6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

Krisna Aji by Krisna Aji
September 25, 2025
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

KEBAHAGIAAN kadang terasa seperti bayangan sendiri. Menjauh saat dikejar, terasa berjarak saat tubuh tidak bergerak. Pernyataan tersebut dikatakan oleh seorang teman setelah ia berhasil melalui berbagai masa sulit. Dikatakan kepada saya beberapa bulan yang lalu dan kembali terlintas dalam meditasi rutin yang saya lakukan di malam hari selepas praktik.

Saya bermeditasi rutin selepas praktik untuk membersihkan batin dari kotoran mental akibat cerita dari puluhan pasien dalam sehari. Seperti tenaga kesehatan yang mandi sepulang kerja, saya pun membersihkan diri dari “kuman” batin. Serpihan ingatan acak sering kali muncul dalam proses itu. Bisa jadi serpihan itu adalah masalah pasien yang terserap dan mengendap di alam bawah sadar saya. Salah satunya adalah renungan tentang hubungan antara kebahagiaan dan bayangan diri. Sebuah paradoks yang layak direnungkan lebih dalam.

Jika membandingkan kebahagiaan dan bayangan sendiri, bukankah itu adalah hal yang paradoks?

Bayangan adalah bagian dari diri yang tentu saja akan menjauh saat dikejar. Ia sejatinya tidak berjarak dengan manusia sebagai sumber bayangan. Mengejarnya hanyalah tindakan sia-sia karena memang ia akan selalu menjauh. Jika mengejar bayangan tetap dilakukan, anak kecil yang melihat pun akan tertawa.

Bagaimana dengan kebahagiaan? Bukankah sesuatu hanya dikejar jika berjarak, termasuk kebahagiaan? Jika sudah memilikinya, untuk apa mengeluarkan tenaga yang sia-sia? Apakah kebahagiaan selalu berjarak dengan manusia dan tidak dapat untuk diraih? Atau, kebahagiaan sejatinya memang tidak berjarak dengan diri sehingga usaha untuk meraihnya adalah tindakan bodoh? Berbagai pertanyaan tersebut terus beranak-pinak dan berkelindan. Mereka saling membantah hingga membuat frustrasi. Seperti yang sering saya temui di ruang-ruang profesional.

Apakah paradoks tersebut buntu tanpa pintu keluar? Mungkinkah paradoks itu sendiri adalah jawaban yang membebaskan? Untuk memperjelas kemungkinan tersebut, mari kita bahas perlahan.

Mulai dari pemahaman akan kebahagiaan. Masing-masing orang mungkin memiliki pendapatnya sendiri. Rasa senang dan puas akan hal konkret yang tercapai, bisa jadi adalah standar umum yang diterima banyak orang. Seperti keberhasilan finansial, cita-cita, pangkat dan jabatan, atau apapun yang menggairahkan untuk didapatkan. Gairah tersebut tentu saja hanya akan muncul jika ada jarak antara manusia dengan objek yang dikejar. Sesuatu akan menantang saat berjarak dan menggembirakan saat jarak ditaklukkan. Karena, apa menariknya mengejar sesuatu yang sudah dimiliki? Pemahaman ini mungkin akan relevan dengan ambisi manusia yang tak berujung akan target-target yang tak berpangkal. Dengan pemahaman ini pula, kebahagiaan memang tampak seperti mengejar sesuatu yang selalu menjauh. Sebab tanpa jarak, tak ada tantangan. Tanpa tantangan, tak ada pencapaian. Tanpa pencapaian, kebahagiaan tak terasa.

Tetapi, apakah jarak adalah syarat mutlak kebahagiaan? Bagaimana jika sejatinya, jarak tidak diperlukan sama sekali? Di mana jarak hanya ilusi yang memperkeruh batin?

Jika kita melihat dari sisi pengalaman batin, kebahagiaan sering dipahami sebagai hilangnya  penderitaan. Keduanya tampak berseberangan. Kebahagiaan dicari saat penderitaan muncul. Saat kebahagiaan muncul dan bertahan lama, kondisi itu berakhir dengan kebosanan yang membuat derita. Ia memerlukan kebahagiaan baru sebagai jalan keluar. Karena penderitaan selalu muncul lagi saat kebahagiaan hilang. Tetapi, apakah itu penderitaan? Jangan-jangan, selama ini kita salah dalam memahami konsep penderitaan?

Jika memahami dengan konsep Buddhisme, akar penderitaan hanya satu: kelekatan. Kelekatan terhadap objek yang buruk akan menimbulkan penderitaan. Hal yang berkebalikan mungkin terjadi saat adanya kelekatan terhadap objek yang membahagiakan. Kebahagiaan akan muncul seketika. Namun ketidakkekalan adalah fakta yang tak terbantah. Segala sesuatu yang terkondisi–bahkan yang bersifat baik–pada akhirnya akan hilang. Saat kondisi yang membahagiakan pergi (entah karena objeknya hilang atau karena kebosanan), maka penderitaan akan muncul. Semua hanya dibedakan oleh waktu. Dari sudut pandang ini, cara terbaik untuk lolos dari penderitaan adalah dengan melepaskan kelekatan itu sendiri. Berhenti mengejar dengan menghilangkan kerakusan. Dengan hilangnya kelekatan, kebahagiaan sejati akan muncul bertahap dengan sendirinya. Karena kebahagiaan sejatinya memang ada di diri sendiri. Ia tidak berjarak.

