12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Chusmeru by Chusmeru
September 25, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

LIBUR sekolah merupakan hari-hari yang ditunggu Edison Abdala. Ia bisa menikmati liburan bersama keluarga. Apalagi jika perkuliahan sudah melewati ujian akhir semester, ia tidak lagi terbebani untuk mengajar mahasiswa di kelas.

Sebagai dosen di fakultas ekonomi, pekerjaan Edison Abdala kadang menumpuk. Selain mengajar ia juga harus melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Belum lagi tugas membimbing dan menguji skripsi mahasiswa yang juga menyita waktunya. Oleh karenanya, begitu ada waktu libur ia akan mengajak istri dan anak-anaknya berwisata.

Istrinya, Agnes Gunita bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan mobil. Edison Abdala sudah mengenal istrinya sejak kuliah. Mereka berdua aktif dalam unit kegiatan mahasiswa pecinta alam. Edison saat itu sebagai ketua, sedangkan Agnes menjadi sekretarisnya. Kisah cinta mereka di kampus berlanjut hingga jenjang perkawinan.

Edison dan Agnes dikarunia tiga buah hati yang cantik dan ganteng, Bonita Edison, Geovar Edison, dan Marisa Edison. Lengkap, bahagia, dan sejahtera kehidupan Edison bersama Agnes. Berekreasi bersama keluarga hampir menjadi agenda setiap hari libur. Meski kadang hanya sekadar jalan pagi bersama atau mengunjungi objek wisata yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

Berkumpul bersama keluarga memang barang mahal bagi Edison Abdala dan Agnes Gunita. Mereka hanya bisa bertemu di meja makan pada pagi dan malam hari, saat sarapan dan makan malam. Agnes berangkat kerja pagi dan pulang sore hari. Sedangkan Edsion sebagai dosen jam kerjanya tidak pasti. Kadang mengajar pagi, tapi juga ada jam mengajar sore hari.

Anak mereka, Bonita duduk di kelas 11, Geovar kelas 9, dan Marisa kelas 7. Semua  disibukkan oleh tugas-tugas di sekolah. Memanfaatkan waktu luang bersama istri dan anaknya menjadi penghilang rasa suntuk. Edsion akan menjadikan waktu luang itu sebagai healing di tengah kesibukan masing-masing.

Konsep healing yang dilakukan Edison dan Agnes selalu berubah tiap minggunya. Suatu saat mereka akan pergi ke curug yang banyak terdapat di kotanya Purwokerto, Jawa Tengah. Saat yang lain mereka hanya jalan-jalan menyusuri persawahan yang tak jauh dari rumahnya. Namun adakala mereka healing ke suatu tempat yang jauh dari rumah.

Minggu ini mereka akan healing dengan susur sungai. Dipilihnya sungai Logawa yang alirannya bermuara di sungai Serayu. Pemandangan di sekeliling sungai sangat indah. Pepohonan besar dan pemukiman penduduk menjadi daya tarik susur sungai Logawa. Dari segi biaya juga tidak terlalu mahal, karena mereka bisa menyewa perahu dengan harga yang sangat terjangkau.

                                                                        ***

Arus sungai Logawa tidak terlalu deras. Pemilik perahu yang disewa pun sangat hati-hati dalam mengemudikan perahunya. Edison bersama keluarga begitu menikmati pemandangan alam di kiri dan kanan sungai. Sekekali perahu berhenti agar Edison bisa mengabadikan pemandangan dengan ponselnya. Anak-anaknya juga asyik mengamati sekitar sambil makan jajanan yang dibawa dari rumah.

Angin semilir dirasakan Edison. Ia amati sekeliling. Dilihatnya sebuah pohon yang dahannya bergerak-gerak. Betapa kaget dia. Edison melihat sosok kerangka manusia bertengger di dahan pohon beringin tepi sungai. Hanya terlihat tulang-belulang. Namun matanya memancarkan sinar merah menyala.

“Apakah itu yang disebut jerangkong..?” tanya Edison dalam hati dengan rasa takut.

Jerangkong merupakan hantu yang tampil hanya berujud tengkorak manusia. Edison merinding. Baru sekali dalam hidupnya ia melihat langsung jerangkong di pagi hari. Padahal yang ia tahu hantu akan muncul di malam hari.

“Ayah… ada jerangkong di atas pohon…!!!” teriak Bonita, anak perempuan Edison.

