22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Bali Membunuh Bali?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
October 6, 2025
in Esai
Manusia Bali Membunuh Bali?

Kecak Atlas | Foto: Nyoman Mariyana -- Foto hanya ilustrasi

SEMUA masalah yang saat ini terjadi di Bali membuat mata orang Bali terbelalak: ternyata semua kearifan ekologi yang dibungkus melalui wacana luhur Tri Hita Karana dan Sad Kerthi tidak menemukan bentuk konkret di tengah kegilaan investasi pariwisata massal. Bencana banjir yang terjadi baru-baru ini membuka tabir lain: Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung dalam kondisi kritis, tutupan pohon hanya 3 persen. Belum lagi sungai-sungai yang lain. Aling fungsi lahan tak terbendung. Persoalan sampah yang hanya menghasilkan “sumpah serapah” masyarakat. 

Bisa jadi, praktik kearifan ekologi Bali itu telah hilang sejak wacana-wacana itu ditiupkan—lebih-lebih yang meniupkan adalah kekuasaan yang berkolaborasi dengan kapital. Lalu yang tersisa hanya “estetika wacana adiluhung” yang indah menempel pada baliho politik, iklan pariwisata, dan latah diucapkan para pejabat. Namun perih jika direnungkan—apalagi  mencari relevansi empirisnya. Absurd, memang. Tapi inilah Bali sane mangkin.

Bukankah kegairahan pada sesuatu yang “metafisik” bersumber dari kegagalan dalam kehidupan fisik? Bukan tidak mungkin inilah yang dialami Bali. Kegagalan merawat alam fisik Bali menghasilkan “seremonial dan ritual” yang bisa jadi sebentuk pelarian atau pengungkapan rasa bersalah kolektif.

Guru saya seorang sastrawan Bali sering menyebut istilah “sastra paraga”— membadankan sastra. Apakah sastra perlu dibadankan? Bukankah sastra disebut sastra jika ia telah “berbadan”?

Jangan-jangan yang terjadi sebaliknya: di Bali ada badan-badan yang menolak sastra. Karena bagi mereka yang dimanja kenikmatan duniawi jangka pendek, yang diperlukan saat ini bukan sastra, tapi artha dan bala. Lalu kutipan-kutipan sastra hanya digunakan sebagai “pemanis” dan legitimasi untuk memuluskan jalan menuju kekuasaan.

Selain itu, ada kencenderungan historis orang Bali yang jelas ini adalah bentukan kolonial dan rezim orde baru: mencari-cari kambing hitam atas berbagai persoalan yang menimpa Bali! Pokoknya semua masalah yang terjadi saat ini bukan karena orang Bali, tapi “jeleme dauh tukad”, karena orang asing, karena pendatang. Manusia Bali dianggap tidak mungkin menjual Bali, apalagi merusak Bali. Orang Bali cinta damai, mendambakan keseimbangan, meskipun mengorbankan keseimbangan mental mereka.

Hampir setiap hari manusia Bali mendoakan Bali. Mereka melaksanakan serangkaian ritual megah berbiaya mahal untuk menjaga keseimbangan Bali. Jadi, bukan orang Bali yang membunuh dan merusak Bali. Benarkah begitu?

Realitasnya, manusia Bali pernah memiliki sejarah kelam. Saling bunuh sesama Bali, saling tikam sesama Bali, saling serang sesama Bali. Hukum adat kasepekang, kanorayang, hanya berlaku untuk sesama Bali. Manusia Bali sudah terbiasa menghukum sesama Bali. Menghardik sesama Bali.

Manusia Bali adalah bagian dari masalah Bali saat ini. Budaya koh ngomong atas masalah yang dialami Bali menghasilkan kebiasaan membatinkan semua masalah yang dihadapi orang Bali. Bukankah sikap koh ngomong manusia Bali atas kerusakan Bali ini justru menegaskan bahwa manusia Bali yang membunuh Bali? Setiap bersuara kritis, apalagi terhadap kekuasaan, di “framing” sebagai bukan Bali. Jadi ukuran “kebalian” orang Bali: mendep, nuut, manut, sing demen uyut!

