22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rekoneksi: Menyelami Warna, Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

Dedy Ahmad Hermansyah by Dedy Ahmad Hermansyah
September 9, 2025
in Ulas Rupa
Rekoneksi: Menyelami Warna, Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

“CHILD” karya Syarif di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

MENYUSURI tiga puluh dua karya yang dipajang dalam pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (30 Agustus-04 September) ini akan membawa kita pada pengalaman menyelami warna, meresapi makna, dan meraba wajah Nusa Tenggara. Karya dua puluh lima perupa yang dipajang menawarkan kita kisah-kisah masa lalu hingga perenungan pada yang kekinian.

Setidaknya itulah yang saya rasakan saat menyusuri lorong-lorong bak labirin ruangan pameran. Saya memulai penjelajahan dari selatan dalam ruangan, lalu ke timur, utara, dan kembali ke barat tempat saya memasuki ruangan pameran. Memasuki warna-warna, mengidentifikasi tanda, menarik makna, membawa saya pada puspa ragam perasaan: ceria, suram, sedih, miris, mengernyitkan dahi, dan sebagainya.

Lukisan dan karya instalasi yang ada, meski didominasi oleh karya-karya baru yang titi mangsa pembuatannya tahun 2025 (23 buah), namun ada pula berupa karya lama dari 2018 (4 buah), 2019 (1 buah), 2023 (1 buah), dan 2024 (3 buah).

Suasana pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dok. Dedy

Kenapa rekoneksi? Jika merujuk pada sub tema, “Nusa Tenggara Face”, tampaknya pameran ini hendak menghubungkan dan menarik benang merah beberapa fenomena, khususnya budaya, yang dimiliki oleh Nusa Tenggara. Dengan ragam jenis lukisan yang terbentang mulai dari abstrak, realis, hingga naif dalam pameran ini, kita akan dapat meresapi bagaimana hal-hal di seputar isu sosial, budaya, lingkungan, dan sejarah dituangkan dalam warna-warna cerah dan suram, dingin atau pun panas.

Namun demikian, Rekoneksi ini sepertinya tidak semata-mata merujuk pada keterhubungan tema, rupanya juga ada upaya mengkoneksikan kembali para perupa antar generasi di tanah nusa tenggara ini. Misalnya, ada lukisan “Perang Gajah” karya perupa senior Tarfi Abdullah (alm) yang berupa kaligrafi dari surat Al-Fil, surat Makkiyah yang mengisahkan upaya penghancuran ka’bah oleh Abrahah namun gagal. Dengan latar abstrak berupa sapuan warna-warna gelap dan terang, ada figur-figur wajah manusia, deformasi burung-burung ababil, dan gajah-gajah bergading runcing.

Dedy sedang mengamati lukisan “Beberi” karya Phalonk di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dok. Dedy

Jelas “Perang Gajah” ini mengambil inspirasi dari tanah jauh yang bukan peristiwa dari tanah nusa tenggara. Namun, mungkin untuk memperkenalkan kembali karya-karya perupa senior, “Perang Gajah” ini ikut dipamerkan.

Menyelami Warna-Warna

Pertama kali menjelajahi lukisan-lukisan dalam ruangan, saya langsung disergap warna-warna menyala ceria bernuansa naif: lukisan berjudul “CHILD”, karya Syarif. Lukisan pada canvas 150X150 cm ini memasang delapan figur—manusia dan hewan—dalam pose tersenyum. Ini seperti memberitahu saya, mulailah menjelajah dengan perasaan riang sebagaimana riangnya anak-anak. Baiklah!

Namun, baru saja disajikan keriangan warna-warna dan kenaifan gaya, rupanya saya didorong untuk masuk ke dalam warna-warni yang saling berhadap-hadapan, seakan-akan setiap warna pada garis berlomba-lomba meminta perhatian saya. Karya ini abstrak, namun tanda lingustik yang diterakan pelukisnya—masih oleh Syarif—adalah “Berik Begawek”, semacam konsep dan praktik gotong-royong dalam masyarakat Sasak di Lombok.

“CHILD” karya Syarif di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Dalam “Berik Begawek” ini, sapuan warna di latar belakang sama mencoloknya dengan garis-garis tebal dan tipis di latar tengah dan depan. Abstraksi mata maupun objek bulat sama menarik perhatiannya dengan garis-garis tebal dan tipis yang ditarik tak beraturan arah. Jika diperhatikan seksama, ada semacam abstraksi jari-jari tangan di beberapa sudut (yang barangkali dapat bermakna bahwa tangan memiliki peran vital dalam kerja gotong-royong).

