26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezeki di Hari Raya Saraswati

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 6, 2025
in Esai
Rezeki di Hari Raya Saraswati

Buku-buku karangan Angga Wijaya (penulis)

ADA kalanya sebuah kabar kecil membuat hati penulis serasa dibanjiri cahaya. Hari ini, di tengah rutinitas menulis berita dan merawat catatan-catatan esai yang masih berserakan di laptop, seorang kawan memberi kabar. Ia adalah pemilik media online tempat saya kerap berkarya. Katanya, ada seorang pembaca dari luar Bali yang tertarik dengan karya-karya saya, dan berniat membeli buku-buku yang pernah saya tulis serta terbitkan.

Astungkara! Kabar itu datang tepat di Hari Saraswati, hari pemuliaan ilmu pengetahuan bagi umat Hindu di Bali dan Indonesia. Dan saya merasa seolah ada tanda-tanda kecil dari semesta bahwa ilmu pengetahuan, yang diwujudkan dalam bentuk buku, bisa juga mendatangkan rezeki. Bukan hanya rezeki material, tetapi juga rezeki batin berupa pengakuan, penghargaan, dan perasaan bahwa karya kita menemukan jalannya menuju pembaca.

Setiap enam bulan sekali, umat Hindu di Bali khususnya, dan juga di wilayah lain di Indonesia memperingati Hari Saraswati. Pagi-pagi, di halaman rumah, di pura keluarga, di sekolah, hingga kampus, kitab suci, lontar, buku-buku, dan sarana pendidikan lainnya dihaturkan canang, dupa, serta bunga. Itu bentuk sembah bakti kepada Dewi Saraswati, personifikasi ilmu pengetahuan.

Saya selalu terkesan dengan simbol-simbol Saraswati. Beliau digambarkan duduk di atas padma, memegang vina (alat musik), kitab, tasbih, dan kendi air suci. Kitab melambangkan ilmu pengetahuan, vina melambangkan seni, tasbih melambangkan spiritualitas, dan kendi melambangkan sumber kehidupan. Lengkap sudah, Saraswati bukan hanya dewi huruf dan bacaan, melainkan juga dewi keselarasan hidup.

Namun, apa arti semua simbol itu jika di keseharian, buku-buku dibiarkan berdebu di rak, atau hanya dipuja secara ritual tetapi tidak dibaca? Saya sering melihat, selesai sembahyang Saraswati, buku-buku ditutup lagi, disusun rapi, dan jarang disentuh hingga Saraswati berikutnya. Seakan-akan Saraswati hanya hadir di pura, bukan di keseharian. Padahal, membaca satu buku sampai selesai jauh lebih bermakna sebagai persembahan kepada Saraswati daripada seribu canang tanpa isi.

Bagi penulis, buku adalah Saraswati yang mengambil bentuk nyata. Setiap halaman adalah doa, setiap kata adalah canang. Kebahagiaan penulis, tidak dapat dipungkiri, adalah ketika karya-karyanya menemukan pembaca. Dan lebih jauh lagi, ketika buku itu dibeli dengan ikhlas.

Mungkin ini terdengar “ekonomi banget”, tetapi memang begitu kenyataannya. Kami menulis bukan hanya untuk menyebarkan ide dan gagasan, melainkan juga untuk bertahan hidup. Menulis adalah pilihan profesi, sama seperti orang lain memilih berdagang, bertani, atau menjadi pegawai. Jika buku tidak dibeli, penulis tidak bisa hidup.

Sayangnya, profesi menulis sering dianggap sebelah mata. Seorang kawan pernah berkata, “Kamu beruntung bisa menulis, tapi bisa dapat apa dari situ?” Saya hanya tersenyum. Sebab, bagi sebagian orang, menulis memang dipandang bukan sebagai pekerjaan serius. Padahal, di balik satu buku yang rampung, ada ratusan malam tanpa tidur, ada pikiran yang berkecamuk, ada penelitian, ada waktu yang tersita dari keluarga.

Ketika akhirnya ada yang membeli buku, apalagi dari luar Bali, itu bukan sekadar transaksi. Itu semacam pengakuan bahwa tulisan saya pantas masuk ke rak orang lain, pantas menemani mereka di sela waktu luang.

Namun, di balik kegembiraan itu, ada luka yang tidak jarang dialami penulis, pembajakan. Buku yang sudah ditulis dengan susah payah, dipotret lalu dijadikan file PDF, disebarkan gratis, atau dicetak ulang tanpa izin. Lebih menyakitkan lagi ketika orang yang membajak itu berdalih, “Biar literasi merata, biar semua orang bisa membaca.”

Dalih itu terdengar mulia, tapi sesungguhnya itu perampokan. Literasi tidak bisa ditegakkan dengan mencuri jerih payah orang lain. Bukankah itu sama saja dengan menghaturkan canang Saraswati tetapi isi dupa dan bunganya hasil mencuri? Bagaimana doa bisa sampai jika sarana persembahannya dicuri?

