2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bertaruh Nyawa di Jalan Raya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 12, 2025
in Esai
Bertaruh Nyawa di Jalan Raya

Lalu-lintas di Kota Denpasar | Foto: Angga

BERKENDARA di Bali, khususnya di Kota Denpasar dan sebagian wilayah Badung, mesti memiliki hati yang lapang. Bagaimana tidak, saya yang tiap hari menyusuri jalanan kota dengan sepeda motor, merasa was-was. Laju kendaraan yang kencang, utamanya saat jam berangkat dan pulang kerja, menjadikan jalan raya tempat bertaruh nyawa.

Saling menyalip bahkan dari arah kiri—yang dulu dilarang, kini menjadi hal biasa—tak mau mengalah di persimpangan, membuat kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan sehari-hari. Belum lagi pengemudi mobil yang sering tidak sabar untuk sampai di tujuan. Saling serobot, atau kalau tidak ikut masuk di jalan-jalan kecil yang hanya cocok untuk ukuran sepeda motor. Sehingga, lalu lintas kota begitu amburadul dan semrawut.

Di sisi lain, angka kecelakaan lalu lintas di Pulau Dewata tergolong tinggi. Data terbaru dari Polda Bali mencatat bahwa sepanjang Januari hingga Agustus 2025 telah terjadi 3.842 kasus kecelakaan lalu lintas di seluruh wilayah Bali. Dari jumlah itu, 678 orang meninggal dunia, 4.015 orang luka-luka, dan kerugian material diperkirakan mencapai lebih dari Rp14 miliar. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024, angka ini meningkat sekitar 11 persen, terutama di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Buleleng yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata.

Sementara itu, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali 2024, Bali menempati posisi ke-4 secara nasional dalam hal kepadatan kendaraan bermotor dibanding panjang jalan, dengan rasio lebih dari 1.280 kendaraan per kilometer jalan. Artinya, risiko tabrakan, gesekan, dan kecelakaan lalu lintas sangat tinggi.

Data ini seharusnya membuat kita prihatin. Banyak nyawa melayang sia-sia di jalan raya. Apalagi, kecelakaan bukan sekadar angka statistik, tetapi kisah keluarga yang kehilangan, anak-anak yang jadi yatim, orang tua yang ditinggalkan, atau masa depan yang terhenti di aspal jalan.

Terlalu Banyak Kendaraan Pribadi

Di Bali, tampaknya terlalu banyak kendaraan pribadi. Bayangkan saja, dalam satu rumah warga, terutama di kota, kepemilikan sepeda motor bisa menyamai jumlah anggota keluarga. Misalkan sebuah keluarga memiliki tiga orang anak, sepeda motor yang dimiliki bisa tiga unit, ditambah satu atau dua mobil. Bagaimana jalanan tidak macet jika jumlah kendaraan pribadi tidak sebanding dengan volume dan ruas jalan yang ada?

Pejabat di Bali, jika dihadapkan pada masalah kemacetan lalu lintas, sering kali solusinya adalah membangun jalan baru. Hal ini realistis, tetapi membutuhkan dana jauh lebih besar—misalnya pembebasan lahan—ketimbang membangun sistem transportasi publik yang layak. Ironisnya, solusi transportasi publik justru sering dianaktirikan. Padahal, tanpa mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan, mustahil kemacetan bisa teratasi.

Kemacetan di salah satu lokasi di Kota Denpasar | Foto: Angga

Memang, di Bali sekarang, warga lebih memilih menaiki kendaraan pribadi, utamanya sepeda motor, daripada menggunakan transportasi publik. Namun, saya melihat, untuk mengubah mindset atau cara pandang masyarakat Bali perlu dimulai pertama oleh para pejabat dan ASN di Bali.

Dalam perspektif antropologi, masyarakat Bali masih teguh memegang pola patron-klien. Mereka cenderung meniru apa yang pemimpin contohkan. Jika pemimpin naik sepeda motor atau mobil pribadi ke kantor, rakyat akan menirunya. Maka, kampanye penggunaan transportasi publik bisa dimulai dari pejabat sekelas Gubernur Bali, Bupati, Wali Kota, hingga kepala dinas. Kemudian mewajibkan para aparatur sipil negara (ASN) dalam beberapa hari seminggu menggunakan transportasi publik saat berangkat dan pulang kerja. Bayangkan jika ini terjadi, ketika ASN membaur dengan masyarakat di halte bus, naik Trans Dewata, dan duduk berdampingan dengan mahasiswa atau pedagang. Akan ada pertemuan sosial baru di ruang publik.

Belajar dari Jakarta

Kita bisa meniru apa yang dilakukan di DKI Jakarta. Dulu, Jakarta punya aturan “3 in 1”: satu mobil wajib berisi tiga orang penumpang. Aturan ini berhasil menekan volume kendaraan di jalur utama sebelum kemudian digantikan dengan sistem ganjil-genap. Bali bisa mencoba varian serupa. Sebab di jalan-jalan utama Denpasar dan Badung, kita sering melihat mobil pribadi hanya ditumpangi satu orang. Kebiasaan ini hanya akan menambah volume kendaraan dan memperparah kemacetan.

