6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

Krisna Aji by Krisna Aji
September 25, 2025
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

KEBAHAGIAAN kadang terasa seperti bayangan sendiri. Menjauh saat dikejar, terasa berjarak saat tubuh tidak bergerak. Pernyataan tersebut dikatakan oleh seorang teman setelah ia berhasil melalui berbagai masa sulit. Dikatakan kepada saya beberapa bulan yang lalu dan kembali terlintas dalam meditasi rutin yang saya lakukan di malam hari selepas praktik.

Saya bermeditasi rutin selepas praktik untuk membersihkan batin dari kotoran mental akibat cerita dari puluhan pasien dalam sehari. Seperti tenaga kesehatan yang mandi sepulang kerja, saya pun membersihkan diri dari “kuman” batin. Serpihan ingatan acak sering kali muncul dalam proses itu. Bisa jadi serpihan itu adalah masalah pasien yang terserap dan mengendap di alam bawah sadar saya. Salah satunya adalah renungan tentang hubungan antara kebahagiaan dan bayangan diri. Sebuah paradoks yang layak direnungkan lebih dalam.

Jika membandingkan kebahagiaan dan bayangan sendiri, bukankah itu adalah hal yang paradoks?

Bayangan adalah bagian dari diri yang tentu saja akan menjauh saat dikejar. Ia sejatinya tidak berjarak dengan manusia sebagai sumber bayangan. Mengejarnya hanyalah tindakan sia-sia karena memang ia akan selalu menjauh. Jika mengejar bayangan tetap dilakukan, anak kecil yang melihat pun akan tertawa.

Bagaimana dengan kebahagiaan? Bukankah sesuatu hanya dikejar jika berjarak, termasuk kebahagiaan? Jika sudah memilikinya, untuk apa mengeluarkan tenaga yang sia-sia? Apakah kebahagiaan selalu berjarak dengan manusia dan tidak dapat untuk diraih? Atau, kebahagiaan sejatinya memang tidak berjarak dengan diri sehingga usaha untuk meraihnya adalah tindakan bodoh? Berbagai pertanyaan tersebut terus beranak-pinak dan berkelindan. Mereka saling membantah hingga membuat frustrasi. Seperti yang sering saya temui di ruang-ruang profesional.

Apakah paradoks tersebut buntu tanpa pintu keluar? Mungkinkah paradoks itu sendiri adalah jawaban yang membebaskan? Untuk memperjelas kemungkinan tersebut, mari kita bahas perlahan.

Mulai dari pemahaman akan kebahagiaan. Masing-masing orang mungkin memiliki pendapatnya sendiri. Rasa senang dan puas akan hal konkret yang tercapai, bisa jadi adalah standar umum yang diterima banyak orang. Seperti keberhasilan finansial, cita-cita, pangkat dan jabatan, atau apapun yang menggairahkan untuk didapatkan. Gairah tersebut tentu saja hanya akan muncul jika ada jarak antara manusia dengan objek yang dikejar. Sesuatu akan menantang saat berjarak dan menggembirakan saat jarak ditaklukkan. Karena, apa menariknya mengejar sesuatu yang sudah dimiliki? Pemahaman ini mungkin akan relevan dengan ambisi manusia yang tak berujung akan target-target yang tak berpangkal. Dengan pemahaman ini pula, kebahagiaan memang tampak seperti mengejar sesuatu yang selalu menjauh. Sebab tanpa jarak, tak ada tantangan. Tanpa tantangan, tak ada pencapaian. Tanpa pencapaian, kebahagiaan tak terasa.

Tetapi, apakah jarak adalah syarat mutlak kebahagiaan? Bagaimana jika sejatinya, jarak tidak diperlukan sama sekali? Di mana jarak hanya ilusi yang memperkeruh batin?

Jika kita melihat dari sisi pengalaman batin, kebahagiaan sering dipahami sebagai hilangnya  penderitaan. Keduanya tampak berseberangan. Kebahagiaan dicari saat penderitaan muncul. Saat kebahagiaan muncul dan bertahan lama, kondisi itu berakhir dengan kebosanan yang membuat derita. Ia memerlukan kebahagiaan baru sebagai jalan keluar. Karena penderitaan selalu muncul lagi saat kebahagiaan hilang. Tetapi, apakah itu penderitaan? Jangan-jangan, selama ini kita salah dalam memahami konsep penderitaan?

Jika memahami dengan konsep Buddhisme, akar penderitaan hanya satu: kelekatan. Kelekatan terhadap objek yang buruk akan menimbulkan penderitaan. Hal yang berkebalikan mungkin terjadi saat adanya kelekatan terhadap objek yang membahagiakan. Kebahagiaan akan muncul seketika. Namun ketidakkekalan adalah fakta yang tak terbantah. Segala sesuatu yang terkondisi–bahkan yang bersifat baik–pada akhirnya akan hilang. Saat kondisi yang membahagiakan pergi (entah karena objeknya hilang atau karena kebosanan), maka penderitaan akan muncul. Semua hanya dibedakan oleh waktu. Dari sudut pandang ini, cara terbaik untuk lolos dari penderitaan adalah dengan melepaskan kelekatan itu sendiri. Berhenti mengejar dengan menghilangkan kerakusan. Dengan hilangnya kelekatan, kebahagiaan sejati akan muncul bertahap dengan sendirinya. Karena kebahagiaan sejatinya memang ada di diri sendiri. Ia tidak berjarak.

