AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Selasa, 16 September 2025, berubah menjadi ruang penuh ide dan ekspresi. Sedari pagi, para siswa kelas X memenuhi ruangan dengan wajah antusias. Mereka bukan sekadar datang untuk menjalani ujian, melainkan merayakan hasil karya bersama, yaitu proyek membuat scrapbook ─ hasil dari proses panjang pembelajaran Bahasa Indonesia yang dikemas dalam Ujian Blok 1.
Sebagai salah satu sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran blok, SMK Kesehatan Bali Medika memiliki pola berbeda. Setiap akhir periode, siswa tidak hanya diuji melalui soal tertulis, tetapi juga melalui proyek. Untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, ujian diwujudkan dalam bentuk ekshibisi scrapbook yang bertemakan “Dari Ide ke Aksi, dari Aksi Jadi Pasti”.
Scrapbook sendiri merupakan buku berisi kumpulan catatan, foto, gambar, maupun hiasan kreatif yang disusun secara tematis. Tidak hanya berfungsi sebagai media dokumentasi, scrapbook juga memberi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan ide dan kreativitas dalam bentuk visual yang menarik.
Proyek ini lahir dari pembelajaran teks laporan hasil observasi, yang diampu oleh Mohammad Hasbi Romadhoni, S.S., dan I Wayan Dede Putra Wiguna, S.Pd. Sebanyak 42 kelompok dari delapan kelas X terlibat dalam kegiatan ini. Formatnya pun berbeda dari ujian biasa: scrapbook mereka dipamerkan dalam ekshibisi terbuka, sehingga warga sekolah dapat berkeliling, melihat, sekaligus memberi apresiasi. Sembari karya dinilai oleh guru, para pengunjung bisa menyaksikan setiap scrapbook yang ditampilkan.

Suasana aula sekolah terasa meriah. Meja-meja berjejer rapi, menampilkan karya siswa dengan ciri khas masing-masing. Ada scrapbook yang dibuat dalam format dua dimensi, penuh dengan kolase foto, catatan, dan ilustrasi. Ada pula yang tampil tiga dimensi, menghadirkan miniatur, teknik pop up, dan ornamen unik yang membuat pengunjung terkesan.
“Rasanya seperti pameran seni,” celetuk seorang siswa kelas XI yang melintas sambil tersenyum. Dan memang, suasana hari itu lebih mirip sebuah perayaan daripada sekadar ujian.
Bagi para siswa kelas X, momen ini memiliki makna ganda. Selain menjadi ajang unjuk hasil belajar, kegiatan ini juga menjadi penutup rangkaian ujian mereka. Tidak heran jika wajah-wajah penuh semangat tampak mendominasi aula.
Salah satu peserta, Ahmad Nazrul Mukminin dari kelas X TLM (Teknik Laboratorium Medik), tampak sibuk menjelaskan scrapbook kelompoknya kepada pengunjung yang berhenti di mejanya.
“Kegiatan ini sangat menyenangkan, semoga kegiatan inspiratif seperti ini diadakan lagi ke depannya, karena berpotensi menonjolkan perkembangan serta kreativitas siswa-siswi di sekolah,” ujarnya.

Tak hanya peserta yang menikmati, penonton pun ikut merasakan keseruan. Putu Bela Inggrid Cahyanti, siswi kelas XI FKK (Farmasi Klinis dan Komunitas), mengaku kagum dengan karya-karya adik kelasnya.
“Saya jujur excited, karena belum pernah ada kegiatan seperti ini di sekolah. Ini pertama kalinya, dan adik-adik kelas juga kreatif semua, scrapbook-nya unik-unik. Walau ada beberapa yang kurang, saya jadi ingin mengkritik, tapi agak sungkan, takut menyinggung perasaan mereka,” ungkapnya dengan tawa kecil.
Komentar Bela menunjukkan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang penilaian formal, tetapi juga ruang interaksi. Para penonton ikut menimbang, mengapresiasi, bahkan mengkritisi. Dengan cara itu, tercipta dialog sehat antara siswa lintas angkatan.
Bagi para guru pengampu, kegiatan ini tidak hanya menilai produk akhir, tetapi juga menumbuhkan keterampilan penting abad ke-21: kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis. Melalui scrapbook, siswa belajar menyusun data hasil observasi, mengolahnya menjadi laporan visual, lalu mengkomunikasikannya dengan cara yang menarik.
Tema “Dari Ide ke Aksi, dari Aksi Jadi Pasti” pun seolah menemukan wujudnya. Ide-ide siswa yang semula hanya berupa gagasan sederhana, akhirnya menjelma menjadi karya nyata yang bisa dinikmati banyak orang. Proses itu membuktikan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia tidak melulu soal teori, tetapi bisa dikemas menyenangkan sekaligus bermakna. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























