2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rekoneksi: Menyelami Warna, Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

Dedy Ahmad Hermansyah by Dedy Ahmad Hermansyah
September 9, 2025
in Ulas Rupa
Rekoneksi: Menyelami Warna, Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

“CHILD” karya Syarif di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

MENYUSURI tiga puluh dua karya yang dipajang dalam pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (30 Agustus-04 September) ini akan membawa kita pada pengalaman menyelami warna, meresapi makna, dan meraba wajah Nusa Tenggara. Karya dua puluh lima perupa yang dipajang menawarkan kita kisah-kisah masa lalu hingga perenungan pada yang kekinian.

Setidaknya itulah yang saya rasakan saat menyusuri lorong-lorong bak labirin ruangan pameran. Saya memulai penjelajahan dari selatan dalam ruangan, lalu ke timur, utara, dan kembali ke barat tempat saya memasuki ruangan pameran. Memasuki warna-warna, mengidentifikasi tanda, menarik makna, membawa saya pada puspa ragam perasaan: ceria, suram, sedih, miris, mengernyitkan dahi, dan sebagainya.

Lukisan dan karya instalasi yang ada, meski didominasi oleh karya-karya baru yang titi mangsa pembuatannya tahun 2025 (23 buah), namun ada pula berupa karya lama dari 2018 (4 buah), 2019 (1 buah), 2023 (1 buah), dan 2024 (3 buah).

Suasana pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dok. Dedy

Kenapa rekoneksi? Jika merujuk pada sub tema, “Nusa Tenggara Face”, tampaknya pameran ini hendak menghubungkan dan menarik benang merah beberapa fenomena, khususnya budaya, yang dimiliki oleh Nusa Tenggara. Dengan ragam jenis lukisan yang terbentang mulai dari abstrak, realis, hingga naif dalam pameran ini, kita akan dapat meresapi bagaimana hal-hal di seputar isu sosial, budaya, lingkungan, dan sejarah dituangkan dalam warna-warna cerah dan suram, dingin atau pun panas.

Namun demikian, Rekoneksi ini sepertinya tidak semata-mata merujuk pada keterhubungan tema, rupanya juga ada upaya mengkoneksikan kembali para perupa antar generasi di tanah nusa tenggara ini. Misalnya, ada lukisan “Perang Gajah” karya perupa senior Tarfi Abdullah (alm) yang berupa kaligrafi dari surat Al-Fil, surat Makkiyah yang mengisahkan upaya penghancuran ka’bah oleh Abrahah namun gagal. Dengan latar abstrak berupa sapuan warna-warna gelap dan terang, ada figur-figur wajah manusia, deformasi burung-burung ababil, dan gajah-gajah bergading runcing.

Dedy sedang mengamati lukisan “Beberi” karya Phalonk di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dok. Dedy

Jelas “Perang Gajah” ini mengambil inspirasi dari tanah jauh yang bukan peristiwa dari tanah nusa tenggara. Namun, mungkin untuk memperkenalkan kembali karya-karya perupa senior, “Perang Gajah” ini ikut dipamerkan.

Menyelami Warna-Warna

Pertama kali menjelajahi lukisan-lukisan dalam ruangan, saya langsung disergap warna-warna menyala ceria bernuansa naif: lukisan berjudul “CHILD”, karya Syarif. Lukisan pada canvas 150X150 cm ini memasang delapan figur—manusia dan hewan—dalam pose tersenyum. Ini seperti memberitahu saya, mulailah menjelajah dengan perasaan riang sebagaimana riangnya anak-anak. Baiklah!

Namun, baru saja disajikan keriangan warna-warna dan kenaifan gaya, rupanya saya didorong untuk masuk ke dalam warna-warni yang saling berhadap-hadapan, seakan-akan setiap warna pada garis berlomba-lomba meminta perhatian saya. Karya ini abstrak, namun tanda lingustik yang diterakan pelukisnya—masih oleh Syarif—adalah “Berik Begawek”, semacam konsep dan praktik gotong-royong dalam masyarakat Sasak di Lombok.

“CHILD” karya Syarif di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Dalam “Berik Begawek” ini, sapuan warna di latar belakang sama mencoloknya dengan garis-garis tebal dan tipis di latar tengah dan depan. Abstraksi mata maupun objek bulat sama menarik perhatiannya dengan garis-garis tebal dan tipis yang ditarik tak beraturan arah. Jika diperhatikan seksama, ada semacam abstraksi jari-jari tangan di beberapa sudut (yang barangkali dapat bermakna bahwa tangan memiliki peran vital dalam kerja gotong-royong).

