23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alam Bukanlah Bencana, Melainkan Cermin Kesadaran Kita

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 12, 2025
in Esai
Alam Bukanlah Bencana, Melainkan Cermin Kesadaran Kita

Banjir di Denpasar | Foto diambil dari facebook Denpasar Viral, 10 September 2025

KITA sering menyebut banjir, tanah longsor, atau kekeringan sebagai bencana alam. Namun, semakin saya renungkan, istilah itu tidak sepenuhnya tepat. Apakah benar alam yang membawa bencana? Ataukah manusialah yang lalai menjaga keseimbangan, sehingga alam hanya merespons dengan caranya sendiri?

Saya masih mengingat dengan jelas satu peristiwa di tahun 1992. Saat itu, anak ketiga saya Trita Kanyaka baru berusia dua tahun, dan saya sedang menonton TVRI. Seorang pakar dari Brasil berkata lantang, “Tidak ada yang namanya bencana alam. Semua itu akibat ulah manusia. Alam hanya merespons, seperti gema atau echo dari tindakan kita.” Kalimat sederhana itu begitu kuat menempel dalam ingatan, seakan tertulis di hati.

Entah siapa tepatnya tokoh itu. Mungkin Leonardo Boff, teolog pembebasan yang di forum Rio 1992 menyuarakan ekologi spiritual, atau mungkin gema perjuangan Chico Mendes, sang martir hutan Amazon yang gugur demi melindungi hutan. Saya tidak bisa memastikan. Namun, siapa pun orangnya, pesannya sama: bumi bukan musuh, ia adalah ibu yang sedang merespons ulah anak-anaknya.

Ungkapan itu terasa semakin relevan hari ini. Setiap kali banjir melanda kota besar, longsor merobohkan perkampungan, atau suhu panas ekstrem membakar kulit, kita tergoda menyebutnya bencana alam. Padahal, semua itu berakar dari tindakan manusia: membuang sampah sembarangan, menebang hutan tanpa reboisasi, membangun gedung di kawasan resapan, atau memberi izin tambang tanpa kajian matang. Di balik setiap kejadian, terselip pesan tersembunyi: bahwa kita sedang tidak selaras dengan alam.

Prof.Dr.Ir. Putu Rumawan Salain,M.Si. Dosen Arsitektur, FTP-Universitas Warmadewa saat ditemui media Indonesia Expose menegaskan, bahwa banjir besar yang melanda Bali, Rabu, 10 September 2025,  tidak bisa hanya menyalahkan tingginya curah hujan ekstrem, alih fungsi lahan dan tata ruang yang buruk merupakan faktor utama yang memperparah bencana ini.

Patut diduga  ada kepentingan tertentu yang membuat tata ruang Bali tidak lagi berpihak pada rakyat. Banyak izin pembangunan di kawasan terlarang keluar karena kompromi dengan investor. Kalau ini dibiarkan, Bali akan terus kebanjiran, dan rakyat yang jadi korban.

“Bali sebenarnya punya kearifan lokal dalam mengatur ruang, terutama melalui sistem subak yang mengelola air dengan sangat baik. Namun dalam beberapa dekade terakhir, prinsip itu dilanggar dengan pembangunan masif di kawasan resapan, sempadan sungai, bahkan pesisir. Inilah kesalahan tata ruang yang kini kita bayar mahal,” kata Prof. Salain, Kamis 11 September 2025.

Ia menyoroti maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan, vila, maupun hotel yang mengurangi kapasitas tanah menyerap air. Akibatnya, setiap kali hujan deras, air langsung meluap ke permukiman dan jalan raya.

“Banjir bukan hanya fenomena alam, tapi hasil dari keputusan tata ruang yang salah arah. Jika pola pembangunan tidak dikendalikan, banjir akan semakin sering dan merugikan masyarakat,” tegasnya.

Prof. Salain mendesak pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bali, termasuk penertiban izin pembangunan yang melanggar aturan. Ia juga menekankan perlunya keberanian politik untuk mengembalikan fungsi lahan sesuai daya dukung lingkungan.

“Bali bukan sekadar ruang untuk investasi, tapi ruang hidup masyarakat. Alih fungsi lahan yang serampangan adalah bom waktu, dan banjir yang terjadi sekarang adalah salah satu buktinya,” pungkasnya.

