24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 2, 2025
in Esai
“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

KOTA Denpasar dini hari. Tak ada kehidupan, orang-orang sudah tertidur lelap. Sebagian besar jalanan sudah sepi. Ditambah lagi dengan situasi ekonomi yang tidak menentu; angka pertumbuhan ekonomi menurun.Banyak orang susah. Bayang-bayang PHK di mana-mana. Masih bekerja saja sudah syukur. Malam kota Denpasar mengingatkan saya pada satu kata, yakni, tenget.

Dalam bahasa Bali tenget artinya angker, keramat, wingit; sesuatu yang membuat kita berhati-hati dan penuh rasa hormat. Bagi masyarakat Bali, kata ini tidak sekadar soal rasa takut, tetapi tentang kesadaran bahwa ada sesuatu yang tak kasatmata, sesuatu yang sakral dan harus dihormati. Tempat-tempat tertentu disebut tenget karena diyakini ada kekuatan spiritual di dalamnya. Ada pura, pohon beringin, atau persimpangan jalan yang dianggap “tenget”. Kita diajarkan untuk permisi, nyelang margi, sebelum melintasinya.

Banyak dari kita menganggap tenget itu identik dengan desa, padahal tidak. Justru di kota, hidup terasa tenget. Di desa, masyarakat sudah terbiasa hidup beriringan dengan tempat-tempat keramat, dengan “niskala” yang menyelimuti keseharian. Di kota, tenget datang bukan dari pohon besar, bukan dari pura tua, bukan dari roh leluhur.

Di kota, tenget lahir dari jiwa manusia; persaingan antar tetangga, saling membicarakan orang lain di belakang, rasa iri dan dengki, tak mau “dikalahkan”, aturan sosial yang mengekang kebebasan individu. Budaya dan cara hidup yang seragam (dan diseragamkan) membuat jiwa-jiwa kreatif dan pemberontak seperti seniman, penulis, penyair merasa hidup di kota kering dan hampa. Tenget

Di jalan-jalan kota, kita melihat wajah-wajah yang jarang tersenyum. Logika dan cara pikir “lu jual, gua beli” menjadikan hubungan antarmanusia begitu transaksional. Kota menjelma pasar raksasa, bukan rumah bagi jiwa. Segalanya dihitung, dinegosiasikan, dinilai dengan uang. Keakraban berubah menjadi modal sosial yang penuh perhitungan.

Sebaliknya, di desa—walau kini makin terkikis—kepolosan dan “kebaikan” masih bisa kita temui. Tak semua hal dimaknai dengan uang. Masih ada rasa gotong-royong dan tolong-menolong yang tulus. Warga datang membantu tetangga tanpa pamrih. Ritual adat masih menjadi perekat sosial, bukan beban semata.

Namun hidup di desa meskipun terasa damai, upah pekerja kecil. Padahal upah minimum kabupaten telah ada dan ditetapkan setiap tahun. Masih banyak pengusaha yang belum mampu membayar pekerja dengan layak sesuai aturan pemerintah. Ada yang mampu, tapi membandel, tak mau menaati peraturan.

Jadi sesungguhnya tak ada yang “tenget” di desa meskipun banyak tempat angker dan sakral. Warga desa telah terbiasa dengan itu. Mereka hidup berdampingan dengan pohon besar, kuburan tua, atau pura kecil di sudut banjar tanpa merasa terancam. “Tenget” bagi mereka adalah bagian alamiah dari hidup. Mereka tahu cara berhubungan dengan yang tak kasatmata dengan hormat, dengan banten, dengan doa.

Di kota, tenget kebanyakan berasal dari manusia yang beragam budaya, cara pikir, dan cara hidup. Pendapatan minim, tapi gaya selangit. Miskin tapi belagu, meminjam ungkapan khas Betawi. Lebih suka mengurusi kehidupan orang lain daripada mengurusi diri dan keluarga. Mulut-mulut yang gemar bergosip dan bergunjing; seakan diri mereka paling suci dan baik. Inilah “roh halus” kota yang sebenarnya—bukan makhluk gaib, melainkan atmosfer sosial yang menyesakkan dada.