Pindah ke sebelahnya, ada lukisan abstraksi pohon berbatang besar dengan tambahan satu benih pohon dalam wadah di bagian tengah yang digenggam oleh dua tangan. Pohon paling besar yang tak berdaun mendominasi ruang canvas, yang hanya menyisakan sedikit saja ruang kosong di sini kiri kanan panel canvas. Sementara benih pohon nampak samar di bagian tengah. Barangkali ini bermakna, pohon besar akan tumbang karena usia, dan akan tergantikan oleh pohon yang baru.

Dua lukisan berikutnya masih berupa lukisan abstrak, dari pelukis muda, Mizan Torek. Dua lukisan ini diberi tajuk bergaya awasandi (decoding) yang sulit dipecahkan maknanya oleh audiens. Dua lukisan tersebut, “3914291 1153912”, dan “914117 4114 113117”. Berbeda dengan lukisan abstrak sebelumnya, dua lukisan Mizan Torek ini adalah asbtrak murni, judul yang diberikannya pun terkesan sama ‘abstrak’nya, sehingga kita benar-benar didorong melihat keindahannya di dalam lukisan itu sendiri, bukan di luarnya.

Namun demikian, kita tetap akan melihat pola yang sama secara teknis. Misalnya, Mizan Torek cenderung mempertebal campuran warna di layer bawah, sedangkan layer tengah ke atas cenderung minimalis. Salah satu lukisannya dengan ukuran canvas paling besar (150X250 cm)—juga menjadi yang paling besar dari semua lukisan di pameran ini—tampak seperti gambaran lautan dengan ombak keruh dengan benda-benda yang tampak secara kinesis melayang dan akan jatuh ke lautan.

“914117 4114 113117” karya Mizan Torek di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Lalu lukisan-lukisan setelahnya juga bergerak pada warna-warna naif, abstrak, dan ekspresif. Ada “Tembok Jalinan dan Kontradiksi” karya Nufus T yang didominasi putih dan warna hitam yang di bagian tengah membentuk siluet manusia. Putih membentuk objek tembok menjulang, dan hitam menggambarkan titik manusia yang nampak renik dibandingkan tembok di hadapannya.

Kemudian ada “Perang Gajah” karya Tarfi Abdullah, satu-satunya karya bergaya kaligrafi dalam pameran ini. Terkait lukisan ini telah saya singgung di atas. Lalu pada dinding partisi di hadapan “Perang Gajah”, ada lukisan abstrak dari Phalonk yang diberi judul “Malaikat”. “Malaikat’-nya Phalonk ini didominasi warna-warna panas, seakan-akan sosok yang sedang meleleh karena api, atau justru malaikat itu sedang lahir dari lelehan magma.

Sebetulnya ada karya lain Phalonk di lekuk lain ruangan, “Beberi”. Nuansa naifnya terasa kontras dengan makna beberi yang terasa magis, dengan tulisan BEBERI yang serupa tulisan graffiti. Bagaimana tidak, Beberi yang merupakan jelmaan jin utusan Dewi Anjani ini diberi rupa layaknya angsa mainan anak-anak.

Di samping “Malaikat”, ada lukisan yang sekilas memiliki nuansa naif, namun dengan tumpukan objek visual yang nampak kacau dan tidak teratur. “Timpang Anomali”, begitu L. Aswandi memberi judul pada lukisannya ini. Serakan-serakan teks-teks berupa deretan huruf yang tidak membentuk kata atau frase yang bisa dipahami menambah kekacauan tersebut.

Arta Kusuma (tanpa judul, entah kesalahan teknis atau disengaja) dan Satar Tacik (Praje) menampilkan gambaran ruang agraris, hanya saja dalam lukisan Arta minim dengan peristiwa—hanya ada sesosok manusia sedang menunggang kerbau—sementara dalam lukisan Satar Tacik kita bisa melihat semarak arak-arakan pengiring dua orang anak yang akan dikhitan di atas benda bersosok hewan yang disebut Praje. Warna dua rumah lumbung nampak mencolok dalam karya Arta Kusuma, sedangkan dalam karya Satar Tacik memberi warna terang pada tumbuh-tumbuhan pada tengah canvas yang barangkali padi-padian.