Jika aturan pembatasan seperti itu diadopsi di Bali, tentu akan berdampak pada berkurangnya risiko kecelakaan lalu lintas. Lebih sedikit kendaraan, lebih besar peluang jalan raya lebih aman.

Selain itu, anak-anak sekolah dan mahasiswa sebaiknya disediakan angkutan khusus sehingga tidak menggunakan sepeda motor. Banyak remaja dan anak muda menjadi korban kecelakaan lalu lintas di Bali. Polda Bali mencatat, dari total korban meninggal sepanjang Januari–Agustus 2025, 27 persen di antaranya berusia 15–24 tahun. Ini generasi produktif yang harusnya menyiapkan masa depan, justru berakhir tragis di jalan raya.

Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan sebenarnya sudah menyediakan transportasi gratis untuk para siswa. Di Buleleng, transportasi publik tradisional berupa bemo dan bus antarkecamatan masih menjadi pilihan bagi siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum. Tetapi, fasilitas ini belum merata di seluruh kabupaten.

Suasana lalu lintas di Kota Denpasar | Foto: Angga

Bali di era 1900-an hingga awal 2000, pernah memiliki sistem transportasi publik yang terintegrasi. Bus antar-kabupaten, bemo, hingga angkutan kota tersedia melimpah. Orang bisa bepergian dari Jembrana ke Denpasar, dari Buleleng ke Karangasem, dengan bus umum yang terjangkau. Kini, transportasi publik semacam itu lebih sering jadi nostalgia yang kita tonton di konten-konten media sosial.

Sejak beberapa tahun lalu, hadirnya Bus Trans Sarbagita dan terbaru Trans Metro Dewata memberi angin segar. Sistem pembayaran yang sudah menggunakan kartu, halte yang mulai rapi, serta tarif yang terjangkau, membuat sebagian orang mulai beralih. Meski demikian, jumlah armada masih sangat terbatas dibanding luas wilayah dan mobilitas warga Bali. Kehadiran Trans Metro Dewata seharusnya ditambah, rutenya diperluas hingga ke kabupaten, bukan hanya Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.

Gaya Hidup Konsumerisme

Memang agak sulit mengubah gaya hidup masyarakat Bali yang kini cenderung konsumeris. Memiliki kendaraan bermotor dipandang sebagai kebutuhan pokok sekaligus simbol status sosial. Tidak punya motor di rumah dianggap aneh, bahkan miskin. Di media sosial, iklan kredit motor dan mobil lebih gencar daripada kampanye naik bus kota.

Namun, justru di sinilah diperlukan langkah politik yang berani, berkata “ya” pada transportasi publik. Jika pemimpin daerah bisa memberi contoh nyata, maka masyarakat akan mengikuti. Kebijakan publik tidak bisa hanya mengandalkan imbauan, tetapi harus hadir dalam bentuk regulasi, insentif, dan penegakan hukum.

Saya membayangkan, suatu hari Gubernur Bali dan wakilnya bersama para pejabat teras berangkat kerja dengan bis kota. Mereka berbaur bersama warga, berdialog, merasakan panas, hujan, dan antrian halte. Jika itu terjadi, niscaya warga Bali akan tergerak meniru. Tidak lagi gengsi naik bus kota, tidak lagi merasa harus punya motor untuk setiap anggota keluarga.

Kemacetan di salah ruas jalan di Dalung, Badung | Foto: Angga

Bali bisa belajar dari kota-kota maju di dunia yang lebih memilih transportasi publik ramah lingkungan. Bayangkan Denpasar dengan jalur sepeda yang aman, Badung dengan bus listrik yang nyaman, Gianyar dengan angkutan mahasiswa gratis, hingga Jembrana dengan konektivitas bus antarkecamatan yang hidup kembali. Semua ini mungkin jika ada keberanian politik.

Jalan raya di Bali hari ini memang masih seperti arena judi, kita seperti sedang bertaruh nyawa. Angka kecelakaan yang tinggi, macet yang tak kunjung reda, dan kepemilikan kendaraan pribadi yang tak terkendali menjadi bukti nyata. Jika tidak ada langkah berani, Bali hanya akan terus menumpuk korban demi korban di jalan.

Transportasi publik bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan. Sudah saatnya Bali berhenti mengandalkan solusi tambal sulam seperti pelebaran jalan atau pembangunan shortcut. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengubah budaya, menata ulang kebijakan transportasi, dan memberikan contoh dari para pemimpin. Semoga yang saya bayangkan—para pejabat naik bus kota bersama rakyat—tidak sekadar mimpi, melainkan awal dari peradaban lalu lintas Bali yang lebih manusiawi. Agar kita tidak lagi bertaruh nyawa di jalan raya, melainkan bisa berkendara dengan tenang, aman, dan selamat. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Badungdenpasarlalu lintastransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Totalitas Putu Luhur Untuk Buleleng Berbuah Medali Emas di Cabor Catur di Porprov Bali 2025

Next Post

Alam Bukanlah Bencana, Melainkan Cermin Kesadaran Kita

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Alam Bukanlah Bencana, Melainkan Cermin Kesadaran Kita

Alam Bukanlah Bencana, Melainkan Cermin Kesadaran Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co