2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali ke Amerika [1] — Tanah Impian (Bagi yang Bisa Punya Mobil)

J. Savitri by J. Savitri
September 27, 2025
in Tualang
Kembali ke Amerika [1] — Tanah Impian (Bagi yang Bisa Punya Mobil)

Penulis berpose di samping mobil di Cincinnati, Ohio, AS

SEJAK kecil saya ingin pergi ke luar negeri, belajar di sana. Katanya di negara maju semua serba teratur, tidak seperti di Indonesia. Saat SMA, keinginan itu mulai mengerucut dengan adanya tujuan yang lebih spesifik: Amerika. Lebih spesifik lagi: Amerika Serikat atawa AS.

Siapa yang tidak kenal negara paling berkuasa di dunia saat ini. Film dan drama serinya menjadi hiburan semua kalangan. Kita dibuat kagum dengan kemajuan budayanya. Di benak kita, paling tidak di benak saya, negara ini (beserta penduduknya) superior; lebih maju, lebih kaya, lebih pintar, lebih hebat, lebih segalanya. Tidak heran banyak orang bertanya, “Kenapa tidak tinggal di Amerika saja?” ketika saya kembali ke Indonesia, dari belajar di Amerika, beberapa tahun lalu.

Saya tinggal untuk sementara waktu di negeri Paman Sam–hampir tiga tahun–-untuk menyelesaikan studi pasca sarjana dan bekerja di satu tahun terakhirnya. Saya masih ingat kekaguman saya yang saat langsung teruji di hari-hari pertama tinggal di Amerika, tepatnya di Cincinnati, negara bagian Ohio, AS.

Di sini semua infrastruktur seperti punya skala 1,5-2 kali lipat lebih besar. Pergi kemana saja jadi terasa melelahkan jika dilakukan dengan berjalan kaki. Tidak terlihat fasilitas transportasi publik yang mudah dijangkau. Kebingungan-kebingungan pun muncul; di mana bisa membeli kebutuhan? Toko-toko seperti tidak ada dalam jangkauan.

Deretan mobil di Cincinnati, AS | Foto: J Savitri

Untungnya, saya memilih jurusan yang tepat–planologi–karena diskusi-diskusi yang terjadi selama perkuliahan memaparkan latar belakang dari keadaan ini. Ternyata, Amerika dibangun menjadi negara yang berorientasi pada penggunaan mobil sebagai alat mobilitas utama. Istilah terkenalnya, car-centric atau car-oriented development.

Sebenarnya tidak masalah ke mana tujuannya, asal punya mobil, kebutuhan dasar bisa dijangkau dalam waktu 5-10 menit. Tentu dengan laju berkendara rata-rata 50-70 km/jam di area perkotaan. Di jalan tol antar kota atau antar negara bagian, rata-rata kecepatan ini naik menjadi 100-130 km/jam.

Beruntung di tahun kedua perkuliahan saya punya mobil. Saya jadi bisa dengan mudah belanja ke toko Asia yang jaraknya sekitar 18 km dari rumah, cuma butuh waktu 19-24 menit. Selain itu, pilihan berbelanja kebutuhan jadi lebih luas, bisa memilih toko-toko yang lebih murah.

Supermarket favorit saya namanya Aldi. Dengan belanja di sana, saya bisa hemat 50 sampai 100 dollar setiap bulannya. Rp.750.000-1.500.000 per bulan. Bayangkan jika dikalikan satu tahun.

Mobil dan jalan yang lengang di Cincinnati, AS | Foto: J Savitri

Tapi sekarang, ketika kembali lagi ke Cincinnati, saya berada dalam keadaan yang tidak asing, keterbatasan yang sama seperti tahun pertama hidup di Amerika. Saya mengandalkan teman yang punya mobil. Untung masih ada banyak teman di sini. Lalu bagaimana jika tidak punya teman atau mobil sendiri? Atau jika sekadar enggan terus merepotkan?

Pilihannya ada beberapa. Mari kita coba simulasikan dengan Google Maps. Supermarket terdekat dari area apartemen lama saya jaraknya 2,8 km, dengan mudah dijangkau dalam waktu 7 menit menggunakan mobil atau 10-12 menit jika memasukkan waktu keluar dari rumah dan menyalakan mobil. Dengan bus, waktu perjalanan menjadi 12 menit; belum termasuk waktu jalan ke bus stop dan menunggu bus datang. Waktu ini bisa menjadi 30 menit jika ditotal. Lebih dari dua kali lipat.