“Beberi” karya Phalonk di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Dua lukisan tentang Mandalika juga menarik diulik: “Mandalika Gemilang” karya Nengah Kisid (2025), dan “Tumbal Mandalika” karya Dulhayi (2024).

Dua karya ini nampak kontras baik secara makna maupun warna. Dalam “Mandalika Gemilang”, warna-warna begitu terang dan ceria yang menghadirkan beberapa tanda dari masa lalu hingga kontemporer. Di sana ada wajah seorang perempuan dan tiga laki-laki pada layer tengah hingga bawah lukisan, yang dapat kita tafsirkan sebagai sosok Mandalika dengan laki-laki yang bersaing memperebutkannya. Di layer yang sama kita juga akan melihat dua perahu kecil di sudut kiri bawah, dan tiga figur ikan yang secara kinesis berenang ke satu arah.

Masih dalam “Mandalika Gemilang”, di layer tengah ke atas, ada rumah lumbung khas suku Sasak, dengan sosok dua orang berpakaian dominan hitam yang salah satunya menjunjung sebuah benda di atas kepalanya. Lalu di bagian atasnya lagi, ada bendera beberapa negara, bangunan-bangunan gedung yang samar, dan yang paling bisa ditandai adalah aksi balapan motor yang secara naif ada yang bergerak ke arah langit, menciptakan nuansa aerial yang nampak magis.

Dalam “Tumbal Mandalika”, Dulhayi nampaknya fokus pada penafsirannya pada kisah sohor Mandalika itu sendiri. Sosok perempuan yang sedang dicumbu oleh seorang laki-laki mengambil ruang kurang lebih setengah dari ukuran canvas. Sedangkan ruang sisanya diisi dengan wilayah teluk yang dibatasi oleh bebukitan dan dua bukit kecil. Perhatian audiens barangkali akan terpaku pada sebilah keris yang disembuyikan oleh si perempuan dengan tangan kanannya.

“Tumbal Mandalika” karya Dulhayi di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

“Garis Waktu” dan “Sulur Padi” karya Muhajirin mengambil bentuk dan tema seragam. Dua-duanya berkisar pada kerja agraris spesifiknya pada kerja memanen padi. Dua lukisan ini sangat terasa garis-garisnya, hanya memang pada “Garis Waktu” sosok abstraksi manusia tercipta oleh sapuan tegas, sementara dalam “Sulur Padi” abstraksi manusia justru dirangkai dari sulur-sulur padi itu sendiri.

Seputar panen padi ini dapat kita temukan pada 3 karya Yani Safardi dengan satu judul, “Panen Padi”. Tiga lukisan dalam bingkai kaca ini menyajikan gambaran orang-orang sedang memanen padi dan sedang duduk di tengah-tengah padi yang menguning. Gaya cukilan mendominasi ketiga lukisan, dengan sosok-sosok yang pose dan geraknya seragam, dan warna yang juga nyaris seragam.

“Ritus Paer” karya Saepul Bahri memberikan kita warna sangat halus dan lembut, dengan kilatan-kilatan serupa kristal. Kita bisa mengenal sekilas ada benda serupa tudung saji dan sebenih tumbuhan di sampingnya. Harmoninya terjaga, sehingga dua benda terasa menyatu dengan warna-warna di latar belakang.

“Waktunya Bermain” dan “Emosi” karya Busaeri mengeksplor dunia bawah laut, dengan figur-figur ikan dan cumi-cumi, yang sedang berenang dan bermain di antara lamun dan rumput laut.

“Tabah”karya Hendra dan “Puja Mandala” karya Kholif mengambil bentuk realis yang berupaya semirip mungkin dengan bentuk dalam realitas. “Tabah” menghadirkan sosok perempuan dengan latar pantai, sedang memegang baskom yang bertengger seekor merpati. Sementara “Puja Mandala” menghadirkan lima rumah ibadah dalam komposisi yang saling mengapit satu sama lain.

“Sulur Padi” karya Muhajirin di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Di bagian depan, ada tiga lukisan dalam bingkai yang relatif kecil. Ada lukisan Mantra Ardhana (tanpa judul), abstrak dengan dominan warna kuning dan elemen teks mandarin di bagian tengah. Ada pula “Rintus Maya” karya Yusuf Faesal yang hanya berwarna hitam, namun arsiran pada pakaian yang dikenakan tujuh orang (yang sedang mengelilingi sosok tak berbaju) menjadi menarik.

