24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 1, 2025
in Esai
Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

TEMBOK selalu memiliki makna simbolis yang lebih besar daripada sekadar deretan batu bata dan semen. Ia bisa menjadi pelindung, tapi sekaligus bisa berubah menjadi penghalang. Ia dapat menghadirkan rasa aman, namun pada saat yang sama juga menimbulkan rasa keterasingan. Ketika berita tentang pembangunan tembok di sekitar kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali, merebak, banyak warga terkejut. Tembok itu bukan sekadar fisik, melainkan tembok yang memisahkan akses masyarakat lokal terhadap ruang hidupnya sendiri.

Ironisnya, dunia sudah belajar banyak dari sejarah tembok. Tembok Berlin, yang berdiri tegak dari tahun 1961 hingga 1989, menjadi simbol pemisahan yang paling terkenal dalam abad ke-20. Ia memisahkan orang-orang yang sebenarnya satu bangsa, memisahkan keluarga, memisahkan mimpi, dan bahkan memisahkan cinta. Ketika akhirnya runtuh pada November 1989, dunia menyambutnya sebagai kemenangan kemanusiaan, kemenangan atas sekat-sekat yang memisahkan manusia. Maka pertanyaannya: mengapa kini, di era keterbukaan global, kita justru menyaksikan pembangunan tembok baru di Bali?

Tembok yang Menghalangi Nafas Sosial

Bali dikenal sebagai pulau dengan filosofi Tri Hita Karana, keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam. Filosofi ini telah menjadi ruh kehidupan masyarakat Bali. Akses jalan, jalan setapak, bahkan jalur kecil di sawah bukanlah sekadar infrastruktur, melainkan juga bagian dari ruang sosial yang memungkinkan interaksi. Jalan adalah perpanjangan dari halaman rumah, tempat di mana orang saling menyapa.

Ketika akses itu terhalang oleh tembok, yang hilang bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga ruang sosial budaya masyarakat. Bayangkan warga yang sejak kecil terbiasa lewat jalan tertentu menuju pura, ladang, pasar, kantor atau rumah kerabatnya, tiba-tiba mendapati jalan itu tertutup oleh beton tinggi. Apa yang dirasakan? Jelas ada perasaan terasing dan terkurung di tanah sendiri.

GWK: Dari Cita-cita Bersama Menjadi Simbol Ketidakberdayaan

Garuda Wisnu Kencana (GWK) dibangun dengan cita-cita besar: menghadirkan mahakarya kebanggaan bangsa, monumen budaya yang menunjukkan keagungan nusantara. Saya masih ingat, awalnya beberapa tokoh Bali, kalau tidak salah, pernah menggagas agar GWK bisa dimiliki bersama melalui semacam “Bali Corporation”. Mimpi itu indah—GWK bukan hanya monumen, tetapi juga aset rakyat Bali.

Namun kenyataan kini berbeda. GWK memang megah, dikunjungi wisatawan, menjadi ikon global. Tetapi bagaimana dengan rakyat kecil di sekitarnya? Apakah mereka turut merasakan manfaatnya, atau justru merasa dipisahkan oleh dinding beton?

Tembok di GWK bukanlah sekadar penghalang fisik, ia menyuarakan jarak yang semakin lebar antara cita-cita awal dan realitas hari ini. Masyarakat sekitar yang seharusnya menjadi bagian dari denyut hidup GWK justru merasa tersisih.

Belajar dari Runtuhnya Tembok Berlin

Tembok Berlin roboh bukan semata karena palu dan linggis para demonstran, melainkan karena kesadaran kolektif bahwa tembok itu tidak lagi relevan. Dunia bergerak menuju keterbukaan, orang ingin bebas bergerak, bebas berinteraksi, bebas bermimpi. Tembok Berlin adalah simbol kegagalan sebuah rezim untuk memahami aspirasi rakyatnya sendiri.

Kini, apakah kita sedang mengulang sejarah dengan cara lain? Mungkin niat pembangunan tembok di GWK adalah untuk menata kawasan, menjaga keamanan, atau alasan teknis lainnya. Tetapi pesan simboliknya jauh lebih dalam: tembok itu memperlihatkan ketidakpekaan terhadap kebutuhan dasar masyarakat—akses.

Sejarah sudah memberi pelajaran: tembok yang dibangun tanpa mempertimbangkan kemanusiaan pada akhirnya akan runtuh, entah secara fisik, entah secara simbolis.

Membangun Tanpa Memisahkan

Apakah mungkin menata kawasan wisata megah seperti GWK tanpa harus memisahkan warga lokal dari ruang hidupnya? Sangat mungkin. Dunia modern mengenal konsep inclusive development—pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada investor atau wisatawan, tetapi juga melibatkan dan memberdayakan masyarakat lokal.

Alih-alih membangun tembok yang menutup akses, mengapa tidak membangun gerbang, jalur khusus, atau bahkan ruang publik bersama? Dengan begitu, GWK tetap terjaga keindahannya, tetapi masyarakat sekitar tidak merasa terasing. Bukankah lebih indah bila wisatawan yang datang ke GWK bisa menyaksikan kehidupan lokal yang hidup dan harmonis, bukan wajah murung warga yang jalannya terhalang tembok?

Refleksi untuk Bali dan Indonesia

Bali sedang menghadapi banyak tantangan: over-turisasi, kerusakan lingkungan, alih funsi lahan, masalah sampah, macet, dan ketimpangan ekonomi. Pembangunan tembok di GWK hanyalah satu contoh kecil dari masalah besar: kurangnya keseimbangan antara kepentingan global dan kepentingan lokal. Jika dibiarkan, hal-hal kecil seperti ini bisa menumpuk menjadi bom sosial.

Seperti kata pepatah, “penyesalan selalu datang terlambat.” Berlin menyesal setelah puluhan tahun rakyatnya menderita akibat tembok. Apakah Bali juga akan menyesal di kemudian hari, ketika harmoni sosialnya benar-benar terkoyak?

Tembok GWK seharusnya mengingatkan kita bahwa Bali tidak boleh kehilangan rohnya. Monumen boleh menjulang setinggi langit, tetapi jangan sampai meruntuhkan jembatan hati antara warga lokal dan ruang hidup mereka.

Penutup

Ini tembok GWK, bukan tembok Berlin. Tetapi pesan sejarah sama jelasnya: tembok yang memisahkan manusia dengan tanah kelahirannya, dengan budaya yang diwarisinya, dengan sesama saudaranya, pada akhirnya tidak akan pernah berdiri tegak selamanya.

Mungkin tembok GWK masih baru, masih kokoh, masih bersih. Tetapi ia sudah rapuh dalam makna—karena ia dibangun di atas jurang pemisahan. Maka sebelum terlambat, mari kita belajar dari Berlin: tembok bukanlah solusi, melainkan masalah itu sendiri. Yang dibutuhkan Bali bukan tembok, melainkan jembatan—jembatan fisik, jembatan sosial, jembatan hati, menuji Harmoni. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan
Tags: baliGaruda Wisnu Kencana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Next Post

ISI Bali dan Sanggar Lokananta Pentaskan Drama Tari “The Search for Sita” di International Ramayana Festival 2025, India

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
ISI Bali dan Sanggar Lokananta Pentaskan Drama Tari “The Search for Sita” di International Ramayana Festival 2025, India

ISI Bali dan Sanggar Lokananta Pentaskan Drama Tari "The Search for Sita" di International Ramayana Festival 2025, India

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co