Pindah ke sebelahnya, ada lukisan abstraksi pohon berbatang besar dengan tambahan satu benih pohon dalam wadah di bagian tengah yang digenggam oleh dua tangan. Pohon paling besar yang tak berdaun mendominasi ruang canvas, yang hanya menyisakan sedikit saja ruang kosong di sini kiri kanan panel canvas. Sementara benih pohon nampak samar di bagian tengah. Barangkali ini bermakna, pohon besar akan tumbang karena usia, dan akan tergantikan oleh pohon yang baru.

Dua lukisan berikutnya masih berupa lukisan abstrak, dari pelukis muda, Mizan Torek. Dua lukisan ini diberi tajuk bergaya awasandi (decoding) yang sulit dipecahkan maknanya oleh audiens. Dua lukisan tersebut, “3914291 1153912”, dan “914117 4114 113117”. Berbeda dengan lukisan abstrak sebelumnya, dua lukisan Mizan Torek ini adalah asbtrak murni, judul yang diberikannya pun terkesan sama ‘abstrak’nya, sehingga kita benar-benar didorong melihat keindahannya di dalam lukisan itu sendiri, bukan di luarnya.

Namun demikian, kita tetap akan melihat pola yang sama secara teknis. Misalnya, Mizan Torek cenderung mempertebal campuran warna di layer bawah, sedangkan layer tengah ke atas cenderung minimalis. Salah satu lukisannya dengan ukuran canvas paling besar (150X250 cm)—juga menjadi yang paling besar dari semua lukisan di pameran ini—tampak seperti gambaran lautan dengan ombak keruh dengan benda-benda yang tampak secara kinesis melayang dan akan jatuh ke lautan.

“914117 4114 113117” karya Mizan Torek di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Lalu lukisan-lukisan setelahnya juga bergerak pada warna-warna naif, abstrak, dan ekspresif. Ada “Tembok Jalinan dan Kontradiksi” karya Nufus T yang didominasi putih dan warna hitam yang di bagian tengah membentuk siluet manusia. Putih membentuk objek tembok menjulang, dan hitam menggambarkan titik manusia yang nampak renik dibandingkan tembok di hadapannya.

Kemudian ada “Perang Gajah” karya Tarfi Abdullah, satu-satunya karya bergaya kaligrafi dalam pameran ini. Terkait lukisan ini telah saya singgung di atas. Lalu pada dinding partisi di hadapan “Perang Gajah”, ada lukisan abstrak dari Phalonk yang diberi judul “Malaikat”. “Malaikat’-nya Phalonk ini didominasi warna-warna panas, seakan-akan sosok yang sedang meleleh karena api, atau justru malaikat itu sedang lahir dari lelehan magma.

Sebetulnya ada karya lain Phalonk di lekuk lain ruangan, “Beberi”. Nuansa naifnya terasa kontras dengan makna beberi yang terasa magis, dengan tulisan BEBERI yang serupa tulisan graffiti. Bagaimana tidak, Beberi yang merupakan jelmaan jin utusan Dewi Anjani ini diberi rupa layaknya angsa mainan anak-anak.

Di samping “Malaikat”, ada lukisan yang sekilas memiliki nuansa naif, namun dengan tumpukan objek visual yang nampak kacau dan tidak teratur. “Timpang Anomali”, begitu L. Aswandi memberi judul pada lukisannya ini. Serakan-serakan teks-teks berupa deretan huruf yang tidak membentuk kata atau frase yang bisa dipahami menambah kekacauan tersebut.

Arta Kusuma (tanpa judul, entah kesalahan teknis atau disengaja) dan Satar Tacik (Praje) menampilkan gambaran ruang agraris, hanya saja dalam lukisan Arta minim dengan peristiwa—hanya ada sesosok manusia sedang menunggang kerbau—sementara dalam lukisan Satar Tacik kita bisa melihat semarak arak-arakan pengiring dua orang anak yang akan dikhitan di atas benda bersosok hewan yang disebut Praje. Warna dua rumah lumbung nampak mencolok dalam karya Arta Kusuma, sedangkan dalam karya Satar Tacik memberi warna terang pada tumbuh-tumbuhan pada tengah canvas yang barangkali padi-padian.

