1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Chusmeru by Chusmeru
September 25, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

LIBUR sekolah merupakan hari-hari yang ditunggu Edison Abdala. Ia bisa menikmati liburan bersama keluarga. Apalagi jika perkuliahan sudah melewati ujian akhir semester, ia tidak lagi terbebani untuk mengajar mahasiswa di kelas.

Sebagai dosen di fakultas ekonomi, pekerjaan Edison Abdala kadang menumpuk. Selain mengajar ia juga harus melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Belum lagi tugas membimbing dan menguji skripsi mahasiswa yang juga menyita waktunya. Oleh karenanya, begitu ada waktu libur ia akan mengajak istri dan anak-anaknya berwisata.

Istrinya, Agnes Gunita bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan mobil. Edison Abdala sudah mengenal istrinya sejak kuliah. Mereka berdua aktif dalam unit kegiatan mahasiswa pecinta alam. Edison saat itu sebagai ketua, sedangkan Agnes menjadi sekretarisnya. Kisah cinta mereka di kampus berlanjut hingga jenjang perkawinan.

Edison dan Agnes dikarunia tiga buah hati yang cantik dan ganteng, Bonita Edison, Geovar Edison, dan Marisa Edison. Lengkap, bahagia, dan sejahtera kehidupan Edison bersama Agnes. Berekreasi bersama keluarga hampir menjadi agenda setiap hari libur. Meski kadang hanya sekadar jalan pagi bersama atau mengunjungi objek wisata yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

Berkumpul bersama keluarga memang barang mahal bagi Edison Abdala dan Agnes Gunita. Mereka hanya bisa bertemu di meja makan pada pagi dan malam hari, saat sarapan dan makan malam. Agnes berangkat kerja pagi dan pulang sore hari. Sedangkan Edsion sebagai dosen jam kerjanya tidak pasti. Kadang mengajar pagi, tapi juga ada jam mengajar sore hari.

Anak mereka, Bonita duduk di kelas 11, Geovar kelas 9, dan Marisa kelas 7. Semua  disibukkan oleh tugas-tugas di sekolah. Memanfaatkan waktu luang bersama istri dan anaknya menjadi penghilang rasa suntuk. Edsion akan menjadikan waktu luang itu sebagai healing di tengah kesibukan masing-masing.

Konsep healing yang dilakukan Edison dan Agnes selalu berubah tiap minggunya. Suatu saat mereka akan pergi ke curug yang banyak terdapat di kotanya Purwokerto, Jawa Tengah. Saat yang lain mereka hanya jalan-jalan menyusuri persawahan yang tak jauh dari rumahnya. Namun adakala mereka healing ke suatu tempat yang jauh dari rumah.

Minggu ini mereka akan healing dengan susur sungai. Dipilihnya sungai Logawa yang alirannya bermuara di sungai Serayu. Pemandangan di sekeliling sungai sangat indah. Pepohonan besar dan pemukiman penduduk menjadi daya tarik susur sungai Logawa. Dari segi biaya juga tidak terlalu mahal, karena mereka bisa menyewa perahu dengan harga yang sangat terjangkau.

                                                                        ***

Arus sungai Logawa tidak terlalu deras. Pemilik perahu yang disewa pun sangat hati-hati dalam mengemudikan perahunya. Edison bersama keluarga begitu menikmati pemandangan alam di kiri dan kanan sungai. Sekekali perahu berhenti agar Edison bisa mengabadikan pemandangan dengan ponselnya. Anak-anaknya juga asyik mengamati sekitar sambil makan jajanan yang dibawa dari rumah.

Angin semilir dirasakan Edison. Ia amati sekeliling. Dilihatnya sebuah pohon yang dahannya bergerak-gerak. Betapa kaget dia. Edison melihat sosok kerangka manusia bertengger di dahan pohon beringin tepi sungai. Hanya terlihat tulang-belulang. Namun matanya memancarkan sinar merah menyala.

“Apakah itu yang disebut jerangkong..?” tanya Edison dalam hati dengan rasa takut.

Jerangkong merupakan hantu yang tampil hanya berujud tengkorak manusia. Edison merinding. Baru sekali dalam hidupnya ia melihat langsung jerangkong di pagi hari. Padahal yang ia tahu hantu akan muncul di malam hari.

“Ayah… ada jerangkong di atas pohon…!!!” teriak Bonita, anak perempuan Edison.

