17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

Krisna Aji by Krisna Aji
September 25, 2025
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

KEBAHAGIAAN kadang terasa seperti bayangan sendiri. Menjauh saat dikejar, terasa berjarak saat tubuh tidak bergerak. Pernyataan tersebut dikatakan oleh seorang teman setelah ia berhasil melalui berbagai masa sulit. Dikatakan kepada saya beberapa bulan yang lalu dan kembali terlintas dalam meditasi rutin yang saya lakukan di malam hari selepas praktik.

Saya bermeditasi rutin selepas praktik untuk membersihkan batin dari kotoran mental akibat cerita dari puluhan pasien dalam sehari. Seperti tenaga kesehatan yang mandi sepulang kerja, saya pun membersihkan diri dari “kuman” batin. Serpihan ingatan acak sering kali muncul dalam proses itu. Bisa jadi serpihan itu adalah masalah pasien yang terserap dan mengendap di alam bawah sadar saya. Salah satunya adalah renungan tentang hubungan antara kebahagiaan dan bayangan diri. Sebuah paradoks yang layak direnungkan lebih dalam.

Jika membandingkan kebahagiaan dan bayangan sendiri, bukankah itu adalah hal yang paradoks?

Bayangan adalah bagian dari diri yang tentu saja akan menjauh saat dikejar. Ia sejatinya tidak berjarak dengan manusia sebagai sumber bayangan. Mengejarnya hanyalah tindakan sia-sia karena memang ia akan selalu menjauh. Jika mengejar bayangan tetap dilakukan, anak kecil yang melihat pun akan tertawa.

Bagaimana dengan kebahagiaan? Bukankah sesuatu hanya dikejar jika berjarak, termasuk kebahagiaan? Jika sudah memilikinya, untuk apa mengeluarkan tenaga yang sia-sia? Apakah kebahagiaan selalu berjarak dengan manusia dan tidak dapat untuk diraih? Atau, kebahagiaan sejatinya memang tidak berjarak dengan diri sehingga usaha untuk meraihnya adalah tindakan bodoh? Berbagai pertanyaan tersebut terus beranak-pinak dan berkelindan. Mereka saling membantah hingga membuat frustrasi. Seperti yang sering saya temui di ruang-ruang profesional.

Apakah paradoks tersebut buntu tanpa pintu keluar? Mungkinkah paradoks itu sendiri adalah jawaban yang membebaskan? Untuk memperjelas kemungkinan tersebut, mari kita bahas perlahan.

Mulai dari pemahaman akan kebahagiaan. Masing-masing orang mungkin memiliki pendapatnya sendiri. Rasa senang dan puas akan hal konkret yang tercapai, bisa jadi adalah standar umum yang diterima banyak orang. Seperti keberhasilan finansial, cita-cita, pangkat dan jabatan, atau apapun yang menggairahkan untuk didapatkan. Gairah tersebut tentu saja hanya akan muncul jika ada jarak antara manusia dengan objek yang dikejar. Sesuatu akan menantang saat berjarak dan menggembirakan saat jarak ditaklukkan. Karena, apa menariknya mengejar sesuatu yang sudah dimiliki? Pemahaman ini mungkin akan relevan dengan ambisi manusia yang tak berujung akan target-target yang tak berpangkal. Dengan pemahaman ini pula, kebahagiaan memang tampak seperti mengejar sesuatu yang selalu menjauh. Sebab tanpa jarak, tak ada tantangan. Tanpa tantangan, tak ada pencapaian. Tanpa pencapaian, kebahagiaan tak terasa.

Tetapi, apakah jarak adalah syarat mutlak kebahagiaan? Bagaimana jika sejatinya, jarak tidak diperlukan sama sekali? Di mana jarak hanya ilusi yang memperkeruh batin?

Jika kita melihat dari sisi pengalaman batin, kebahagiaan sering dipahami sebagai hilangnya  penderitaan. Keduanya tampak berseberangan. Kebahagiaan dicari saat penderitaan muncul. Saat kebahagiaan muncul dan bertahan lama, kondisi itu berakhir dengan kebosanan yang membuat derita. Ia memerlukan kebahagiaan baru sebagai jalan keluar. Karena penderitaan selalu muncul lagi saat kebahagiaan hilang. Tetapi, apakah itu penderitaan? Jangan-jangan, selama ini kita salah dalam memahami konsep penderitaan?

Jika memahami dengan konsep Buddhisme, akar penderitaan hanya satu: kelekatan. Kelekatan terhadap objek yang buruk akan menimbulkan penderitaan. Hal yang berkebalikan mungkin terjadi saat adanya kelekatan terhadap objek yang membahagiakan. Kebahagiaan akan muncul seketika. Namun ketidakkekalan adalah fakta yang tak terbantah. Segala sesuatu yang terkondisi–bahkan yang bersifat baik–pada akhirnya akan hilang. Saat kondisi yang membahagiakan pergi (entah karena objeknya hilang atau karena kebosanan), maka penderitaan akan muncul. Semua hanya dibedakan oleh waktu. Dari sudut pandang ini, cara terbaik untuk lolos dari penderitaan adalah dengan melepaskan kelekatan itu sendiri. Berhenti mengejar dengan menghilangkan kerakusan. Dengan hilangnya kelekatan, kebahagiaan sejati akan muncul bertahap dengan sendirinya. Karena kebahagiaan sejatinya memang ada di diri sendiri. Ia tidak berjarak.

