27 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 25, 2025
in Khas
Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Foto Dok: Imam Tejo, Kepala SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara

DI sela pelaksanaan tugas dinas, pagi itu, Kamis, 19 September 2025, di meja makan Hotel Grand Mercure Adisucipto, Yogyakarta, saya sebenarnya hanya berniat menyendok bubur ayam sambil menikmati aroma kopi. Tapi siapa sangka, di balik secangkir kopi itu, saya malah mendapat “menu tambahan” berupa kuliah kepemimpinan gratis dari seorang kepala sekolah penuh energi: Bapak Imam Tejo Marwoto, Kepala SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara.

Dengan logat yang renyah dan cerita ngalir kayak Sungai Serayu di musim hujan, beliau membedah konsep kepemimpinan yang ia sebut manajemen kolosal. Jangan bayangkan kolosal ala film peperangan atau konser dangdut di lapangan desa. Kolosal di sini artinya membangun sekolah bukan kerja satu orang, melainkan kerja bersama. Kepala sekolah, guru, siswa, satpam, tukang kebun—semua diajak mikir, semua diajak bergerak, semua punya peran.

“Kalau kepemimpinan hanya andalkan kepala sekolah, itu namanya one man show,” ujarnya sambil terkekeh. “Lama-lama kepalanya panas, show-nya bubar!”
Tawa pun pecah. Sekolah memang tak bisa berdiri hanya di pundak satu orang; ia harus ditopang banyak tangan, pikiran, dan hati.

Yang membuat saya lebih tercenung: Pak Imam tidak sekadar berteori. Ia mencontohkan bagaimana siswa diajak melek bahwa bertani bukan profesi kelas dua — mereka didorong menjadi petani milenial: mampu memadukan gadget dan pemasaran digital dengan kearifan lokal. Kreativitas diolah: bunga liar, daun, batang, hingga barang bekas disulap menjadi karya bernilai jual. Hemat, ramah lingkungan, penuh makna.

Sambil menyeruput kopi, saya geli sendiri. Kita sering cari inspirasi jauh-jauh, padahal di meja sarapan bisa ketemu “narasumber” yang gagasannya menohok dan menggelitik. Manajemen kolosal ala Pak Imam sederhana tapi dalam: jangan jadi kepala sekolah seperti “Raja”. Jadilah dirigen — yang membuat semua alat musik berbunyi padu. Kalau hanya satu orang meniup trompet keras-keras, jadinya bukan musik, melainkan kebisingan.

Kalau didengar sekilas, istilah manajemen kolosal ala Pak Imam ini kayak judul film kolosal tentang perang kerajaan. Padahal, maksudnya sederhana: sekolah itu bukan one man show, tapi show rame-rame. Nah, kalau dicocokkan dengan teori manajemen modern, ternyata pas banget!

Pertama, ada yang namanya distributed leadership. Bahasa gampangnya: kepemimpinan jangan ditumpuk semua di kepala sekolah. Nanti kepalanya panas, ubun-ubun berasap, dan ujung-ujungnya malah masuk angin. Bagi-bagi peran aja, biar guru, siswa, bahkan satpam ikut punya “panggung”.

Kedua, gaya Pak Imam ini mirip transformational leadership. Ia bukan sekadar nyuruh-nyuruh, tapi ngajak orang terinspirasi. Bedanya dengan servant leadership, kalau yang ini kepala sekolah ibarat pelayan: siap ngelayani supaya tim bisa jalan. Jadi kepala sekolahnya bukan raja yang duduk di singgasana, tapi dirigen yang sibuk memastikan semua alat musik bunyinya pas. Kalau cuma trompetnya yang digeber kencang, ya bukannya musik… tapi kebisingan.

Ketiga, kalau pakai kacamata learning organization ala Peter Senge, sekolahnya Pak Imam itu mirip laboratorium hidup. Semua orang belajar bareng: guru belajar dari siswa, siswa belajar dari kebun, tukang kebun pun bisa jadi guru. Nah, kalau sudah begini, seminar di hotel bintang lima jadi kalah pamor sama meja sarapan hotel bintang empat.

Keempat, konsep change management versi Kotter juga ada nuansanya di sini. Ada urgensi (kenapa harus berubah), ada koalisi (tim yang kompak), ada quick wins (hasil cepat yang bikin semua semangat). Misalnya bikin buket bunga dari daun singkong—murah, unik, dan bisa jadi trend di Instagram.

Dari Dapur Rumah ke Panggung Sekolah

Kalau manajemen biasanya diibaratkan sebagai sebuah orkestra, maka manajemen kolosal ala Pak Tejo lebih mirip pentas gong kebyar di Bali. Semua harus main serentak, ada gong besar, ada kendang, ada ceng-ceng, bahkan ada penari dadakan yang entah dari mana munculnya. Intinya, kerja besar tidak bisa hanya andalkan satu pemain solo.