Keinginan manusia yang tak terbatas membuat dunia tampak muram. Seperti yang dikeluhkan juga oleh Arthur Schopenhauer, dorongan yang tak henti terus melahirkan penderitaan. Saat keinginan tak terpenuhi, penderitaan muncul. Bahkan, saat keinginan sudah terpenuhi, keinginan lain akan muncul. Tanpa ujung dan hanya menghasilkan penderitaan baru. Penderitaan akibat manusia yang tak pernah puas. Dengan pesimisme Schopenhauer, jalan keluar bukanlah dengan menuruti kehendak, tetapi menolaknya. Pandangan ini dekat dengan Buddha yang mengajarkan padamnya keinginan, tetapi dengan tindakan yang menabrak dengan frontal. Karena menolak keinginan, menurut pandangan Schopenhauer, adalah satu-satunya jalan keluar dari penderitaan.

Keputusasaan Schopenhauer lalu ditertawakan oleh Friedrich Nietzsche. Bagi Nietzsche, hidup bukan untuk ditolak, tetapi untuk ditegaskan. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan dan perlu diterima karena dari situlah justru kekuatan, kreativitas, dan keagungan manusia lahir. Nietzsche berbicara tentang kehendak manusia untuk berkuasa, bukan dalam arti menindas orang lain, tetapi lebih ke dorongan untuk mengatasi dan menguasai diri sendiri. Menguasai diri akhirnya berujung pada penerimaan atas segala sesuatu yang hadir. Alih-alih melarikan diri dari penderitaan dengan cara menolak secara frontal segala penyebab penderitaan (termasuk keinginan itu sendiri), Nietzsche mendorong kita untuk mengatakan “ya” pada segala hal yang terjadi pada hidup. Semuanya. Entah itu kebahagiaan, kesedihan, luka, ataupun kegagalan. Penderitaan–dan juga kebahagiaan–bukanlah musuh yang perlu dijauhi. Ia adalah teman perjalanan yang dapat membuat manusia mencintai hidup dan nasibnya, apapun yang terjadi. Gagasan yang juga dikenal dengan amor fati.

Secara implisif, amor fati juga hidup dalam tulisan-tulisan Albert Camus walaupun secara kasat mata ia mengeluhkan keabsurdan dunia. Di dunia yang absurd ini, manusia terus mencari makna tetapi semesta diam dan tak menjawab. Seperti cerita Sisyphus yang dihukum untuk terus mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya terguling lagi. Setelah batu terguling, ia harus kembali mendorongnya. Terus menerus tanpa henti. Seperti manusia yang mengejar bayangannya sendiri tanpa akhir.

Pertanyaan besarnya adalah: apakah kita harus menyerah pada absurditas ini? Jawabannya: tentu tidak!

Coba bayangkan Sisyphus merasa bahagia saat mendorong batu. Bukan saat batu tersebut berada di puncak gunung. Kebahagiaan yang seolah menertawakan keabsurdan hidup yang mencoba menghadirkan penderitaan. Hidup yang absurd bukan alasan untuk putus asa, melainkan alasan untuk memberontak dengan cara mencintai takdir yang tidak jelas. Tetap hidup sepenuhnya meski semesta tetap diam.

Tidak sekedar membayangkan mitos Sisypus, memeluk penderitaan pernah dilakukan langsung oleh Viktor Frankl. Ia adalah psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Dari pengalaman konkret itulah ia membawa filsafat penderitaan. Viktor Frankl menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana manusia dapat bertahan hidup dalam kondisi paling brutal. Bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan menemukan makna dari penderitaan yang dipeluk. Harapan akan kebahagiaan dengan menolak penderitaan hanya akan membuat manusia semakin lemah. Daripada menghabiskan energi dengan menolak realitas, menciptakan makna dari setiap penderitaan yang diterima adalah jalan yang menyelamatkan. Hal ini juga bersinggungan dengan ajaran Buddha: kebebasan batin menjadi mungkin, bahkan ketika tubuh dan realitas terpenjara.

Dalam keheningan meditasi yang hanya terisi suara napas, pikiran saya dihampiri berbagai pandangan tersebut. Buddha berbisik bahwa penderitaan berakar dari kelekatan dan kebahagiaan sejati lahir dari pelepasan. Schopenhauer menimpali dengan nada muram. Ia berakhir dengan menolak semua kehendak sebagai asal mula penderitaan dengan frontal. Kemuraman itu dibantah oleh Nietzsche: fokus sebaiknya tidak tertuju pada penolakan akan hasrat sebagai pangkal penderitaan, tetapi melihat penderitaan sebagai medan untuk bertumbuh. Semangat serupa diserukan oleh Camus dengan cara mencintai absurditas meskipun tidak ada garansi bahwa semesta dapat memberikan makna. Frankl mengalaminya sendiri. Ia menegaskan: dalam situasi paling kejam sekalipun, manusia tetap bebas menemukan makna dan kebahagiaan dalam penderitaan–bahkan jika semesta tetap diam. Karena tetap mencintai kekinian yang absurd, tanpa harapan berlebihan akan masa depan, adalah cara bahagia paling sederhana.

Kesimpulan yang tak terkatakan muncul dalam perjalanan meditasi. Menghadirkan jalan tengah yang bukan sekadar menolak, menegaskan, ataupun memberontak. Melainkan melihat dengan jernih hakikat dari segala sesuatu yang terkondisi: tidak kekal, tanpa inti, dan tak mampu memberi kebahagiaan sejati. Memahami dan mengalami konsep ini secara menyeluruh melalui kontemplasi di setiap ritme napas meditasi pelan-pelan menghadirkan titik keseimbangan yang sesungguhnya. Berhenti menggenggam dan membiarkan batin menjadi jernih apa adanya. [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Trauma Masa Kecil yang Diam-Diam Merusak Hubungan Cinta
Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Tags: kebahagiaankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Next Post

NCT DREAM “Rainbow”: Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
NCT DREAM “Rainbow”: Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

NCT DREAM "Rainbow": Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co