12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 25, 2025
in Khas
Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Foto Dok: Imam Tejo, Kepala SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara

DI sela pelaksanaan tugas dinas, pagi itu, Kamis, 19 September 2025, di meja makan Hotel Grand Mercure Adisucipto, Yogyakarta, saya sebenarnya hanya berniat menyendok bubur ayam sambil menikmati aroma kopi. Tapi siapa sangka, di balik secangkir kopi itu, saya malah mendapat “menu tambahan” berupa kuliah kepemimpinan gratis dari seorang kepala sekolah penuh energi: Bapak Imam Tejo Marwoto, Kepala SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara.

Dengan logat yang renyah dan cerita ngalir kayak Sungai Serayu di musim hujan, beliau membedah konsep kepemimpinan yang ia sebut manajemen kolosal. Jangan bayangkan kolosal ala film peperangan atau konser dangdut di lapangan desa. Kolosal di sini artinya membangun sekolah bukan kerja satu orang, melainkan kerja bersama. Kepala sekolah, guru, siswa, satpam, tukang kebun—semua diajak mikir, semua diajak bergerak, semua punya peran.

“Kalau kepemimpinan hanya andalkan kepala sekolah, itu namanya one man show,” ujarnya sambil terkekeh. “Lama-lama kepalanya panas, show-nya bubar!”
Tawa pun pecah. Sekolah memang tak bisa berdiri hanya di pundak satu orang; ia harus ditopang banyak tangan, pikiran, dan hati.

Yang membuat saya lebih tercenung: Pak Imam tidak sekadar berteori. Ia mencontohkan bagaimana siswa diajak melek bahwa bertani bukan profesi kelas dua — mereka didorong menjadi petani milenial: mampu memadukan gadget dan pemasaran digital dengan kearifan lokal. Kreativitas diolah: bunga liar, daun, batang, hingga barang bekas disulap menjadi karya bernilai jual. Hemat, ramah lingkungan, penuh makna.

Sambil menyeruput kopi, saya geli sendiri. Kita sering cari inspirasi jauh-jauh, padahal di meja sarapan bisa ketemu “narasumber” yang gagasannya menohok dan menggelitik. Manajemen kolosal ala Pak Imam sederhana tapi dalam: jangan jadi kepala sekolah seperti “Raja”. Jadilah dirigen — yang membuat semua alat musik berbunyi padu. Kalau hanya satu orang meniup trompet keras-keras, jadinya bukan musik, melainkan kebisingan.

Kalau didengar sekilas, istilah manajemen kolosal ala Pak Imam ini kayak judul film kolosal tentang perang kerajaan. Padahal, maksudnya sederhana: sekolah itu bukan one man show, tapi show rame-rame. Nah, kalau dicocokkan dengan teori manajemen modern, ternyata pas banget!

Pertama, ada yang namanya distributed leadership. Bahasa gampangnya: kepemimpinan jangan ditumpuk semua di kepala sekolah. Nanti kepalanya panas, ubun-ubun berasap, dan ujung-ujungnya malah masuk angin. Bagi-bagi peran aja, biar guru, siswa, bahkan satpam ikut punya “panggung”.

Kedua, gaya Pak Imam ini mirip transformational leadership. Ia bukan sekadar nyuruh-nyuruh, tapi ngajak orang terinspirasi. Bedanya dengan servant leadership, kalau yang ini kepala sekolah ibarat pelayan: siap ngelayani supaya tim bisa jalan. Jadi kepala sekolahnya bukan raja yang duduk di singgasana, tapi dirigen yang sibuk memastikan semua alat musik bunyinya pas. Kalau cuma trompetnya yang digeber kencang, ya bukannya musik… tapi kebisingan.

Ketiga, kalau pakai kacamata learning organization ala Peter Senge, sekolahnya Pak Imam itu mirip laboratorium hidup. Semua orang belajar bareng: guru belajar dari siswa, siswa belajar dari kebun, tukang kebun pun bisa jadi guru. Nah, kalau sudah begini, seminar di hotel bintang lima jadi kalah pamor sama meja sarapan hotel bintang empat.

Keempat, konsep change management versi Kotter juga ada nuansanya di sini. Ada urgensi (kenapa harus berubah), ada koalisi (tim yang kompak), ada quick wins (hasil cepat yang bikin semua semangat). Misalnya bikin buket bunga dari daun singkong—murah, unik, dan bisa jadi trend di Instagram.

Dari Dapur Rumah ke Panggung Sekolah

Kalau manajemen biasanya diibaratkan sebagai sebuah orkestra, maka manajemen kolosal ala Pak Tejo lebih mirip pentas gong kebyar di Bali. Semua harus main serentak, ada gong besar, ada kendang, ada ceng-ceng, bahkan ada penari dadakan yang entah dari mana munculnya. Intinya, kerja besar tidak bisa hanya andalkan satu pemain solo.

