2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Bali Membunuh Bali?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
October 6, 2025
in Esai
Manusia Bali Membunuh Bali?

Kecak Atlas | Foto: Nyoman Mariyana -- Foto hanya ilustrasi

SEMUA masalah yang saat ini terjadi di Bali membuat mata orang Bali terbelalak: ternyata semua kearifan ekologi yang dibungkus melalui wacana luhur Tri Hita Karana dan Sad Kerthi tidak menemukan bentuk konkret di tengah kegilaan investasi pariwisata massal. Bencana banjir yang terjadi baru-baru ini membuka tabir lain: Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung dalam kondisi kritis, tutupan pohon hanya 3 persen. Belum lagi sungai-sungai yang lain. Aling fungsi lahan tak terbendung. Persoalan sampah yang hanya menghasilkan “sumpah serapah” masyarakat. 

Bisa jadi, praktik kearifan ekologi Bali itu telah hilang sejak wacana-wacana itu ditiupkan—lebih-lebih yang meniupkan adalah kekuasaan yang berkolaborasi dengan kapital. Lalu yang tersisa hanya “estetika wacana adiluhung” yang indah menempel pada baliho politik, iklan pariwisata, dan latah diucapkan para pejabat. Namun perih jika direnungkan—apalagi  mencari relevansi empirisnya. Absurd, memang. Tapi inilah Bali sane mangkin.

Bukankah kegairahan pada sesuatu yang “metafisik” bersumber dari kegagalan dalam kehidupan fisik? Bukan tidak mungkin inilah yang dialami Bali. Kegagalan merawat alam fisik Bali menghasilkan “seremonial dan ritual” yang bisa jadi sebentuk pelarian atau pengungkapan rasa bersalah kolektif.

Guru saya seorang sastrawan Bali sering menyebut istilah “sastra paraga”— membadankan sastra. Apakah sastra perlu dibadankan? Bukankah sastra disebut sastra jika ia telah “berbadan”?

Jangan-jangan yang terjadi sebaliknya: di Bali ada badan-badan yang menolak sastra. Karena bagi mereka yang dimanja kenikmatan duniawi jangka pendek, yang diperlukan saat ini bukan sastra, tapi artha dan bala. Lalu kutipan-kutipan sastra hanya digunakan sebagai “pemanis” dan legitimasi untuk memuluskan jalan menuju kekuasaan.

Selain itu, ada kencenderungan historis orang Bali yang jelas ini adalah bentukan kolonial dan rezim orde baru: mencari-cari kambing hitam atas berbagai persoalan yang menimpa Bali! Pokoknya semua masalah yang terjadi saat ini bukan karena orang Bali, tapi “jeleme dauh tukad”, karena orang asing, karena pendatang. Manusia Bali dianggap tidak mungkin menjual Bali, apalagi merusak Bali. Orang Bali cinta damai, mendambakan keseimbangan, meskipun mengorbankan keseimbangan mental mereka.

Hampir setiap hari manusia Bali mendoakan Bali. Mereka melaksanakan serangkaian ritual megah berbiaya mahal untuk menjaga keseimbangan Bali. Jadi, bukan orang Bali yang membunuh dan merusak Bali. Benarkah begitu?

Realitasnya, manusia Bali pernah memiliki sejarah kelam. Saling bunuh sesama Bali, saling tikam sesama Bali, saling serang sesama Bali. Hukum adat kasepekang, kanorayang, hanya berlaku untuk sesama Bali. Manusia Bali sudah terbiasa menghukum sesama Bali. Menghardik sesama Bali.

Manusia Bali adalah bagian dari masalah Bali saat ini. Budaya koh ngomong atas masalah yang dialami Bali menghasilkan kebiasaan membatinkan semua masalah yang dihadapi orang Bali. Bukankah sikap koh ngomong manusia Bali atas kerusakan Bali ini justru menegaskan bahwa manusia Bali yang membunuh Bali? Setiap bersuara kritis, apalagi terhadap kekuasaan, di “framing” sebagai bukan Bali. Jadi ukuran “kebalian” orang Bali: mendep, nuut, manut, sing demen uyut!

