14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali ke Amerika [1] — Tanah Impian (Bagi yang Bisa Punya Mobil)

J. Savitri by J. Savitri
September 27, 2025
in Tualang
Kembali ke Amerika [1] — Tanah Impian (Bagi yang Bisa Punya Mobil)

Penulis berpose di samping mobil di Cincinnati, Ohio, AS

SEJAK kecil saya ingin pergi ke luar negeri, belajar di sana. Katanya di negara maju semua serba teratur, tidak seperti di Indonesia. Saat SMA, keinginan itu mulai mengerucut dengan adanya tujuan yang lebih spesifik: Amerika. Lebih spesifik lagi: Amerika Serikat atawa AS.

Siapa yang tidak kenal negara paling berkuasa di dunia saat ini. Film dan drama serinya menjadi hiburan semua kalangan. Kita dibuat kagum dengan kemajuan budayanya. Di benak kita, paling tidak di benak saya, negara ini (beserta penduduknya) superior; lebih maju, lebih kaya, lebih pintar, lebih hebat, lebih segalanya. Tidak heran banyak orang bertanya, “Kenapa tidak tinggal di Amerika saja?” ketika saya kembali ke Indonesia, dari belajar di Amerika, beberapa tahun lalu.

Saya tinggal untuk sementara waktu di negeri Paman Sam–hampir tiga tahun–-untuk menyelesaikan studi pasca sarjana dan bekerja di satu tahun terakhirnya. Saya masih ingat kekaguman saya yang saat langsung teruji di hari-hari pertama tinggal di Amerika, tepatnya di Cincinnati, negara bagian Ohio, AS.

Di sini semua infrastruktur seperti punya skala 1,5-2 kali lipat lebih besar. Pergi kemana saja jadi terasa melelahkan jika dilakukan dengan berjalan kaki. Tidak terlihat fasilitas transportasi publik yang mudah dijangkau. Kebingungan-kebingungan pun muncul; di mana bisa membeli kebutuhan? Toko-toko seperti tidak ada dalam jangkauan.

Deretan mobil di Cincinnati, AS | Foto: J Savitri

Untungnya, saya memilih jurusan yang tepat–planologi–karena diskusi-diskusi yang terjadi selama perkuliahan memaparkan latar belakang dari keadaan ini. Ternyata, Amerika dibangun menjadi negara yang berorientasi pada penggunaan mobil sebagai alat mobilitas utama. Istilah terkenalnya, car-centric atau car-oriented development.

Sebenarnya tidak masalah ke mana tujuannya, asal punya mobil, kebutuhan dasar bisa dijangkau dalam waktu 5-10 menit. Tentu dengan laju berkendara rata-rata 50-70 km/jam di area perkotaan. Di jalan tol antar kota atau antar negara bagian, rata-rata kecepatan ini naik menjadi 100-130 km/jam.

Beruntung di tahun kedua perkuliahan saya punya mobil. Saya jadi bisa dengan mudah belanja ke toko Asia yang jaraknya sekitar 18 km dari rumah, cuma butuh waktu 19-24 menit. Selain itu, pilihan berbelanja kebutuhan jadi lebih luas, bisa memilih toko-toko yang lebih murah.

Supermarket favorit saya namanya Aldi. Dengan belanja di sana, saya bisa hemat 50 sampai 100 dollar setiap bulannya. Rp.750.000-1.500.000 per bulan. Bayangkan jika dikalikan satu tahun.

Mobil dan jalan yang lengang di Cincinnati, AS | Foto: J Savitri

Tapi sekarang, ketika kembali lagi ke Cincinnati, saya berada dalam keadaan yang tidak asing, keterbatasan yang sama seperti tahun pertama hidup di Amerika. Saya mengandalkan teman yang punya mobil. Untung masih ada banyak teman di sini. Lalu bagaimana jika tidak punya teman atau mobil sendiri? Atau jika sekadar enggan terus merepotkan?

Pilihannya ada beberapa. Mari kita coba simulasikan dengan Google Maps. Supermarket terdekat dari area apartemen lama saya jaraknya 2,8 km, dengan mudah dijangkau dalam waktu 7 menit menggunakan mobil atau 10-12 menit jika memasukkan waktu keluar dari rumah dan menyalakan mobil. Dengan bus, waktu perjalanan menjadi 12 menit; belum termasuk waktu jalan ke bus stop dan menunggu bus datang. Waktu ini bisa menjadi 30 menit jika ditotal. Lebih dari dua kali lipat.