Akhirnya, karena semua masalah dibatinkan dalam diri, hasilnya adalah guncangan psikologis yang jika tak mendapat ruang penyaluran dalam medan ritual hanya menghasilkan problem lain: bunuh diri!

Selain itu, kehidupan hedon orang Bali saat ini tentu bersumber dari hasil menjual Bali. Ritual-ritual mewah digelar bukan lagi bersumber dari hasil pertanian Bali, tapi hasil gemerlap turisme massal. Carik “ngelekas” menjadi vila, restoran, dan semua produk alih fungsi lahan untuk memanjakan turisme, hasilnya menaikkan status kelas sosial ekonomi: hidup mewah, rumah megah, tempat suci yang megah, dan ritual yang megah. Ini siklus kontemporer yang terjadi di Bali.

Nyaris tak banyak muncul sikap mengkritik diri atas semua masalah yang terjadi. Ini menjalar sampai ke pemegang kekuasaan. Kebiasaan melempar masalah, bahkan saling menyalahkan menjadi hal yang lazim. Media sosial sekadar “panggung” berebut simpati publik. Tampak gaduh, uyut, tapi dangkal.

Jika direnungkan, manusia Bali adalah “pintu masuk” awal merusak Bali. Jika pintu terbuka lebar, diibaratkan “benteng terbuka” oleh Henk Schulte Nordholt, potensi pihak-pihak yang merusak Bali tentu semakin terbuka lebar. Apalagi, pemilik pintu yang menyambut kerusakan itu dengan kalimat: rahajeng rauh atau swasti prapta!

Jika benar begitu, berarti kita perlu mata yang lebih obyektif melihat Bali. Perlu berjarak dengan Bali, atau memerlukan “yang bukan Bali” untuk bersuara kritis dan tajam untuk Bali. Bukan sebaliknya, mereka yang kritis melihat Bali dianggap musuhnya Bali—bahkan dituding bukan orang Bali.

Bukankah mereka-mereka yang memuji dan membangga-banggakan Bali akhirnya “menjual” Bali? Bukankah mereka-mereka yang mengaku sekala niskala menjaga Bali akhirnya tak kuasa melihat Bali kian ringkih? Bukankah orang Bali adalah “korban” ajum-ajuman puuh, yang berujung pada mekamen di sunduk alias maselselan atas kondisi Bali kini? Atau sebaliknya, mereka-mereka yang bersuara kritis justru mewakili karakter “kebalian” orang Bali masa depan?

Tanah Bali adalah harga diri manusia Bali. Kini, tanah Bali kian habis terbeli. Wacana kearifan ekologi tak kuasa menahannya. Mitos “karang tenget” tumpul dilumat hasrat kapital. Bencana datang silih berganti, menunjukkan daya dukung lingkungan kian rapuh. Rasionalitas ekonomi jangka pendek mengabaikan rasionalitas ekologi—meskipun di tengah bisingnya jargon pembangunan berkelanjutan yang selesai di tataran wacana. Semua tunduk di bawah kuasa politik yang bersenggama dengan kekuatan kapital.

Teks Niti Sastra telah mengingatkan kita: tan hana lewiha sakeng mahadhana. Benar adanya, jika dulu manusia memberi nilai pada uang, kini nilai alam dan manusia ditentukan oleh uang. Akhirnya masalah Bali kini melingkupi tiga hal: Parahyangan, Pawongan dan Palemahan. Tri Hita Karana yang dibangga-banggakan telah berubah menjadi “Tri Kita Merana”. Semoga tanda-tanda kehancuran Bali ini “hanya mitos” bukan realitas di masa yang akan datang.[T]

Penulis: I Gusti Agung Paramita
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliManusia Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Next Post

Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co