2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 6, 2025
in Esai
Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Sumber Foto: Kolase dari penulis

BUKU “Kelemahan dan Kekuatan Manusia Bali (Sebuah Otokritik)” karya Made Kembar Kerepun, yang disunting oleh Jiwa Atmaja, adalah sebuah karya yang unik sekaligus berani. Jarang sekali kita menemukan sebuah buku yang menyoroti watak kolektif suatu masyarakat dengan jujur, bahkan cenderung telanjang, tanpa basa-basi. Buku ini tidak ditulis untuk meninabobokan orang Bali dengan pujian atau romantisasi budaya, melainkan sebaliknya: menjadi cermin yang kadang membuat kita tidak nyaman saat menatapnya.

Di awal buku, penulis menggarisbawahi bahwa salah satu kelemahan paling mencolok dari orang Bali adalah enggan menerima kritik dan kurangnya tradisi otokritik. Orang Bali lebih suka menerima pujian, tetapi cepat tersinggung ketika kelemahan dirinya disorot. Sikap mental seperti ini, menurut Kerepun, berimplikasi panjang: masalah-masalah mendasar dalam kehidupan masyarakat seringkali dibiarkan berlarut-larut, tidak pernah diselesaikan secara tuntas, hanya ditutup dengan seremonial atau euforia sesaat.

Buku ini lalu memetakan kelebihan sekaligus kelemahan watak orang Bali, disertai pelajaran dari sejarah bangsa lain. Misalnya, ada bab khusus tentang “Pariwisata Bali Belajar dari Keterpurukan Etnis Hawaii”. Di sana, penulis menekankan bahwa orang Bali seharusnya bercermin dari pengalaman Hawaii, yang pernah kehilangan kendali atas tanah, budaya, dan identitasnya karena serbuan pariwisata dan kapitalisme global. Peringatan ini terasa relevan sekali bila kita bandingkan dengan situasi Bali hari ini: tanah sawah dan tegalan dijual menjadi vila, pura-pura di sekitar destinasi wisata terdesak oleh kepentingan ekonomi, dan krisis lingkungan semakin nyata.

Salah satu kekuatan orang Bali, menurut buku ini, adalah kemampuan menjaga harmoni sosial melalui adat, agama, dan budaya. Sistem banjar, desa adat, dan tradisi gotong royong adalah modal sosial yang luar biasa. Namun, di sisi lain, kekuatan ini bisa berubah menjadi kelemahan ketika solidaritas lebih dipakai untuk menutup mata terhadap penyimpangan, atau ketika adat justru dijadikan alat legitimasi kekuasaan. Pertanyaan reflektif pun muncul: apakah struktur adat Bali saat ini benar-benar menjadi pelindung masyarakat, atau justru perlahan dikooptasi oleh kepentingan politik dan ekonomi?

Dalam bab-bab lain, Kerepun juga menyinggung mentalitas ketergantungan dan kecenderungan untuk cepat puas. Orang Bali sering merasa sudah cukup hebat karena pariwisatanya mendunia, karena budayanya dipuji, dan karena Bali menjadi ikon global. Tetapi mentalitas puas diri ini berbahaya. Bali kini menghadapi tantangan serius: kemacetan parah, sampah menumpuk, air tanah menyusut, dan krisis lingkungan yang kian meruncing. Bila masyarakat hanya terbuai dengan pujian tanpa berani mengakui kelemahan diri, bukan tidak mungkin Bali akan mengalami “keterpurukan etnis” sebagaimana pernah terjadi di Hawaii.

Buku ini menekankan pentingnya introspeksi kolektif. Orang Bali, bila ingin tetap bertahan dalam pusaran globalisasi, harus berani melakukan otokritik. Misalnya, dalam dunia pendidikan, apakah generasi muda Bali masih dibekali dengan kekuatan moral dan kearifan lokal, atau justru dibiarkan larut dalam budaya instan dan pragmatis? Dalam dunia pariwisata, apakah Bali berani menata ulang model pembangunan agar lebih berkelanjutan, atau tetap mengejar angka kunjungan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan?