Jalan kaki butuh 36 menit jika langkahmu panjang seperti kaki-kaki orang Amerika. Kalau menggunakan sepeda, waktu tempuh menjadi 14 menit dengan kontur tanah Cincinnati yang berbukit. Ada bonus betis kuat ala tukang becak. Namun, ketiga opsi tersebut datang dengan banyak batasan, dari segi waktu sampai jumlah barang yang bisa dibawa.

Hidup di Amerika tanpa mobil mungkin seperti hidup di Indonesia tanpa motor. Bedanya, di sini tidak ada warung madura, toko kelontong, apalagi pedagang sayur keliling. Di sini juga tidak ada taksi motor online yang meskipun mahal kalau diakses setiap hari, bisa terjangkau untuk masa-masa emergency.

Mungkin tidak jadi masalah jika tinggal di Amerika untuk sementara. Paling hanya tidak bisa pergi jalan-jalan menikmati taman kota secara leluasa, harus mengandalkan kebaikan teman. Menabung juga lebih susah karena perlu membayar biaya makan atau transportasi yang lebih mahal. Pada umumnya, pengalaman di Amerika menjadi sangat terbatas.

Masalahnya, ada 6% penduduk Amerika (sekitar 13-14 juta jiwa) yang tidak punya akses transportasi yang memadai. Persentasenya jauh lebih besar untuk suku asli Amerika dan Alaska (17.1%) dan African American (9.2%). Sebagai perbandingan, hanya sedikit dari penduduk Amerika berkulit putih yang menghadapi tantangan serupa (4.8%). Keadaan seperti ini tidak bisa dipisahkan dari kesenjangan berbasis ras.

Apa tidak punya akses pada mobil hal yang sebegitu buruknya? Sebagai negara yang sangat bergantung pada mobil, semua kebutuhan dasar manusia pun akses terbaiknya hanya bisa dicapai dengan mobil. Kita sudah membahas tentang kebutuhan makan. Kebanyakan dari mereka yang tidak mampu membeli mobil, tinggal di daerah yang tidak punya akses memadai ke supermarket apalagi ke sumber makanan sehat. Pilihannya adalah makanan cepat saji yang sangat buruk bagi kesehatan.

Tetapi jika punya masalah kesehatan, mereka juga akan kesulitan untuk pergi berobat, lagi-lagi karena klinik atau rumah sakit tidak dalam jangkauan. Untuk membuat keadaan lebih rumit lagi, keluar dari kondisi finansial yang buruk adalah proses yang sulit.

Mobil di jalan yang lebar di Cincinnati, AS | Foto: J Savitri

Jika ingin mencari pekerjaan dengan bayaran lebih baik, mereka harus punya mobil karena pekerjaan-pekerjaan tersebut biasanya jauh dari area tempat mereka tinggal. Dengan mengandalkan bus, jarak yang bisa dijangkau mobil selama 20-30 menit, dengan mudah berubah menjadi 2 jam.

Tentu saya bertanya, mengapa Amerika tidak mengembangkan sistem transportasi umum? Barangkali keadaannya tak berbeda jauh dari Indonesia yang kian gencar membangun jalan tol namun terus memangkas anggaran transportasi umum. Toh sekarang kita sudah merasakannya; naik bus kota sangat lambat dan tidak bisa diandalkan! Lebih enak naik motor. Tetapi harga motor kian mahal sehingga akhirnya semakin banyak orang tidak mampu membelinya. Mereka yang tidak mampu, hanya bisa mengandalkan transportasi umum yang terbatas jangkauan aksesnya. Kita hanya mengulang kesalahan yang sama.

Semakin banyak mobil dan motor yang ada di jalanan dan di garasi-garasi rumah sebenarnya bukan pertanda yang baik. Ini justru sebuah alarm. Di saat planet sudah tidak mampu lagi menerima limbah pembakaran energi fosil, beralih pada transportasi umum adalah pilihan yang paling bijaksana.

Sudah saatnya kita bertanya kepada presiden, kepala daerah, atau lembaga eksekutif: apa rencana anda terkait pembangunan transportasi umum? [T]

Cincinnati, Ohio, 23 September 2025

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika SerikatCincinnatiKembali ke AmerikaOhiotransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari “Soccer” Menjadi “Football”

Next Post

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co