2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rekoneksi: Menyelami Warna, Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

Dedy Ahmad Hermansyah by Dedy Ahmad Hermansyah
September 9, 2025
in Ulas Rupa
Rekoneksi: Menyelami Warna, Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

“CHILD” karya Syarif di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

MENYUSURI tiga puluh dua karya yang dipajang dalam pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (30 Agustus-04 September) ini akan membawa kita pada pengalaman menyelami warna, meresapi makna, dan meraba wajah Nusa Tenggara. Karya dua puluh lima perupa yang dipajang menawarkan kita kisah-kisah masa lalu hingga perenungan pada yang kekinian.

Setidaknya itulah yang saya rasakan saat menyusuri lorong-lorong bak labirin ruangan pameran. Saya memulai penjelajahan dari selatan dalam ruangan, lalu ke timur, utara, dan kembali ke barat tempat saya memasuki ruangan pameran. Memasuki warna-warna, mengidentifikasi tanda, menarik makna, membawa saya pada puspa ragam perasaan: ceria, suram, sedih, miris, mengernyitkan dahi, dan sebagainya.

Lukisan dan karya instalasi yang ada, meski didominasi oleh karya-karya baru yang titi mangsa pembuatannya tahun 2025 (23 buah), namun ada pula berupa karya lama dari 2018 (4 buah), 2019 (1 buah), 2023 (1 buah), dan 2024 (3 buah).

Suasana pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dok. Dedy

Kenapa rekoneksi? Jika merujuk pada sub tema, “Nusa Tenggara Face”, tampaknya pameran ini hendak menghubungkan dan menarik benang merah beberapa fenomena, khususnya budaya, yang dimiliki oleh Nusa Tenggara. Dengan ragam jenis lukisan yang terbentang mulai dari abstrak, realis, hingga naif dalam pameran ini, kita akan dapat meresapi bagaimana hal-hal di seputar isu sosial, budaya, lingkungan, dan sejarah dituangkan dalam warna-warna cerah dan suram, dingin atau pun panas.

Namun demikian, Rekoneksi ini sepertinya tidak semata-mata merujuk pada keterhubungan tema, rupanya juga ada upaya mengkoneksikan kembali para perupa antar generasi di tanah nusa tenggara ini. Misalnya, ada lukisan “Perang Gajah” karya perupa senior Tarfi Abdullah (alm) yang berupa kaligrafi dari surat Al-Fil, surat Makkiyah yang mengisahkan upaya penghancuran ka’bah oleh Abrahah namun gagal. Dengan latar abstrak berupa sapuan warna-warna gelap dan terang, ada figur-figur wajah manusia, deformasi burung-burung ababil, dan gajah-gajah bergading runcing.

Dedy sedang mengamati lukisan “Beberi” karya Phalonk di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dok. Dedy

Jelas “Perang Gajah” ini mengambil inspirasi dari tanah jauh yang bukan peristiwa dari tanah nusa tenggara. Namun, mungkin untuk memperkenalkan kembali karya-karya perupa senior, “Perang Gajah” ini ikut dipamerkan.

Menyelami Warna-Warna

Pertama kali menjelajahi lukisan-lukisan dalam ruangan, saya langsung disergap warna-warna menyala ceria bernuansa naif: lukisan berjudul “CHILD”, karya Syarif. Lukisan pada canvas 150X150 cm ini memasang delapan figur—manusia dan hewan—dalam pose tersenyum. Ini seperti memberitahu saya, mulailah menjelajah dengan perasaan riang sebagaimana riangnya anak-anak. Baiklah!

Namun, baru saja disajikan keriangan warna-warna dan kenaifan gaya, rupanya saya didorong untuk masuk ke dalam warna-warni yang saling berhadap-hadapan, seakan-akan setiap warna pada garis berlomba-lomba meminta perhatian saya. Karya ini abstrak, namun tanda lingustik yang diterakan pelukisnya—masih oleh Syarif—adalah “Berik Begawek”, semacam konsep dan praktik gotong-royong dalam masyarakat Sasak di Lombok.

“CHILD” karya Syarif di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Dalam “Berik Begawek” ini, sapuan warna di latar belakang sama mencoloknya dengan garis-garis tebal dan tipis di latar tengah dan depan. Abstraksi mata maupun objek bulat sama menarik perhatiannya dengan garis-garis tebal dan tipis yang ditarik tak beraturan arah. Jika diperhatikan seksama, ada semacam abstraksi jari-jari tangan di beberapa sudut (yang barangkali dapat bermakna bahwa tangan memiliki peran vital dalam kerja gotong-royong).

