24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Begadang Filmmaking Competition 9 Tahun, Antara Batas Waktu dan Imajinasi

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 15, 2025
in Ulas Film
Begadang Filmmaking Competition 9 Tahun, Antara Batas Waktu dan Imajinasi

Satu adegan dalam film “The First 9 Months of Loving You” | Foto: Dian

MEMBUAT film pendek dalam waktu 34 jam bukan sekadar lomba adu kreativitas, tetapi juga adu stamina, strategi, dan ketepatan eksekusi. Begadang Filmmaking Competition, yang tahun ini memasuki edisi ke-9, kembali membuktikan diri sebagai salah satu ajang paling ekstrem sekaligus menantang di ajang Minikino Film Week 11, Bali International Short Film Festival, yang diselenggarakan oleh Minikino, Denpasar.

Tantangan yang diberikan pun bukan main-main. Setiap film wajib memasukkan elemen-elemen khusus. Ada 4 elemen yang harus ada dalam film yang diproduksi. Di antaranya, garis komposisi yang membelah layar dalam tiap adegan, sunyi sebagai konsep suara, hubungan tokoh dengan angka 9, serta alur cerita yang bergerak mundur—dimulai dari akhir menuju awal. Hanya dengan syarat-syarat itu, peserta ditantang menembus batas imajinasi sekaligus disiplin teknis.

Dari 53 tim produksi yang mendaftar, 43 tim berhasil menyelesaikan film mereka tepat waktu. Delapan karya kemudian dipilih sebagai hasil terbaik tahun ini, dengan empat di antaranya masuk nominasi utama. Deretan film ini tidak hanya menampilkan kreativitas di bawah tekanan, tetapi juga mencerminkan wajah sinema eksperimental Indonesia yang sedang mencari ruang baru untuk berbicara.

Suasana menonton di Kedai DeKakiang Singaraja | Foto: Dian

Film-film terpilih itu diputar serangkaian ajang Minikino Film Week 11 di Kedai DeKakiang, Singaraja, Minggu malam, 14 September 2025. Pemutaran di Kedai DeKakiang ini terselenggara atas kerjasama Minikino dan Komunitas Singaraja Menonton.

“Sepuluh” – Ivan Padak Demon

Film “Sepuluh” karya Ivan Padak Demon dengan durasi 2 menit 47 detik, memiliki premis sederhana, namun menyimpan ironi. Film ini menyoal seorang anak bernama Titan yang besok akan merayakan ulang tahunnya ke-10, justru ingin menyelesaikan “daftar keinginan sembilan tahun”-nya yang belum tercapai.

Film ini mengangkat isu eksistensial dengan bahasa visual minimalis. Penggunaan garis komposisi dalam tiap adegan terasa presisi, membelah layar seolah menunjukkan perbedaan antara harapan dan kenyataan. Meski durasinya singkat, “Sepuluh” sukses memadatkan keresahan seorang anak yang beranjak dewasa terlalu cepat.

“Perihal Jam Kosong” – Jevi Adhi Nugraha

Dari Yogyakarta, hadir “Perihal Jam Kosong” karya Jevi Adhi Nugraha. Film ini membawa kita ke 9 September pukul 09.00, waktu yang menjadi luka paling traumatis bagi tokoh Nava. Keterlambatan menstruasi selama tiga bulan lebih menjadi simbol tekanan, ketakutan, dan stigma sosial yang masih menghantui perempuan muda. Narasi ini begitu lugas menyorot persoalan tubuh perempuan yang kerap dianggap tabu untuk dibicarakan.

Di tengah keterbatasan waktu produksi, Jevi berani mengeksekusi isu sensitif dengan pendekatan visual yang dingin, senyap, dan menghantam perasaan. Sunyi sebagai konsep suara benar-benar dimanfaatkan untuk menekankan rasa yang disembunyikan oleh tokoh Nava. Jika diterjemahkan secara sederhana, film ini menceritakan seorang gadis yang (mungkin) hamil 3 bulan tanpa diketahui oleh siapapun.

“We Are Okay?” – Dwi S. Kadarusman & Agus Marwan

Berbeda dengan dua film sebelumnya, “We Are Okay?” karya Dwi S. Kadarusman bersama Agus Marwan bermain di ranah kontemporer digital. Ceritanya tentang Irul, seorang streamer yang terdampak setelah perayaan live stream mencapai 190 ribu subscribers.

Dengan durasi 3 menit 51 detik, film ini menyelipkan kritik terhadap obsesi validasi sosial di era media digital. Angka 9 muncul sebagai simbol pencapaian sekaligus kehampaan. Namun, meski premisnya relevan, eksekusi film ini terasa agak tergesa. Unsur garis komposisi memang hadir, tetapi tidak sekuat penggunaan senyap yang justru memberi tekanan emosional.

