13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rekoneksi: Menyelami Warna, Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

Dedy Ahmad Hermansyah by Dedy Ahmad Hermansyah
September 9, 2025
in Ulas Rupa
Rekoneksi: Menyelami Warna, Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

“CHILD” karya Syarif di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

MENYUSURI tiga puluh dua karya yang dipajang dalam pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (30 Agustus-04 September) ini akan membawa kita pada pengalaman menyelami warna, meresapi makna, dan meraba wajah Nusa Tenggara. Karya dua puluh lima perupa yang dipajang menawarkan kita kisah-kisah masa lalu hingga perenungan pada yang kekinian.

Setidaknya itulah yang saya rasakan saat menyusuri lorong-lorong bak labirin ruangan pameran. Saya memulai penjelajahan dari selatan dalam ruangan, lalu ke timur, utara, dan kembali ke barat tempat saya memasuki ruangan pameran. Memasuki warna-warna, mengidentifikasi tanda, menarik makna, membawa saya pada puspa ragam perasaan: ceria, suram, sedih, miris, mengernyitkan dahi, dan sebagainya.

Lukisan dan karya instalasi yang ada, meski didominasi oleh karya-karya baru yang titi mangsa pembuatannya tahun 2025 (23 buah), namun ada pula berupa karya lama dari 2018 (4 buah), 2019 (1 buah), 2023 (1 buah), dan 2024 (3 buah).

Suasana pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dok. Dedy

Kenapa rekoneksi? Jika merujuk pada sub tema, “Nusa Tenggara Face”, tampaknya pameran ini hendak menghubungkan dan menarik benang merah beberapa fenomena, khususnya budaya, yang dimiliki oleh Nusa Tenggara. Dengan ragam jenis lukisan yang terbentang mulai dari abstrak, realis, hingga naif dalam pameran ini, kita akan dapat meresapi bagaimana hal-hal di seputar isu sosial, budaya, lingkungan, dan sejarah dituangkan dalam warna-warna cerah dan suram, dingin atau pun panas.

Namun demikian, Rekoneksi ini sepertinya tidak semata-mata merujuk pada keterhubungan tema, rupanya juga ada upaya mengkoneksikan kembali para perupa antar generasi di tanah nusa tenggara ini. Misalnya, ada lukisan “Perang Gajah” karya perupa senior Tarfi Abdullah (alm) yang berupa kaligrafi dari surat Al-Fil, surat Makkiyah yang mengisahkan upaya penghancuran ka’bah oleh Abrahah namun gagal. Dengan latar abstrak berupa sapuan warna-warna gelap dan terang, ada figur-figur wajah manusia, deformasi burung-burung ababil, dan gajah-gajah bergading runcing.

Dedy sedang mengamati lukisan “Beberi” karya Phalonk di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dok. Dedy

Jelas “Perang Gajah” ini mengambil inspirasi dari tanah jauh yang bukan peristiwa dari tanah nusa tenggara. Namun, mungkin untuk memperkenalkan kembali karya-karya perupa senior, “Perang Gajah” ini ikut dipamerkan.

Menyelami Warna-Warna

Pertama kali menjelajahi lukisan-lukisan dalam ruangan, saya langsung disergap warna-warna menyala ceria bernuansa naif: lukisan berjudul “CHILD”, karya Syarif. Lukisan pada canvas 150X150 cm ini memasang delapan figur—manusia dan hewan—dalam pose tersenyum. Ini seperti memberitahu saya, mulailah menjelajah dengan perasaan riang sebagaimana riangnya anak-anak. Baiklah!

Namun, baru saja disajikan keriangan warna-warna dan kenaifan gaya, rupanya saya didorong untuk masuk ke dalam warna-warni yang saling berhadap-hadapan, seakan-akan setiap warna pada garis berlomba-lomba meminta perhatian saya. Karya ini abstrak, namun tanda lingustik yang diterakan pelukisnya—masih oleh Syarif—adalah “Berik Begawek”, semacam konsep dan praktik gotong-royong dalam masyarakat Sasak di Lombok.

“CHILD” karya Syarif di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Dalam “Berik Begawek” ini, sapuan warna di latar belakang sama mencoloknya dengan garis-garis tebal dan tipis di latar tengah dan depan. Abstraksi mata maupun objek bulat sama menarik perhatiannya dengan garis-garis tebal dan tipis yang ditarik tak beraturan arah. Jika diperhatikan seksama, ada semacam abstraksi jari-jari tangan di beberapa sudut (yang barangkali dapat bermakna bahwa tangan memiliki peran vital dalam kerja gotong-royong).

