27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezeki di Hari Raya Saraswati

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 6, 2025
in Esai
Rezeki di Hari Raya Saraswati

Buku-buku karangan Angga Wijaya (penulis)

ADA kalanya sebuah kabar kecil membuat hati penulis serasa dibanjiri cahaya. Hari ini, di tengah rutinitas menulis berita dan merawat catatan-catatan esai yang masih berserakan di laptop, seorang kawan memberi kabar. Ia adalah pemilik media online tempat saya kerap berkarya. Katanya, ada seorang pembaca dari luar Bali yang tertarik dengan karya-karya saya, dan berniat membeli buku-buku yang pernah saya tulis serta terbitkan.

Astungkara! Kabar itu datang tepat di Hari Saraswati, hari pemuliaan ilmu pengetahuan bagi umat Hindu di Bali dan Indonesia. Dan saya merasa seolah ada tanda-tanda kecil dari semesta bahwa ilmu pengetahuan, yang diwujudkan dalam bentuk buku, bisa juga mendatangkan rezeki. Bukan hanya rezeki material, tetapi juga rezeki batin berupa pengakuan, penghargaan, dan perasaan bahwa karya kita menemukan jalannya menuju pembaca.

Setiap enam bulan sekali, umat Hindu di Bali khususnya, dan juga di wilayah lain di Indonesia memperingati Hari Saraswati. Pagi-pagi, di halaman rumah, di pura keluarga, di sekolah, hingga kampus, kitab suci, lontar, buku-buku, dan sarana pendidikan lainnya dihaturkan canang, dupa, serta bunga. Itu bentuk sembah bakti kepada Dewi Saraswati, personifikasi ilmu pengetahuan.

Saya selalu terkesan dengan simbol-simbol Saraswati. Beliau digambarkan duduk di atas padma, memegang vina (alat musik), kitab, tasbih, dan kendi air suci. Kitab melambangkan ilmu pengetahuan, vina melambangkan seni, tasbih melambangkan spiritualitas, dan kendi melambangkan sumber kehidupan. Lengkap sudah, Saraswati bukan hanya dewi huruf dan bacaan, melainkan juga dewi keselarasan hidup.

Namun, apa arti semua simbol itu jika di keseharian, buku-buku dibiarkan berdebu di rak, atau hanya dipuja secara ritual tetapi tidak dibaca? Saya sering melihat, selesai sembahyang Saraswati, buku-buku ditutup lagi, disusun rapi, dan jarang disentuh hingga Saraswati berikutnya. Seakan-akan Saraswati hanya hadir di pura, bukan di keseharian. Padahal, membaca satu buku sampai selesai jauh lebih bermakna sebagai persembahan kepada Saraswati daripada seribu canang tanpa isi.

Bagi penulis, buku adalah Saraswati yang mengambil bentuk nyata. Setiap halaman adalah doa, setiap kata adalah canang. Kebahagiaan penulis, tidak dapat dipungkiri, adalah ketika karya-karyanya menemukan pembaca. Dan lebih jauh lagi, ketika buku itu dibeli dengan ikhlas.

Mungkin ini terdengar “ekonomi banget”, tetapi memang begitu kenyataannya. Kami menulis bukan hanya untuk menyebarkan ide dan gagasan, melainkan juga untuk bertahan hidup. Menulis adalah pilihan profesi, sama seperti orang lain memilih berdagang, bertani, atau menjadi pegawai. Jika buku tidak dibeli, penulis tidak bisa hidup.

Sayangnya, profesi menulis sering dianggap sebelah mata. Seorang kawan pernah berkata, “Kamu beruntung bisa menulis, tapi bisa dapat apa dari situ?” Saya hanya tersenyum. Sebab, bagi sebagian orang, menulis memang dipandang bukan sebagai pekerjaan serius. Padahal, di balik satu buku yang rampung, ada ratusan malam tanpa tidur, ada pikiran yang berkecamuk, ada penelitian, ada waktu yang tersita dari keluarga.

Ketika akhirnya ada yang membeli buku, apalagi dari luar Bali, itu bukan sekadar transaksi. Itu semacam pengakuan bahwa tulisan saya pantas masuk ke rak orang lain, pantas menemani mereka di sela waktu luang.

Namun, di balik kegembiraan itu, ada luka yang tidak jarang dialami penulis, pembajakan. Buku yang sudah ditulis dengan susah payah, dipotret lalu dijadikan file PDF, disebarkan gratis, atau dicetak ulang tanpa izin. Lebih menyakitkan lagi ketika orang yang membajak itu berdalih, “Biar literasi merata, biar semua orang bisa membaca.”

Dalih itu terdengar mulia, tapi sesungguhnya itu perampokan. Literasi tidak bisa ditegakkan dengan mencuri jerih payah orang lain. Bukankah itu sama saja dengan menghaturkan canang Saraswati tetapi isi dupa dan bunganya hasil mencuri? Bagaimana doa bisa sampai jika sarana persembahannya dicuri?

