FILM pendek Can You Hear Me karya Anastazja Naumenko berdiri di antara dua ranah yang kerap kita anggap terpisah. Teknologi yang dekat dan luka batin keluarga yang nyaris tak pernah selesai.
Dengan premis sederhana—Natasia yang sedang memberi pelajaran via Zoom kepada ibunya tentang cara menggunakan laptop, lalu terganggu oleh internet yang tidak stabil—film ini justru menyingkap sesuatu yang jauh lebih pelik. Trauma keluarga yang diam-diam terselip di balik layar, muncul tanpa aba-aba, dan mengacaukan ritme hidup layaknya koneksi Wi-Fi yang suka putus-nyambung.
Bagi banyak orang, Zoom identik dengan kerja jarak jauh, kuliah online, atau sekadar obrolan kaku yang penuh “halo, suaranya putus-putus tuh.” Naumenko menjadikan aplikasi ini sebagai panggung intim, seakan ruang keluarga virtual bisa menjelma jadi kursi terapi kolektif.
Pertanyaan Natasia yang mestinya teknis—“klik di sini, Ma, jangan di situ”—berbelok menjadi pemicu percakapan yang lebih personal. Gangguan jaringan bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan metafora tentang komunikasi keluarga sering terdistorsi, tersendat, atau bahkan hilang sama sekali.
Zoom yang semula instrumen netral mendadak tampil sebagai cermin rapuh. Kamera laptop menangkap wajah, tapi tak mampu menangkap luka. Mikrofon mengirim suara, tapi tidak menjamin maksud tersampaikan. Dan di sinilah film ini bersinar. Teknologi jadi alat dramatisasi, bukan sekadar latar.

Unstable connection adalah jargon digital paling membosankan yang kita dengar saban hari. Namun dalam film ini, ketidakstabilan itu diterjemahkan menjadi kondisi emosional. Putusnya suara, delay gambar, hingga layar yang membeku, semuanya paralel dengan ketegangan antara ibu dan anak. Trauma lama—yang entah berupa konflik masa kecil, kekecewaan, atau ketidakmampuan saling memahami—ikut terpotong-potong seperti suara robotik di Zoom.
Naumenko seakan ingin berkata, komunikasi keluarga tak kalah rentan dari koneksi internet. Perbedaan generasi, bahasa, hingga luka yang tak pernah tuntas membuat percakapan tersendat. Lucunya, Natasia bisa mengajari sang ibu cara menggunakan laptop, tapi apakah ia bisa “menginstal ulang” cara berhubungan dengan ibunya sendiri? Pertanyaan ini menggantung, tak pernah dijawab tuntas, dan justru membuat film terasa relevan.
Di balik cerita personal, film ini juga memotret realitas lebih luas. Pandemi, misalnya, mengubah cara kita berhubungan. Orang tua yang gagap teknologi dipaksa belajar cepat, sementara anak-anak jadi tutor dadakan. Ketegangan tak terelakkan. Naumenko menangkap kondisi ini dengan jenaka sekaligus getir.
Kita diajak tertawa melihat ibu yang salah klik tombol, lalu tiba-tiba hening karena Zoom freeze. Tapi tawa itu segera tercekik saat percakapan meluncur ke trauma keluarga. Perpindahan nada ini luwes, tidak terasa dipaksakan. Di sinilah kepekaan sutradara diuji. Mengolah hal yang biasa-biasa saja menjadi refleksi sosial.
Internet tak stabil bukan hanya soal kabel atau provider, melainkan simbol betapa rapuhnya fondasi komunikasi manusia modern. Film ini mengingatkan bahwa di balik layar komputer, ada manusia yang membawa luka bertahun-tahun.
Salah satu daya tarik Can You Hear Me adalah cara Naumenko meramu humor gelap. Situasi absurd—anak mengajari ibu Zoom sambil bersitegang soal masa lalu—terasa ironis sekaligus realistis. Kita mungkin tertawa saat melihat Natasia kehilangan kesabaran, tapi tawa itu pahit, karena kita tahu betapa dekatnya adegan ini dengan pengalaman sehari-hari.
Humor di sini bukan sekadar bumbu, melainkan pintu masuk agar penonton berani menyentuh isu berat. Trauma keluarga yang kerap disembunyikan. Seperti halnya meme tentang internet putus di tengah meeting, film ini memanfaatkan “kekonyolan” digital untuk mengupas kegagapan emosional manusia.
Sekilas, film ini tentang anak muda yang sabar (atau tidak sabar) mengajari ibunya menggunakan teknologi. Namun semakin jauh, justru sebaliknya. Sang ibu tanpa sadar “mengajari” anaknya soal keberanian menghadapi luka lama. Ada semacam pertukaran peran. Natasia yang merasa paling paham, ternyata justru kewalahan ketika percakapan keluar jalur.
Relasi ibu-anak dalam film ini tak dibungkus manis. Tidak ada pelukan haru di akhir, tidak ada resolusi utuh. Yang tersisa hanya fragmen komunikasi yang tersendat, sama seperti jaringan internet. Dan justru di situlah kekuatannya. Kejujuran bahwa hubungan keluarga seringkali berakhir di tengah kalimat, tanpa tanda titik.
Namun tentu saja, film ini tidak tanpa kelemahan. Ada risiko bahwa penggunaan Zoom sebagai medium cerita bisa terasa gimmicky. Jika tidak ditopang naskah yang kuat, penonton mungkin hanya melihat, “Oh, ini film eksperimen gaya pandemi lagi.” Untungnya, Naumenko menghindari jebakan itu dengan menghadirkan lapisan emosional.
Yang membuat Can You Hear Me menggoda adalah kedekatannya dengan keseharian kita. Hampir semua orang pernah kesal karena internet lemot. Hampir semua anak pernah frustrasi mengajari orang tua soal teknologi. Dan hampir semua keluarga punya trauma yang lebih mudah disembunyikan ketimbang diucapkan.

Film ini menggabungkan tiga hal itu menjadi satu paket yang singkat, tajam, dan menggelitik. Tidak butuh efek spesial, tidak butuh lokasi megah, cukup satu laptop, koneksi internet, dan keberanian membuka luka lama.
Pada akhirnya, judul Can You Hear Me bukan sekadar tentang suara yang terputus di Zoom. Itu pertanyaan eksistensial. Bisakah kita benar-benar mendengar satu sama lain? Bisakah seorang anak mendengar ibunya, bukan hanya instruksi klik tombol? Bisakah seorang ibu mendengar anaknya, bukan hanya suara kesal yang keluar dari headset?
Naumenko meninggalkan kita dengan kegelisahan. Film ini tidak menjanjikan rekonsiliasi, tapi menghadirkan kejujuran. Bahwa mendengar—baik lewat internet maupun hati—selalu sulit, rentan putus, dan kadang menyakitkan.
Dengan durasi singkat, Can You Hear Me berhasil menancapkan ironi. Di zaman ketika semua orang bisa terhubung, justru komunikasi paling intim sering gagal tersambung. Dan mungkin, kita semua adalah Natasia, berteriak ke layar, “Can you hear me?”—sambil diam-diam berharap ada yang benar-benar menjawab. [T]
Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole



























