23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film Pendek “Can You Hear Me?” : Saat Wi-Fi Putus, Luka Lama Tersambung

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 18, 2025
in Ulas Film
Film Pendek “Can You Hear Me?” : Saat Wi-Fi Putus, Luka Lama Tersambung

Film Pendek "Can You Hear Me?" diputar di Minikino Film Week 2025

FILM pendek Can You Hear Me karya Anastazja Naumenko berdiri di antara dua ranah yang kerap kita anggap terpisah. Teknologi yang dekat dan luka batin keluarga yang nyaris tak pernah selesai.

Dengan premis sederhana—Natasia yang sedang memberi pelajaran via Zoom kepada ibunya tentang cara menggunakan laptop, lalu terganggu oleh internet yang tidak stabil—film ini justru menyingkap sesuatu yang jauh lebih pelik. Trauma keluarga yang diam-diam terselip di balik layar, muncul tanpa aba-aba, dan mengacaukan ritme hidup layaknya koneksi Wi-Fi yang suka putus-nyambung.

Bagi banyak orang, Zoom identik dengan kerja jarak jauh, kuliah online, atau sekadar obrolan kaku yang penuh “halo, suaranya putus-putus tuh.” Naumenko menjadikan aplikasi ini sebagai panggung intim, seakan ruang keluarga virtual bisa menjelma jadi kursi terapi kolektif.

Pertanyaan Natasia yang mestinya teknis—“klik di sini, Ma, jangan di situ”—berbelok menjadi pemicu percakapan yang lebih personal. Gangguan jaringan bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan metafora tentang komunikasi keluarga sering terdistorsi, tersendat, atau bahkan hilang sama sekali.

Zoom yang semula instrumen netral mendadak tampil sebagai cermin rapuh. Kamera laptop menangkap wajah, tapi tak mampu menangkap luka. Mikrofon mengirim suara, tapi tidak menjamin maksud tersampaikan. Dan di sinilah film ini bersinar. Teknologi jadi alat dramatisasi, bukan sekadar latar.

Film Pendek “Can You Hear Me?” saat diputar dalam MFW11

Unstable connection adalah jargon digital paling membosankan yang kita dengar saban hari. Namun dalam film ini, ketidakstabilan itu diterjemahkan menjadi kondisi emosional. Putusnya suara, delay gambar, hingga layar yang membeku, semuanya paralel dengan ketegangan antara ibu dan anak. Trauma lama—yang entah berupa konflik masa kecil, kekecewaan, atau ketidakmampuan saling memahami—ikut terpotong-potong seperti suara robotik di Zoom.

Naumenko seakan ingin berkata, komunikasi keluarga tak kalah rentan dari koneksi internet. Perbedaan generasi, bahasa, hingga luka yang tak pernah tuntas membuat percakapan tersendat. Lucunya, Natasia bisa mengajari sang ibu cara menggunakan laptop, tapi apakah ia bisa “menginstal ulang” cara berhubungan dengan ibunya sendiri? Pertanyaan ini menggantung, tak pernah dijawab tuntas, dan justru membuat film terasa relevan.

Di balik cerita personal, film ini juga memotret realitas lebih luas. Pandemi, misalnya, mengubah cara kita berhubungan. Orang tua yang gagap teknologi dipaksa belajar cepat, sementara anak-anak jadi tutor dadakan. Ketegangan tak terelakkan. Naumenko menangkap kondisi ini dengan jenaka sekaligus getir.

Kita diajak tertawa melihat ibu yang salah klik tombol, lalu tiba-tiba hening karena Zoom freeze. Tapi tawa itu segera tercekik saat percakapan meluncur ke trauma keluarga. Perpindahan nada ini luwes, tidak terasa dipaksakan. Di sinilah kepekaan sutradara diuji. Mengolah hal yang biasa-biasa saja menjadi refleksi sosial.