Pindah ke sebelahnya, ada lukisan abstraksi pohon berbatang besar dengan tambahan satu benih pohon dalam wadah di bagian tengah yang digenggam oleh dua tangan. Pohon paling besar yang tak berdaun mendominasi ruang canvas, yang hanya menyisakan sedikit saja ruang kosong di sini kiri kanan panel canvas. Sementara benih pohon nampak samar di bagian tengah. Barangkali ini bermakna, pohon besar akan tumbang karena usia, dan akan tergantikan oleh pohon yang baru.

Dua lukisan berikutnya masih berupa lukisan abstrak, dari pelukis muda, Mizan Torek. Dua lukisan ini diberi tajuk bergaya awasandi (decoding) yang sulit dipecahkan maknanya oleh audiens. Dua lukisan tersebut, “3914291 1153912”, dan “914117 4114 113117”. Berbeda dengan lukisan abstrak sebelumnya, dua lukisan Mizan Torek ini adalah asbtrak murni, judul yang diberikannya pun terkesan sama ‘abstrak’nya, sehingga kita benar-benar didorong melihat keindahannya di dalam lukisan itu sendiri, bukan di luarnya.

Namun demikian, kita tetap akan melihat pola yang sama secara teknis. Misalnya, Mizan Torek cenderung mempertebal campuran warna di layer bawah, sedangkan layer tengah ke atas cenderung minimalis. Salah satu lukisannya dengan ukuran canvas paling besar (150X250 cm)—juga menjadi yang paling besar dari semua lukisan di pameran ini—tampak seperti gambaran lautan dengan ombak keruh dengan benda-benda yang tampak secara kinesis melayang dan akan jatuh ke lautan.

“914117 4114 113117” karya Mizan Torek di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Lalu lukisan-lukisan setelahnya juga bergerak pada warna-warna naif, abstrak, dan ekspresif. Ada “Tembok Jalinan dan Kontradiksi” karya Nufus T yang didominasi putih dan warna hitam yang di bagian tengah membentuk siluet manusia. Putih membentuk objek tembok menjulang, dan hitam menggambarkan titik manusia yang nampak renik dibandingkan tembok di hadapannya.

Kemudian ada “Perang Gajah” karya Tarfi Abdullah, satu-satunya karya bergaya kaligrafi dalam pameran ini. Terkait lukisan ini telah saya singgung di atas. Lalu pada dinding partisi di hadapan “Perang Gajah”, ada lukisan abstrak dari Phalonk yang diberi judul “Malaikat”. “Malaikat’-nya Phalonk ini didominasi warna-warna panas, seakan-akan sosok yang sedang meleleh karena api, atau justru malaikat itu sedang lahir dari lelehan magma.

Sebetulnya ada karya lain Phalonk di lekuk lain ruangan, “Beberi”. Nuansa naifnya terasa kontras dengan makna beberi yang terasa magis, dengan tulisan BEBERI yang serupa tulisan graffiti. Bagaimana tidak, Beberi yang merupakan jelmaan jin utusan Dewi Anjani ini diberi rupa layaknya angsa mainan anak-anak.

Di samping “Malaikat”, ada lukisan yang sekilas memiliki nuansa naif, namun dengan tumpukan objek visual yang nampak kacau dan tidak teratur. “Timpang Anomali”, begitu L. Aswandi memberi judul pada lukisannya ini. Serakan-serakan teks-teks berupa deretan huruf yang tidak membentuk kata atau frase yang bisa dipahami menambah kekacauan tersebut.

Arta Kusuma (tanpa judul, entah kesalahan teknis atau disengaja) dan Satar Tacik (Praje) menampilkan gambaran ruang agraris, hanya saja dalam lukisan Arta minim dengan peristiwa—hanya ada sesosok manusia sedang menunggang kerbau—sementara dalam lukisan Satar Tacik kita bisa melihat semarak arak-arakan pengiring dua orang anak yang akan dikhitan di atas benda bersosok hewan yang disebut Praje. Warna dua rumah lumbung nampak mencolok dalam karya Arta Kusuma, sedangkan dalam karya Satar Tacik memberi warna terang pada tumbuh-tumbuhan pada tengah canvas yang barangkali padi-padian.