Pindah ke sebelahnya, ada lukisan abstraksi pohon berbatang besar dengan tambahan satu benih pohon dalam wadah di bagian tengah yang digenggam oleh dua tangan. Pohon paling besar yang tak berdaun mendominasi ruang canvas, yang hanya menyisakan sedikit saja ruang kosong di sini kiri kanan panel canvas. Sementara benih pohon nampak samar di bagian tengah. Barangkali ini bermakna, pohon besar akan tumbang karena usia, dan akan tergantikan oleh pohon yang baru.

Dua lukisan berikutnya masih berupa lukisan abstrak, dari pelukis muda, Mizan Torek. Dua lukisan ini diberi tajuk bergaya awasandi (decoding) yang sulit dipecahkan maknanya oleh audiens. Dua lukisan tersebut, “3914291 1153912”, dan “914117 4114 113117”. Berbeda dengan lukisan abstrak sebelumnya, dua lukisan Mizan Torek ini adalah asbtrak murni, judul yang diberikannya pun terkesan sama ‘abstrak’nya, sehingga kita benar-benar didorong melihat keindahannya di dalam lukisan itu sendiri, bukan di luarnya.

Namun demikian, kita tetap akan melihat pola yang sama secara teknis. Misalnya, Mizan Torek cenderung mempertebal campuran warna di layer bawah, sedangkan layer tengah ke atas cenderung minimalis. Salah satu lukisannya dengan ukuran canvas paling besar (150X250 cm)—juga menjadi yang paling besar dari semua lukisan di pameran ini—tampak seperti gambaran lautan dengan ombak keruh dengan benda-benda yang tampak secara kinesis melayang dan akan jatuh ke lautan.

“914117 4114 113117” karya Mizan Torek di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Lalu lukisan-lukisan setelahnya juga bergerak pada warna-warna naif, abstrak, dan ekspresif. Ada “Tembok Jalinan dan Kontradiksi” karya Nufus T yang didominasi putih dan warna hitam yang di bagian tengah membentuk siluet manusia. Putih membentuk objek tembok menjulang, dan hitam menggambarkan titik manusia yang nampak renik dibandingkan tembok di hadapannya.

Kemudian ada “Perang Gajah” karya Tarfi Abdullah, satu-satunya karya bergaya kaligrafi dalam pameran ini. Terkait lukisan ini telah saya singgung di atas. Lalu pada dinding partisi di hadapan “Perang Gajah”, ada lukisan abstrak dari Phalonk yang diberi judul “Malaikat”. “Malaikat’-nya Phalonk ini didominasi warna-warna panas, seakan-akan sosok yang sedang meleleh karena api, atau justru malaikat itu sedang lahir dari lelehan magma.

Sebetulnya ada karya lain Phalonk di lekuk lain ruangan, “Beberi”. Nuansa naifnya terasa kontras dengan makna beberi yang terasa magis, dengan tulisan BEBERI yang serupa tulisan graffiti. Bagaimana tidak, Beberi yang merupakan jelmaan jin utusan Dewi Anjani ini diberi rupa layaknya angsa mainan anak-anak.

Di samping “Malaikat”, ada lukisan yang sekilas memiliki nuansa naif, namun dengan tumpukan objek visual yang nampak kacau dan tidak teratur. “Timpang Anomali”, begitu L. Aswandi memberi judul pada lukisannya ini. Serakan-serakan teks-teks berupa deretan huruf yang tidak membentuk kata atau frase yang bisa dipahami menambah kekacauan tersebut.

Arta Kusuma (tanpa judul, entah kesalahan teknis atau disengaja) dan Satar Tacik (Praje) menampilkan gambaran ruang agraris, hanya saja dalam lukisan Arta minim dengan peristiwa—hanya ada sesosok manusia sedang menunggang kerbau—sementara dalam lukisan Satar Tacik kita bisa melihat semarak arak-arakan pengiring dua orang anak yang akan dikhitan di atas benda bersosok hewan yang disebut Praje. Warna dua rumah lumbung nampak mencolok dalam karya Arta Kusuma, sedangkan dalam karya Satar Tacik memberi warna terang pada tumbuh-tumbuhan pada tengah canvas yang barangkali padi-padian.

