6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Chusmeru by Chusmeru
September 25, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

LIBUR sekolah merupakan hari-hari yang ditunggu Edison Abdala. Ia bisa menikmati liburan bersama keluarga. Apalagi jika perkuliahan sudah melewati ujian akhir semester, ia tidak lagi terbebani untuk mengajar mahasiswa di kelas.

Sebagai dosen di fakultas ekonomi, pekerjaan Edison Abdala kadang menumpuk. Selain mengajar ia juga harus melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Belum lagi tugas membimbing dan menguji skripsi mahasiswa yang juga menyita waktunya. Oleh karenanya, begitu ada waktu libur ia akan mengajak istri dan anak-anaknya berwisata.

Istrinya, Agnes Gunita bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan mobil. Edison Abdala sudah mengenal istrinya sejak kuliah. Mereka berdua aktif dalam unit kegiatan mahasiswa pecinta alam. Edison saat itu sebagai ketua, sedangkan Agnes menjadi sekretarisnya. Kisah cinta mereka di kampus berlanjut hingga jenjang perkawinan.

Edison dan Agnes dikarunia tiga buah hati yang cantik dan ganteng, Bonita Edison, Geovar Edison, dan Marisa Edison. Lengkap, bahagia, dan sejahtera kehidupan Edison bersama Agnes. Berekreasi bersama keluarga hampir menjadi agenda setiap hari libur. Meski kadang hanya sekadar jalan pagi bersama atau mengunjungi objek wisata yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

Berkumpul bersama keluarga memang barang mahal bagi Edison Abdala dan Agnes Gunita. Mereka hanya bisa bertemu di meja makan pada pagi dan malam hari, saat sarapan dan makan malam. Agnes berangkat kerja pagi dan pulang sore hari. Sedangkan Edsion sebagai dosen jam kerjanya tidak pasti. Kadang mengajar pagi, tapi juga ada jam mengajar sore hari.

Anak mereka, Bonita duduk di kelas 11, Geovar kelas 9, dan Marisa kelas 7. Semua  disibukkan oleh tugas-tugas di sekolah. Memanfaatkan waktu luang bersama istri dan anaknya menjadi penghilang rasa suntuk. Edsion akan menjadikan waktu luang itu sebagai healing di tengah kesibukan masing-masing.

Konsep healing yang dilakukan Edison dan Agnes selalu berubah tiap minggunya. Suatu saat mereka akan pergi ke curug yang banyak terdapat di kotanya Purwokerto, Jawa Tengah. Saat yang lain mereka hanya jalan-jalan menyusuri persawahan yang tak jauh dari rumahnya. Namun adakala mereka healing ke suatu tempat yang jauh dari rumah.

Minggu ini mereka akan healing dengan susur sungai. Dipilihnya sungai Logawa yang alirannya bermuara di sungai Serayu. Pemandangan di sekeliling sungai sangat indah. Pepohonan besar dan pemukiman penduduk menjadi daya tarik susur sungai Logawa. Dari segi biaya juga tidak terlalu mahal, karena mereka bisa menyewa perahu dengan harga yang sangat terjangkau.

                                                                        ***

Arus sungai Logawa tidak terlalu deras. Pemilik perahu yang disewa pun sangat hati-hati dalam mengemudikan perahunya. Edison bersama keluarga begitu menikmati pemandangan alam di kiri dan kanan sungai. Sekekali perahu berhenti agar Edison bisa mengabadikan pemandangan dengan ponselnya. Anak-anaknya juga asyik mengamati sekitar sambil makan jajanan yang dibawa dari rumah.

Angin semilir dirasakan Edison. Ia amati sekeliling. Dilihatnya sebuah pohon yang dahannya bergerak-gerak. Betapa kaget dia. Edison melihat sosok kerangka manusia bertengger di dahan pohon beringin tepi sungai. Hanya terlihat tulang-belulang. Namun matanya memancarkan sinar merah menyala.

“Apakah itu yang disebut jerangkong..?” tanya Edison dalam hati dengan rasa takut.

Jerangkong merupakan hantu yang tampil hanya berujud tengkorak manusia. Edison merinding. Baru sekali dalam hidupnya ia melihat langsung jerangkong di pagi hari. Padahal yang ia tahu hantu akan muncul di malam hari.

“Ayah… ada jerangkong di atas pohon…!!!” teriak Bonita, anak perempuan Edison.

“Iya.. jerangkong menyeramkan..!!!” Geovar, anak lelaki Edison juga berteriak ketakutan.