“Beberi” karya Phalonk di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Dua lukisan tentang Mandalika juga menarik diulik: “Mandalika Gemilang” karya Nengah Kisid (2025), dan “Tumbal Mandalika” karya Dulhayi (2024).

Dua karya ini nampak kontras baik secara makna maupun warna. Dalam “Mandalika Gemilang”, warna-warna begitu terang dan ceria yang menghadirkan beberapa tanda dari masa lalu hingga kontemporer. Di sana ada wajah seorang perempuan dan tiga laki-laki pada layer tengah hingga bawah lukisan, yang dapat kita tafsirkan sebagai sosok Mandalika dengan laki-laki yang bersaing memperebutkannya. Di layer yang sama kita juga akan melihat dua perahu kecil di sudut kiri bawah, dan tiga figur ikan yang secara kinesis berenang ke satu arah.

Masih dalam “Mandalika Gemilang”, di layer tengah ke atas, ada rumah lumbung khas suku Sasak, dengan sosok dua orang berpakaian dominan hitam yang salah satunya menjunjung sebuah benda di atas kepalanya. Lalu di bagian atasnya lagi, ada bendera beberapa negara, bangunan-bangunan gedung yang samar, dan yang paling bisa ditandai adalah aksi balapan motor yang secara naif ada yang bergerak ke arah langit, menciptakan nuansa aerial yang nampak magis.

Dalam “Tumbal Mandalika”, Dulhayi nampaknya fokus pada penafsirannya pada kisah sohor Mandalika itu sendiri. Sosok perempuan yang sedang dicumbu oleh seorang laki-laki mengambil ruang kurang lebih setengah dari ukuran canvas. Sedangkan ruang sisanya diisi dengan wilayah teluk yang dibatasi oleh bebukitan dan dua bukit kecil. Perhatian audiens barangkali akan terpaku pada sebilah keris yang disembuyikan oleh si perempuan dengan tangan kanannya.

“Tumbal Mandalika” karya Dulhayi di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

“Garis Waktu” dan “Sulur Padi” karya Muhajirin mengambil bentuk dan tema seragam. Dua-duanya berkisar pada kerja agraris spesifiknya pada kerja memanen padi. Dua lukisan ini sangat terasa garis-garisnya, hanya memang pada “Garis Waktu” sosok abstraksi manusia tercipta oleh sapuan tegas, sementara dalam “Sulur Padi” abstraksi manusia justru dirangkai dari sulur-sulur padi itu sendiri.

Seputar panen padi ini dapat kita temukan pada 3 karya Yani Safardi dengan satu judul, “Panen Padi”. Tiga lukisan dalam bingkai kaca ini menyajikan gambaran orang-orang sedang memanen padi dan sedang duduk di tengah-tengah padi yang menguning. Gaya cukilan mendominasi ketiga lukisan, dengan sosok-sosok yang pose dan geraknya seragam, dan warna yang juga nyaris seragam.

“Ritus Paer” karya Saepul Bahri memberikan kita warna sangat halus dan lembut, dengan kilatan-kilatan serupa kristal. Kita bisa mengenal sekilas ada benda serupa tudung saji dan sebenih tumbuhan di sampingnya. Harmoninya terjaga, sehingga dua benda terasa menyatu dengan warna-warna di latar belakang.

“Waktunya Bermain” dan “Emosi” karya Busaeri mengeksplor dunia bawah laut, dengan figur-figur ikan dan cumi-cumi, yang sedang berenang dan bermain di antara lamun dan rumput laut.

“Tabah”karya Hendra dan “Puja Mandala” karya Kholif mengambil bentuk realis yang berupaya semirip mungkin dengan bentuk dalam realitas. “Tabah” menghadirkan sosok perempuan dengan latar pantai, sedang memegang baskom yang bertengger seekor merpati. Sementara “Puja Mandala” menghadirkan lima rumah ibadah dalam komposisi yang saling mengapit satu sama lain.

“Sulur Padi” karya Muhajirin di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Di bagian depan, ada tiga lukisan dalam bingkai yang relatif kecil. Ada lukisan Mantra Ardhana (tanpa judul), abstrak dengan dominan warna kuning dan elemen teks mandarin di bagian tengah. Ada pula “Rintus Maya” karya Yusuf Faesal yang hanya berwarna hitam, namun arsiran pada pakaian yang dikenakan tujuh orang (yang sedang mengelilingi sosok tak berbaju) menjadi menarik.