Pak Tejo paham betul teori Mintzberg atau Drucker itu bagus, tapi kalau dipakai mentah-mentah di sekolah pedesaan, hasilnya bisa bikin kepala guru tambah mumet. Maka ia putar haluan: manajemen kolosal harus lahir dari pengalaman paling dekat—yakni rumah tangga. Bagaimana mengatur listrik supaya hemat, bagaimana mengolah sampah supaya tidak bikin jengkel, bagaimana mengatur anak-anak yang hobinya rebutan Wi-Fi—semua jadi laboratorium kecil di rumahnya. Nah, resep-resep itu kemudian ia boyong ke panggung sekolah.

Hebatnya lagi, Pak Tejo bukan sekadar teoritisi ruang tamu. Ia menekuni bidang Energi Terbarukan. Jadi, kalau ada guru yang kehabisan ide mengajar, ia tinggal bilang: “Listrik matahari saja tidak pernah mengeluh, masa kita mau kalah sama panel surya?” Seloroh itu membuat suasana cair, tapi di baliknya ada transfer ilmu nyata. Anak-anak pun didorong berpikir: bagaimana menciptakan wirausaha baru berbasis energi, teknologi, atau bahkan olahan ide sederhana melalui proses permentasi yang lahir dari keseharian.

Dengan gaya kolosal ini, sekolah bukan lagi sekadar ruang kelas, tapi panggung eksperimen besar. Guru, siswa, dan bahkan tukang kebun pun bisa jadi bagian dari orkestra. Bedanya dengan rumah tangga, kalau di sekolah jumlah pemainnya ratusan. Tapi justru di situlah tantangannya: bagaimana setiap orang bisa ikut menabuh alatnya masing-masing, tanpa ada yang fals.

Proses Pencampuran pakan ternak | Foto dok: SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara

Maka, manajemen kolosal ala Pak Tejo bukan sekadar teori populer, melainkan praktik nyata: dari dapur rumah ke ruang guru, dari atap berpanel surya ke laboratorium siswa, dari ide kecil ke cita-cita besar. Semua untuk satu tujuan—melahirkan alumni yang bukan hanya cari kerja, tapi juga menciptakan kerja.

Pada akhirnya, manajemen kolosal ala Pak Tejo mengajarkan kita satu hal sederhana: jangan terlalu sibuk mencari resep sukses di buku-buku manajemen internasional kalau ide segar justru sudah ada di dapur sendiri. Dari rumah ke sekolah, dari pengalaman sehari-hari ke panggung pendidikan, semua bisa jadi bahan bakar perubahan—apalagi kalau digabung dengan energi terbarukan yang tidak pernah habis.

Seperti kata Peter Drucker, “The best way to predict the future is to create it.” Kalau diterjemahkan ala Pak Tejo, mungkin bunyinya begini: “Cara terbaik menebak masa depan itu ya bikin sendiri, jangan cuma nunggu jatah dari dari pasar kerja.”

Atau dalam kearifan lokal Bali, kita bisa mengutip ungkapan lama, “Dadia gumi sane becik saking awak sane becik” (Jadikan dunia yang baik dimulai dari diri yang baik). Dengan gaya kolosal, Pak Tejo sedang membuktikan pepatah itu: dimulai dari diri, keluarga, lalu menular ke sekolah, dan akhirnya ke masyarakat luas melalui alumninya.

Jadi, dalam manajemen kolosal, tidak ada istilah “satu orang superman.” Yang ada adalah “super team” yang bisa menyalakan cahaya, meski awalnya hanya bermodal lampu kecil di rumah Pak Tejo.

Manajemen kolosal ini sebenarnya juga merupakan paket hemat berbagai teori manajemen modern. Bedanya, penyajiannya bukan lewat buku tebal berbahasa Inggris, tapi lewat obrolan di meja sarapan sambil ngopi. Rasanya lebih nyantol di hati karena disampaikan dengan logat Banjarnegara yang renyah.

Dari meja sarapan itu saya bawa pulang dua hal sederhana: rasa bubur ayam yang enak, dan satu gagasan kepemimpinan yang mudah diingat. Manajemen kolosal bukan retorika; ia praktik yang bisa dioperasionalkan lewat struktur, budaya, dan pelibatan banyak orang di sekolah. Kalau Pak Imam mengajari kita sesuatu, itu bukan sekadar cara mengelola. Itu cara memanusiakan sekolah — menjadikannya ruang bagi semua orang, dari satpam hingga siswa, merasa punya andil, punya kreativitas, dan punya martabat.[T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: kopimanajemenPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Next Post

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
0
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

Read moreDetails

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

Read moreDetails

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NGANDANG NGANJUH: ‘Unconscious Incompetence’ dalam Masyarakat Bali —Renungan Malam Kuningan

Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong...

by Sugi Lanus
June 27, 2026
Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan
Esai

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten,...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Takut Galungan
Dongeng

Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu
Puisi

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

by Andi Wirambara
June 27, 2026
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?
Esai

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

by Agung Sudarsa
June 27, 2026
Melepas Dunia, Mengetuk Langit
Ulas Musik

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co