21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Chusmeru by Chusmeru
September 25, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

LIBUR sekolah merupakan hari-hari yang ditunggu Edison Abdala. Ia bisa menikmati liburan bersama keluarga. Apalagi jika perkuliahan sudah melewati ujian akhir semester, ia tidak lagi terbebani untuk mengajar mahasiswa di kelas.

Sebagai dosen di fakultas ekonomi, pekerjaan Edison Abdala kadang menumpuk. Selain mengajar ia juga harus melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Belum lagi tugas membimbing dan menguji skripsi mahasiswa yang juga menyita waktunya. Oleh karenanya, begitu ada waktu libur ia akan mengajak istri dan anak-anaknya berwisata.

Istrinya, Agnes Gunita bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan mobil. Edison Abdala sudah mengenal istrinya sejak kuliah. Mereka berdua aktif dalam unit kegiatan mahasiswa pecinta alam. Edison saat itu sebagai ketua, sedangkan Agnes menjadi sekretarisnya. Kisah cinta mereka di kampus berlanjut hingga jenjang perkawinan.

Edison dan Agnes dikarunia tiga buah hati yang cantik dan ganteng, Bonita Edison, Geovar Edison, dan Marisa Edison. Lengkap, bahagia, dan sejahtera kehidupan Edison bersama Agnes. Berekreasi bersama keluarga hampir menjadi agenda setiap hari libur. Meski kadang hanya sekadar jalan pagi bersama atau mengunjungi objek wisata yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

Berkumpul bersama keluarga memang barang mahal bagi Edison Abdala dan Agnes Gunita. Mereka hanya bisa bertemu di meja makan pada pagi dan malam hari, saat sarapan dan makan malam. Agnes berangkat kerja pagi dan pulang sore hari. Sedangkan Edsion sebagai dosen jam kerjanya tidak pasti. Kadang mengajar pagi, tapi juga ada jam mengajar sore hari.

Anak mereka, Bonita duduk di kelas 11, Geovar kelas 9, dan Marisa kelas 7. Semua  disibukkan oleh tugas-tugas di sekolah. Memanfaatkan waktu luang bersama istri dan anaknya menjadi penghilang rasa suntuk. Edsion akan menjadikan waktu luang itu sebagai healing di tengah kesibukan masing-masing.

Konsep healing yang dilakukan Edison dan Agnes selalu berubah tiap minggunya. Suatu saat mereka akan pergi ke curug yang banyak terdapat di kotanya Purwokerto, Jawa Tengah. Saat yang lain mereka hanya jalan-jalan menyusuri persawahan yang tak jauh dari rumahnya. Namun adakala mereka healing ke suatu tempat yang jauh dari rumah.

Minggu ini mereka akan healing dengan susur sungai. Dipilihnya sungai Logawa yang alirannya bermuara di sungai Serayu. Pemandangan di sekeliling sungai sangat indah. Pepohonan besar dan pemukiman penduduk menjadi daya tarik susur sungai Logawa. Dari segi biaya juga tidak terlalu mahal, karena mereka bisa menyewa perahu dengan harga yang sangat terjangkau.

                                                                        ***

Arus sungai Logawa tidak terlalu deras. Pemilik perahu yang disewa pun sangat hati-hati dalam mengemudikan perahunya. Edison bersama keluarga begitu menikmati pemandangan alam di kiri dan kanan sungai. Sekekali perahu berhenti agar Edison bisa mengabadikan pemandangan dengan ponselnya. Anak-anaknya juga asyik mengamati sekitar sambil makan jajanan yang dibawa dari rumah.

Angin semilir dirasakan Edison. Ia amati sekeliling. Dilihatnya sebuah pohon yang dahannya bergerak-gerak. Betapa kaget dia. Edison melihat sosok kerangka manusia bertengger di dahan pohon beringin tepi sungai. Hanya terlihat tulang-belulang. Namun matanya memancarkan sinar merah menyala.

“Apakah itu yang disebut jerangkong..?” tanya Edison dalam hati dengan rasa takut.

Jerangkong merupakan hantu yang tampil hanya berujud tengkorak manusia. Edison merinding. Baru sekali dalam hidupnya ia melihat langsung jerangkong di pagi hari. Padahal yang ia tahu hantu akan muncul di malam hari.

“Ayah… ada jerangkong di atas pohon…!!!” teriak Bonita, anak perempuan Edison.