“Iya.. jerangkong menyeramkan..!!!” Geovar, anak lelaki Edison juga berteriak ketakutan.

Semua terkejut. Ternyata bukan hanya Edison yang melihat jerangkong di atas pohon beringin tepi sungai. Anak-anaknya juga melihat makhluk menyeramkan itu. Saat mereka menunjuk ke arah jerangkong, sorot mata makhluk itu semakin menyala, seolah marah kepada Edison sekeluarga.

“Jangan menunjuk-nunjuk ke jerangkong itu,” kata pemilik perahu kepada Edison.

“Kenapa, Pak..?” tanya Edison agak gemetaran.

“Biarkan saja. Nanti dia akan menghilang sendiri. Kalau ditunjuk-tunjuk dia marah,” jawab pemilik perahu yang membuat Edison, istri, dan anak-anaknya ketakutan.

“Kenapa kami bisa melihat bersama, Pak? Bukannya hantu hanya bisa dilihat oleh seorang saja?” tanya Edison penasaran.

“Entahlah. Mungkin kebetulan saja,” jawab pemilik perahu singkat.

“Biasanya hantu muncul malam hari. ini kok pagi hari, Pak?” tanya Geovar yang ikut penasaran juga.

“Mungkin kebetulan juga,” jawab pemilik perahu dengan singkat pula.

Edison masih belum puas atas jawaban pemilik perahu. Ia menduga pemilik perahu tahu banyak tentang jerangkong itu, dan menyembunyikan sesuatu kepada Edision dan keluarga. Edison curiga pemilik perahu memang sering melihat jerangkong itu, tetapi pura-pura tak tahu agar tidak menimbulkan ketakutan orang yang melihatnya.

“Ayo kita jalan lagi, Pak,” kata Edison pada pemilik perahu.

Perahu kembali melaju mengikuti arus sungai Logawa. Edison sekeluarga menengok ke arah pohon beringin. Jerangkong itu sudah tidak tampak lagi. Namun mereka masih merasa ketakutan. Sebuah pengalaman healing yang berujung merinding.

***

Sampai di rumah hari sudah beranjak sore. Kelelahan dirasakan oleh Edison dan keluarga. Belum lagi ditambah situasi menyeramkan yang mereka temui saat healing susur sungai tadi. Perasaan merinding masih mereka rasakan.

Edison baru saja meneguk kopi untuk menghilangkan rasa capainya, ketika ia dikejutkan oleh angin kencang di sekitar rumahnya. Ia keluar untuk melihat apakah angin itu sebagai pertanda akan turun hujan. Namun sungguh tak terduga. Edison melihat makhluk jerangkong bertengger di atas pohon mangga di pekarangan rumahnya. Jerangkong yang sama seperti yang ia lihat di pohon beringin tepi sungai.

“Astagaaa…!!!” teriak Edsion.

“Ada apa, Pak?” tanya Agnes Gunita, istrinya.

“Jerangkong itu di atas pohon mangga kita..,!” jawab Edison sambil memegangi tengkuknya yang merinding.

“Haaahhh…. Jerangkong..???!!!” teriak Agnes.

Ketiga anaknya juga ikut-ikutan menjerit ketakutan. Bonita segera menutup pintu rumah. Semua berkumpul duduk di ruang tamu. Sore yang mencekam di rumah, setelah pagi dan siang mereka dicekam oleh penampakan jerangkong di tepi sungai.

Pagi berikutnya Edsion sudah berada di kampus. Dia ada jadwal mengajar pukul 10.00. Udara di kampus masih terasa segar. Secangkir kopi susu ia pesan untuk dibuatkan oleh office boy fakultas. Di meja kerjanya bertumpuk buku-buku literatur kuliah. Edison hendak membacanya untuk dijelaskan di kelas nanti.

Edison ingin ada sinar mentari yang masuk ke ruangannya lewat jendela kaca. Ia buka gorden yang menutup ruangannya. Cuaca cukup cerah. Bunga di taman kampus dekat ruangannya sebagian bermekaran. Mata Edison memandang pepohonan yang agak jauh jaraknya.

Mata Edison terbelalak. Ia melihat penampakan jerangkong yang berada di atas pohon mahoni. Edison memastikan, apakah ia tidak salah melihat. Sosok mahkluk tengkorak itu bergera-gerak seolah ingin menarik perhatian Edison. Sudah tentu Edsion merinding dan ketakutan. Segera ia tutup kembali gorden ruangannya.

