TEMU Karsa adalah program kolaborasi antara Gama Foto, I Ni Artchive, dan Tegal Temu. Program ini menjadi upaya menggali sekaligus mengarsipkan perjalanan kreatif para pencipta di Bali dalam bentuk talk show yang menghadirkan ruang dialog intim antara kreator dan publik. Harapannya, Temu Karsa dapat menjadi wadah untuk berbagi proses, pengalaman, serta pandangan seorang pencipta, sekaligus mendorong lahirnya kreasi-kreasi baru di Bali.
Edisi perdana Temu Karsa yang digelar Jumat, 5 September 2025 di Tegal Temu Space, Banjar Tegaltamu, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Talk show ini menghadirkan seorang fotografer kelahiran Singaraja, yang dikenal peduli terhadap isu-isu sosial dan kemanusiaan khususnya persoalan Gangguan Jiwa. Pada talk show ini, buku Hope and Freedom karya Rudi Waisnawa menjadi topik utama diselenggarakannya acara ini. Buku ini berisi kisah-kisah dan foto-foto Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat yang pernah maupun masih mengalami pamasungan di Bali.
Pada malam itu, Rudi begitu sapaan akrabnya, membagikan perjalanan panjangnya sebagai fotografer sekaligus menjadi relawan yang mendampingi ODGJ. Selain membagikan kisah perjalanannya, Rudi juga menghadirkan tiga foto ODGJ yang pernah ia pamerkan selama menjadi relawan. Selain foto, ia juga membawa sepotong kayu yang pernah digunakan oleh seorang pasien ODGJ dulunya. Pada talk show ini, dihadirkan juga Buku fisik Hope and Freedom karya Rudi Waisnawa.

Dalam perbincangan, Rudi mengisahkan perjalanan awalnya sebelum terjun mendokumentasikan dan ikut serta menjadi relawan. Setelah ia menyelesaikan Pendidikan di Sekolah Menegah Atas, Rudi mulai terjun ke dunia kerja. Di dalam perjalanannya, Rudi mulai menekuni dunia fotografi yang akhirnya menjadi profesinya, di samping sebagai pekerja film komersial. Rudi juga pernah bekerja di sebuah majalah Internasional yang terbit di Indonesia.
Di dalam perjalanannya, kemudian ia bertemu dengan seorang wartawan dari Singapura. Teman wartawannya ini memberikan Rudi data ODGJ yang terpasung di Pulau Bali.
Saat menerima data tersebut, Rudi ragu bahwa di Bali masih ada praktek pemasungan yang dikatakan tersebut. Penasaran dengan data itu, Rudi melakukan riset selama kurang lebih lima bulan. Mendapati bahwa data itu benar adanya, rasa marah dan gelisah mendorongnya untuk terjun langsung dan ingin membantu.
Melalui Ibu L K Suryani, seorang Psikiater dan Founder Suryani Institut For Mental Health (SIMH), Rudi meminta bantuan kepada beliau agar bisa turut terjun dan bertemu dengan para pasien ODGJ yang terpasung di Bali. Upaya untuk melakukan hal itu tidaklah mudah. Niat Rudi sempat ditolak. Lalu Ibu L K Suryani menawarkan Rudi untuk bersedia menjadi relawan di SIMH.
Kasus pertama di mana Rudi ikut serta dalam program itu adalah membantu Kadek Dana, yang berasal dari Klungkung. Kadek Dana menderita gangguan jiwa setelah ia gagal menempuh pendidikan. Pengalaman melihat langsung korban pemasungan membuat hati Rudi semakin tergerak untuk membantu lebih banyak lagi.