Saya percaya, membeli buku asli adalah salah satu bentuk persembahan paling nyata di Hari Saraswati. Sebab, dengan membeli buku, kita tidak hanya menghargai penulis, tetapi juga memastikan ilmu pengetahuan tetap berputar.

Pemerintah daerah sering bicara soal literasi. Spanduk, seminar, lomba baca puisi, festival buku—semua itu baik. Tetapi literasi bukan hanya soal seremoni. Literasi berarti memberi akses pada bacaan bermutu, dan itu dimulai dari keberanian pemerintah membeli buku karya penulis lokal.

Coba bayangkan, jika setiap perpustakaan daerah rutin membeli karya penulis Bali, berapa banyak penulis yang merasa dihargai? Berapa banyak pembaca yang akan menemukan identitasnya sendiri dalam tulisan-tulisan orang sekampung? Selama ini, perpustakaan lebih sering dipenuhi buku terbitan besar dari Jakarta, sementara karya lokal jarang masuk rak.

Padahal, Saraswati yang paling nyata adalah ketika ilmu pengetahuan lahir dari bumi sendiri, ditulis dengan bahasa sendiri, lalu disebarkan kembali kepada masyarakat.

Saya masih ingat, pertama kali jatuh cinta pada buku bukan karena upacara Saraswati di sekolah, melainkan karena sebuah buku puisi tua yang saya temukan di rumah teman. Halamannya sudah kuning, sampulnya lepas, tetapi kata-katanya menyala. Dari situ saya tahu, kata-kata bisa lebih abadi daripada tubuh penulisnya.

Sejak itu, saya ingin menulis. Ingin punya buku yang kelak ditemukan orang lain, entah sepuluh atau lima puluh tahun mendatang, dan masih bisa memberi cahaya. Itulah Saraswati bagi saya, cahaya yang berpindah dari halaman ke hati.

Hari ini, ketika seorang pembaca dari luar Bali berniat membeli buku-buku saya, ingatan itu datang kembali. Seperti ada lingkaran kecil yang tuntas, dari pembaca yang menemukan saya dulu, kini saya yang ditemukan oleh pembaca baru.

Sayangnya, kondisi literasi kita masih jauh dari ideal. Data nasional sering menyebut minat baca rendah, meski sebenarnya minat baca bukan sekadar soal mau membaca atau tidak. Masalah utamanya adalah akses, buku mahal, perpustakaan sepi, distribusi buruk, dan budaya membaca belum dibiasakan sejak dini.

Di Bali, saya sering mendengar pejabat bangga mengatakan “Bali kaya budaya tulis.” Memang benar, lontar-lontar kita menyimpan kebijaksanaan luar biasa. Tetapi, apakah lontar itu dibaca kembali? Atau hanya disimpan sebagai pusaka, diruwat dalam upacara, lalu jarang disentuh generasi muda?

Jika Saraswati hanya dipahami sebagai ritual, literasi kita tidak akan pernah maju. Saraswati mestinya hadir dalam kebiasaan sehari-hari, membuka buku sebelum tidur, membaca lontar di banjar, membeli karya teman, atau mengajak anak ke toko buku alih-alih hanya ke mal.

Rezeki tidak selalu datang dalam bentuk uang. Rezeki bisa berupa pembaca yang menemukan buku kita, bisa berupa kawan yang memberi kabar baik, bisa berupa kesempatan untuk menulis esai seperti ini di Hari Saraswati.

Namun, saya juga tidak ingin munafik. Uang dari penjualan buku adalah rezeki nyata yang memberi makan, membayar listrik, atau sekadar membeli kopi untuk menemani malam-malam menulis. Dan itu sah adanya. Saraswati tidak mengajarkan kita untuk hidup di langit, melupakan bumi. Beliau adalah dewi keseimbangan, pengetahuan dan keseharian, doa dan rezeki.

Hari Saraswati mestinya tidak hanya dirayakan dengan canang di atas buku. Ia mestinya dirayakan dengan membuka halaman, membaca, memahami, lalu menghidupkan kembali pengetahuan itu dalam kehidupan.

Jika kita benar-benar ingin menghormati Saraswati, bacalah buku. Bacalah lontar. Bacalah puisi. Bacalah bahkan tulisan yang lahir dari tetangga sebelah rumah. Dan jika memungkinkan, belilah buku mereka. Sebab, dari situlah literasi tumbuh, dan dari situlah Saraswati benar-benar hidup.

Hari ini, saya bersyukur atas kabar kecil itu. Seorang pembaca, entah siapa, berniat membeli buku-buku saya. Itu rezeki Saraswati bagi saya. Rezeki yang membuat saya yakin bahwa menulis bukanlah jalan sia-sia.

Selamat Hari Saraswati. Semoga cahaya ilmu tidak hanya singgah di pura dan meja sembahyang, tetapi juga menyala di hati kita semua. [T]

Denpasar, 6 September 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuHari Raya SaraswatiHari Saraswati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Amed, Menikmati Kesunyian dan Loloh Pereda Stres

Next Post

Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co