Semua terkejut. Ternyata bukan hanya Edison yang melihat jerangkong di atas pohon beringin tepi sungai. Anak-anaknya juga melihat makhluk menyeramkan itu. Saat mereka menunjuk ke arah jerangkong, sorot mata makhluk itu semakin menyala, seolah marah kepada Edison sekeluarga.

“Jangan menunjuk-nunjuk ke jerangkong itu,” kata pemilik perahu kepada Edison.

“Kenapa, Pak..?” tanya Edison agak gemetaran.

“Biarkan saja. Nanti dia akan menghilang sendiri. Kalau ditunjuk-tunjuk dia marah,” jawab pemilik perahu yang membuat Edison, istri, dan anak-anaknya ketakutan.

“Kenapa kami bisa melihat bersama, Pak? Bukannya hantu hanya bisa dilihat oleh seorang saja?” tanya Edison penasaran.

“Entahlah. Mungkin kebetulan saja,” jawab pemilik perahu singkat.

“Biasanya hantu muncul malam hari. ini kok pagi hari, Pak?” tanya Geovar yang ikut penasaran juga.

“Mungkin kebetulan juga,” jawab pemilik perahu dengan singkat pula.

Edison masih belum puas atas jawaban pemilik perahu. Ia menduga pemilik perahu tahu banyak tentang jerangkong itu, dan menyembunyikan sesuatu kepada Edision dan keluarga. Edison curiga pemilik perahu memang sering melihat jerangkong itu, tetapi pura-pura tak tahu agar tidak menimbulkan ketakutan orang yang melihatnya.

“Ayo kita jalan lagi, Pak,” kata Edison pada pemilik perahu.

Perahu kembali melaju mengikuti arus sungai Logawa. Edison sekeluarga menengok ke arah pohon beringin. Jerangkong itu sudah tidak tampak lagi. Namun mereka masih merasa ketakutan. Sebuah pengalaman healing yang berujung merinding.

***

Sampai di rumah hari sudah beranjak sore. Kelelahan dirasakan oleh Edison dan keluarga. Belum lagi ditambah situasi menyeramkan yang mereka temui saat healing susur sungai tadi. Perasaan merinding masih mereka rasakan.

Edison baru saja meneguk kopi untuk menghilangkan rasa capainya, ketika ia dikejutkan oleh angin kencang di sekitar rumahnya. Ia keluar untuk melihat apakah angin itu sebagai pertanda akan turun hujan. Namun sungguh tak terduga. Edison melihat makhluk jerangkong bertengger di atas pohon mangga di pekarangan rumahnya. Jerangkong yang sama seperti yang ia lihat di pohon beringin tepi sungai.

“Astagaaa…!!!” teriak Edsion.

“Ada apa, Pak?” tanya Agnes Gunita, istrinya.

“Jerangkong itu di atas pohon mangga kita..,!” jawab Edison sambil memegangi tengkuknya yang merinding.

“Haaahhh…. Jerangkong..???!!!” teriak Agnes.

Ketiga anaknya juga ikut-ikutan menjerit ketakutan. Bonita segera menutup pintu rumah. Semua berkumpul duduk di ruang tamu. Sore yang mencekam di rumah, setelah pagi dan siang mereka dicekam oleh penampakan jerangkong di tepi sungai.

Pagi berikutnya Edsion sudah berada di kampus. Dia ada jadwal mengajar pukul 10.00. Udara di kampus masih terasa segar. Secangkir kopi susu ia pesan untuk dibuatkan oleh office boy fakultas. Di meja kerjanya bertumpuk buku-buku literatur kuliah. Edison hendak membacanya untuk dijelaskan di kelas nanti.

Edison ingin ada sinar mentari yang masuk ke ruangannya lewat jendela kaca. Ia buka gorden yang menutup ruangannya. Cuaca cukup cerah. Bunga di taman kampus dekat ruangannya sebagian bermekaran. Mata Edison memandang pepohonan yang agak jauh jaraknya.

Mata Edison terbelalak. Ia melihat penampakan jerangkong yang berada di atas pohon mahoni. Edison memastikan, apakah ia tidak salah melihat. Sosok mahkluk tengkorak itu bergera-gerak seolah ingin menarik perhatian Edison. Sudah tentu Edsion merinding dan ketakutan. Segera ia tutup kembali gorden ruangannya.