“Beberi” karya Phalonk di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Dua lukisan tentang Mandalika juga menarik diulik: “Mandalika Gemilang” karya Nengah Kisid (2025), dan “Tumbal Mandalika” karya Dulhayi (2024).

Dua karya ini nampak kontras baik secara makna maupun warna. Dalam “Mandalika Gemilang”, warna-warna begitu terang dan ceria yang menghadirkan beberapa tanda dari masa lalu hingga kontemporer. Di sana ada wajah seorang perempuan dan tiga laki-laki pada layer tengah hingga bawah lukisan, yang dapat kita tafsirkan sebagai sosok Mandalika dengan laki-laki yang bersaing memperebutkannya. Di layer yang sama kita juga akan melihat dua perahu kecil di sudut kiri bawah, dan tiga figur ikan yang secara kinesis berenang ke satu arah.

Masih dalam “Mandalika Gemilang”, di layer tengah ke atas, ada rumah lumbung khas suku Sasak, dengan sosok dua orang berpakaian dominan hitam yang salah satunya menjunjung sebuah benda di atas kepalanya. Lalu di bagian atasnya lagi, ada bendera beberapa negara, bangunan-bangunan gedung yang samar, dan yang paling bisa ditandai adalah aksi balapan motor yang secara naif ada yang bergerak ke arah langit, menciptakan nuansa aerial yang nampak magis.

Dalam “Tumbal Mandalika”, Dulhayi nampaknya fokus pada penafsirannya pada kisah sohor Mandalika itu sendiri. Sosok perempuan yang sedang dicumbu oleh seorang laki-laki mengambil ruang kurang lebih setengah dari ukuran canvas. Sedangkan ruang sisanya diisi dengan wilayah teluk yang dibatasi oleh bebukitan dan dua bukit kecil. Perhatian audiens barangkali akan terpaku pada sebilah keris yang disembuyikan oleh si perempuan dengan tangan kanannya.

“Tumbal Mandalika” karya Dulhayi di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

“Garis Waktu” dan “Sulur Padi” karya Muhajirin mengambil bentuk dan tema seragam. Dua-duanya berkisar pada kerja agraris spesifiknya pada kerja memanen padi. Dua lukisan ini sangat terasa garis-garisnya, hanya memang pada “Garis Waktu” sosok abstraksi manusia tercipta oleh sapuan tegas, sementara dalam “Sulur Padi” abstraksi manusia justru dirangkai dari sulur-sulur padi itu sendiri.

Seputar panen padi ini dapat kita temukan pada 3 karya Yani Safardi dengan satu judul, “Panen Padi”. Tiga lukisan dalam bingkai kaca ini menyajikan gambaran orang-orang sedang memanen padi dan sedang duduk di tengah-tengah padi yang menguning. Gaya cukilan mendominasi ketiga lukisan, dengan sosok-sosok yang pose dan geraknya seragam, dan warna yang juga nyaris seragam.

“Ritus Paer” karya Saepul Bahri memberikan kita warna sangat halus dan lembut, dengan kilatan-kilatan serupa kristal. Kita bisa mengenal sekilas ada benda serupa tudung saji dan sebenih tumbuhan di sampingnya. Harmoninya terjaga, sehingga dua benda terasa menyatu dengan warna-warna di latar belakang.

“Waktunya Bermain” dan “Emosi” karya Busaeri mengeksplor dunia bawah laut, dengan figur-figur ikan dan cumi-cumi, yang sedang berenang dan bermain di antara lamun dan rumput laut.

“Tabah”karya Hendra dan “Puja Mandala” karya Kholif mengambil bentuk realis yang berupaya semirip mungkin dengan bentuk dalam realitas. “Tabah” menghadirkan sosok perempuan dengan latar pantai, sedang memegang baskom yang bertengger seekor merpati. Sementara “Puja Mandala” menghadirkan lima rumah ibadah dalam komposisi yang saling mengapit satu sama lain.

“Sulur Padi” karya Muhajirin di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Di bagian depan, ada tiga lukisan dalam bingkai yang relatif kecil. Ada lukisan Mantra Ardhana (tanpa judul), abstrak dengan dominan warna kuning dan elemen teks mandarin di bagian tengah. Ada pula “Rintus Maya” karya Yusuf Faesal yang hanya berwarna hitam, namun arsiran pada pakaian yang dikenakan tujuh orang (yang sedang mengelilingi sosok tak berbaju) menjadi menarik.

