14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 6, 2025
in Esai
Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Sumber Foto: Kolase dari penulis

BUKU “Kelemahan dan Kekuatan Manusia Bali (Sebuah Otokritik)” karya Made Kembar Kerepun, yang disunting oleh Jiwa Atmaja, adalah sebuah karya yang unik sekaligus berani. Jarang sekali kita menemukan sebuah buku yang menyoroti watak kolektif suatu masyarakat dengan jujur, bahkan cenderung telanjang, tanpa basa-basi. Buku ini tidak ditulis untuk meninabobokan orang Bali dengan pujian atau romantisasi budaya, melainkan sebaliknya: menjadi cermin yang kadang membuat kita tidak nyaman saat menatapnya.

Di awal buku, penulis menggarisbawahi bahwa salah satu kelemahan paling mencolok dari orang Bali adalah enggan menerima kritik dan kurangnya tradisi otokritik. Orang Bali lebih suka menerima pujian, tetapi cepat tersinggung ketika kelemahan dirinya disorot. Sikap mental seperti ini, menurut Kerepun, berimplikasi panjang: masalah-masalah mendasar dalam kehidupan masyarakat seringkali dibiarkan berlarut-larut, tidak pernah diselesaikan secara tuntas, hanya ditutup dengan seremonial atau euforia sesaat.

Buku ini lalu memetakan kelebihan sekaligus kelemahan watak orang Bali, disertai pelajaran dari sejarah bangsa lain. Misalnya, ada bab khusus tentang “Pariwisata Bali Belajar dari Keterpurukan Etnis Hawaii”. Di sana, penulis menekankan bahwa orang Bali seharusnya bercermin dari pengalaman Hawaii, yang pernah kehilangan kendali atas tanah, budaya, dan identitasnya karena serbuan pariwisata dan kapitalisme global. Peringatan ini terasa relevan sekali bila kita bandingkan dengan situasi Bali hari ini: tanah sawah dan tegalan dijual menjadi vila, pura-pura di sekitar destinasi wisata terdesak oleh kepentingan ekonomi, dan krisis lingkungan semakin nyata.

Salah satu kekuatan orang Bali, menurut buku ini, adalah kemampuan menjaga harmoni sosial melalui adat, agama, dan budaya. Sistem banjar, desa adat, dan tradisi gotong royong adalah modal sosial yang luar biasa. Namun, di sisi lain, kekuatan ini bisa berubah menjadi kelemahan ketika solidaritas lebih dipakai untuk menutup mata terhadap penyimpangan, atau ketika adat justru dijadikan alat legitimasi kekuasaan. Pertanyaan reflektif pun muncul: apakah struktur adat Bali saat ini benar-benar menjadi pelindung masyarakat, atau justru perlahan dikooptasi oleh kepentingan politik dan ekonomi?

Dalam bab-bab lain, Kerepun juga menyinggung mentalitas ketergantungan dan kecenderungan untuk cepat puas. Orang Bali sering merasa sudah cukup hebat karena pariwisatanya mendunia, karena budayanya dipuji, dan karena Bali menjadi ikon global. Tetapi mentalitas puas diri ini berbahaya. Bali kini menghadapi tantangan serius: kemacetan parah, sampah menumpuk, air tanah menyusut, dan krisis lingkungan yang kian meruncing. Bila masyarakat hanya terbuai dengan pujian tanpa berani mengakui kelemahan diri, bukan tidak mungkin Bali akan mengalami “keterpurukan etnis” sebagaimana pernah terjadi di Hawaii.

Buku ini menekankan pentingnya introspeksi kolektif. Orang Bali, bila ingin tetap bertahan dalam pusaran globalisasi, harus berani melakukan otokritik. Misalnya, dalam dunia pendidikan, apakah generasi muda Bali masih dibekali dengan kekuatan moral dan kearifan lokal, atau justru dibiarkan larut dalam budaya instan dan pragmatis? Dalam dunia pariwisata, apakah Bali berani menata ulang model pembangunan agar lebih berkelanjutan, atau tetap mengejar angka kunjungan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan?