Di titik inilah saya teringat pada peta kesadaran David R. Hawkins. Menurut Hawkins, kesadaran manusia bergerak dari tingkat rendah seperti rasa malu, apati, dan ketakutan, hingga menuju tingkat tinggi: cinta, sukacita, bahkan pencerahan. Saat masyarakat terjebak di tingkat rendah, perilakunya pun merusak. Pejabat yang seharusnya bijak memberi izin malah tunduk pada kepentingan sesaat. Warga yang seharusnya menjaga lingkungan justru menambah beban bumi dengan plastik sekali pakai. Tak heran, gema yang kembali adalah banjir, longsor, atau polusi.

Sebaliknya, ketika manusia naik ke tingkat cinta dan tanggung jawab, ia mulai melihat alam sebagai bagian dari dirinya. Ia berhenti menyalahkan alam, dan mulai bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan agar bumi tetap lestari?” Dari pertanyaan itu lahir tindakan sederhana: menanam pohon, mengurangi konsumsi berlebihan, membersihkan sungai, atau mengelola sampah rumah tangga dengan bijak. Gema yang kembali pun berubah menjadi udara lebih segar, panen lebih baik, dan sungai yang lebih jernih.

Saya pribadi percaya, tidak ada yang kebetulan. Ingatan saya tentang tahun 1992 itu tetap kuat bukan tanpa makna. Mungkin itu adalah cara alam berpesan: jangan pernah lupakan bahwa setiap tindakan manusia pasti kembali sebagai gema. Jika gema itu berupa penderitaan, itu artinya kita harus bercermin. Jika gema itu berupa kesejahteraan, berarti kita sedang berjalan selaras.

Pengalaman kecil saya juga membuktikan hal itu. Dulu, sekitar tahun 1981, saya masih bisa mengayuh sepeda ke sekolah tanpa takut panas berlebihan. Kini, anak-anak kita harus menutup wajah dengan masker dan topi lebar karena terik yang menyengat. Bukankah itu tanda nyata bahwa bumi sedang merespons? Bahwa pemanasan global bukan sekadar teori, melainkan kenyataan sehari-hari?

Pesan dari pakar Brasil tadi terasa seperti gema yang kini datang kembali, menggema di berbagai forum global, dari PBB hingga aktivis muda yang turun ke jalan. Semua menegaskan hal sama: tidak ada bencana alam. Yang ada hanyalah akibat dari ulah manusia.

Kini pilihan ada pada kita. Apakah kita mau terus berada pada kesadaran rendah — mencari kambing hitam dan menyalahkan “alam” — ataukah beranjak menuju kesadaran cinta dan tanggung jawab? Alam tidak menghukum, ia hanya merespons. Dan respons itu bisa berupa teguran keras, atau pelukan lembut, tergantung bagaimana kita memperlakukan bumi.

Banjir Bali bukan sekadar peristiwa meteorologis, melainkan cermin kesadaran manusia. Alam tidak menghukum, ia hanya merespons. Bila kita menebang hutan, membangun tanpa aturan, dan membuang sampah sembarangan, gema yang kembali adalah banjir, longsor, dan krisis. Bila kita menjaga harmoni, gema itu berupa kesuburan, kesejukan, dan keseimbangan.

Pesannya jelas: masyarakat harus berhenti abai, pejabat harus berani bijak, dan semua pihak perlu kembali menghidupkan Tri Hita Karana. Di atas itu semua, kita harus berani naik tingkat kesadaran menurut Hawkins—dari ketakutan dan keserakahan menuju cinta dan kebijaksanaan.

Gema tahun 1992 itu kini menjadi gema 2025. Pertanyaannya: gema seperti apa yang ingin kita dengar tiga dekade ke depan? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: balibanjirBencanabencana alamkesadaranrefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bertaruh Nyawa di Jalan Raya

Next Post

Agus Wiradana: Gagal, Bangkit, Berlatih, dan Kini Raih Medali Emas Taekwondo di Porprov Bali 2025

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Agus Wiradana: Gagal, Bangkit, Berlatih, dan Kini Raih Medali Emas Taekwondo di Porprov Bali 2025

Agus Wiradana: Gagal, Bangkit, Berlatih, dan Kini Raih Medali Emas Taekwondo di Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co