Jalan kaki butuh 36 menit jika langkahmu panjang seperti kaki-kaki orang Amerika. Kalau menggunakan sepeda, waktu tempuh menjadi 14 menit dengan kontur tanah Cincinnati yang berbukit. Ada bonus betis kuat ala tukang becak. Namun, ketiga opsi tersebut datang dengan banyak batasan, dari segi waktu sampai jumlah barang yang bisa dibawa.

Hidup di Amerika tanpa mobil mungkin seperti hidup di Indonesia tanpa motor. Bedanya, di sini tidak ada warung madura, toko kelontong, apalagi pedagang sayur keliling. Di sini juga tidak ada taksi motor online yang meskipun mahal kalau diakses setiap hari, bisa terjangkau untuk masa-masa emergency.

Mungkin tidak jadi masalah jika tinggal di Amerika untuk sementara. Paling hanya tidak bisa pergi jalan-jalan menikmati taman kota secara leluasa, harus mengandalkan kebaikan teman. Menabung juga lebih susah karena perlu membayar biaya makan atau transportasi yang lebih mahal. Pada umumnya, pengalaman di Amerika menjadi sangat terbatas.

Masalahnya, ada 6% penduduk Amerika (sekitar 13-14 juta jiwa) yang tidak punya akses transportasi yang memadai. Persentasenya jauh lebih besar untuk suku asli Amerika dan Alaska (17.1%) dan African American (9.2%). Sebagai perbandingan, hanya sedikit dari penduduk Amerika berkulit putih yang menghadapi tantangan serupa (4.8%). Keadaan seperti ini tidak bisa dipisahkan dari kesenjangan berbasis ras.

Apa tidak punya akses pada mobil hal yang sebegitu buruknya? Sebagai negara yang sangat bergantung pada mobil, semua kebutuhan dasar manusia pun akses terbaiknya hanya bisa dicapai dengan mobil. Kita sudah membahas tentang kebutuhan makan. Kebanyakan dari mereka yang tidak mampu membeli mobil, tinggal di daerah yang tidak punya akses memadai ke supermarket apalagi ke sumber makanan sehat. Pilihannya adalah makanan cepat saji yang sangat buruk bagi kesehatan.

Tetapi jika punya masalah kesehatan, mereka juga akan kesulitan untuk pergi berobat, lagi-lagi karena klinik atau rumah sakit tidak dalam jangkauan. Untuk membuat keadaan lebih rumit lagi, keluar dari kondisi finansial yang buruk adalah proses yang sulit.

Mobil di jalan yang lebar di Cincinnati, AS | Foto: J Savitri

Jika ingin mencari pekerjaan dengan bayaran lebih baik, mereka harus punya mobil karena pekerjaan-pekerjaan tersebut biasanya jauh dari area tempat mereka tinggal. Dengan mengandalkan bus, jarak yang bisa dijangkau mobil selama 20-30 menit, dengan mudah berubah menjadi 2 jam.

Tentu saya bertanya, mengapa Amerika tidak mengembangkan sistem transportasi umum? Barangkali keadaannya tak berbeda jauh dari Indonesia yang kian gencar membangun jalan tol namun terus memangkas anggaran transportasi umum. Toh sekarang kita sudah merasakannya; naik bus kota sangat lambat dan tidak bisa diandalkan! Lebih enak naik motor. Tetapi harga motor kian mahal sehingga akhirnya semakin banyak orang tidak mampu membelinya. Mereka yang tidak mampu, hanya bisa mengandalkan transportasi umum yang terbatas jangkauan aksesnya. Kita hanya mengulang kesalahan yang sama.

Semakin banyak mobil dan motor yang ada di jalanan dan di garasi-garasi rumah sebenarnya bukan pertanda yang baik. Ini justru sebuah alarm. Di saat planet sudah tidak mampu lagi menerima limbah pembakaran energi fosil, beralih pada transportasi umum adalah pilihan yang paling bijaksana.

Sudah saatnya kita bertanya kepada presiden, kepala daerah, atau lembaga eksekutif: apa rencana anda terkait pembangunan transportasi umum? [T]

Cincinnati, Ohio, 23 September 2025

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika SerikatCincinnatiKembali ke AmerikaOhiotransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari “Soccer” Menjadi “Football”

Next Post

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
0
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

Read moreDetails

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
0
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co