Pada tahun 2015, Rudi mengikuti sebuah Pameran Internasional bertajuk Terpasung Di Pulau Surga, yang diikuti oleh 13 Fotografer dari berbagai negara, berlangsung selama 1 bulan di Bentara Budaya Bali. Selanjutnya berturut-turut Rudi mengikuti pameran dengan judul Tears in Paradise di Rafles Hotel Galeri Singapura, Tahun 2016 mengikuti Program Mabesikan Project dari Kedutaan Denmark di Indonesia.
Di Bulan Oktober 2017, Rudi diundang berpameran di acara Konferensi Anti Stigma Dunia di Copenhagen, Tahun 2019 diundang sebagai pembicara di Ubud Writer and Readers Festival (UWRF 2019) berjudul Karma, dan di bulan Februari 2021 Rudi mengikuti Pameran berjudul IMPACT Photo That Matter di Negeri Belanda. Rudi juga membuat video berjudul Terpasung di Pulau Surga, mengisahkan bagaimana SIMH menemukan dan membantu ODGJ di pelosok-pelosok Bali. Bagi Rudi, fotografi tidak hanya berhenti pada kode etik, diafragma, komposisi atau hal-hal teknik saja, tetapi baginya fotografi adalah sebuah opini, dan argumentasi, bahkan bisa menjadi sarana penyembuhan dan membangun empati.
Menurut Rudi, pertemuan dengan ODGJ bukanlah hal yang mudah. Ia kerap menghadapi ancaman, bahkan pernah mendapat kekerasan dari kerabat pasien. Namun, Rudi menegaskan bahwa “niat baik akan menemukan jalannya”. Ia melihat ODGJ bukan sebagai sosok yang menakutkan, melainkan sebagai manusia yang memerlukan bantuan dan keluarga yang sudah kehilangan harapan. Pengalaman itu mampu menyadarkan Rudi bahwa dengan pendekatan yang tepat, orang dengan gangguan jiwa bisa pulih.
Kedekatan Rudi dengan para pasien membuatnya memahami lebih jauh tentang dunia kesehatan jiwa. Bahkan, saking sering dan dekatnya Rudi dengan pasien, Rudi sampai mampu mengenali jenis obat yang dikonsumsi pasien hanya lewat obrolannya saja. Bagi Rudi, konsisten, empati, dan menjaga kesehatan mental pribadi adalah kunci agar bisa terus mendampingi mereka.
Sampai saat acara Temu Karsa ini berlangsung, Rudi masih aktif sebagai Relawan SIMH dan tiap bulan mengunjungi ODGJ dan memberikan bantuan kebutuhan pokok dan bantuan pengobatan lewat program Bali Hope and Freedom. Rudi juga menginisiasi gerakan IAM SCHIZOFRIEND. Lewat gerakan ini Rudi bertekad menjadi teman bagi mereka pengidap gangguan jiwa berat, karena maraknya kasus bunuh diri di Bali. Rudi berprinsip dengan menjadi temannya dan mendengarkan keluhannya memberikan kesempatan untuk membantunya dan percaya hal hal kecil bisa menyelamatkan nyawa.
Cerita yang Rudi bagikan pada malam itu menuai banyak tanggapan dari audiens. Para sahabat yang hadir menyatakan rasa bangga atas keberanian Rudi mengangkat isu sensitif ini.
Saat wabah covid 19 melanda Bali, Rudi menggagas sebuah acara lari, acara lari tersebut diberi nama Hope and Freedom Run For Mental Health, sebuah acara lari menempuh jarak 50KM. Rudi menginisiasi acara tersebut dan terinspirasi menggunakan nama tersebut menjadi judul buku yang ia release. Tidak asal mengambil nama, Rudi menggunakan nama tersebut karena menurutnya cocok dengan kondisi dari apa yang buku tersebut ceritakan.

Buku Hope and Freedom diluncurkan pada tahun 2022. Buku Hope and Freedom sudah terjual hampir 1000 buku sampai tahun 2025 baik dalam negeri maupun luar negeri. Hasil dari penjualannya puluhan kali sudah digunakan untuk memberikan bantuan kebutuhan pokok kepada orang-orang yang kisah dan fotonya ada di setiap lembar buku Hope and Freedom. Melalui karya buku ini, Rudi ingin mengingatkan orang-orang bahwa ODGJ memiliki hak untuk sembuh dan bebas dari pemasungan. Kesembuhan mereka bisa dicapai dengan bantuan orang yang tepat dan metode yang sesuai.
Dengan idealisme dan empatinya, Rudi Waisnawa menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya terhenti sebagai karya seni. Ia menjadikannya suara bagi mereka yang terbungkam, sekaligus ajakan bagi generasi muda untuk lebih peduli, mendengar tanpa menghakimi, dan terus menumbuhkan kesadaran tentang kesehatan jiwa.
Kabar terbaru dari buku Hope and Freedom, atas bantuan Charles Van Der Weide, dan Marjan Van Der Kuil, sahabat Rudi Waisnawa dari Belanda, buku ini akan kembali dicetak dalam edisi Bahasa Inggris sebanyak 1000 buku pada akhir tahun 2025. [T]
Penulis: Ni Komang Yuliani
Editor: Adnyana Ole



