“Iya.. jerangkong menyeramkan..!!!” Geovar, anak lelaki Edison juga berteriak ketakutan.

Semua terkejut. Ternyata bukan hanya Edison yang melihat jerangkong di atas pohon beringin tepi sungai. Anak-anaknya juga melihat makhluk menyeramkan itu. Saat mereka menunjuk ke arah jerangkong, sorot mata makhluk itu semakin menyala, seolah marah kepada Edison sekeluarga.

“Jangan menunjuk-nunjuk ke jerangkong itu,” kata pemilik perahu kepada Edison.

“Kenapa, Pak..?” tanya Edison agak gemetaran.

“Biarkan saja. Nanti dia akan menghilang sendiri. Kalau ditunjuk-tunjuk dia marah,” jawab pemilik perahu yang membuat Edison, istri, dan anak-anaknya ketakutan.

“Kenapa kami bisa melihat bersama, Pak? Bukannya hantu hanya bisa dilihat oleh seorang saja?” tanya Edison penasaran.

“Entahlah. Mungkin kebetulan saja,” jawab pemilik perahu singkat.

“Biasanya hantu muncul malam hari. ini kok pagi hari, Pak?” tanya Geovar yang ikut penasaran juga.

“Mungkin kebetulan juga,” jawab pemilik perahu dengan singkat pula.

Edison masih belum puas atas jawaban pemilik perahu. Ia menduga pemilik perahu tahu banyak tentang jerangkong itu, dan menyembunyikan sesuatu kepada Edision dan keluarga. Edison curiga pemilik perahu memang sering melihat jerangkong itu, tetapi pura-pura tak tahu agar tidak menimbulkan ketakutan orang yang melihatnya.

“Ayo kita jalan lagi, Pak,” kata Edison pada pemilik perahu.

Perahu kembali melaju mengikuti arus sungai Logawa. Edison sekeluarga menengok ke arah pohon beringin. Jerangkong itu sudah tidak tampak lagi. Namun mereka masih merasa ketakutan. Sebuah pengalaman healing yang berujung merinding.

***

Sampai di rumah hari sudah beranjak sore. Kelelahan dirasakan oleh Edison dan keluarga. Belum lagi ditambah situasi menyeramkan yang mereka temui saat healing susur sungai tadi. Perasaan merinding masih mereka rasakan.

Edison baru saja meneguk kopi untuk menghilangkan rasa capainya, ketika ia dikejutkan oleh angin kencang di sekitar rumahnya. Ia keluar untuk melihat apakah angin itu sebagai pertanda akan turun hujan. Namun sungguh tak terduga. Edison melihat makhluk jerangkong bertengger di atas pohon mangga di pekarangan rumahnya. Jerangkong yang sama seperti yang ia lihat di pohon beringin tepi sungai.

“Astagaaa…!!!” teriak Edsion.

“Ada apa, Pak?” tanya Agnes Gunita, istrinya.

“Jerangkong itu di atas pohon mangga kita..,!” jawab Edison sambil memegangi tengkuknya yang merinding.

“Haaahhh…. Jerangkong..???!!!” teriak Agnes.

Ketiga anaknya juga ikut-ikutan menjerit ketakutan. Bonita segera menutup pintu rumah. Semua berkumpul duduk di ruang tamu. Sore yang mencekam di rumah, setelah pagi dan siang mereka dicekam oleh penampakan jerangkong di tepi sungai.

Pagi berikutnya Edsion sudah berada di kampus. Dia ada jadwal mengajar pukul 10.00. Udara di kampus masih terasa segar. Secangkir kopi susu ia pesan untuk dibuatkan oleh office boy fakultas. Di meja kerjanya bertumpuk buku-buku literatur kuliah. Edison hendak membacanya untuk dijelaskan di kelas nanti.

Edison ingin ada sinar mentari yang masuk ke ruangannya lewat jendela kaca. Ia buka gorden yang menutup ruangannya. Cuaca cukup cerah. Bunga di taman kampus dekat ruangannya sebagian bermekaran. Mata Edison memandang pepohonan yang agak jauh jaraknya.

Mata Edison terbelalak. Ia melihat penampakan jerangkong yang berada di atas pohon mahoni. Edison memastikan, apakah ia tidak salah melihat. Sosok mahkluk tengkorak itu bergera-gerak seolah ingin menarik perhatian Edison. Sudah tentu Edsion merinding dan ketakutan. Segera ia tutup kembali gorden ruangannya.