“Judecca” – Laurent Sindhu & Rae Fadilah

Salah satu karya paling mencuri perhatian adalah “Judecca” karya Laurent Sindhu dan Rae Fadilah dari Banten. Dengan latar mall terbengkalai, film ini menampilkan seorang pria yang perlahan “pecah” dalam ruang kosong yang bergema.

Imaji visualnya tajam, atmosfer mencekam, dan eksekusi teknis terasa matang meski lahir dari tekanan waktu 34 jam. Film ini masuk nominasi 4 besar, dan tidak mengherankan. “Judecca” berhasil membuktikan bahwa horor eksistensial bisa lahir dari ruang sunyi, dengan angka 9 sebagai simbol perjalanan batin yang menuju kehancuran.

“Imam and His 9 Friends” – Deru Ibnu Ghifari

Dari Lampung, Deru Ibnu Ghifari menghadirkan “Imam and His 9 Friends” berdurasi 3 menit 20 detik. Film ini mengisahkan seorang bocah kecil yang mempertaruhkan nyawanya demi sembilan teman imajiner.

Cerita ini seolah metafora tentang kesepian anak-anak, yang menciptakan dunia khayalan untuk bertahan hidup. Sentuhan dramatis terasa kuat, dan penggunaan sunyi benar-benar menekan rasa kehilangan. Tidak heran film ini juga berhasil masuk nominasi 4 besar.

“9entayangan” – Salman Maulana & Jovan Ardiansyah

Film berikutnya, “9entayangan” dari Jawa Tengah, dengan durasi 5 menit 2 detik, menghadirkan pertanyaan filosofis. Bagaimana jika yang gentayangan bukan orang mati, melainkan orang hidup yang ditinggalkan semua orang yang dicintai?

Satu adegan dalam film 9entayangan | Foto: Dian

Pertanyaan itu menjelma dalam atmosfer horor eksistensial yang menggetarkan. Sunyi di sini menjadi medium ketakutan paling efektif. Film ini berhasil masuk nominasi 4 besar, membuktikan bahwa horor bisa lebih menakutkan ketika berbicara tentang keterasingan manusia, bukan sekadar hantu.

“The First 9 Months of Loving You” – Azalia Muchransyah

Azalia Muchransyah dari Banten hadir dengan karya puitis berjudul “The First 9 Months of Loving You”, berdurasi 2 menit 45 detik. Film ini lebih seperti puisi visual tentang perjalanan melalui momen-momen tak terlihat dari proses mencintai. Kesederhanaan dan keberanian memilih nada berbeda, film ini lolos ke nominasi 4 besar.

“The Second Plate” – Fata Hayan & Dimas Rahmaddika

Film terakhir adalah “The Second Plate” dari Jawa Timur dengan durasi 5 menit 21 detik. Ceritanya tentang ayah dan anak yang terjebak dalam ilusi cinta yang dibangun atas dasar kontrol, dipicu ideologi NKKBS.

Premisnya kuat, menyodorkan kritik sosial-politik yang tajam. Namun sayang, meski memiliki durasi paling panjang, film ini gagal masuk nominasi 4 besar. Bisa jadi karena pengolahan alur mundurnya terasa kurang padat, sehingga tensi dramatis tidak setajam kandidat lainnya.

Bermain dengan Konsep Ekstrem

Dari delapan film ini, terlihat para sineas muda Indonesia berani bermain dengan konsep ekstrem, mengeksplorasi angka 9 sebagai simbol yang lentur—bisa berarti usia, waktu, kesepian, hingga keruntuhan eksistensial. Penggunaan sunyi sebagai konsep suara justru memperkaya lapisan emosional, menghadirkan intensitas yang tak bisa dihadirkan lewat musik atau dialog berlebihan.

Satu adegan dalam film 9entayangan

Empat film yang masuk nominasi utama—“Judecca,” “Imam and His 9 Friends,” “9entayangan,” dan “The First 9 Months of Loving You”— layak mendapatkan tempat itu karena keberanian mereka mengeksekusi ide dengan ketepatan teknis dan kedalaman emosional.

Pada akhirnya, Begadang Filmmaking Competition bukan hanya soal siapa yang menang. Begadang Filmmaking Competition bisa dikatakan sebagai laboratorium kolektif yang membuktikan bahwa keterbatasan waktu justru bisa menjadi mesin pendorong kreativitas. Dalam sunyi, garis komposisi, dan angka 9, para sineas muda ini sedang menulis bab baru dalam eksperimen sinema. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025Singaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI MENGALAMI STROKE

Next Post

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails
Next Post
Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co