Ada dua lukisan lagi, “Teen Spirit” oleh Dayat Cadas yang melukis sosok ikan berkepala robotic dan digantung serupa perkamen, dan “Maleang Sampi” oleh Fahmi yang menampilkan figur seekor sapi yang terasa bergerak liar.

“Sepiritualitas Wanine” oleh Rose Husri yang berwarna terang menampilkan wajah perempuan berleher jenjang dengan mata besar, bersanggul dan rambut panjangnya yang dihiasi aneka aksesoris menjuntai pada salah satu pundaknya. Ada bunga-bunga dalam jambangan mungil, yang mengisyaratkan ritual spritualitas tertentu.

Terakhir adalah dua karya instalasi, “Mesin Ingatan” oleh Abdul Haris R, dan “Wayang KK Lejar” oleh Lejar D. Hukubun. “Wayang KK Lejar” menghadirkan 24 figur manusia dan binatang laut maupun udara. Ia menghadirkan kisah rakyat suku Malind Merauke Papua. Mesin ingatan menghadirkan satu gundukan tanah yang diapit oleh lima kipas di di bagian kiri dan lima kipas di bagian kanan. Kesepuluh kipas tersebut bergambar aneka pohon dan suasana alam bergunung.

Saya ingin menutup persoalan gambaran ringkas dan khas masing-masing karya pada satu lukisan “Pada Akhirnya Di Tinggalkan” oleh L. Piano. Gambaran dengan sentuhan naif ini justru menghadirkan tema yang murung, yakni tentang kematian. Penjelajahan awal saya yang membawa saya masuk ke alam ceria kanak-kanak, kini harus diingatkan bahwa kita semua akan meninggal atau ditinggalkan pada akhirnya.

Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

Tiga puluh lukisan dan dua instalasi dalam pameran yang diorganisir oleh Yayasan Senine ini juga mengajak kita meresapi makna-makna tersurat dan tersirat dalam konteks bentang alam dan sosial masyarakat nusa tenggara. Singkatnya, kita diajak untuk meraba wajah nusa tenggara yang silam dan kekinian.

Seorang pengunjung sedang mengamati sebuah lukisan di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Kisah tradisi, alam agraris lengkap dengan masalahnya, serta warisan (kejayaan) masa lalu, dan harapan ke depan hadir dalam berbagai bentuk dan gaya. Sawah dan aktifitas panen sudah jelas sangat terasa dalam beberapa lukisan. Namun ada pula gugatan perihal bentang alam yang semakin tandus dan alam hijau yang kini hanya tersimpan di dalam ingatan.

Namun ada pula yang menjadikan satu kisah masa lalu dengan tujuan berbeda. Mandalika oleh Nengah Kisid seakan-akan dihadirkan penuh warna dengan harapan dapat menjadi ‘komoditas’ pariwisata, namun oleh Dulhayi kisah ini ditafsirkan ulang dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan.

Begitulah bagaimana Rekoneksi ini mengajak kita meraba wajah nusa tenggara.

Namun demikian, yang terasa kurang dalam pameran ini adalah hal-hal teknis yang nampak diorganisir dengan baik. Tak ada buku tamu, taka da katalog yang dibagi baik secara fisik maupun digital, dan beberapa lukisan tanpa judul dan teks-teks ada yang salah ketik.

Di luar kekurangan itu semua, ini pameran yang sangat menjanjikan. Jika Rekoneksi 2025 adalah yang kedua, tahun depan harus lebih meriah dan lebih baik lagi dalam hal pengorganisiran kegiatannya.[T]

Penulis: Dedy Ahmad Hermansyah
Editor: Jaswanto

Tags: lukisanNusa Tenggara Baratpameran seniRekoneksi 2025Seni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Backpack vs Shoulder Bag: Gaya, Kenyamanan, dan Cerita Mahasiswa

Next Post

“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

Dedy Ahmad Hermansyah

Dedy Ahmad Hermansyah

Lahir di Sumbawa. Pendiri dan pengelola (perpustakaan) Komunitas Teman Baca, Kota Mataram, NTB.

Related Posts

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails
Next Post
“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co