16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezeki di Hari Raya Saraswati

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 6, 2025
in Esai
Rezeki di Hari Raya Saraswati

Buku-buku karangan Angga Wijaya (penulis)

ADA kalanya sebuah kabar kecil membuat hati penulis serasa dibanjiri cahaya. Hari ini, di tengah rutinitas menulis berita dan merawat catatan-catatan esai yang masih berserakan di laptop, seorang kawan memberi kabar. Ia adalah pemilik media online tempat saya kerap berkarya. Katanya, ada seorang pembaca dari luar Bali yang tertarik dengan karya-karya saya, dan berniat membeli buku-buku yang pernah saya tulis serta terbitkan.

Astungkara! Kabar itu datang tepat di Hari Saraswati, hari pemuliaan ilmu pengetahuan bagi umat Hindu di Bali dan Indonesia. Dan saya merasa seolah ada tanda-tanda kecil dari semesta bahwa ilmu pengetahuan, yang diwujudkan dalam bentuk buku, bisa juga mendatangkan rezeki. Bukan hanya rezeki material, tetapi juga rezeki batin berupa pengakuan, penghargaan, dan perasaan bahwa karya kita menemukan jalannya menuju pembaca.

Setiap enam bulan sekali, umat Hindu di Bali khususnya, dan juga di wilayah lain di Indonesia memperingati Hari Saraswati. Pagi-pagi, di halaman rumah, di pura keluarga, di sekolah, hingga kampus, kitab suci, lontar, buku-buku, dan sarana pendidikan lainnya dihaturkan canang, dupa, serta bunga. Itu bentuk sembah bakti kepada Dewi Saraswati, personifikasi ilmu pengetahuan.

Saya selalu terkesan dengan simbol-simbol Saraswati. Beliau digambarkan duduk di atas padma, memegang vina (alat musik), kitab, tasbih, dan kendi air suci. Kitab melambangkan ilmu pengetahuan, vina melambangkan seni, tasbih melambangkan spiritualitas, dan kendi melambangkan sumber kehidupan. Lengkap sudah, Saraswati bukan hanya dewi huruf dan bacaan, melainkan juga dewi keselarasan hidup.

Namun, apa arti semua simbol itu jika di keseharian, buku-buku dibiarkan berdebu di rak, atau hanya dipuja secara ritual tetapi tidak dibaca? Saya sering melihat, selesai sembahyang Saraswati, buku-buku ditutup lagi, disusun rapi, dan jarang disentuh hingga Saraswati berikutnya. Seakan-akan Saraswati hanya hadir di pura, bukan di keseharian. Padahal, membaca satu buku sampai selesai jauh lebih bermakna sebagai persembahan kepada Saraswati daripada seribu canang tanpa isi.

Bagi penulis, buku adalah Saraswati yang mengambil bentuk nyata. Setiap halaman adalah doa, setiap kata adalah canang. Kebahagiaan penulis, tidak dapat dipungkiri, adalah ketika karya-karyanya menemukan pembaca. Dan lebih jauh lagi, ketika buku itu dibeli dengan ikhlas.

Mungkin ini terdengar “ekonomi banget”, tetapi memang begitu kenyataannya. Kami menulis bukan hanya untuk menyebarkan ide dan gagasan, melainkan juga untuk bertahan hidup. Menulis adalah pilihan profesi, sama seperti orang lain memilih berdagang, bertani, atau menjadi pegawai. Jika buku tidak dibeli, penulis tidak bisa hidup.

Sayangnya, profesi menulis sering dianggap sebelah mata. Seorang kawan pernah berkata, “Kamu beruntung bisa menulis, tapi bisa dapat apa dari situ?” Saya hanya tersenyum. Sebab, bagi sebagian orang, menulis memang dipandang bukan sebagai pekerjaan serius. Padahal, di balik satu buku yang rampung, ada ratusan malam tanpa tidur, ada pikiran yang berkecamuk, ada penelitian, ada waktu yang tersita dari keluarga.

Ketika akhirnya ada yang membeli buku, apalagi dari luar Bali, itu bukan sekadar transaksi. Itu semacam pengakuan bahwa tulisan saya pantas masuk ke rak orang lain, pantas menemani mereka di sela waktu luang.

Namun, di balik kegembiraan itu, ada luka yang tidak jarang dialami penulis, pembajakan. Buku yang sudah ditulis dengan susah payah, dipotret lalu dijadikan file PDF, disebarkan gratis, atau dicetak ulang tanpa izin. Lebih menyakitkan lagi ketika orang yang membajak itu berdalih, “Biar literasi merata, biar semua orang bisa membaca.”

Dalih itu terdengar mulia, tapi sesungguhnya itu perampokan. Literasi tidak bisa ditegakkan dengan mencuri jerih payah orang lain. Bukankah itu sama saja dengan menghaturkan canang Saraswati tetapi isi dupa dan bunganya hasil mencuri? Bagaimana doa bisa sampai jika sarana persembahannya dicuri?