Internet tak stabil bukan hanya soal kabel atau provider, melainkan simbol betapa rapuhnya fondasi komunikasi manusia modern. Film ini mengingatkan bahwa di balik layar komputer, ada manusia yang membawa luka bertahun-tahun.

Salah satu daya tarik Can You Hear Me adalah cara Naumenko meramu humor gelap. Situasi absurd—anak mengajari ibu Zoom sambil bersitegang soal masa lalu—terasa ironis sekaligus realistis. Kita mungkin tertawa saat melihat Natasia kehilangan kesabaran, tapi tawa itu pahit, karena kita tahu betapa dekatnya adegan ini dengan pengalaman sehari-hari.

Humor di sini bukan sekadar bumbu, melainkan pintu masuk agar penonton berani menyentuh isu berat. Trauma keluarga yang kerap disembunyikan. Seperti halnya meme tentang internet putus di tengah meeting, film ini memanfaatkan “kekonyolan” digital untuk mengupas kegagapan emosional manusia.

Sekilas, film ini tentang anak muda yang sabar (atau tidak sabar) mengajari ibunya menggunakan teknologi. Namun semakin jauh, justru sebaliknya. Sang ibu tanpa sadar “mengajari” anaknya soal keberanian menghadapi luka lama. Ada semacam pertukaran peran. Natasia yang merasa paling paham, ternyata justru kewalahan ketika percakapan keluar jalur.

Relasi ibu-anak dalam film ini tak dibungkus manis. Tidak ada pelukan haru di akhir, tidak ada resolusi utuh. Yang tersisa hanya fragmen komunikasi yang tersendat, sama seperti jaringan internet. Dan justru di situlah kekuatannya. Kejujuran bahwa hubungan keluarga seringkali berakhir di tengah kalimat, tanpa tanda titik.

Namun tentu saja, film ini tidak tanpa kelemahan. Ada risiko bahwa penggunaan Zoom sebagai medium cerita bisa terasa gimmicky. Jika tidak ditopang naskah yang kuat, penonton mungkin hanya melihat, “Oh, ini film eksperimen gaya pandemi lagi.” Untungnya, Naumenko menghindari jebakan itu dengan menghadirkan lapisan emosional.

Yang membuat Can You Hear Me menggoda adalah kedekatannya dengan keseharian kita. Hampir semua orang pernah kesal karena internet lemot. Hampir semua anak pernah frustrasi mengajari orang tua soal teknologi. Dan hampir semua keluarga punya trauma yang lebih mudah disembunyikan ketimbang diucapkan.

Film Pendek “Can You Hear Me?” saat diputar dalam MFW11

Film ini menggabungkan tiga hal itu menjadi satu paket yang singkat, tajam, dan menggelitik. Tidak butuh efek spesial, tidak butuh lokasi megah, cukup satu laptop, koneksi internet, dan keberanian membuka luka lama.

Pada akhirnya, judul Can You Hear Me bukan sekadar tentang suara yang terputus di Zoom. Itu pertanyaan eksistensial. Bisakah kita benar-benar mendengar satu sama lain? Bisakah seorang anak mendengar ibunya, bukan hanya instruksi klik tombol? Bisakah seorang ibu mendengar anaknya, bukan hanya suara kesal yang keluar dari headset?

Naumenko meninggalkan kita dengan kegelisahan. Film ini tidak menjanjikan rekonsiliasi, tapi menghadirkan kejujuran. Bahwa mendengar—baik lewat internet maupun hati—selalu sulit, rentan putus, dan kadang menyakitkan.

Dengan durasi singkat, Can You Hear Me berhasil menancapkan ironi. Di zaman ketika semua orang bisa terhubung, justru komunikasi paling intim sering gagal tersambung. Dan mungkin, kita semua adalah Natasia, berteriak ke layar, “Can you hear me?”—sambil diam-diam berharap ada yang benar-benar menjawab. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Next Post

Film Pendek “Passarinho” (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek “Passarinho” (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Film Pendek "Passarinho" (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co