Refleksi ini semakin relevan bila dikaitkan dengan kondisi Bali pasca banjir besar September lalu yang menelan korban jiwa dan merusak infrastruktur serta rumah-rumah warga. Bencana itu menyadarkan kita bahwa persoalan Bali bukan hanya soal pariwisata dan budaya, tetapi juga kerentanan ekologis. Alih fungsi lahan, pembangunan yang tidak terkendali, serta abainya pemerintah dan masyarakat terhadap tata ruang membuat Bali semakin rentan terhadap bencana alam. Apa yang diingatkan Kerepun dalam bukunya—tentang kelemahan orang Bali yang sering enggan mengkritisi diri dan hanya menyelesaikan masalah secara seremonial—terbukti masih terjadi. Setelah banjir reda, kita kembali larut dalam rutinitas tanpa ada upaya serius membenahi akar masalah.

Buku Kerepun juga menyinggung soal kepemimpinan. Ia menyoroti kelemahan para pemimpin Bali dari zaman kerajaan hingga era modern. Kritik ini sangat tajam, sebab kepemimpinan di Bali kadang lebih sibuk dengan simbol-simbol budaya ketimbang mencari solusi substantif. Kita bisa melihat kenyataan hari ini: dikotomi dresta versus sampradaya yang memecah belah, pembangunan besar-besaran yang mengorbankan lahan produktif, atau konflik antara adat dan investor yang sering tidak jelas penyelesaiannya. Semua itu adalah cermin dari kelemahan kepemimpinan, yang seharusnya belajar dari otokritik seperti dalam buku ini.

Namun, otokritik bukan berarti pesimisme. Buku ini juga menyajikan harapan: bila orang Bali mau mengakui kelemahan dirinya, lalu mengelolanya dengan kesadaran kritis, maka kekuatan budayanya dapat menjadi modal luar biasa. Bali bisa menjadi model dunia tentang harmoni antara tradisi dan modernitas, antara spiritualitas dan pembangunan. Modal dasar seperti Tri Hita Karana, gotong royong, dan kesenian yang mendidik seharusnya tidak hanya dijadikan jargon, melainkan benar-benar dihidupkan dalam kebijakan publik.

Membaca buku ini di tengah kondisi Bali yang penuh paradoks—antara budaya agung dan krisis ekologis, antara pariwisata kelas dunia dan bencana banjir yang menelan korban jiwa—membuat kita tersadar bahwa introspeksi adalah jalan satu-satunya. Bali tidak boleh hanya menari di panggung global sambil meratap di halaman rumah sendiri.

Kerepun seakan mengajak kita semua, baik orang Bali maupun mereka yang mencintai Bali, untuk jujur melihat kenyataan: memuji keindahan sah-sah saja, tetapi keberanian mengakui kelemahan jauh lebih penting demi masa depan.

Buku “Kelemahan dan Kekuatan Manusia Bali” layak disebut sebagai salah satu karya reflektif paling penting tentang Bali modern. Ia bukan buku akademis kaku, melainkan otokritik yang mengajak pembacanya bercermin. Bagi generasi muda Bali, buku ini adalah peringatan agar tidak larut dalam euforia budaya yang dipuji dunia, melainkan berani mengoreksi diri dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Dan bagi kita yang mencintai Bali, buku ini mengingatkan: Bali bukan hanya destinasi wisata, melainkan tanah air dengan manusia, budaya, dan alam yang perlu dijaga dengan kesadaran kritis. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK
Tags: Bukubuku baliManusia Baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peluncuran Buku Puisi Film Kebangkitan: Puisi Menyapa Film, Film Menyapa Puisi

Next Post

Manusia Bali Membunuh Bali?

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Manusia Bali Membunuh Bali?

Manusia Bali Membunuh Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co