“Iya.. jerangkong menyeramkan..!!!” Geovar, anak lelaki Edison juga berteriak ketakutan.

Semua terkejut. Ternyata bukan hanya Edison yang melihat jerangkong di atas pohon beringin tepi sungai. Anak-anaknya juga melihat makhluk menyeramkan itu. Saat mereka menunjuk ke arah jerangkong, sorot mata makhluk itu semakin menyala, seolah marah kepada Edison sekeluarga.

“Jangan menunjuk-nunjuk ke jerangkong itu,” kata pemilik perahu kepada Edison.

“Kenapa, Pak..?” tanya Edison agak gemetaran.

“Biarkan saja. Nanti dia akan menghilang sendiri. Kalau ditunjuk-tunjuk dia marah,” jawab pemilik perahu yang membuat Edison, istri, dan anak-anaknya ketakutan.

“Kenapa kami bisa melihat bersama, Pak? Bukannya hantu hanya bisa dilihat oleh seorang saja?” tanya Edison penasaran.

“Entahlah. Mungkin kebetulan saja,” jawab pemilik perahu singkat.

“Biasanya hantu muncul malam hari. ini kok pagi hari, Pak?” tanya Geovar yang ikut penasaran juga.

“Mungkin kebetulan juga,” jawab pemilik perahu dengan singkat pula.

Edison masih belum puas atas jawaban pemilik perahu. Ia menduga pemilik perahu tahu banyak tentang jerangkong itu, dan menyembunyikan sesuatu kepada Edision dan keluarga. Edison curiga pemilik perahu memang sering melihat jerangkong itu, tetapi pura-pura tak tahu agar tidak menimbulkan ketakutan orang yang melihatnya.

“Ayo kita jalan lagi, Pak,” kata Edison pada pemilik perahu.

Perahu kembali melaju mengikuti arus sungai Logawa. Edison sekeluarga menengok ke arah pohon beringin. Jerangkong itu sudah tidak tampak lagi. Namun mereka masih merasa ketakutan. Sebuah pengalaman healing yang berujung merinding.

***

Sampai di rumah hari sudah beranjak sore. Kelelahan dirasakan oleh Edison dan keluarga. Belum lagi ditambah situasi menyeramkan yang mereka temui saat healing susur sungai tadi. Perasaan merinding masih mereka rasakan.

Edison baru saja meneguk kopi untuk menghilangkan rasa capainya, ketika ia dikejutkan oleh angin kencang di sekitar rumahnya. Ia keluar untuk melihat apakah angin itu sebagai pertanda akan turun hujan. Namun sungguh tak terduga. Edison melihat makhluk jerangkong bertengger di atas pohon mangga di pekarangan rumahnya. Jerangkong yang sama seperti yang ia lihat di pohon beringin tepi sungai.

“Astagaaa…!!!” teriak Edsion.

“Ada apa, Pak?” tanya Agnes Gunita, istrinya.

“Jerangkong itu di atas pohon mangga kita..,!” jawab Edison sambil memegangi tengkuknya yang merinding.

“Haaahhh…. Jerangkong..???!!!” teriak Agnes.

Ketiga anaknya juga ikut-ikutan menjerit ketakutan. Bonita segera menutup pintu rumah. Semua berkumpul duduk di ruang tamu. Sore yang mencekam di rumah, setelah pagi dan siang mereka dicekam oleh penampakan jerangkong di tepi sungai.

Pagi berikutnya Edsion sudah berada di kampus. Dia ada jadwal mengajar pukul 10.00. Udara di kampus masih terasa segar. Secangkir kopi susu ia pesan untuk dibuatkan oleh office boy fakultas. Di meja kerjanya bertumpuk buku-buku literatur kuliah. Edison hendak membacanya untuk dijelaskan di kelas nanti.

Edison ingin ada sinar mentari yang masuk ke ruangannya lewat jendela kaca. Ia buka gorden yang menutup ruangannya. Cuaca cukup cerah. Bunga di taman kampus dekat ruangannya sebagian bermekaran. Mata Edison memandang pepohonan yang agak jauh jaraknya.

Mata Edison terbelalak. Ia melihat penampakan jerangkong yang berada di atas pohon mahoni. Edison memastikan, apakah ia tidak salah melihat. Sosok mahkluk tengkorak itu bergera-gerak seolah ingin menarik perhatian Edison. Sudah tentu Edsion merinding dan ketakutan. Segera ia tutup kembali gorden ruangannya.