Akhirnya, karena semua masalah dibatinkan dalam diri, hasilnya adalah guncangan psikologis yang jika tak mendapat ruang penyaluran dalam medan ritual hanya menghasilkan problem lain: bunuh diri!

Selain itu, kehidupan hedon orang Bali saat ini tentu bersumber dari hasil menjual Bali. Ritual-ritual mewah digelar bukan lagi bersumber dari hasil pertanian Bali, tapi hasil gemerlap turisme massal. Carik “ngelekas” menjadi vila, restoran, dan semua produk alih fungsi lahan untuk memanjakan turisme, hasilnya menaikkan status kelas sosial ekonomi: hidup mewah, rumah megah, tempat suci yang megah, dan ritual yang megah. Ini siklus kontemporer yang terjadi di Bali.

Nyaris tak banyak muncul sikap mengkritik diri atas semua masalah yang terjadi. Ini menjalar sampai ke pemegang kekuasaan. Kebiasaan melempar masalah, bahkan saling menyalahkan menjadi hal yang lazim. Media sosial sekadar “panggung” berebut simpati publik. Tampak gaduh, uyut, tapi dangkal.

Jika direnungkan, manusia Bali adalah “pintu masuk” awal merusak Bali. Jika pintu terbuka lebar, diibaratkan “benteng terbuka” oleh Henk Schulte Nordholt, potensi pihak-pihak yang merusak Bali tentu semakin terbuka lebar. Apalagi, pemilik pintu yang menyambut kerusakan itu dengan kalimat: rahajeng rauh atau swasti prapta!

Jika benar begitu, berarti kita perlu mata yang lebih obyektif melihat Bali. Perlu berjarak dengan Bali, atau memerlukan “yang bukan Bali” untuk bersuara kritis dan tajam untuk Bali. Bukan sebaliknya, mereka yang kritis melihat Bali dianggap musuhnya Bali—bahkan dituding bukan orang Bali.

Bukankah mereka-mereka yang memuji dan membangga-banggakan Bali akhirnya “menjual” Bali? Bukankah mereka-mereka yang mengaku sekala niskala menjaga Bali akhirnya tak kuasa melihat Bali kian ringkih? Bukankah orang Bali adalah “korban” ajum-ajuman puuh, yang berujung pada mekamen di sunduk alias maselselan atas kondisi Bali kini? Atau sebaliknya, mereka-mereka yang bersuara kritis justru mewakili karakter “kebalian” orang Bali masa depan?

Tanah Bali adalah harga diri manusia Bali. Kini, tanah Bali kian habis terbeli. Wacana kearifan ekologi tak kuasa menahannya. Mitos “karang tenget” tumpul dilumat hasrat kapital. Bencana datang silih berganti, menunjukkan daya dukung lingkungan kian rapuh. Rasionalitas ekonomi jangka pendek mengabaikan rasionalitas ekologi—meskipun di tengah bisingnya jargon pembangunan berkelanjutan yang selesai di tataran wacana. Semua tunduk di bawah kuasa politik yang bersenggama dengan kekuatan kapital.

Teks Niti Sastra telah mengingatkan kita: tan hana lewiha sakeng mahadhana. Benar adanya, jika dulu manusia memberi nilai pada uang, kini nilai alam dan manusia ditentukan oleh uang. Akhirnya masalah Bali kini melingkupi tiga hal: Parahyangan, Pawongan dan Palemahan. Tri Hita Karana yang dibangga-banggakan telah berubah menjadi “Tri Kita Merana”. Semoga tanda-tanda kehancuran Bali ini “hanya mitos” bukan realitas di masa yang akan datang.[T]

Penulis: I Gusti Agung Paramita
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliManusia Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Next Post

Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co