23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bertaruh Nyawa di Jalan Raya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 12, 2025
in Esai
Bertaruh Nyawa di Jalan Raya

Lalu-lintas di Kota Denpasar | Foto: Angga

BERKENDARA di Bali, khususnya di Kota Denpasar dan sebagian wilayah Badung, mesti memiliki hati yang lapang. Bagaimana tidak, saya yang tiap hari menyusuri jalanan kota dengan sepeda motor, merasa was-was. Laju kendaraan yang kencang, utamanya saat jam berangkat dan pulang kerja, menjadikan jalan raya tempat bertaruh nyawa.

Saling menyalip bahkan dari arah kiri—yang dulu dilarang, kini menjadi hal biasa—tak mau mengalah di persimpangan, membuat kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan sehari-hari. Belum lagi pengemudi mobil yang sering tidak sabar untuk sampai di tujuan. Saling serobot, atau kalau tidak ikut masuk di jalan-jalan kecil yang hanya cocok untuk ukuran sepeda motor. Sehingga, lalu lintas kota begitu amburadul dan semrawut.

Di sisi lain, angka kecelakaan lalu lintas di Pulau Dewata tergolong tinggi. Data terbaru dari Polda Bali mencatat bahwa sepanjang Januari hingga Agustus 2025 telah terjadi 3.842 kasus kecelakaan lalu lintas di seluruh wilayah Bali. Dari jumlah itu, 678 orang meninggal dunia, 4.015 orang luka-luka, dan kerugian material diperkirakan mencapai lebih dari Rp14 miliar. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024, angka ini meningkat sekitar 11 persen, terutama di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Buleleng yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata.

Sementara itu, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali 2024, Bali menempati posisi ke-4 secara nasional dalam hal kepadatan kendaraan bermotor dibanding panjang jalan, dengan rasio lebih dari 1.280 kendaraan per kilometer jalan. Artinya, risiko tabrakan, gesekan, dan kecelakaan lalu lintas sangat tinggi.

Data ini seharusnya membuat kita prihatin. Banyak nyawa melayang sia-sia di jalan raya. Apalagi, kecelakaan bukan sekadar angka statistik, tetapi kisah keluarga yang kehilangan, anak-anak yang jadi yatim, orang tua yang ditinggalkan, atau masa depan yang terhenti di aspal jalan.

Terlalu Banyak Kendaraan Pribadi

Di Bali, tampaknya terlalu banyak kendaraan pribadi. Bayangkan saja, dalam satu rumah warga, terutama di kota, kepemilikan sepeda motor bisa menyamai jumlah anggota keluarga. Misalkan sebuah keluarga memiliki tiga orang anak, sepeda motor yang dimiliki bisa tiga unit, ditambah satu atau dua mobil. Bagaimana jalanan tidak macet jika jumlah kendaraan pribadi tidak sebanding dengan volume dan ruas jalan yang ada?

Pejabat di Bali, jika dihadapkan pada masalah kemacetan lalu lintas, sering kali solusinya adalah membangun jalan baru. Hal ini realistis, tetapi membutuhkan dana jauh lebih besar—misalnya pembebasan lahan—ketimbang membangun sistem transportasi publik yang layak. Ironisnya, solusi transportasi publik justru sering dianaktirikan. Padahal, tanpa mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan, mustahil kemacetan bisa teratasi.

Kemacetan di salah satu lokasi di Kota Denpasar | Foto: Angga

Memang, di Bali sekarang, warga lebih memilih menaiki kendaraan pribadi, utamanya sepeda motor, daripada menggunakan transportasi publik. Namun, saya melihat, untuk mengubah mindset atau cara pandang masyarakat Bali perlu dimulai pertama oleh para pejabat dan ASN di Bali.

Dalam perspektif antropologi, masyarakat Bali masih teguh memegang pola patron-klien. Mereka cenderung meniru apa yang pemimpin contohkan. Jika pemimpin naik sepeda motor atau mobil pribadi ke kantor, rakyat akan menirunya. Maka, kampanye penggunaan transportasi publik bisa dimulai dari pejabat sekelas Gubernur Bali, Bupati, Wali Kota, hingga kepala dinas. Kemudian mewajibkan para aparatur sipil negara (ASN) dalam beberapa hari seminggu menggunakan transportasi publik saat berangkat dan pulang kerja. Bayangkan jika ini terjadi, ketika ASN membaur dengan masyarakat di halte bus, naik Trans Dewata, dan duduk berdampingan dengan mahasiswa atau pedagang. Akan ada pertemuan sosial baru di ruang publik.

Belajar dari Jakarta

Kita bisa meniru apa yang dilakukan di DKI Jakarta. Dulu, Jakarta punya aturan “3 in 1”: satu mobil wajib berisi tiga orang penumpang. Aturan ini berhasil menekan volume kendaraan di jalur utama sebelum kemudian digantikan dengan sistem ganjil-genap. Bali bisa mencoba varian serupa. Sebab di jalan-jalan utama Denpasar dan Badung, kita sering melihat mobil pribadi hanya ditumpangi satu orang. Kebiasaan ini hanya akan menambah volume kendaraan dan memperparah kemacetan.