Zaman edan? Mungkin saja. Hanya sikap “eling lan waspada” yang akan bisa menyelamatkan manusia dari kegilaan ini, mengutip syair pujangga asal Jawa, Ronggowarsito, berabad-abad lalu. Tenget itu  hidup yang kebanyakan aturan. Manusia sekarang suka merumit-rumitkan sesuatu yang sebenarnya bisa disederhanakan. Akhirnya pusing sendiri, mirip jaring laba-laba yang menyesatkan pembuatnya.

Di kota, tenget hadir juga lewat arsitektur dan tata ruang. Beton dan aspal menutup tanah, pohon-pohon ditebang, ruang hijau menyusut. Kota menjadi panas, bising, dan asing. Tidak ada tempat untuk “napas”. Tidak ada jeda bagi jiwa. Rumah-rumah bersekat tinggi, apartemen-apartemen yang menelan privasi. Bahkan tetangga pun tak saling mengenal. Inilah “angker” baru, keterasingan di tengah keramaian.

Sementara itu, pusat perbelanjaan dibangun megah dengan kaca-kaca mengilap. Tapi di balik kilau itu, ada para pekerja bergaji pas-pasan, buruh kontrak yang mudah di-PHK, pengemudi ojek daring yang berdesakan menunggu order. Mereka adalah arwah-arwah hidup yang gentayangan di malam kota. Mereka pulang larut dengan wajah letih, menanggung hutang dan tuntutan keluarga. Bukankah ini juga tenget?

Bahkan media sosial memperkuat aura tenget di kota. Orang-orang memamerkan gaya hidup, pencapaian, liburan, barang-barang baru. Yang melihat merasa tertinggal, iri, atau tertekan. Kota menjadi panggung besar penuh ilusi, tempat orang berlomba-lomba menampilkan yang terbaik, padahal hatinya rapuh. Senyum palsu tak hanya di wajah, tapi juga di layar ponsel.

Desa memang tidak suci dari masalah. Politik uang merambah banjar, budaya konsumtif menyelinap lewat televisi dan gawai. Tapi ritme hidupnya masih memberi ruang bagi pertemuan yang tulus, untuk bertatap muka tanpa perantara layar. Tenget di desa masih “klasik”; pohon tua, kuburan, pura kecil. Sementara tenget di kota adalah modern; persaingan, kesepian, dan tekanan sosial.

Karena itu, kita perlu mendefinisikan ulang “tenget”. Ia tidak lagi sekadar soal tempat keramat, tetapi atmosfer sosial yang menakutkan. Ia bukan sekadar soal niskala, tetapi soal sekala kebijakan kota yang menyingkirkan ruang publik, sistem ekonomi yang menekan rakyat kecil, gaya hidup yang memuja citra di atas substansi.

Jika di desa tenget membuat orang berdoa dan berperilaku hormat, di kota tenget justru membuat orang keras hati, apatis, dan paranoid. Orang takut ditipu, takut disalip, takut kalah. Orang menutup pintu rumah rapat-rapat, memasang CCTV, mengunci diri. Sementara di desa, orang masih bisa menitip pesan pada tetangga, meninggalkan pintu terbuka.

Apakah kita harus kembali ke desa? Tidak juga. Tapi kita bisa belajar dari desa tentang kesederhanaan, tentang gotong-royong, tentang hidup berdampingan. Kita bisa membawa nilai-nilai itu ke kota, mengikis aura tenget yang kita ciptakan sendiri.

Mungkin kita juga harus mengubah cara pandang menganggap kota bukan sebagai arena perang, tetapi sebagai rumah bersama. Mengembalikan ruang publik, ruang hijau, dan budaya saling menyapa. Membuka diri untuk kejujuran dan solidaritas. Tidak mudah, tetapi tanpa itu, kota hanya akan menjadi tempat berhantu—tenget dalam arti yang paling mencekam.

Dan pada akhirnya, seperti kata leluhur, semua kembali ke sikap batin kita sendiri. Tenget akan tetap ada di mana-mana selama kita memeliharanya dalam hati iri, dengki, serakah, pura-pura baik. Tapi tenget juga bisa sirna bila kita mengisinya dengan ketulusan, kejujuran, dan kesadaran. Kota pun bisa terasa teduh dan suci, meski penuh beton. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: desagaya hidupKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerak-gerik Budaya Bali

Next Post

Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co