Edison duduk sejenak di kursi ruangannya. Mencoba menenangkan diri. Ia tak habis pikir, mengapa jerangkong itu masih saja menampakkan diri? Bukankah dia ada di pohon beringin tepi sungai waktu keluarga Edison healing? Mengapa kini ini berada di pohon mahoni kampus? Bulu kuduk Edison berdiri, merinding ketakutan.

Setelah beberapa saat menenangkan diri sambil menyeruput kopi susunya, Edison kembali membuka gorden ruangannya. Betapa terkejut dia. Jerangkong itu masih bertengger di pohon mahoni. Kali ini sorot matanya yang merah jelas terlihat oleh Edison.

“Astagaaaa…!!! Jerangkong itu masih ada..!!!” kata Edison dengan dada berdebar.

Edsion semakin merinding. ia sama sekali tak menyangka healing bersama keluarga akan berujung merinding dan ketakutan seperti ini. Cepat-cepat ia tutup kemabli gorden ruangannya. Ia tak berani bertatap mata dengan jerangkong yang menyeramkan.

Ketakutan dan kebingungan dirasakan Edison. Ia memang sering mendengar cerita tentang kampusnya yang dikenal angker, karena banyak dihuni makhluk halus. Akan tetapi Edison belum pernah melihat hantu di kampus; dan baru kali ini ia melihat sendiri dan bertatapan mata dengan jerangkong, makhluk berujud tengkorak.

Tidak ingin dilanda ketakutan berkepanjangan, Edison mendatangi kasepuhan Mbah Parjo, orang yang dituakan di daerah tempat tinggalnya. Edison ingin mendapat penjelasan secara supranatural tentang jerangkong itu, dan saran agar tidak lagi melihat makhluk itu.

“Jerangkong itu sempat marah kepada Pak Edison waktu ditunjuk-tunjuk di tepi sungai, jadi ia mengikuti terus keluarga Bapak,” kata Mbah Parjo menerangkan.

“Tetapi jerangkong itu juga muncul di kampus, Mbah,” cerita Edison kepada Mbah Parjo.

“Iya, karena kampus Pak Edison memang ada komunitas makhluk halus. Jerangkong itu satu kelompok komunitas dengan kuntilanak dan genderuwo yang ada di kampus,” jelas Mbah Parjo.

Edison mencoba memahami penjelasan Mbah Parjo. Meski sesungguhnya ia tak begitu yakin jika makhluk halus atau hantu memiliki komunitas. Edison tak mau berdebat. Faktanya jerangkong itu memang muncul di pohon mahoni kampus. Padahal selama ini ia anggap pohon mahoni itu biasa saja, membuat kampus menjadi lebih teduh bila sedang panas terik matahari.

“Bagaimana caranya agar tidak diikuti terus oleh jerangkong itu, Mbah?” Edison meminta saran.

Mbah Parjo merenung. Ia mencoba menerawang sosok jerangkong yang awalnya dilihat Edsion di tepi sungai. Setiap makhluk halus memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Ada yang muncul dengan aroma bunga, ada pula yang mengeluarkan aroma busuk sebelum dilihat oleh manusia. Mbah Parjo menghela nafas.

“Jerangkong takut dengan jagung. Nanti saya buatkan gelang dari biji jagung. Dipakai selama tiga hari. Mudah-mudahan jerangkong itu tidak tampak lagi, dan kembali ke rumahnya di tepi sungai,” kata Mbah Parjo memberi saran.

Edison Abdala mengikuti saran Mbah Parjo. Ia menggunakan gelang dari biji jagung, baik di rumah maupun di kampus. Istrinya, Agnes Gunita juga menggunakan gelang biji jagung. Begitu pun dengan ketiga anaknya, Bonita, Geovar, dan Marisa.

Sejak menggunakan gelang biji jagung, Edison sekeluarga tidak lagi melihat penampakan jerangkong. Bahkan kini Agnes Gunita memiliki kegemaran baru. Setiap Minggu pagi ia merebus jagung untuk disantap sambil minum teh. Edison pun punya kebiasaan baru, membawa jagung rebus ke kampus untuk camilan di ruang kerjanya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksimisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembali ke Amerika [1] — Tanah Impian (Bagi yang Bisa Punya Mobil)

Next Post

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co