar masalah, bahkan saling menyalahkan menjadi hal yang lazim. Media sosial sekadar “panggung” berebut simpati publik. Tampak gaduh, uyut, tapi dangkal.

Jika direnungkan, manusia Bali adalah “pintu masuk” awal merusak Bali. Jika pintu terbuka lebar, diibaratkan “benteng terbuka” oleh Henk Schulte Nordholt, potensi pihak-pihak yang merusak Bali tentu semakin terbuka lebar. Apalagi, pemilik pintu yang menyambut kerusakan itu dengan kalimat: rahajeng rauh atau swasti prapta!

Jika benar begitu, berarti kita perlu mata yang lebih obyektif melihat Bali. Perlu berjarak dengan Bali, atau memerlukan “yang bukan Bali” untuk bersuara kritis dan tajam untuk Bali. Bukan sebaliknya, mereka yang kritis melihat Bali dianggap musuhnya Bali—bahkan dituding bukan orang Bali.

Bukankah mereka-mereka yang memuji dan membangga-banggakan Bali akhirnya “menjual” Bali? Bukankah mereka-mereka yang mengaku sekala niskala menjaga Bali akhirnya tak kuasa melihat Bali kian ringkih? Bukankah orang Bali adalah “korban” ajum-ajuman puuh, yang berujung pada mekamen di sunduk alias maselselan atas kondisi Bali kini? Atau sebaliknya, mereka-mereka yang bersuara kritis justru mewakili karakter “kebalian” orang Bali masa depan?

Tanah Bali adalah harga diri manusia Bali. Kini, tanah Bali kian habis terbeli. Wacana kearifan ekologi tak kuasa menahannya. Mitos “karang tenget” tumpul dilumat hasrat kapital. Bencana datang silih berganti, menunjukkan daya dukung lingkungan kian rapuh. Rasionalitas ekonomi jangka pendek mengabaikan rasionalitas ekologi—meskipun di tengah bisingnya jargon pembangunan berkelanjutan yang selesai di tataran wacana. Semua tunduk di bawah kuasa politik yang bersenggama dengan kekuatan kapital.

Teks Niti Sastra telah mengingatkan kita: tan hana lewiha sakeng mahadhana. Benar adanya, jika dulu manusia memberi nilai pada uang, kini nilai alam dan manusia ditentukan oleh uang. Akhirnya masalah Bali kini melingkupi tiga hal: Parahyangan, Pawongan dan Palemahan. Tri Hita Karana yang dibangga-banggakan telah berubah menjadi “Tri Kita Merana”. Semoga tanda-tanda kehancuran Bali ini “hanya mitos” bukan realitas di masa yang akan datang.[T]

Penulis: I Gusti Agung Paramita
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliManusia Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Next Post

Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co