“Beberi” karya Phalonk di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Dua lukisan tentang Mandalika juga menarik diulik: “Mandalika Gemilang” karya Nengah Kisid (2025), dan “Tumbal Mandalika” karya Dulhayi (2024).

Dua karya ini nampak kontras baik secara makna maupun warna. Dalam “Mandalika Gemilang”, warna-warna begitu terang dan ceria yang menghadirkan beberapa tanda dari masa lalu hingga kontemporer. Di sana ada wajah seorang perempuan dan tiga laki-laki pada layer tengah hingga bawah lukisan, yang dapat kita tafsirkan sebagai sosok Mandalika dengan laki-laki yang bersaing memperebutkannya. Di layer yang sama kita juga akan melihat dua perahu kecil di sudut kiri bawah, dan tiga figur ikan yang secara kinesis berenang ke satu arah.

Masih dalam “Mandalika Gemilang”, di layer tengah ke atas, ada rumah lumbung khas suku Sasak, dengan sosok dua orang berpakaian dominan hitam yang salah satunya menjunjung sebuah benda di atas kepalanya. Lalu di bagian atasnya lagi, ada bendera beberapa negara, bangunan-bangunan gedung yang samar, dan yang paling bisa ditandai adalah aksi balapan motor yang secara naif ada yang bergerak ke arah langit, menciptakan nuansa aerial yang nampak magis.

Dalam “Tumbal Mandalika”, Dulhayi nampaknya fokus pada penafsirannya pada kisah sohor Mandalika itu sendiri. Sosok perempuan yang sedang dicumbu oleh seorang laki-laki mengambil ruang kurang lebih setengah dari ukuran canvas. Sedangkan ruang sisanya diisi dengan wilayah teluk yang dibatasi oleh bebukitan dan dua bukit kecil. Perhatian audiens barangkali akan terpaku pada sebilah keris yang disembuyikan oleh si perempuan dengan tangan kanannya.

“Tumbal Mandalika” karya Dulhayi di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

“Garis Waktu” dan “Sulur Padi” karya Muhajirin mengambil bentuk dan tema seragam. Dua-duanya berkisar pada kerja agraris spesifiknya pada kerja memanen padi. Dua lukisan ini sangat terasa garis-garisnya, hanya memang pada “Garis Waktu” sosok abstraksi manusia tercipta oleh sapuan tegas, sementara dalam “Sulur Padi” abstraksi manusia justru dirangkai dari sulur-sulur padi itu sendiri.

Seputar panen padi ini dapat kita temukan pada 3 karya Yani Safardi dengan satu judul, “Panen Padi”. Tiga lukisan dalam bingkai kaca ini menyajikan gambaran orang-orang sedang memanen padi dan sedang duduk di tengah-tengah padi yang menguning. Gaya cukilan mendominasi ketiga lukisan, dengan sosok-sosok yang pose dan geraknya seragam, dan warna yang juga nyaris seragam.

“Ritus Paer” karya Saepul Bahri memberikan kita warna sangat halus dan lembut, dengan kilatan-kilatan serupa kristal. Kita bisa mengenal sekilas ada benda serupa tudung saji dan sebenih tumbuhan di sampingnya. Harmoninya terjaga, sehingga dua benda terasa menyatu dengan warna-warna di latar belakang.

“Waktunya Bermain” dan “Emosi” karya Busaeri mengeksplor dunia bawah laut, dengan figur-figur ikan dan cumi-cumi, yang sedang berenang dan bermain di antara lamun dan rumput laut.

“Tabah”karya Hendra dan “Puja Mandala” karya Kholif mengambil bentuk realis yang berupaya semirip mungkin dengan bentuk dalam realitas. “Tabah” menghadirkan sosok perempuan dengan latar pantai, sedang memegang baskom yang bertengger seekor merpati. Sementara “Puja Mandala” menghadirkan lima rumah ibadah dalam komposisi yang saling mengapit satu sama lain.

“Sulur Padi” karya Muhajirin di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Di bagian depan, ada tiga lukisan dalam bingkai yang relatif kecil. Ada lukisan Mantra Ardhana (tanpa judul), abstrak dengan dominan warna kuning dan elemen teks mandarin di bagian tengah. Ada pula “Rintus Maya” karya Yusuf Faesal yang hanya berwarna hitam, namun arsiran pada pakaian yang dikenakan tujuh orang (yang sedang mengelilingi sosok tak berbaju) menjadi menarik.