Ada dua lukisan lagi, “Teen Spirit” oleh Dayat Cadas yang melukis sosok ikan berkepala robotic dan digantung serupa perkamen, dan “Maleang Sampi” oleh Fahmi yang menampilkan figur seekor sapi yang terasa bergerak liar.

“Sepiritualitas Wanine” oleh Rose Husri yang berwarna terang menampilkan wajah perempuan berleher jenjang dengan mata besar, bersanggul dan rambut panjangnya yang dihiasi aneka aksesoris menjuntai pada salah satu pundaknya. Ada bunga-bunga dalam jambangan mungil, yang mengisyaratkan ritual spritualitas tertentu.

Terakhir adalah dua karya instalasi, “Mesin Ingatan” oleh Abdul Haris R, dan “Wayang KK Lejar” oleh Lejar D. Hukubun. “Wayang KK Lejar” menghadirkan 24 figur manusia dan binatang laut maupun udara. Ia menghadirkan kisah rakyat suku Malind Merauke Papua. Mesin ingatan menghadirkan satu gundukan tanah yang diapit oleh lima kipas di di bagian kiri dan lima kipas di bagian kanan. Kesepuluh kipas tersebut bergambar aneka pohon dan suasana alam bergunung.

Saya ingin menutup persoalan gambaran ringkas dan khas masing-masing karya pada satu lukisan “Pada Akhirnya Di Tinggalkan” oleh L. Piano. Gambaran dengan sentuhan naif ini justru menghadirkan tema yang murung, yakni tentang kematian. Penjelajahan awal saya yang membawa saya masuk ke alam ceria kanak-kanak, kini harus diingatkan bahwa kita semua akan meninggal atau ditinggalkan pada akhirnya.

Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

Tiga puluh lukisan dan dua instalasi dalam pameran yang diorganisir oleh Yayasan Senine ini juga mengajak kita meresapi makna-makna tersurat dan tersirat dalam konteks bentang alam dan sosial masyarakat nusa tenggara. Singkatnya, kita diajak untuk meraba wajah nusa tenggara yang silam dan kekinian.

Seorang pengunjung sedang mengamati sebuah lukisan di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Kisah tradisi, alam agraris lengkap dengan masalahnya, serta warisan (kejayaan) masa lalu, dan harapan ke depan hadir dalam berbagai bentuk dan gaya. Sawah dan aktifitas panen sudah jelas sangat terasa dalam beberapa lukisan. Namun ada pula gugatan perihal bentang alam yang semakin tandus dan alam hijau yang kini hanya tersimpan di dalam ingatan.

Namun ada pula yang menjadikan satu kisah masa lalu dengan tujuan berbeda. Mandalika oleh Nengah Kisid seakan-akan dihadirkan penuh warna dengan harapan dapat menjadi ‘komoditas’ pariwisata, namun oleh Dulhayi kisah ini ditafsirkan ulang dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan.

Begitulah bagaimana Rekoneksi ini mengajak kita meraba wajah nusa tenggara.

Namun demikian, yang terasa kurang dalam pameran ini adalah hal-hal teknis yang nampak diorganisir dengan baik. Tak ada buku tamu, taka da katalog yang dibagi baik secara fisik maupun digital, dan beberapa lukisan tanpa judul dan teks-teks ada yang salah ketik.

Di luar kekurangan itu semua, ini pameran yang sangat menjanjikan. Jika Rekoneksi 2025 adalah yang kedua, tahun depan harus lebih meriah dan lebih baik lagi dalam hal pengorganisiran kegiatannya.[T]

Penulis: Dedy Ahmad Hermansyah
Editor: Jaswanto

Tags: lukisanNusa Tenggara Baratpameran seniRekoneksi 2025Seni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Backpack vs Shoulder Bag: Gaya, Kenyamanan, dan Cerita Mahasiswa

Next Post

“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

Dedy Ahmad Hermansyah

Dedy Ahmad Hermansyah

Lahir di Sumbawa. Pendiri dan pengelola (perpustakaan) Komunitas Teman Baca, Kota Mataram, NTB.

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co