26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 27, 2025
in Esai
Tukad Gredeg, Riwayatmu Dulu

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

Sekitar tahun 1978, kala saya masih duduk di bangku SMP, ada satu tempat yang begitu lekat dalam ingatan: Tukad Gredeg. Sungai kecil itu membelah kawasan barat Monang Maning, sebelum Perumnas dibangun. Nama “Gredeg” sendiri tidak pernah jelas asal-usulnya, tetapi bagi anak-anak kala itu, Tukad Gredeg adalah ruang bermain, ruang belajar, sekaligus ruang menemukan kebahagiaan sederhana.

Posisinya saat ini mungkin di jembatan yang terletak di ujung barat Jalan Gunung Karang. Ada semacam dinding yang membendung aliran Tukad Gredeg, mirip sebuah bendungan kecil. Kedalaman dulu sekitar dua meter dengan lebar hampir tiga meter adalah dunia yang penuh petualangan. Air yang jatuh ke dasar sungai berbatu membentuk celah di mana kami merangkak mencari kepiting. Itu adalah dunia kanak-kanak yang seolah tidak ada habisnya—air, batu, suara gemericik, dan tawa.

Namun, sekitar tahun 1980, Perumnas mulai dibangun. Setahun kemudian, saya pun meninggalkan Bali, menempuh perjalanan hidup penuh liku: pendidikan militer selama tiga bulan penuh di TNI AD Cimahi, lalu pendidikan Makasar dan Bandung masing-masing setahun, hingga akhirnya penempatan perdana di Manado. Setelah ikatan dinas selesai, saya memilih pulang. Tetapi ketika kembali, saya mendapati sesuatu yang berbeda: Tukad Gredeg yang dulu akrab dan hidup kini seolah raib bagai siluman. Yang tersisa adalah sosoknya yang rapuh, ditelan perubahan dan modernisasi.

Sungai yang Hilang Jejak

Saya mencoba mencari, menelusuri kembali, di mana sesungguhnya aliran Tukad Gredeg sekarang. Namun, yang saya temukan adlah sepadan sungai itu telah berubah total. Bangunan beton, mencaplok pinggir sungai, baik di sisi timur maupun barat. Sungai yang dahulu menjadi ruang bermain anak-anak desa, kini kehilangan bentuknya. Ia tidak lagi hadir sebagai ruang publik, melainkan seolah “ditundukkan” oleh kepentingan lain yang jauh dari manusiawi.

Mungkin inilah wajah perubahan zaman. Tetapi, pertanyaan muncul: perubahan macam apakah yang tega menghapus ruang-ruang hidup, bahkan ingatan kolektif sebuah generasi? Apakah ini harga yang harus dibayar atas nama pembangunan?

Banjir dan Lupa

September lalu, banjir besar melanda sejumlah kawasan di Denpasar. Banyak orang sibuk menyalahkan hujan deras atau cuaca ekstrem. Padahal, bila kita mau jujur, banjir bukan semata-mata “ulah alam.” Alam hanya menunaikan tugasnya. Air mencari jalan, dan ketika jalan itu hilang karena dicaplok beton dan pagar, maka ia meluap tanpa kendali.

Hulu daerah aliran sungai (DAS) juga tidak kalah parah. Bukit-bukit gundul, hutan ditebang, tanah-tanah dicaplok atas nama proyek atau kepentingan pribadi. Eksploitasi dilakukan dengan masif, sementara kesadaran ekologis masih jauh tertinggal. Dalam situasi seperti ini, apakah kita masih pantas menyalahkan air? Atau justru menyalahkan diri kita sendiri sebagai manusia yang terlalu rakus?

