2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 25, 2025
in Khas
Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Foto Dok: Imam Tejo, Kepala SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara

DI sela pelaksanaan tugas dinas, pagi itu, Kamis, 19 September 2025, di meja makan Hotel Grand Mercure Adisucipto, Yogyakarta, saya sebenarnya hanya berniat menyendok bubur ayam sambil menikmati aroma kopi. Tapi siapa sangka, di balik secangkir kopi itu, saya malah mendapat “menu tambahan” berupa kuliah kepemimpinan gratis dari seorang kepala sekolah penuh energi: Bapak Imam Tejo Marwoto, Kepala SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara.

Dengan logat yang renyah dan cerita ngalir kayak Sungai Serayu di musim hujan, beliau membedah konsep kepemimpinan yang ia sebut manajemen kolosal. Jangan bayangkan kolosal ala film peperangan atau konser dangdut di lapangan desa. Kolosal di sini artinya membangun sekolah bukan kerja satu orang, melainkan kerja bersama. Kepala sekolah, guru, siswa, satpam, tukang kebun—semua diajak mikir, semua diajak bergerak, semua punya peran.

“Kalau kepemimpinan hanya andalkan kepala sekolah, itu namanya one man show,” ujarnya sambil terkekeh. “Lama-lama kepalanya panas, show-nya bubar!”
Tawa pun pecah. Sekolah memang tak bisa berdiri hanya di pundak satu orang; ia harus ditopang banyak tangan, pikiran, dan hati.

Yang membuat saya lebih tercenung: Pak Imam tidak sekadar berteori. Ia mencontohkan bagaimana siswa diajak melek bahwa bertani bukan profesi kelas dua — mereka didorong menjadi petani milenial: mampu memadukan gadget dan pemasaran digital dengan kearifan lokal. Kreativitas diolah: bunga liar, daun, batang, hingga barang bekas disulap menjadi karya bernilai jual. Hemat, ramah lingkungan, penuh makna.

Sambil menyeruput kopi, saya geli sendiri. Kita sering cari inspirasi jauh-jauh, padahal di meja sarapan bisa ketemu “narasumber” yang gagasannya menohok dan menggelitik. Manajemen kolosal ala Pak Imam sederhana tapi dalam: jangan jadi kepala sekolah seperti “Raja”. Jadilah dirigen — yang membuat semua alat musik berbunyi padu. Kalau hanya satu orang meniup trompet keras-keras, jadinya bukan musik, melainkan kebisingan.

Kalau didengar sekilas, istilah manajemen kolosal ala Pak Imam ini kayak judul film kolosal tentang perang kerajaan. Padahal, maksudnya sederhana: sekolah itu bukan one man show, tapi show rame-rame. Nah, kalau dicocokkan dengan teori manajemen modern, ternyata pas banget!

Pertama, ada yang namanya distributed leadership. Bahasa gampangnya: kepemimpinan jangan ditumpuk semua di kepala sekolah. Nanti kepalanya panas, ubun-ubun berasap, dan ujung-ujungnya malah masuk angin. Bagi-bagi peran aja, biar guru, siswa, bahkan satpam ikut punya “panggung”.

Kedua, gaya Pak Imam ini mirip transformational leadership. Ia bukan sekadar nyuruh-nyuruh, tapi ngajak orang terinspirasi. Bedanya dengan servant leadership, kalau yang ini kepala sekolah ibarat pelayan: siap ngelayani supaya tim bisa jalan. Jadi kepala sekolahnya bukan raja yang duduk di singgasana, tapi dirigen yang sibuk memastikan semua alat musik bunyinya pas. Kalau cuma trompetnya yang digeber kencang, ya bukannya musik… tapi kebisingan.

Ketiga, kalau pakai kacamata learning organization ala Peter Senge, sekolahnya Pak Imam itu mirip laboratorium hidup. Semua orang belajar bareng: guru belajar dari siswa, siswa belajar dari kebun, tukang kebun pun bisa jadi guru. Nah, kalau sudah begini, seminar di hotel bintang lima jadi kalah pamor sama meja sarapan hotel bintang empat.

Keempat, konsep change management versi Kotter juga ada nuansanya di sini. Ada urgensi (kenapa harus berubah), ada koalisi (tim yang kompak), ada quick wins (hasil cepat yang bikin semua semangat). Misalnya bikin buket bunga dari daun singkong—murah, unik, dan bisa jadi trend di Instagram.

Dari Dapur Rumah ke Panggung Sekolah

Kalau manajemen biasanya diibaratkan sebagai sebuah orkestra, maka manajemen kolosal ala Pak Tejo lebih mirip pentas gong kebyar di Bali. Semua harus main serentak, ada gong besar, ada kendang, ada ceng-ceng, bahkan ada penari dadakan yang entah dari mana munculnya. Intinya, kerja besar tidak bisa hanya andalkan satu pemain solo.