Ada dua lukisan lagi, “Teen Spirit” oleh Dayat Cadas yang melukis sosok ikan berkepala robotic dan digantung serupa perkamen, dan “Maleang Sampi” oleh Fahmi yang menampilkan figur seekor sapi yang terasa bergerak liar.

“Sepiritualitas Wanine” oleh Rose Husri yang berwarna terang menampilkan wajah perempuan berleher jenjang dengan mata besar, bersanggul dan rambut panjangnya yang dihiasi aneka aksesoris menjuntai pada salah satu pundaknya. Ada bunga-bunga dalam jambangan mungil, yang mengisyaratkan ritual spritualitas tertentu.

Terakhir adalah dua karya instalasi, “Mesin Ingatan” oleh Abdul Haris R, dan “Wayang KK Lejar” oleh Lejar D. Hukubun. “Wayang KK Lejar” menghadirkan 24 figur manusia dan binatang laut maupun udara. Ia menghadirkan kisah rakyat suku Malind Merauke Papua. Mesin ingatan menghadirkan satu gundukan tanah yang diapit oleh lima kipas di di bagian kiri dan lima kipas di bagian kanan. Kesepuluh kipas tersebut bergambar aneka pohon dan suasana alam bergunung.

Saya ingin menutup persoalan gambaran ringkas dan khas masing-masing karya pada satu lukisan “Pada Akhirnya Di Tinggalkan” oleh L. Piano. Gambaran dengan sentuhan naif ini justru menghadirkan tema yang murung, yakni tentang kematian. Penjelajahan awal saya yang membawa saya masuk ke alam ceria kanak-kanak, kini harus diingatkan bahwa kita semua akan meninggal atau ditinggalkan pada akhirnya.

Meresapi Makna, Meraba Wajah Nusa Tenggara

Tiga puluh lukisan dan dua instalasi dalam pameran yang diorganisir oleh Yayasan Senine ini juga mengajak kita meresapi makna-makna tersurat dan tersirat dalam konteks bentang alam dan sosial masyarakat nusa tenggara. Singkatnya, kita diajak untuk meraba wajah nusa tenggara yang silam dan kekinian.

Seorang pengunjung sedang mengamati sebuah lukisan di pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat | Foto: Dedy

Kisah tradisi, alam agraris lengkap dengan masalahnya, serta warisan (kejayaan) masa lalu, dan harapan ke depan hadir dalam berbagai bentuk dan gaya. Sawah dan aktifitas panen sudah jelas sangat terasa dalam beberapa lukisan. Namun ada pula gugatan perihal bentang alam yang semakin tandus dan alam hijau yang kini hanya tersimpan di dalam ingatan.

Namun ada pula yang menjadikan satu kisah masa lalu dengan tujuan berbeda. Mandalika oleh Nengah Kisid seakan-akan dihadirkan penuh warna dengan harapan dapat menjadi ‘komoditas’ pariwisata, namun oleh Dulhayi kisah ini ditafsirkan ulang dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan.

Begitulah bagaimana Rekoneksi ini mengajak kita meraba wajah nusa tenggara.

Namun demikian, yang terasa kurang dalam pameran ini adalah hal-hal teknis yang nampak diorganisir dengan baik. Tak ada buku tamu, taka da katalog yang dibagi baik secara fisik maupun digital, dan beberapa lukisan tanpa judul dan teks-teks ada yang salah ketik.

Di luar kekurangan itu semua, ini pameran yang sangat menjanjikan. Jika Rekoneksi 2025 adalah yang kedua, tahun depan harus lebih meriah dan lebih baik lagi dalam hal pengorganisiran kegiatannya.[T]

Penulis: Dedy Ahmad Hermansyah
Editor: Jaswanto

Tags: lukisanNusa Tenggara Baratpameran seniRekoneksi 2025Seni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Backpack vs Shoulder Bag: Gaya, Kenyamanan, dan Cerita Mahasiswa

Next Post

“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

Dedy Ahmad Hermansyah

Dedy Ahmad Hermansyah

Lahir di Sumbawa. Pendiri dan pengelola (perpustakaan) Komunitas Teman Baca, Kota Mataram, NTB.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

“Aguron-guron”: Ketika Mahasiswa Semester 7 Prodi Sastra Jawa Kuno-Unud Mempelajari Bahasa Jawa Kuno Kakawin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co