Pak Tejo paham betul teori Mintzberg atau Drucker itu bagus, tapi kalau dipakai mentah-mentah di sekolah pedesaan, hasilnya bisa bikin kepala guru tambah mumet. Maka ia putar haluan: manajemen kolosal harus lahir dari pengalaman paling dekat—yakni rumah tangga. Bagaimana mengatur listrik supaya hemat, bagaimana mengolah sampah supaya tidak bikin jengkel, bagaimana mengatur anak-anak yang hobinya rebutan Wi-Fi—semua jadi laboratorium kecil di rumahnya. Nah, resep-resep itu kemudian ia boyong ke panggung sekolah.

Hebatnya lagi, Pak Tejo bukan sekadar teoritisi ruang tamu. Ia menekuni bidang Energi Terbarukan. Jadi, kalau ada guru yang kehabisan ide mengajar, ia tinggal bilang: “Listrik matahari saja tidak pernah mengeluh, masa kita mau kalah sama panel surya?” Seloroh itu membuat suasana cair, tapi di baliknya ada transfer ilmu nyata. Anak-anak pun didorong berpikir: bagaimana menciptakan wirausaha baru berbasis energi, teknologi, atau bahkan olahan ide sederhana melalui proses permentasi yang lahir dari keseharian.

Dengan gaya kolosal ini, sekolah bukan lagi sekadar ruang kelas, tapi panggung eksperimen besar. Guru, siswa, dan bahkan tukang kebun pun bisa jadi bagian dari orkestra. Bedanya dengan rumah tangga, kalau di sekolah jumlah pemainnya ratusan. Tapi justru di situlah tantangannya: bagaimana setiap orang bisa ikut menabuh alatnya masing-masing, tanpa ada yang fals.

Proses Pencampuran pakan ternak | Foto dok: SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara

Maka, manajemen kolosal ala Pak Tejo bukan sekadar teori populer, melainkan praktik nyata: dari dapur rumah ke ruang guru, dari atap berpanel surya ke laboratorium siswa, dari ide kecil ke cita-cita besar. Semua untuk satu tujuan—melahirkan alumni yang bukan hanya cari kerja, tapi juga menciptakan kerja.

Pada akhirnya, manajemen kolosal ala Pak Tejo mengajarkan kita satu hal sederhana: jangan terlalu sibuk mencari resep sukses di buku-buku manajemen internasional kalau ide segar justru sudah ada di dapur sendiri. Dari rumah ke sekolah, dari pengalaman sehari-hari ke panggung pendidikan, semua bisa jadi bahan bakar perubahan—apalagi kalau digabung dengan energi terbarukan yang tidak pernah habis.

Seperti kata Peter Drucker, “The best way to predict the future is to create it.” Kalau diterjemahkan ala Pak Tejo, mungkin bunyinya begini: “Cara terbaik menebak masa depan itu ya bikin sendiri, jangan cuma nunggu jatah dari dari pasar kerja.”

Atau dalam kearifan lokal Bali, kita bisa mengutip ungkapan lama, “Dadia gumi sane becik saking awak sane becik” (Jadikan dunia yang baik dimulai dari diri yang baik). Dengan gaya kolosal, Pak Tejo sedang membuktikan pepatah itu: dimulai dari diri, keluarga, lalu menular ke sekolah, dan akhirnya ke masyarakat luas melalui alumninya.

Jadi, dalam manajemen kolosal, tidak ada istilah “satu orang superman.” Yang ada adalah “super team” yang bisa menyalakan cahaya, meski awalnya hanya bermodal lampu kecil di rumah Pak Tejo.

Manajemen kolosal ini sebenarnya juga merupakan paket hemat berbagai teori manajemen modern. Bedanya, penyajiannya bukan lewat buku tebal berbahasa Inggris, tapi lewat obrolan di meja sarapan sambil ngopi. Rasanya lebih nyantol di hati karena disampaikan dengan logat Banjarnegara yang renyah.

Dari meja sarapan itu saya bawa pulang dua hal sederhana: rasa bubur ayam yang enak, dan satu gagasan kepemimpinan yang mudah diingat. Manajemen kolosal bukan retorika; ia praktik yang bisa dioperasionalkan lewat struktur, budaya, dan pelibatan banyak orang di sekolah. Kalau Pak Imam mengajari kita sesuatu, itu bukan sekadar cara mengelola. Itu cara memanusiakan sekolah — menjadikannya ruang bagi semua orang, dari satpam hingga siswa, merasa punya andil, punya kreativitas, dan punya martabat.[T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: kopimanajemenPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 Kampusku Sarang Hantu [34]: “Healing” Berujung Merinding

Next Post

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co