Edison duduk sejenak di kursi ruangannya. Mencoba menenangkan diri. Ia tak habis pikir, mengapa jerangkong itu masih saja menampakkan diri? Bukankah dia ada di pohon beringin tepi sungai waktu keluarga Edison healing? Mengapa kini ini berada di pohon mahoni kampus? Bulu kuduk Edison berdiri, merinding ketakutan.

Setelah beberapa saat menenangkan diri sambil menyeruput kopi susunya, Edison kembali membuka gorden ruangannya. Betapa terkejut dia. Jerangkong itu masih bertengger di pohon mahoni. Kali ini sorot matanya yang merah jelas terlihat oleh Edison.

“Astagaaaa…!!! Jerangkong itu masih ada..!!!” kata Edison dengan dada berdebar.

Edsion semakin merinding. ia sama sekali tak menyangka healing bersama keluarga akan berujung merinding dan ketakutan seperti ini. Cepat-cepat ia tutup kemabli gorden ruangannya. Ia tak berani bertatap mata dengan jerangkong yang menyeramkan.

Ketakutan dan kebingungan dirasakan Edison. Ia memang sering mendengar cerita tentang kampusnya yang dikenal angker, karena banyak dihuni makhluk halus. Akan tetapi Edison belum pernah melihat hantu di kampus; dan baru kali ini ia melihat sendiri dan bertatapan mata dengan jerangkong, makhluk berujud tengkorak.

Tidak ingin dilanda ketakutan berkepanjangan, Edison mendatangi kasepuhan Mbah Parjo, orang yang dituakan di daerah tempat tinggalnya. Edison ingin mendapat penjelasan secara supranatural tentang jerangkong itu, dan saran agar tidak lagi melihat makhluk itu.

“Jerangkong itu sempat marah kepada Pak Edison waktu ditunjuk-tunjuk di tepi sungai, jadi ia mengikuti terus keluarga Bapak,” kata Mbah Parjo menerangkan.

“Tetapi jerangkong itu juga muncul di kampus, Mbah,” cerita Edison kepada Mbah Parjo.

“Iya, karena kampus Pak Edison memang ada komunitas makhluk halus. Jerangkong itu satu kelompok komunitas dengan kuntilanak dan genderuwo yang ada di kampus,” jelas Mbah Parjo.

Edison mencoba memahami penjelasan Mbah Parjo. Meski sesungguhnya ia tak begitu yakin jika makhluk halus atau hantu memiliki komunitas. Edison tak mau berdebat. Faktanya jerangkong itu memang muncul di pohon mahoni kampus. Padahal selama ini ia anggap pohon mahoni itu biasa saja, membuat kampus menjadi lebih teduh bila sedang panas terik matahari.

“Bagaimana caranya agar tidak diikuti terus oleh jerangkong itu, Mbah?” Edison meminta saran.

Mbah Parjo merenung. Ia mencoba menerawang sosok jerangkong yang awalnya dilihat Edsion di tepi sungai. Setiap makhluk halus memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Ada yang muncul dengan aroma bunga, ada pula yang mengeluarkan aroma busuk sebelum dilihat oleh manusia. Mbah Parjo menghela nafas.

“Jerangkong takut dengan jagung. Nanti saya buatkan gelang dari biji jagung. Dipakai selama tiga hari. Mudah-mudahan jerangkong itu tidak tampak lagi, dan kembali ke rumahnya di tepi sungai,” kata Mbah Parjo memberi saran.

Edison Abdala mengikuti saran Mbah Parjo. Ia menggunakan gelang dari biji jagung, baik di rumah maupun di kampus. Istrinya, Agnes Gunita juga menggunakan gelang biji jagung. Begitu pun dengan ketiga anaknya, Bonita, Geovar, dan Marisa.

Sejak menggunakan gelang biji jagung, Edison sekeluarga tidak lagi melihat penampakan jerangkong. Bahkan kini Agnes Gunita memiliki kegemaran baru. Setiap Minggu pagi ia merebus jagung untuk disantap sambil minum teh. Edison pun punya kebiasaan baru, membawa jagung rebus ke kampus untuk camilan di ruang kerjanya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksimisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembali ke Amerika [1] — Tanah Impian (Bagi yang Bisa Punya Mobil)

Next Post

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails
Next Post
Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali
Pameran

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini
Pendidikan

Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini

PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan...

by tatkala
June 6, 2026
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 
Esai

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur
Panggung

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Cerita Rakyat Sebagai Identitas
Khas

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

by I Wayan Artika
June 6, 2026
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur
Esai

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co