Edison duduk sejenak di kursi ruangannya. Mencoba menenangkan diri. Ia tak habis pikir, mengapa jerangkong itu masih saja menampakkan diri? Bukankah dia ada di pohon beringin tepi sungai waktu keluarga Edison healing? Mengapa kini ini berada di pohon mahoni kampus? Bulu kuduk Edison berdiri, merinding ketakutan.

Setelah beberapa saat menenangkan diri sambil menyeruput kopi susunya, Edison kembali membuka gorden ruangannya. Betapa terkejut dia. Jerangkong itu masih bertengger di pohon mahoni. Kali ini sorot matanya yang merah jelas terlihat oleh Edison.

“Astagaaaa…!!! Jerangkong itu masih ada..!!!” kata Edison dengan dada berdebar.

Edsion semakin merinding. ia sama sekali tak menyangka healing bersama keluarga akan berujung merinding dan ketakutan seperti ini. Cepat-cepat ia tutup kemabli gorden ruangannya. Ia tak berani bertatap mata dengan jerangkong yang menyeramkan.

Ketakutan dan kebingungan dirasakan Edison. Ia memang sering mendengar cerita tentang kampusnya yang dikenal angker, karena banyak dihuni makhluk halus. Akan tetapi Edison belum pernah melihat hantu di kampus; dan baru kali ini ia melihat sendiri dan bertatapan mata dengan jerangkong, makhluk berujud tengkorak.

Tidak ingin dilanda ketakutan berkepanjangan, Edison mendatangi kasepuhan Mbah Parjo, orang yang dituakan di daerah tempat tinggalnya. Edison ingin mendapat penjelasan secara supranatural tentang jerangkong itu, dan saran agar tidak lagi melihat makhluk itu.

“Jerangkong itu sempat marah kepada Pak Edison waktu ditunjuk-tunjuk di tepi sungai, jadi ia mengikuti terus keluarga Bapak,” kata Mbah Parjo menerangkan.

“Tetapi jerangkong itu juga muncul di kampus, Mbah,” cerita Edison kepada Mbah Parjo.

“Iya, karena kampus Pak Edison memang ada komunitas makhluk halus. Jerangkong itu satu kelompok komunitas dengan kuntilanak dan genderuwo yang ada di kampus,” jelas Mbah Parjo.

Edison mencoba memahami penjelasan Mbah Parjo. Meski sesungguhnya ia tak begitu yakin jika makhluk halus atau hantu memiliki komunitas. Edison tak mau berdebat. Faktanya jerangkong itu memang muncul di pohon mahoni kampus. Padahal selama ini ia anggap pohon mahoni itu biasa saja, membuat kampus menjadi lebih teduh bila sedang panas terik matahari.

“Bagaimana caranya agar tidak diikuti terus oleh jerangkong itu, Mbah?” Edison meminta saran.

Mbah Parjo merenung. Ia mencoba menerawang sosok jerangkong yang awalnya dilihat Edsion di tepi sungai. Setiap makhluk halus memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Ada yang muncul dengan aroma bunga, ada pula yang mengeluarkan aroma busuk sebelum dilihat oleh manusia. Mbah Parjo menghela nafas.

“Jerangkong takut dengan jagung. Nanti saya buatkan gelang dari biji jagung. Dipakai selama tiga hari. Mudah-mudahan jerangkong itu tidak tampak lagi, dan kembali ke rumahnya di tepi sungai,” kata Mbah Parjo memberi saran.

Edison Abdala mengikuti saran Mbah Parjo. Ia menggunakan gelang dari biji jagung, baik di rumah maupun di kampus. Istrinya, Agnes Gunita juga menggunakan gelang biji jagung. Begitu pun dengan ketiga anaknya, Bonita, Geovar, dan Marisa.

Sejak menggunakan gelang biji jagung, Edison sekeluarga tidak lagi melihat penampakan jerangkong. Bahkan kini Agnes Gunita memiliki kegemaran baru. Setiap Minggu pagi ia merebus jagung untuk disantap sambil minum teh. Edison pun punya kebiasaan baru, membawa jagung rebus ke kampus untuk camilan di ruang kerjanya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksimisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembali ke Amerika [1] — Tanah Impian (Bagi yang Bisa Punya Mobil)

Next Post

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails
Next Post
Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co