Pak Tejo paham betul teori Mintzberg atau Drucker itu bagus, tapi kalau dipakai mentah-mentah di sekolah pedesaan, hasilnya bisa bikin kepala guru tambah mumet. Maka ia putar haluan: manajemen kolosal harus lahir dari pengalaman paling dekat—yakni rumah tangga. Bagaimana mengatur listrik supaya hemat, bagaimana mengolah sampah supaya tidak bikin jengkel, bagaimana mengatur anak-anak yang hobinya rebutan Wi-Fi—semua jadi laboratorium kecil di rumahnya. Nah, resep-resep itu kemudian ia boyong ke panggung sekolah.

Hebatnya lagi, Pak Tejo bukan sekadar teoritisi ruang tamu. Ia menekuni bidang Energi Terbarukan. Jadi, kalau ada guru yang kehabisan ide mengajar, ia tinggal bilang: “Listrik matahari saja tidak pernah mengeluh, masa kita mau kalah sama panel surya?” Seloroh itu membuat suasana cair, tapi di baliknya ada transfer ilmu nyata. Anak-anak pun didorong berpikir: bagaimana menciptakan wirausaha baru berbasis energi, teknologi, atau bahkan olahan ide sederhana melalui proses permentasi yang lahir dari keseharian.

Dengan gaya kolosal ini, sekolah bukan lagi sekadar ruang kelas, tapi panggung eksperimen besar. Guru, siswa, dan bahkan tukang kebun pun bisa jadi bagian dari orkestra. Bedanya dengan rumah tangga, kalau di sekolah jumlah pemainnya ratusan. Tapi justru di situlah tantangannya: bagaimana setiap orang bisa ikut menabuh alatnya masing-masing, tanpa ada yang fals.

Proses Pencampuran pakan ternak | Foto dok: SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara

Maka, manajemen kolosal ala Pak Tejo bukan sekadar teori populer, melainkan praktik nyata: dari dapur rumah ke ruang guru, dari atap berpanel surya ke laboratorium siswa, dari ide kecil ke cita-cita besar. Semua untuk satu tujuan—melahirkan alumni yang bukan hanya cari kerja, tapi juga menciptakan kerja.

Pada akhirnya, manajemen kolosal ala Pak Tejo mengajarkan kita satu hal sederhana: jangan terlalu sibuk mencari resep sukses di buku-buku manajemen internasional kalau ide segar justru sudah ada di dapur sendiri. Dari rumah ke sekolah, dari pengalaman sehari-hari ke panggung pendidikan, semua bisa jadi bahan bakar perubahan—apalagi kalau digabung dengan energi terbarukan yang tidak pernah habis.

Seperti kata Peter Drucker, “The best way to predict the future is to create it.” Kalau diterjemahkan ala Pak Tejo, mungkin bunyinya begini: “Cara terbaik menebak masa depan itu ya bikin sendiri, jangan cuma nunggu jatah dari dari pasar kerja.”

Atau dalam kearifan lokal Bali, kita bisa mengutip ungkapan lama, “Dadia gumi sane becik saking awak sane becik” (Jadikan dunia yang baik dimulai dari diri yang baik). Dengan gaya kolosal, Pak Tejo sedang membuktikan pepatah itu: dimulai dari diri, keluarga, lalu menular ke sekolah, dan akhirnya ke masyarakat luas melalui alumninya.

Jadi, dalam manajemen kolosal, tidak ada istilah “satu orang superman.” Yang ada adalah “super team” yang bisa menyalakan cahaya, meski awalnya hanya bermodal lampu kecil di rumah Pak Tejo.

Manajemen kolosal ini sebenarnya juga merupakan paket hemat berbagai teori manajemen modern. Bedanya, penyajiannya bukan lewat buku tebal berbahasa Inggris, tapi lewat obrolan di meja sarapan sambil ngopi. Rasanya lebih nyantol di hati karena disampaikan dengan logat Banjarnegara yang renyah.

Dari meja sarapan itu saya bawa pulang dua hal sederhana: rasa bubur ayam yang enak, dan satu gagasan kepemimpinan yang mudah diingat. Manajemen kolosal bukan retorika; ia praktik yang bisa dioperasionalkan lewat struktur, budaya, dan pelibatan banyak orang di sekolah. Kalau Pak Imam mengajari kita sesuatu, itu bukan sekadar cara mengelola. Itu cara memanusiakan sekolah — menjadikannya ruang bagi semua orang, dari satpam hingga siswa, merasa punya andil, punya kreativitas, dan punya martabat.[T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: kopimanajemenPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Next Post

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co