Saya percaya, membeli buku asli adalah salah satu bentuk persembahan paling nyata di Hari Saraswati. Sebab, dengan membeli buku, kita tidak hanya menghargai penulis, tetapi juga memastikan ilmu pengetahuan tetap berputar.

Pemerintah daerah sering bicara soal literasi. Spanduk, seminar, lomba baca puisi, festival buku—semua itu baik. Tetapi literasi bukan hanya soal seremoni. Literasi berarti memberi akses pada bacaan bermutu, dan itu dimulai dari keberanian pemerintah membeli buku karya penulis lokal.

Coba bayangkan, jika setiap perpustakaan daerah rutin membeli karya penulis Bali, berapa banyak penulis yang merasa dihargai? Berapa banyak pembaca yang akan menemukan identitasnya sendiri dalam tulisan-tulisan orang sekampung? Selama ini, perpustakaan lebih sering dipenuhi buku terbitan besar dari Jakarta, sementara karya lokal jarang masuk rak.

Padahal, Saraswati yang paling nyata adalah ketika ilmu pengetahuan lahir dari bumi sendiri, ditulis dengan bahasa sendiri, lalu disebarkan kembali kepada masyarakat.

Saya masih ingat, pertama kali jatuh cinta pada buku bukan karena upacara Saraswati di sekolah, melainkan karena sebuah buku puisi tua yang saya temukan di rumah teman. Halamannya sudah kuning, sampulnya lepas, tetapi kata-katanya menyala. Dari situ saya tahu, kata-kata bisa lebih abadi daripada tubuh penulisnya.

Sejak itu, saya ingin menulis. Ingin punya buku yang kelak ditemukan orang lain, entah sepuluh atau lima puluh tahun mendatang, dan masih bisa memberi cahaya. Itulah Saraswati bagi saya, cahaya yang berpindah dari halaman ke hati.

Hari ini, ketika seorang pembaca dari luar Bali berniat membeli buku-buku saya, ingatan itu datang kembali. Seperti ada lingkaran kecil yang tuntas, dari pembaca yang menemukan saya dulu, kini saya yang ditemukan oleh pembaca baru.

Sayangnya, kondisi literasi kita masih jauh dari ideal. Data nasional sering menyebut minat baca rendah, meski sebenarnya minat baca bukan sekadar soal mau membaca atau tidak. Masalah utamanya adalah akses, buku mahal, perpustakaan sepi, distribusi buruk, dan budaya membaca belum dibiasakan sejak dini.

Di Bali, saya sering mendengar pejabat bangga mengatakan “Bali kaya budaya tulis.” Memang benar, lontar-lontar kita menyimpan kebijaksanaan luar biasa. Tetapi, apakah lontar itu dibaca kembali? Atau hanya disimpan sebagai pusaka, diruwat dalam upacara, lalu jarang disentuh generasi muda?

Jika Saraswati hanya dipahami sebagai ritual, literasi kita tidak akan pernah maju. Saraswati mestinya hadir dalam kebiasaan sehari-hari, membuka buku sebelum tidur, membaca lontar di banjar, membeli karya teman, atau mengajak anak ke toko buku alih-alih hanya ke mal.

Rezeki tidak selalu datang dalam bentuk uang. Rezeki bisa berupa pembaca yang menemukan buku kita, bisa berupa kawan yang memberi kabar baik, bisa berupa kesempatan untuk menulis esai seperti ini di Hari Saraswati.

Namun, saya juga tidak ingin munafik. Uang dari penjualan buku adalah rezeki nyata yang memberi makan, membayar listrik, atau sekadar membeli kopi untuk menemani malam-malam menulis. Dan itu sah adanya. Saraswati tidak mengajarkan kita untuk hidup di langit, melupakan bumi. Beliau adalah dewi keseimbangan, pengetahuan dan keseharian, doa dan rezeki.

Hari Saraswati mestinya tidak hanya dirayakan dengan canang di atas buku. Ia mestinya dirayakan dengan membuka halaman, membaca, memahami, lalu menghidupkan kembali pengetahuan itu dalam kehidupan.

Jika kita benar-benar ingin menghormati Saraswati, bacalah buku. Bacalah lontar. Bacalah puisi. Bacalah bahkan tulisan yang lahir dari tetangga sebelah rumah. Dan jika memungkinkan, belilah buku mereka. Sebab, dari situlah literasi tumbuh, dan dari situlah Saraswati benar-benar hidup.

Hari ini, saya bersyukur atas kabar kecil itu. Seorang pembaca, entah siapa, berniat membeli buku-buku saya. Itu rezeki Saraswati bagi saya. Rezeki yang membuat saya yakin bahwa menulis bukanlah jalan sia-sia.

Selamat Hari Saraswati. Semoga cahaya ilmu tidak hanya singgah di pura dan meja sembahyang, tetapi juga menyala di hati kita semua. [T]

Denpasar, 6 September 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuHari Raya SaraswatiHari Saraswati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Amed, Menikmati Kesunyian dan Loloh Pereda Stres

Next Post

Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co