23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali ke Amerika [1] — Tanah Impian (Bagi yang Bisa Punya Mobil)

J. Savitri by J. Savitri
September 27, 2025
in Tualang
Kembali ke Amerika [1] — Tanah Impian (Bagi yang Bisa Punya Mobil)

Penulis berpose di samping mobil di Cincinnati, Ohio, AS

SEJAK kecil saya ingin pergi ke luar negeri, belajar di sana. Katanya di negara maju semua serba teratur, tidak seperti di Indonesia. Saat SMA, keinginan itu mulai mengerucut dengan adanya tujuan yang lebih spesifik: Amerika. Lebih spesifik lagi: Amerika Serikat atawa AS.

Siapa yang tidak kenal negara paling berkuasa di dunia saat ini. Film dan drama serinya menjadi hiburan semua kalangan. Kita dibuat kagum dengan kemajuan budayanya. Di benak kita, paling tidak di benak saya, negara ini (beserta penduduknya) superior; lebih maju, lebih kaya, lebih pintar, lebih hebat, lebih segalanya. Tidak heran banyak orang bertanya, “Kenapa tidak tinggal di Amerika saja?” ketika saya kembali ke Indonesia, dari belajar di Amerika, beberapa tahun lalu.

Saya tinggal untuk sementara waktu di negeri Paman Sam–hampir tiga tahun–-untuk menyelesaikan studi pasca sarjana dan bekerja di satu tahun terakhirnya. Saya masih ingat kekaguman saya yang saat langsung teruji di hari-hari pertama tinggal di Amerika, tepatnya di Cincinnati, negara bagian Ohio, AS.

Di sini semua infrastruktur seperti punya skala 1,5-2 kali lipat lebih besar. Pergi kemana saja jadi terasa melelahkan jika dilakukan dengan berjalan kaki. Tidak terlihat fasilitas transportasi publik yang mudah dijangkau. Kebingungan-kebingungan pun muncul; di mana bisa membeli kebutuhan? Toko-toko seperti tidak ada dalam jangkauan.

Deretan mobil di Cincinnati, AS | Foto: J Savitri

Untungnya, saya memilih jurusan yang tepat–planologi–karena diskusi-diskusi yang terjadi selama perkuliahan memaparkan latar belakang dari keadaan ini. Ternyata, Amerika dibangun menjadi negara yang berorientasi pada penggunaan mobil sebagai alat mobilitas utama. Istilah terkenalnya, car-centric atau car-oriented development.

Sebenarnya tidak masalah ke mana tujuannya, asal punya mobil, kebutuhan dasar bisa dijangkau dalam waktu 5-10 menit. Tentu dengan laju berkendara rata-rata 50-70 km/jam di area perkotaan. Di jalan tol antar kota atau antar negara bagian, rata-rata kecepatan ini naik menjadi 100-130 km/jam.

Beruntung di tahun kedua perkuliahan saya punya mobil. Saya jadi bisa dengan mudah belanja ke toko Asia yang jaraknya sekitar 18 km dari rumah, cuma butuh waktu 19-24 menit. Selain itu, pilihan berbelanja kebutuhan jadi lebih luas, bisa memilih toko-toko yang lebih murah.

Supermarket favorit saya namanya Aldi. Dengan belanja di sana, saya bisa hemat 50 sampai 100 dollar setiap bulannya. Rp.750.000-1.500.000 per bulan. Bayangkan jika dikalikan satu tahun.

Mobil dan jalan yang lengang di Cincinnati, AS | Foto: J Savitri

Tapi sekarang, ketika kembali lagi ke Cincinnati, saya berada dalam keadaan yang tidak asing, keterbatasan yang sama seperti tahun pertama hidup di Amerika. Saya mengandalkan teman yang punya mobil. Untung masih ada banyak teman di sini. Lalu bagaimana jika tidak punya teman atau mobil sendiri? Atau jika sekadar enggan terus merepotkan?

Pilihannya ada beberapa. Mari kita coba simulasikan dengan Google Maps. Supermarket terdekat dari area apartemen lama saya jaraknya 2,8 km, dengan mudah dijangkau dalam waktu 7 menit menggunakan mobil atau 10-12 menit jika memasukkan waktu keluar dari rumah dan menyalakan mobil. Dengan bus, waktu perjalanan menjadi 12 menit; belum termasuk waktu jalan ke bus stop dan menunggu bus datang. Waktu ini bisa menjadi 30 menit jika ditotal. Lebih dari dua kali lipat.