Jika aturan pembatasan seperti itu diadopsi di Bali, tentu akan berdampak pada berkurangnya risiko kecelakaan lalu lintas. Lebih sedikit kendaraan, lebih besar peluang jalan raya lebih aman.

Selain itu, anak-anak sekolah dan mahasiswa sebaiknya disediakan angkutan khusus sehingga tidak menggunakan sepeda motor. Banyak remaja dan anak muda menjadi korban kecelakaan lalu lintas di Bali. Polda Bali mencatat, dari total korban meninggal sepanjang Januari–Agustus 2025, 27 persen di antaranya berusia 15–24 tahun. Ini generasi produktif yang harusnya menyiapkan masa depan, justru berakhir tragis di jalan raya.

Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan sebenarnya sudah menyediakan transportasi gratis untuk para siswa. Di Buleleng, transportasi publik tradisional berupa bemo dan bus antarkecamatan masih menjadi pilihan bagi siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum. Tetapi, fasilitas ini belum merata di seluruh kabupaten.

Suasana lalu lintas di Kota Denpasar | Foto: Angga

Bali di era 1900-an hingga awal 2000, pernah memiliki sistem transportasi publik yang terintegrasi. Bus antar-kabupaten, bemo, hingga angkutan kota tersedia melimpah. Orang bisa bepergian dari Jembrana ke Denpasar, dari Buleleng ke Karangasem, dengan bus umum yang terjangkau. Kini, transportasi publik semacam itu lebih sering jadi nostalgia yang kita tonton di konten-konten media sosial.

Sejak beberapa tahun lalu, hadirnya Bus Trans Sarbagita dan terbaru Trans Metro Dewata memberi angin segar. Sistem pembayaran yang sudah menggunakan kartu, halte yang mulai rapi, serta tarif yang terjangkau, membuat sebagian orang mulai beralih. Meski demikian, jumlah armada masih sangat terbatas dibanding luas wilayah dan mobilitas warga Bali. Kehadiran Trans Metro Dewata seharusnya ditambah, rutenya diperluas hingga ke kabupaten, bukan hanya Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.

Gaya Hidup Konsumerisme

Memang agak sulit mengubah gaya hidup masyarakat Bali yang kini cenderung konsumeris. Memiliki kendaraan bermotor dipandang sebagai kebutuhan pokok sekaligus simbol status sosial. Tidak punya motor di rumah dianggap aneh, bahkan miskin. Di media sosial, iklan kredit motor dan mobil lebih gencar daripada kampanye naik bus kota.

Namun, justru di sinilah diperlukan langkah politik yang berani, berkata “ya” pada transportasi publik. Jika pemimpin daerah bisa memberi contoh nyata, maka masyarakat akan mengikuti. Kebijakan publik tidak bisa hanya mengandalkan imbauan, tetapi harus hadir dalam bentuk regulasi, insentif, dan penegakan hukum.

Saya membayangkan, suatu hari Gubernur Bali dan wakilnya bersama para pejabat teras berangkat kerja dengan bis kota. Mereka berbaur bersama warga, berdialog, merasakan panas, hujan, dan antrian halte. Jika itu terjadi, niscaya warga Bali akan tergerak meniru. Tidak lagi gengsi naik bus kota, tidak lagi merasa harus punya motor untuk setiap anggota keluarga.

Kemacetan di salah ruas jalan di Dalung, Badung | Foto: Angga

Bali bisa belajar dari kota-kota maju di dunia yang lebih memilih transportasi publik ramah lingkungan. Bayangkan Denpasar dengan jalur sepeda yang aman, Badung dengan bus listrik yang nyaman, Gianyar dengan angkutan mahasiswa gratis, hingga Jembrana dengan konektivitas bus antarkecamatan yang hidup kembali. Semua ini mungkin jika ada keberanian politik.

Jalan raya di Bali hari ini memang masih seperti arena judi, kita seperti sedang bertaruh nyawa. Angka kecelakaan yang tinggi, macet yang tak kunjung reda, dan kepemilikan kendaraan pribadi yang tak terkendali menjadi bukti nyata. Jika tidak ada langkah berani, Bali hanya akan terus menumpuk korban demi korban di jalan.

Transportasi publik bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan. Sudah saatnya Bali berhenti mengandalkan solusi tambal sulam seperti pelebaran jalan atau pembangunan shortcut. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengubah budaya, menata ulang kebijakan transportasi, dan memberikan contoh dari para pemimpin. Semoga yang saya bayangkan—para pejabat naik bus kota bersama rakyat—tidak sekadar mimpi, melainkan awal dari peradaban lalu lintas Bali yang lebih manusiawi. Agar kita tidak lagi bertaruh nyawa di jalan raya, melainkan bisa berkendara dengan tenang, aman, dan selamat. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Badungdenpasarlalu lintastransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Totalitas Putu Luhur Untuk Buleleng Berbuah Medali Emas di Cabor Catur di Porprov Bali 2025

Next Post

Alam Bukanlah Bencana, Melainkan Cermin Kesadaran Kita

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Alam Bukanlah Bencana, Melainkan Cermin Kesadaran Kita

Alam Bukanlah Bencana, Melainkan Cermin Kesadaran Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co