Edison duduk sejenak di kursi ruangannya. Mencoba menenangkan diri. Ia tak habis pikir, mengapa jerangkong itu masih saja menampakkan diri? Bukankah dia ada di pohon beringin tepi sungai waktu keluarga Edison healing? Mengapa kini ini berada di pohon mahoni kampus? Bulu kuduk Edison berdiri, merinding ketakutan.

Setelah beberapa saat menenangkan diri sambil menyeruput kopi susunya, Edison kembali membuka gorden ruangannya. Betapa terkejut dia. Jerangkong itu masih bertengger di pohon mahoni. Kali ini sorot matanya yang merah jelas terlihat oleh Edison.

“Astagaaaa…!!! Jerangkong itu masih ada..!!!” kata Edison dengan dada berdebar.

Edsion semakin merinding. ia sama sekali tak menyangka healing bersama keluarga akan berujung merinding dan ketakutan seperti ini. Cepat-cepat ia tutup kemabli gorden ruangannya. Ia tak berani bertatap mata dengan jerangkong yang menyeramkan.

Ketakutan dan kebingungan dirasakan Edison. Ia memang sering mendengar cerita tentang kampusnya yang dikenal angker, karena banyak dihuni makhluk halus. Akan tetapi Edison belum pernah melihat hantu di kampus; dan baru kali ini ia melihat sendiri dan bertatapan mata dengan jerangkong, makhluk berujud tengkorak.

Tidak ingin dilanda ketakutan berkepanjangan, Edison mendatangi kasepuhan Mbah Parjo, orang yang dituakan di daerah tempat tinggalnya. Edison ingin mendapat penjelasan secara supranatural tentang jerangkong itu, dan saran agar tidak lagi melihat makhluk itu.

“Jerangkong itu sempat marah kepada Pak Edison waktu ditunjuk-tunjuk di tepi sungai, jadi ia mengikuti terus keluarga Bapak,” kata Mbah Parjo menerangkan.

“Tetapi jerangkong itu juga muncul di kampus, Mbah,” cerita Edison kepada Mbah Parjo.

“Iya, karena kampus Pak Edison memang ada komunitas makhluk halus. Jerangkong itu satu kelompok komunitas dengan kuntilanak dan genderuwo yang ada di kampus,” jelas Mbah Parjo.

Edison mencoba memahami penjelasan Mbah Parjo. Meski sesungguhnya ia tak begitu yakin jika makhluk halus atau hantu memiliki komunitas. Edison tak mau berdebat. Faktanya jerangkong itu memang muncul di pohon mahoni kampus. Padahal selama ini ia anggap pohon mahoni itu biasa saja, membuat kampus menjadi lebih teduh bila sedang panas terik matahari.

“Bagaimana caranya agar tidak diikuti terus oleh jerangkong itu, Mbah?” Edison meminta saran.

Mbah Parjo merenung. Ia mencoba menerawang sosok jerangkong yang awalnya dilihat Edsion di tepi sungai. Setiap makhluk halus memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Ada yang muncul dengan aroma bunga, ada pula yang mengeluarkan aroma busuk sebelum dilihat oleh manusia. Mbah Parjo menghela nafas.

“Jerangkong takut dengan jagung. Nanti saya buatkan gelang dari biji jagung. Dipakai selama tiga hari. Mudah-mudahan jerangkong itu tidak tampak lagi, dan kembali ke rumahnya di tepi sungai,” kata Mbah Parjo memberi saran.

Edison Abdala mengikuti saran Mbah Parjo. Ia menggunakan gelang dari biji jagung, baik di rumah maupun di kampus. Istrinya, Agnes Gunita juga menggunakan gelang biji jagung. Begitu pun dengan ketiga anaknya, Bonita, Geovar, dan Marisa.

Sejak menggunakan gelang biji jagung, Edison sekeluarga tidak lagi melihat penampakan jerangkong. Bahkan kini Agnes Gunita memiliki kegemaran baru. Setiap Minggu pagi ia merebus jagung untuk disantap sambil minum teh. Edison pun punya kebiasaan baru, membawa jagung rebus ke kampus untuk camilan di ruang kerjanya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksimisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembali ke Amerika [1] — Tanah Impian (Bagi yang Bisa Punya Mobil)

Next Post

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails
Next Post
Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co