Saya percaya, membeli buku asli adalah salah satu bentuk persembahan paling nyata di Hari Saraswati. Sebab, dengan membeli buku, kita tidak hanya menghargai penulis, tetapi juga memastikan ilmu pengetahuan tetap berputar.

Pemerintah daerah sering bicara soal literasi. Spanduk, seminar, lomba baca puisi, festival buku—semua itu baik. Tetapi literasi bukan hanya soal seremoni. Literasi berarti memberi akses pada bacaan bermutu, dan itu dimulai dari keberanian pemerintah membeli buku karya penulis lokal.

Coba bayangkan, jika setiap perpustakaan daerah rutin membeli karya penulis Bali, berapa banyak penulis yang merasa dihargai? Berapa banyak pembaca yang akan menemukan identitasnya sendiri dalam tulisan-tulisan orang sekampung? Selama ini, perpustakaan lebih sering dipenuhi buku terbitan besar dari Jakarta, sementara karya lokal jarang masuk rak.

Padahal, Saraswati yang paling nyata adalah ketika ilmu pengetahuan lahir dari bumi sendiri, ditulis dengan bahasa sendiri, lalu disebarkan kembali kepada masyarakat.

Saya masih ingat, pertama kali jatuh cinta pada buku bukan karena upacara Saraswati di sekolah, melainkan karena sebuah buku puisi tua yang saya temukan di rumah teman. Halamannya sudah kuning, sampulnya lepas, tetapi kata-katanya menyala. Dari situ saya tahu, kata-kata bisa lebih abadi daripada tubuh penulisnya.

Sejak itu, saya ingin menulis. Ingin punya buku yang kelak ditemukan orang lain, entah sepuluh atau lima puluh tahun mendatang, dan masih bisa memberi cahaya. Itulah Saraswati bagi saya, cahaya yang berpindah dari halaman ke hati.

Hari ini, ketika seorang pembaca dari luar Bali berniat membeli buku-buku saya, ingatan itu datang kembali. Seperti ada lingkaran kecil yang tuntas, dari pembaca yang menemukan saya dulu, kini saya yang ditemukan oleh pembaca baru.

Sayangnya, kondisi literasi kita masih jauh dari ideal. Data nasional sering menyebut minat baca rendah, meski sebenarnya minat baca bukan sekadar soal mau membaca atau tidak. Masalah utamanya adalah akses, buku mahal, perpustakaan sepi, distribusi buruk, dan budaya membaca belum dibiasakan sejak dini.

Di Bali, saya sering mendengar pejabat bangga mengatakan “Bali kaya budaya tulis.” Memang benar, lontar-lontar kita menyimpan kebijaksanaan luar biasa. Tetapi, apakah lontar itu dibaca kembali? Atau hanya disimpan sebagai pusaka, diruwat dalam upacara, lalu jarang disentuh generasi muda?

Jika Saraswati hanya dipahami sebagai ritual, literasi kita tidak akan pernah maju. Saraswati mestinya hadir dalam kebiasaan sehari-hari, membuka buku sebelum tidur, membaca lontar di banjar, membeli karya teman, atau mengajak anak ke toko buku alih-alih hanya ke mal.

Rezeki tidak selalu datang dalam bentuk uang. Rezeki bisa berupa pembaca yang menemukan buku kita, bisa berupa kawan yang memberi kabar baik, bisa berupa kesempatan untuk menulis esai seperti ini di Hari Saraswati.

Namun, saya juga tidak ingin munafik. Uang dari penjualan buku adalah rezeki nyata yang memberi makan, membayar listrik, atau sekadar membeli kopi untuk menemani malam-malam menulis. Dan itu sah adanya. Saraswati tidak mengajarkan kita untuk hidup di langit, melupakan bumi. Beliau adalah dewi keseimbangan, pengetahuan dan keseharian, doa dan rezeki.

Hari Saraswati mestinya tidak hanya dirayakan dengan canang di atas buku. Ia mestinya dirayakan dengan membuka halaman, membaca, memahami, lalu menghidupkan kembali pengetahuan itu dalam kehidupan.

Jika kita benar-benar ingin menghormati Saraswati, bacalah buku. Bacalah lontar. Bacalah puisi. Bacalah bahkan tulisan yang lahir dari tetangga sebelah rumah. Dan jika memungkinkan, belilah buku mereka. Sebab, dari situlah literasi tumbuh, dan dari situlah Saraswati benar-benar hidup.

Hari ini, saya bersyukur atas kabar kecil itu. Seorang pembaca, entah siapa, berniat membeli buku-buku saya. Itu rezeki Saraswati bagi saya. Rezeki yang membuat saya yakin bahwa menulis bukanlah jalan sia-sia.

Selamat Hari Saraswati. Semoga cahaya ilmu tidak hanya singgah di pura dan meja sembahyang, tetapi juga menyala di hati kita semua. [T]

Denpasar, 6 September 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuHari Raya SaraswatiHari Saraswati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Amed, Menikmati Kesunyian dan Loloh Pereda Stres

Next Post

Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010
Gaya

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

by tatkala
July 16, 2026
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa
Panggung

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik
Panggung

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co