Keinginan manusia yang tak terbatas membuat dunia tampak muram. Seperti yang dikeluhkan juga oleh Arthur Schopenhauer, dorongan yang tak henti terus melahirkan penderitaan. Saat keinginan tak terpenuhi, penderitaan muncul. Bahkan, saat keinginan sudah terpenuhi, keinginan lain akan muncul. Tanpa ujung dan hanya menghasilkan penderitaan baru. Penderitaan akibat manusia yang tak pernah puas. Dengan pesimisme Schopenhauer, jalan keluar bukanlah dengan menuruti kehendak, tetapi menolaknya. Pandangan ini dekat dengan Buddha yang mengajarkan padamnya keinginan, tetapi dengan tindakan yang menabrak dengan frontal. Karena menolak keinginan, menurut pandangan Schopenhauer, adalah satu-satunya jalan keluar dari penderitaan.

Keputusasaan Schopenhauer lalu ditertawakan oleh Friedrich Nietzsche. Bagi Nietzsche, hidup bukan untuk ditolak, tetapi untuk ditegaskan. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan dan perlu diterima karena dari situlah justru kekuatan, kreativitas, dan keagungan manusia lahir. Nietzsche berbicara tentang kehendak manusia untuk berkuasa, bukan dalam arti menindas orang lain, tetapi lebih ke dorongan untuk mengatasi dan menguasai diri sendiri. Menguasai diri akhirnya berujung pada penerimaan atas segala sesuatu yang hadir. Alih-alih melarikan diri dari penderitaan dengan cara menolak secara frontal segala penyebab penderitaan (termasuk keinginan itu sendiri), Nietzsche mendorong kita untuk mengatakan “ya” pada segala hal yang terjadi pada hidup. Semuanya. Entah itu kebahagiaan, kesedihan, luka, ataupun kegagalan. Penderitaan–dan juga kebahagiaan–bukanlah musuh yang perlu dijauhi. Ia adalah teman perjalanan yang dapat membuat manusia mencintai hidup dan nasibnya, apapun yang terjadi. Gagasan yang juga dikenal dengan amor fati.

Secara implisif, amor fati juga hidup dalam tulisan-tulisan Albert Camus walaupun secara kasat mata ia mengeluhkan keabsurdan dunia. Di dunia yang absurd ini, manusia terus mencari makna tetapi semesta diam dan tak menjawab. Seperti cerita Sisyphus yang dihukum untuk terus mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya terguling lagi. Setelah batu terguling, ia harus kembali mendorongnya. Terus menerus tanpa henti. Seperti manusia yang mengejar bayangannya sendiri tanpa akhir.

Pertanyaan besarnya adalah: apakah kita harus menyerah pada absurditas ini? Jawabannya: tentu tidak!

Coba bayangkan Sisyphus merasa bahagia saat mendorong batu. Bukan saat batu tersebut berada di puncak gunung. Kebahagiaan yang seolah menertawakan keabsurdan hidup yang mencoba menghadirkan penderitaan. Hidup yang absurd bukan alasan untuk putus asa, melainkan alasan untuk memberontak dengan cara mencintai takdir yang tidak jelas. Tetap hidup sepenuhnya meski semesta tetap diam.

Tidak sekedar membayangkan mitos Sisypus, memeluk penderitaan pernah dilakukan langsung oleh Viktor Frankl. Ia adalah psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Dari pengalaman konkret itulah ia membawa filsafat penderitaan. Viktor Frankl menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana manusia dapat bertahan hidup dalam kondisi paling brutal. Bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan menemukan makna dari penderitaan yang dipeluk. Harapan akan kebahagiaan dengan menolak penderitaan hanya akan membuat manusia semakin lemah. Daripada menghabiskan energi dengan menolak realitas, menciptakan makna dari setiap penderitaan yang diterima adalah jalan yang menyelamatkan. Hal ini juga bersinggungan dengan ajaran Buddha: kebebasan batin menjadi mungkin, bahkan ketika tubuh dan realitas terpenjara.

Dalam keheningan meditasi yang hanya terisi suara napas, pikiran saya dihampiri berbagai pandangan tersebut. Buddha berbisik bahwa penderitaan berakar dari kelekatan dan kebahagiaan sejati lahir dari pelepasan. Schopenhauer menimpali dengan nada muram. Ia berakhir dengan menolak semua kehendak sebagai asal mula penderitaan dengan frontal. Kemuraman itu dibantah oleh Nietzsche: fokus sebaiknya tidak tertuju pada penolakan akan hasrat sebagai pangkal penderitaan, tetapi melihat penderitaan sebagai medan untuk bertumbuh. Semangat serupa diserukan oleh Camus dengan cara mencintai absurditas meskipun tidak ada garansi bahwa semesta dapat memberikan makna. Frankl mengalaminya sendiri. Ia menegaskan: dalam situasi paling kejam sekalipun, manusia tetap bebas menemukan makna dan kebahagiaan dalam penderitaan–bahkan jika semesta tetap diam. Karena tetap mencintai kekinian yang absurd, tanpa harapan berlebihan akan masa depan, adalah cara bahagia paling sederhana.

Kesimpulan yang tak terkatakan muncul dalam perjalanan meditasi. Menghadirkan jalan tengah yang bukan sekadar menolak, menegaskan, ataupun memberontak. Melainkan melihat dengan jernih hakikat dari segala sesuatu yang terkondisi: tidak kekal, tanpa inti, dan tak mampu memberi kebahagiaan sejati. Memahami dan mengalami konsep ini secara menyeluruh melalui kontemplasi di setiap ritme napas meditasi pelan-pelan menghadirkan titik keseimbangan yang sesungguhnya. Berhenti menggenggam dan membiarkan batin menjadi jernih apa adanya. [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Trauma Masa Kecil yang Diam-Diam Merusak Hubungan Cinta
Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Tags: kebahagiaankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Next Post

NCT DREAM “Rainbow”: Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails
Next Post
NCT DREAM “Rainbow”: Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

NCT DREAM "Rainbow": Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co