Sekitar tahun 1978, kala saya masih duduk di bangku SMP, ada satu tempat yang begitu lekat dalam ingatan: Tukad Gredeg. Sungai kecil itu membelah kawasan barat Monang Maning, sebelum Perumnas dibangun. Nama “Gredeg” sendiri tidak pernah jelas asal-usulnya, tetapi bagi anak-anak kala itu, Tukad Gredeg adalah ruang bermain, ruang belajar, sekaligus ruang menemukan kebahagiaan sederhana.
Posisinya saat ini mungkin di jembatan yang terletak di ujung barat Jalan Gunung Karang. Ada semacam dinding yang membendung aliran Tukad Gredeg, mirip sebuah bendungan kecil. Kedalaman dulu sekitar dua meter dengan lebar hampir tiga meter adalah dunia yang penuh petualangan. Air yang jatuh ke dasar sungai berbatu membentuk celah di mana kami merangkak mencari kepiting. Itu adalah dunia kanak-kanak yang seolah tidak ada habisnya—air, batu, suara gemericik, dan tawa.
Namun, sekitar tahun 1980, Perumnas mulai dibangun. Setahun kemudian, saya pun meninggalkan Bali, menempuh perjalanan hidup penuh liku: pendidikan militer selama tiga bulan penuh di TNI AD Cimahi, lalu pendidikan Makasar dan Bandung masing-masing setahun, hingga akhirnya penempatan perdana di Manado. Setelah ikatan dinas selesai, saya memilih pulang. Tetapi ketika kembali, saya mendapati sesuatu yang berbeda: Tukad Gredeg yang dulu akrab dan hidup kini seolah raib bagai siluman. Yang tersisa adalah sosoknya yang rapuh, ditelan perubahan dan modernisasi.
Sungai yang Hilang Jejak
Saya mencoba mencari, menelusuri kembali, di mana sesungguhnya aliran Tukad Gredeg sekarang. Namun, yang saya temukan adlah sepadan sungai itu telah berubah total. Bangunan beton, mencaplok pinggir sungai, baik di sisi timur maupun barat. Sungai yang dahulu menjadi ruang bermain anak-anak desa, kini kehilangan bentuknya. Ia tidak lagi hadir sebagai ruang publik, melainkan seolah “ditundukkan” oleh kepentingan lain yang jauh dari manusiawi.
Mungkin inilah wajah perubahan zaman. Tetapi, pertanyaan muncul: perubahan macam apakah yang tega menghapus ruang-ruang hidup, bahkan ingatan kolektif sebuah generasi? Apakah ini harga yang harus dibayar atas nama pembangunan?
Banjir dan Lupa
September lalu, banjir besar melanda sejumlah kawasan di Denpasar. Banyak orang sibuk menyalahkan hujan deras atau cuaca ekstrem. Padahal, bila kita mau jujur, banjir bukan semata-mata “ulah alam.” Alam hanya menunaikan tugasnya. Air mencari jalan, dan ketika jalan itu hilang karena dicaplok beton dan pagar, maka ia meluap tanpa kendali.
Hulu daerah aliran sungai (DAS) juga tidak kalah parah. Bukit-bukit gundul, hutan ditebang, tanah-tanah dicaplok atas nama proyek atau kepentingan pribadi. Eksploitasi dilakukan dengan masif, sementara kesadaran ekologis masih jauh tertinggal. Dalam situasi seperti ini, apakah kita masih pantas menyalahkan air? Atau justru menyalahkan diri kita sendiri sebagai manusia yang terlalu rakus?
Kongkalikong yang Membisu
Perubahan wajah Tukad Gredeg tentu tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang, ada persetujuan diam-diam, ada kongkalikong antara penguasa dan pengusaha yang membuat sungai perlahan kehilangan wujudnya. Tidak perlu menunjuk hidung siapa yang bersalah, tetapi mari kita akui: di negeri ini, kekuasaan dan kepentingan bisnis sering berjalan beriringan, mengabaikan kelestarian alam. Sungai yang seharusnya menjadi milik bersama bisa tiba-tiba terdesak oleh dinding beton,bahkan mungkin juga lenyap dari peta, karena berganti ruang bisnis atas nama keserakahan.
Prof.Dr.Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si. dosen Arsitektur, yang rupanya menjadi penerus jejak almarhum Prof. Nyoman Gelebet, dalam menyuarakan kepedulian terhadap alam dan lingkungan, saat ditemui media Indonesia Expose menegaskan, bahwa banjir besar yang melanda Bali, Rabu 10 September 2025, tidak bisa hanya menyalahkan tingginya curah hujan ekstrem, alih fungsi lahan dan tata ruang yang buruk merupakan faktor utama yang memperparah bencana ini.
Tukad Gredeg sebagai Simbol
Bagi saya, Tukad Gredeg bukan sekadar nama sungai. Ia adalah simbol tentang bagaimana kita memperlakukan ruang hidup. Ia adalah pengingat bahwa alam pernah begitu dekat dengan kita, memberi tempat bermain, memberi tawa, bahkan memberi makanan sederhana berupa kepiting kecil. Tetapi, seiring waktu, kita kehilangan kedekatan itu. Kita lebih memilih tembok daripada gemericik air, lebih memilih beton daripada ruang hijau.
Kini, ketika Tukad Gredeg nyaris tak bisa ditemukan, bahkan Mbah Google cuma diam membisu tanpa mampu menjawab dimana keberadaannya, saya merasa seakan kehilangan bagian dari diri saya sendiri. Hilangnya sungai ini bukan hanya kehilangan ruang fisik, melainkan juga kehilangan memori kolektif. Generasi baru mungkin tidak pernah tahu bahwa di antara deretan rumah-rumah di Perumnas Monang Maning, pernah ada sungai yang penuh cerita.
Refleksi untuk Kita Semua
Kemana Tukad Gredeg harus mengadu? Pertanyaan itu tentu hanya retoris. Sungai tidak punya suara untuk berteriak. Alam tidak menulis surat protes. Hanya kita, manusialah yang bisa memilih: apakah akan terus menutup mata, atau mulai mengembalikan sedikit ruang bagi kehidupan.
Barangkali sudah saatnya kita berhenti berpikir bahwa pembangunan selalu identik dengan beton dan aspal. Pembangunan sejati adalah ketika manusia bisa hidup selaras dengan alam, ketika sungai tetap mengalir jernih, ketika anak-anak masih bisa bermain tanpa takut tergerus arus sampah dan limbah.
Tukad Gredeg adalah cermin bagi banyak sungai lain di Bali, bahkan di seluruh negeri ini. Jika kita tidak mau belajar dari masa lalu, maka banjir, longsor, dan bencana lain akan terus datang. Alam akan selalu mencari jalannya sendiri, dan manusia akan selalu menjadi pihak yang kalah bila terus menutup telinga.
Kini, mungkin Tukad Gredeg tidak bisa lagi dikembalikan ke wajah lamanya. Tetapi, paling tidak, kita bisa menjadikannya pelajaran. Agar sungai-sungai lain tidak bernasib sama. Agar anak-anak masa depan masih punya ruang untuk bermain, bercanda, dan merayakan hidup di tepi air yang mengalir.
Kemana Tukad Gredeg harus mengadu? Jawabannya ada pada hati nurani kita. Jika kita masih punya rasa malu pada alam, masih punya rasa hormat pada kehidupan, maka suara Tukad Gredeg akan terus bergema, meski dalam diam. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
- BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA


