Jalan kaki butuh 36 menit jika langkahmu panjang seperti kaki-kaki orang Amerika. Kalau menggunakan sepeda, waktu tempuh menjadi 14 menit dengan kontur tanah Cincinnati yang berbukit. Ada bonus betis kuat ala tukang becak. Namun, ketiga opsi tersebut datang dengan banyak batasan, dari segi waktu sampai jumlah barang yang bisa dibawa.

Hidup di Amerika tanpa mobil mungkin seperti hidup di Indonesia tanpa motor. Bedanya, di sini tidak ada warung madura, toko kelontong, apalagi pedagang sayur keliling. Di sini juga tidak ada taksi motor online yang meskipun mahal kalau diakses setiap hari, bisa terjangkau untuk masa-masa emergency.

Mungkin tidak jadi masalah jika tinggal di Amerika untuk sementara. Paling hanya tidak bisa pergi jalan-jalan menikmati taman kota secara leluasa, harus mengandalkan kebaikan teman. Menabung juga lebih susah karena perlu membayar biaya makan atau transportasi yang lebih mahal. Pada umumnya, pengalaman di Amerika menjadi sangat terbatas.

Masalahnya, ada 6% penduduk Amerika (sekitar 13-14 juta jiwa) yang tidak punya akses transportasi yang memadai. Persentasenya jauh lebih besar untuk suku asli Amerika dan Alaska (17.1%) dan African American (9.2%). Sebagai perbandingan, hanya sedikit dari penduduk Amerika berkulit putih yang menghadapi tantangan serupa (4.8%). Keadaan seperti ini tidak bisa dipisahkan dari kesenjangan berbasis ras.

Apa tidak punya akses pada mobil hal yang sebegitu buruknya? Sebagai negara yang sangat bergantung pada mobil, semua kebutuhan dasar manusia pun akses terbaiknya hanya bisa dicapai dengan mobil. Kita sudah membahas tentang kebutuhan makan. Kebanyakan dari mereka yang tidak mampu membeli mobil, tinggal di daerah yang tidak punya akses memadai ke supermarket apalagi ke sumber makanan sehat. Pilihannya adalah makanan cepat saji yang sangat buruk bagi kesehatan.

Tetapi jika punya masalah kesehatan, mereka juga akan kesulitan untuk pergi berobat, lagi-lagi karena klinik atau rumah sakit tidak dalam jangkauan. Untuk membuat keadaan lebih rumit lagi, keluar dari kondisi finansial yang buruk adalah proses yang sulit.

Mobil di jalan yang lebar di Cincinnati, AS | Foto: J Savitri

Jika ingin mencari pekerjaan dengan bayaran lebih baik, mereka harus punya mobil karena pekerjaan-pekerjaan tersebut biasanya jauh dari area tempat mereka tinggal. Dengan mengandalkan bus, jarak yang bisa dijangkau mobil selama 20-30 menit, dengan mudah berubah menjadi 2 jam.

Tentu saya bertanya, mengapa Amerika tidak mengembangkan sistem transportasi umum? Barangkali keadaannya tak berbeda jauh dari Indonesia yang kian gencar membangun jalan tol namun terus memangkas anggaran transportasi umum. Toh sekarang kita sudah merasakannya; naik bus kota sangat lambat dan tidak bisa diandalkan! Lebih enak naik motor. Tetapi harga motor kian mahal sehingga akhirnya semakin banyak orang tidak mampu membelinya. Mereka yang tidak mampu, hanya bisa mengandalkan transportasi umum yang terbatas jangkauan aksesnya. Kita hanya mengulang kesalahan yang sama.

Semakin banyak mobil dan motor yang ada di jalanan dan di garasi-garasi rumah sebenarnya bukan pertanda yang baik. Ini justru sebuah alarm. Di saat planet sudah tidak mampu lagi menerima limbah pembakaran energi fosil, beralih pada transportasi umum adalah pilihan yang paling bijaksana.

Sudah saatnya kita bertanya kepada presiden, kepala daerah, atau lembaga eksekutif: apa rencana anda terkait pembangunan transportasi umum? [T]

Cincinnati, Ohio, 23 September 2025

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika SerikatCincinnatiKembali ke AmerikaOhiotransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari “Soccer” Menjadi “Football”

Next Post

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co