12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 25, 2025
in Khas
Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Foto Dok: Imam Tejo, Kepala SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara

DI sela pelaksanaan tugas dinas, pagi itu, Kamis, 19 September 2025, di meja makan Hotel Grand Mercure Adisucipto, Yogyakarta, saya sebenarnya hanya berniat menyendok bubur ayam sambil menikmati aroma kopi. Tapi siapa sangka, di balik secangkir kopi itu, saya malah mendapat “menu tambahan” berupa kuliah kepemimpinan gratis dari seorang kepala sekolah penuh energi: Bapak Imam Tejo Marwoto, Kepala SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara.

Dengan logat yang renyah dan cerita ngalir kayak Sungai Serayu di musim hujan, beliau membedah konsep kepemimpinan yang ia sebut manajemen kolosal. Jangan bayangkan kolosal ala film peperangan atau konser dangdut di lapangan desa. Kolosal di sini artinya membangun sekolah bukan kerja satu orang, melainkan kerja bersama. Kepala sekolah, guru, siswa, satpam, tukang kebun—semua diajak mikir, semua diajak bergerak, semua punya peran.

“Kalau kepemimpinan hanya andalkan kepala sekolah, itu namanya one man show,” ujarnya sambil terkekeh. “Lama-lama kepalanya panas, show-nya bubar!”
Tawa pun pecah. Sekolah memang tak bisa berdiri hanya di pundak satu orang; ia harus ditopang banyak tangan, pikiran, dan hati.

Yang membuat saya lebih tercenung: Pak Imam tidak sekadar berteori. Ia mencontohkan bagaimana siswa diajak melek bahwa bertani bukan profesi kelas dua — mereka didorong menjadi petani milenial: mampu memadukan gadget dan pemasaran digital dengan kearifan lokal. Kreativitas diolah: bunga liar, daun, batang, hingga barang bekas disulap menjadi karya bernilai jual. Hemat, ramah lingkungan, penuh makna.

Sambil menyeruput kopi, saya geli sendiri. Kita sering cari inspirasi jauh-jauh, padahal di meja sarapan bisa ketemu “narasumber” yang gagasannya menohok dan menggelitik. Manajemen kolosal ala Pak Imam sederhana tapi dalam: jangan jadi kepala sekolah seperti “Raja”. Jadilah dirigen — yang membuat semua alat musik berbunyi padu. Kalau hanya satu orang meniup trompet keras-keras, jadinya bukan musik, melainkan kebisingan.

Kalau didengar sekilas, istilah manajemen kolosal ala Pak Imam ini kayak judul film kolosal tentang perang kerajaan. Padahal, maksudnya sederhana: sekolah itu bukan one man show, tapi show rame-rame. Nah, kalau dicocokkan dengan teori manajemen modern, ternyata pas banget!

Pertama, ada yang namanya distributed leadership. Bahasa gampangnya: kepemimpinan jangan ditumpuk semua di kepala sekolah. Nanti kepalanya panas, ubun-ubun berasap, dan ujung-ujungnya malah masuk angin. Bagi-bagi peran aja, biar guru, siswa, bahkan satpam ikut punya “panggung”.

Kedua, gaya Pak Imam ini mirip transformational leadership. Ia bukan sekadar nyuruh-nyuruh, tapi ngajak orang terinspirasi. Bedanya dengan servant leadership, kalau yang ini kepala sekolah ibarat pelayan: siap ngelayani supaya tim bisa jalan. Jadi kepala sekolahnya bukan raja yang duduk di singgasana, tapi dirigen yang sibuk memastikan semua alat musik bunyinya pas. Kalau cuma trompetnya yang digeber kencang, ya bukannya musik… tapi kebisingan.

Ketiga, kalau pakai kacamata learning organization ala Peter Senge, sekolahnya Pak Imam itu mirip laboratorium hidup. Semua orang belajar bareng: guru belajar dari siswa, siswa belajar dari kebun, tukang kebun pun bisa jadi guru. Nah, kalau sudah begini, seminar di hotel bintang lima jadi kalah pamor sama meja sarapan hotel bintang empat.

Keempat, konsep change management versi Kotter juga ada nuansanya di sini. Ada urgensi (kenapa harus berubah), ada koalisi (tim yang kompak), ada quick wins (hasil cepat yang bikin semua semangat). Misalnya bikin buket bunga dari daun singkong—murah, unik, dan bisa jadi trend di Instagram.

Dari Dapur Rumah ke Panggung Sekolah

Kalau manajemen biasanya diibaratkan sebagai sebuah orkestra, maka manajemen kolosal ala Pak Tejo lebih mirip pentas gong kebyar di Bali. Semua harus main serentak, ada gong besar, ada kendang, ada ceng-ceng, bahkan ada penari dadakan yang entah dari mana munculnya. Intinya, kerja besar tidak bisa hanya andalkan satu pemain solo.