Kongkalikong yang Membisu

Perubahan wajah Tukad Gredeg tentu tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang, ada persetujuan diam-diam, ada kongkalikong antara penguasa dan pengusaha yang membuat sungai perlahan kehilangan wujudnya. Tidak perlu menunjuk hidung siapa yang bersalah, tetapi mari kita akui: di negeri ini, kekuasaan dan kepentingan bisnis sering berjalan beriringan, mengabaikan kelestarian alam. Sungai yang seharusnya menjadi milik bersama bisa tiba-tiba terdesak oleh dinding beton,bahkan mungkin juga lenyap dari peta, karena berganti ruang bisnis atas nama keserakahan.

Prof.Dr.Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si. dosen Arsitektur, yang rupanya menjadi penerus jejak almarhum Prof. Nyoman Gelebet, dalam menyuarakan kepedulian terhadap alam dan lingkungan, saat ditemui media Indonesia Expose menegaskan, bahwa banjir besar yang melanda Bali, Rabu  10 September 2025,  tidak bisa hanya menyalahkan tingginya curah hujan ekstrem, alih fungsi lahan dan tata ruang yang buruk merupakan faktor utama yang memperparah bencana ini.

Tukad Gredeg sebagai Simbol

Bagi saya, Tukad Gredeg bukan sekadar nama sungai. Ia adalah simbol tentang bagaimana kita memperlakukan ruang hidup. Ia adalah pengingat bahwa alam pernah begitu dekat dengan kita, memberi tempat bermain, memberi tawa, bahkan memberi makanan sederhana berupa kepiting kecil. Tetapi, seiring waktu, kita kehilangan kedekatan itu. Kita lebih memilih tembok daripada gemericik air, lebih memilih beton daripada ruang hijau.

Kini, ketika Tukad Gredeg nyaris tak bisa ditemukan, bahkan Mbah Google cuma diam membisu tanpa mampu menjawab dimana keberadaannya, saya merasa seakan kehilangan bagian dari diri saya sendiri. Hilangnya sungai ini bukan hanya kehilangan ruang fisik, melainkan juga kehilangan memori kolektif. Generasi baru mungkin tidak pernah tahu bahwa di antara deretan rumah-rumah di Perumnas Monang Maning, pernah ada sungai yang penuh cerita.

Refleksi untuk Kita Semua

Kemana Tukad Gredeg harus mengadu? Pertanyaan itu tentu hanya retoris. Sungai tidak punya suara untuk berteriak. Alam tidak menulis surat protes. Hanya kita, manusialah yang bisa memilih: apakah akan terus menutup mata, atau mulai mengembalikan sedikit ruang bagi kehidupan.

Barangkali sudah saatnya kita berhenti berpikir bahwa pembangunan selalu identik dengan beton dan aspal. Pembangunan sejati adalah ketika manusia bisa hidup selaras dengan alam, ketika sungai tetap mengalir jernih, ketika anak-anak masih bisa bermain tanpa takut tergerus arus sampah dan limbah.

Tukad Gredeg adalah cermin bagi banyak sungai lain di Bali, bahkan di seluruh negeri ini. Jika kita tidak mau belajar dari masa lalu, maka banjir, longsor, dan bencana lain akan terus datang. Alam akan selalu mencari jalannya sendiri, dan manusia akan selalu menjadi pihak yang kalah bila terus menutup telinga.

Kini, mungkin Tukad Gredeg tidak bisa lagi dikembalikan ke wajah lamanya. Tetapi, paling tidak, kita bisa menjadikannya pelajaran. Agar sungai-sungai lain tidak bernasib sama. Agar anak-anak masa depan masih punya ruang untuk bermain, bercanda, dan merayakan hidup di tepi air yang mengalir.

Kemana Tukad Gredeg harus mengadu? Jawabannya ada pada hati nurani kita. Jika kita masih punya rasa malu pada alam, masih punya rasa hormat pada kehidupan, maka suara Tukad Gredeg akan terus bergema, meski dalam diam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA

Tags: banjir balidenpasarlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Komunitas Asyik Sendiri?

Next Post

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Festival ke Uma V-2025: Ketika Anak-anak Mengenal Tanah dan Lumpur Sawah dengan Riang-Gembira

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co