Keinginan manusia yang tak terbatas membuat dunia tampak muram. Seperti yang dikeluhkan juga oleh Arthur Schopenhauer, dorongan yang tak henti terus melahirkan penderitaan. Saat keinginan tak terpenuhi, penderitaan muncul. Bahkan, saat keinginan sudah terpenuhi, keinginan lain akan muncul. Tanpa ujung dan hanya menghasilkan penderitaan baru. Penderitaan akibat manusia yang tak pernah puas. Dengan pesimisme Schopenhauer, jalan keluar bukanlah dengan menuruti kehendak, tetapi menolaknya. Pandangan ini dekat dengan Buddha yang mengajarkan padamnya keinginan, tetapi dengan tindakan yang menabrak dengan frontal. Karena menolak keinginan, menurut pandangan Schopenhauer, adalah satu-satunya jalan keluar dari penderitaan.

Keputusasaan Schopenhauer lalu ditertawakan oleh Friedrich Nietzsche. Bagi Nietzsche, hidup bukan untuk ditolak, tetapi untuk ditegaskan. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan dan perlu diterima karena dari situlah justru kekuatan, kreativitas, dan keagungan manusia lahir. Nietzsche berbicara tentang kehendak manusia untuk berkuasa, bukan dalam arti menindas orang lain, tetapi lebih ke dorongan untuk mengatasi dan menguasai diri sendiri. Menguasai diri akhirnya berujung pada penerimaan atas segala sesuatu yang hadir. Alih-alih melarikan diri dari penderitaan dengan cara menolak secara frontal segala penyebab penderitaan (termasuk keinginan itu sendiri), Nietzsche mendorong kita untuk mengatakan “ya” pada segala hal yang terjadi pada hidup. Semuanya. Entah itu kebahagiaan, kesedihan, luka, ataupun kegagalan. Penderitaan–dan juga kebahagiaan–bukanlah musuh yang perlu dijauhi. Ia adalah teman perjalanan yang dapat membuat manusia mencintai hidup dan nasibnya, apapun yang terjadi. Gagasan yang juga dikenal dengan amor fati.

Secara implisif, amor fati juga hidup dalam tulisan-tulisan Albert Camus walaupun secara kasat mata ia mengeluhkan keabsurdan dunia. Di dunia yang absurd ini, manusia terus mencari makna tetapi semesta diam dan tak menjawab. Seperti cerita Sisyphus yang dihukum untuk terus mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya terguling lagi. Setelah batu terguling, ia harus kembali mendorongnya. Terus menerus tanpa henti. Seperti manusia yang mengejar bayangannya sendiri tanpa akhir.

Pertanyaan besarnya adalah: apakah kita harus menyerah pada absurditas ini? Jawabannya: tentu tidak!

Coba bayangkan Sisyphus merasa bahagia saat mendorong batu. Bukan saat batu tersebut berada di puncak gunung. Kebahagiaan yang seolah menertawakan keabsurdan hidup yang mencoba menghadirkan penderitaan. Hidup yang absurd bukan alasan untuk putus asa, melainkan alasan untuk memberontak dengan cara mencintai takdir yang tidak jelas. Tetap hidup sepenuhnya meski semesta tetap diam.

Tidak sekedar membayangkan mitos Sisypus, memeluk penderitaan pernah dilakukan langsung oleh Viktor Frankl. Ia adalah psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Dari pengalaman konkret itulah ia membawa filsafat penderitaan. Viktor Frankl menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana manusia dapat bertahan hidup dalam kondisi paling brutal. Bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan menemukan makna dari penderitaan yang dipeluk. Harapan akan kebahagiaan dengan menolak penderitaan hanya akan membuat manusia semakin lemah. Daripada menghabiskan energi dengan menolak realitas, menciptakan makna dari setiap penderitaan yang diterima adalah jalan yang menyelamatkan. Hal ini juga bersinggungan dengan ajaran Buddha: kebebasan batin menjadi mungkin, bahkan ketika tubuh dan realitas terpenjara.

Dalam keheningan meditasi yang hanya terisi suara napas, pikiran saya dihampiri berbagai pandangan tersebut. Buddha berbisik bahwa penderitaan berakar dari kelekatan dan kebahagiaan sejati lahir dari pelepasan. Schopenhauer menimpali dengan nada muram. Ia berakhir dengan menolak semua kehendak sebagai asal mula penderitaan dengan frontal. Kemuraman itu dibantah oleh Nietzsche: fokus sebaiknya tidak tertuju pada penolakan akan hasrat sebagai pangkal penderitaan, tetapi melihat penderitaan sebagai medan untuk bertumbuh. Semangat serupa diserukan oleh Camus dengan cara mencintai absurditas meskipun tidak ada garansi bahwa semesta dapat memberikan makna. Frankl mengalaminya sendiri. Ia menegaskan: dalam situasi paling kejam sekalipun, manusia tetap bebas menemukan makna dan kebahagiaan dalam penderitaan–bahkan jika semesta tetap diam. Karena tetap mencintai kekinian yang absurd, tanpa harapan berlebihan akan masa depan, adalah cara bahagia paling sederhana.

Kesimpulan yang tak terkatakan muncul dalam perjalanan meditasi. Menghadirkan jalan tengah yang bukan sekadar menolak, menegaskan, ataupun memberontak. Melainkan melihat dengan jernih hakikat dari segala sesuatu yang terkondisi: tidak kekal, tanpa inti, dan tak mampu memberi kebahagiaan sejati. Memahami dan mengalami konsep ini secara menyeluruh melalui kontemplasi di setiap ritme napas meditasi pelan-pelan menghadirkan titik keseimbangan yang sesungguhnya. Berhenti menggenggam dan membiarkan batin menjadi jernih apa adanya. [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Trauma Masa Kecil yang Diam-Diam Merusak Hubungan Cinta
Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Tags: kebahagiaankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Next Post

NCT DREAM “Rainbow”: Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
NCT DREAM “Rainbow”: Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

NCT DREAM "Rainbow": Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co