Pak Tejo paham betul teori Mintzberg atau Drucker itu bagus, tapi kalau dipakai mentah-mentah di sekolah pedesaan, hasilnya bisa bikin kepala guru tambah mumet. Maka ia putar haluan: manajemen kolosal harus lahir dari pengalaman paling dekat—yakni rumah tangga. Bagaimana mengatur listrik supaya hemat, bagaimana mengolah sampah supaya tidak bikin jengkel, bagaimana mengatur anak-anak yang hobinya rebutan Wi-Fi—semua jadi laboratorium kecil di rumahnya. Nah, resep-resep itu kemudian ia boyong ke panggung sekolah.

Hebatnya lagi, Pak Tejo bukan sekadar teoritisi ruang tamu. Ia menekuni bidang Energi Terbarukan. Jadi, kalau ada guru yang kehabisan ide mengajar, ia tinggal bilang: “Listrik matahari saja tidak pernah mengeluh, masa kita mau kalah sama panel surya?” Seloroh itu membuat suasana cair, tapi di baliknya ada transfer ilmu nyata. Anak-anak pun didorong berpikir: bagaimana menciptakan wirausaha baru berbasis energi, teknologi, atau bahkan olahan ide sederhana melalui proses permentasi yang lahir dari keseharian.

Dengan gaya kolosal ini, sekolah bukan lagi sekadar ruang kelas, tapi panggung eksperimen besar. Guru, siswa, dan bahkan tukang kebun pun bisa jadi bagian dari orkestra. Bedanya dengan rumah tangga, kalau di sekolah jumlah pemainnya ratusan. Tapi justru di situlah tantangannya: bagaimana setiap orang bisa ikut menabuh alatnya masing-masing, tanpa ada yang fals.

Proses Pencampuran pakan ternak | Foto dok: SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara

Maka, manajemen kolosal ala Pak Tejo bukan sekadar teori populer, melainkan praktik nyata: dari dapur rumah ke ruang guru, dari atap berpanel surya ke laboratorium siswa, dari ide kecil ke cita-cita besar. Semua untuk satu tujuan—melahirkan alumni yang bukan hanya cari kerja, tapi juga menciptakan kerja.

Pada akhirnya, manajemen kolosal ala Pak Tejo mengajarkan kita satu hal sederhana: jangan terlalu sibuk mencari resep sukses di buku-buku manajemen internasional kalau ide segar justru sudah ada di dapur sendiri. Dari rumah ke sekolah, dari pengalaman sehari-hari ke panggung pendidikan, semua bisa jadi bahan bakar perubahan—apalagi kalau digabung dengan energi terbarukan yang tidak pernah habis.

Seperti kata Peter Drucker, “The best way to predict the future is to create it.” Kalau diterjemahkan ala Pak Tejo, mungkin bunyinya begini: “Cara terbaik menebak masa depan itu ya bikin sendiri, jangan cuma nunggu jatah dari dari pasar kerja.”

Atau dalam kearifan lokal Bali, kita bisa mengutip ungkapan lama, “Dadia gumi sane becik saking awak sane becik” (Jadikan dunia yang baik dimulai dari diri yang baik). Dengan gaya kolosal, Pak Tejo sedang membuktikan pepatah itu: dimulai dari diri, keluarga, lalu menular ke sekolah, dan akhirnya ke masyarakat luas melalui alumninya.

Jadi, dalam manajemen kolosal, tidak ada istilah “satu orang superman.” Yang ada adalah “super team” yang bisa menyalakan cahaya, meski awalnya hanya bermodal lampu kecil di rumah Pak Tejo.

Manajemen kolosal ini sebenarnya juga merupakan paket hemat berbagai teori manajemen modern. Bedanya, penyajiannya bukan lewat buku tebal berbahasa Inggris, tapi lewat obrolan di meja sarapan sambil ngopi. Rasanya lebih nyantol di hati karena disampaikan dengan logat Banjarnegara yang renyah.

Dari meja sarapan itu saya bawa pulang dua hal sederhana: rasa bubur ayam yang enak, dan satu gagasan kepemimpinan yang mudah diingat. Manajemen kolosal bukan retorika; ia praktik yang bisa dioperasionalkan lewat struktur, budaya, dan pelibatan banyak orang di sekolah. Kalau Pak Imam mengajari kita sesuatu, itu bukan sekadar cara mengelola. Itu cara memanusiakan sekolah — menjadikannya ruang bagi semua orang, dari satpam hingga siswa, merasa punya andil, punya kreativitas, dan punya martabat.[T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: kopimanajemenPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Next Post

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
0
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

Read moreDetails

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co