Refleksi ini semakin relevan bila dikaitkan dengan kondisi Bali pasca banjir besar September lalu yang menelan korban jiwa dan merusak infrastruktur serta rumah-rumah warga. Bencana itu menyadarkan kita bahwa persoalan Bali bukan hanya soal pariwisata dan budaya, tetapi juga kerentanan ekologis. Alih fungsi lahan, pembangunan yang tidak terkendali, serta abainya pemerintah dan masyarakat terhadap tata ruang membuat Bali semakin rentan terhadap bencana alam. Apa yang diingatkan Kerepun dalam bukunya—tentang kelemahan orang Bali yang sering enggan mengkritisi diri dan hanya menyelesaikan masalah secara seremonial—terbukti masih terjadi. Setelah banjir reda, kita kembali larut dalam rutinitas tanpa ada upaya serius membenahi akar masalah.

Buku Kerepun juga menyinggung soal kepemimpinan. Ia menyoroti kelemahan para pemimpin Bali dari zaman kerajaan hingga era modern. Kritik ini sangat tajam, sebab kepemimpinan di Bali kadang lebih sibuk dengan simbol-simbol budaya ketimbang mencari solusi substantif. Kita bisa melihat kenyataan hari ini: dikotomi dresta versus sampradaya yang memecah belah, pembangunan besar-besaran yang mengorbankan lahan produktif, atau konflik antara adat dan investor yang sering tidak jelas penyelesaiannya. Semua itu adalah cermin dari kelemahan kepemimpinan, yang seharusnya belajar dari otokritik seperti dalam buku ini.

Namun, otokritik bukan berarti pesimisme. Buku ini juga menyajikan harapan: bila orang Bali mau mengakui kelemahan dirinya, lalu mengelolanya dengan kesadaran kritis, maka kekuatan budayanya dapat menjadi modal luar biasa. Bali bisa menjadi model dunia tentang harmoni antara tradisi dan modernitas, antara spiritualitas dan pembangunan. Modal dasar seperti Tri Hita Karana, gotong royong, dan kesenian yang mendidik seharusnya tidak hanya dijadikan jargon, melainkan benar-benar dihidupkan dalam kebijakan publik.

Membaca buku ini di tengah kondisi Bali yang penuh paradoks—antara budaya agung dan krisis ekologis, antara pariwisata kelas dunia dan bencana banjir yang menelan korban jiwa—membuat kita tersadar bahwa introspeksi adalah jalan satu-satunya. Bali tidak boleh hanya menari di panggung global sambil meratap di halaman rumah sendiri.

Kerepun seakan mengajak kita semua, baik orang Bali maupun mereka yang mencintai Bali, untuk jujur melihat kenyataan: memuji keindahan sah-sah saja, tetapi keberanian mengakui kelemahan jauh lebih penting demi masa depan.

Buku “Kelemahan dan Kekuatan Manusia Bali” layak disebut sebagai salah satu karya reflektif paling penting tentang Bali modern. Ia bukan buku akademis kaku, melainkan otokritik yang mengajak pembacanya bercermin. Bagi generasi muda Bali, buku ini adalah peringatan agar tidak larut dalam euforia budaya yang dipuji dunia, melainkan berani mengoreksi diri dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Dan bagi kita yang mencintai Bali, buku ini mengingatkan: Bali bukan hanya destinasi wisata, melainkan tanah air dengan manusia, budaya, dan alam yang perlu dijaga dengan kesadaran kritis. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK
Tags: Bukubuku baliManusia Baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peluncuran Buku Puisi Film Kebangkitan: Puisi Menyapa Film, Film Menyapa Puisi

Next Post

Manusia Bali Membunuh Bali?

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Manusia Bali Membunuh Bali?

Manusia Bali Membunuh Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co