Ada dua lukisan lagi, “Teen Spirit” oleh Dayat Cadas yang melukis sosok ikan berkepala robotic dan digantung serupa perkamen, dan “Maleang Sampi” oleh Fahmi yang menampilkan figur seekor sapi yang terasa bergerak liar.

“Sepiritualitas Wanine” oleh Rose Husri yang berwarna terang menampilkan wajah perempuan berleher jenjang dengan mata besar, bersanggul dan rambut panjangnya yang dihiasi aneka aksesoris menjuntai pada salah satu pundaknya. Ada bunga-bunga dalam jambangan mungil, yang mengisyaratkan ritual spritualitas tertentu.

Terakhir adalah dua karya instalasi, “Mesin Ingatan” oleh Abdul Haris R, dan “Wayang KK Lejar” oleh Lejar D. Hukubun. “Wayang KK Lejar” menghadirkan 24 figur manusia dan binatang laut maupun udara. Ia menghadirkan kisah rakyat suku Malind Merauke Papua. Mesin ingatan menghadirkan satu gundukan tanah yang diapit oleh lima kipas di di bagian kiri dan lima kipas di bagian kanan. Kesepuluh kipas tersebut bergambar aneka pohon dan suasana alam bergunung.

Saya ingin menutup persoalan gambaran ringkas dan khas masing-masing karya pada satu lukisan “Pada Akhirnya Di Tinggalkan” oleh L. Piano. Gambaran dengan sentuhan naif ini justru menghadirkan tema yang murung, yakni tentang kematian. Penjelajahan awal saya yang membawa saya masuk ke alam ceria kanak-kanak, kini harus diingatkan bahwa kita semua akan meninggal atau ditinggalkan pada akhirnya.

Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

Tiga puluh lukisan dan dua instalasi dalam pameran yang diorganisir oleh Yayasan Senine ini juga mengajak kita meresapi makna-makna tersurat dan tersirat dalam konteks bentang alam dan sosial masyarakat nusa tenggara. Singkatnya, kita diajak untuk meraba wajah nusa tenggara yang silam dan kekinian.

Seorang pengunjung sedang mengamati sebuah lukisan di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Kisah tradisi, alam agraris lengkap dengan masalahnya, serta warisan (kejayaan) masa lalu, dan harapan ke depan hadir dalam berbagai bentuk dan gaya. Sawah dan aktifitas panen sudah jelas sangat terasa dalam beberapa lukisan. Namun ada pula gugatan perihal bentang alam yang semakin tandus dan alam hijau yang kini hanya tersimpan di dalam ingatan.

Namun ada pula yang menjadikan satu kisah masa lalu dengan tujuan berbeda. Mandalika oleh Nengah Kisid seakan-akan dihadirkan penuh warna dengan harapan dapat menjadi ‘komoditas’ pariwisata, namun oleh Dulhayi kisah ini ditafsirkan ulang dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan.

Begitulah bagaimana Rekoneksi ini mengajak kita meraba wajah nusa tenggara.

Namun demikian, yang terasa kurang dalam pameran ini adalah hal-hal teknis yang nampak diorganisir dengan baik. Tak ada buku tamu, taka da katalog yang dibagi baik secara fisik maupun digital, dan beberapa lukisan tanpa judul dan teks-teks ada yang salah ketik.

Di luar kekurangan itu semua, ini pameran yang sangat menjanjikan. Jika Rekoneksi 2025 adalah yang kedua, tahun depan harus lebih meriah dan lebih baik lagi dalam hal pengorganisiran kegiatannya.[T]

Penulis: Dedy Ahmad Hermansyah
Editor: Jaswanto

Tags: lukisanNusa Tenggara Baratpameran seniRekoneksi 2025Seni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Backpack vs Shoulder Bag: Gaya, Kenyamanan, dan Cerita Mahasiswa

Next Post

“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

Dedy Ahmad Hermansyah

Dedy Ahmad Hermansyah

Lahir di Sumbawa. Pendiri dan pengelola (perpustakaan) Komunitas Teman Baca, Kota Mataram, NTB.

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co