14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 6, 2025
in Esai
Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

SUNGGUH membahagiakan, saya dapat hadir dalam acara Ruang Bicara Penulis Hindu bertajuk “Samudra Sastra Nusantara” yang diselenggarakan oleh Yayasan Jnana Saraswati bekerja sama dengan Dharma Literary Festival (DLF), di Gedung PHDI Provinsi Bali, Jalan Ratna No. 71 Denpasar, Jumat, 5 September 2025. Kegiatan ini terasa istimewa karena dilaksanakan menjelang Hari Suci Saraswati yang jatuh pada Sabtu, 6 September 2025. Sebuah momentum yang tepat untuk merawat dan menghidupkan literasi Dharma sebagai dasar spiritualitas Nusantara.

Yang membuat saya surprise adalah kesempatan untuk kembali bertemu dengan Ida Acharya Wedananda (Prof. Made Titib, Ph.D.), seorang guru, cendekiawan, sekaligus teladan intelektual Hindu di Indonesia, sekaligus dosen saya tahun 1996 di Sekolah Tinggi Manajemen. Acara yang dipandu oleh Ketua DLF 2025, Dr. N.K. Surpi Arya Dharma, menghadirkan sejumlah penulis antara lain, Dr. I Gede Suwantana, Dr. Ayu Veronika Somawati, Jero Jemiwi, dr. I Gusti Ngurah Putra Eka Santosa, M.Fis., AIFO-K (dekan Fakultas Kedokteran Universitas Maha Saraswati), Ir. Nyoman Merta, M.I.Kom dari majalah Craddha,  Guru Dharma dan beberapa penulis lain.

Ida Acharya Wedananda mengungkapkan bahwa selama ini terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan pasukan yang mendukung Rama dalam menyerang Alengka. Berdasarkan sumber otentik dan pengalaman beliau sebagai anggota TNI, mereka sesungguhnya bukanlah pasukan kera, namun seperti tentara yang dalam penyamaran memakai topeng kera sebagai kamuflase. Sedangkan Dr. Surpi Arya Dharma menjelaskan kekeliruan Max Muller menterjemahkan upacara penghormatan sapi sebagai upacara pengorbanan sapi. Penghormatan dan pengorbanan adalah dua kata yang berbeda.  

Berdasarkan pengalaman saya selama 20 tahun lebih belajar di Anand Ashram di bawah bimbingan langsung dari Guruji Anand Krishna, dan masih berlanjut sampai saat ini, walaupun beliau telah tiada secara fisik, saya sepakat dengan kedua pendapat di atas. Bagaimana mungkin Sanatana Dharma yang mengagungkan Sapi sebagai sosok Ibu Illahi, justru mengorbankan sapi? Soal adanya tradisi yang masih melakukan penyembelihan terhadap sapi, hal itu tidak perlu diperdebatkan karena menyangkut pemahaman sesusi dengan tingkat kesadaran masyarakat setempat.

Saya jadi teringat pengalaman saat mengikuti sebuah training di Sagamihara Jepang tahu 1994 saat masih aktif dalam tugas profesional di sebuah BUMN. Saat memperkenalkan diri sebagai seorang Hindu dari Bali, salah seorang dari staf perusahaan Tamura Telecomunication terkaget-kaget, ketika saya menyantap steak sapi yang dihidangkan. “Sebagai penganut Hindu kamu menyantap daging sapi?” Saya Cuma menjawab sesuai realita. “Tradisi kami di Bali ini sudah biasa.” Jawabannya tentu akan berbeda kalau dia menanyakan pada tahun 2003, setelah saya mengambil pensiun dini, karena telah menjalani Upavasa Vegetarian sampai saat ini. Mungkin saya akan menjawab: “Tipat cantok dan Begul (Beguling) bisa berdampingan secara harmonis di Bali.” Contonya di jalan Sutomo Denpasar, dagang Be Guling bisa bersebelahan dengan dagang Tipat Cantok ataupum Tahu Gerenceng.

Pertemuan menjelang Hari Saraswati ini mengingatkan saya pada artikel Guruji Anand Krishna berjudul “Saraswati Puja dan Cendekiawan” yang terbit dalam Warta Hindu Dharma edisi 343 tahun 1995, dan kemudian dibukukan secara utuh dalam salah satu bab dari karya beliau Intisari Ajaran Terkuno Umat Manusia: Memahami Kembali Ajaran Vedanta tahun 2024 lalu. Dalam tulisan tersebut, Guruji menjelaskan bahwa Saraswati adalah lambang tingkat kesempurnaan hidup yang meliputi tiga nilai utama: Satyam (kebenaran), Shivam (kemuliaan), dan Sundaram (keindahan).

Saraswati: Harmoni Sains dan Seni

Saraswati bukan sekadar dewi ilmu pengetahuan, melainkan representasi keselarasan antara sains dan seni, otak kiri dan otak kanan. Tanpa sentuhan seni, seorang cendekiawan berisiko menjadi kering, dingin, bahkan menyerupai robot dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Sebaliknya, seorang seniman tanpa ketajaman berpikir hanya akan melahirkan sentimentalitas yang rapuh. Maka, Saraswati adalah jembatan yang menyatukan logika dan rasa, analisis dan imajinasi, struktur dan keindahan.

Refleksi: Mengakses Saraswati dalam Diri

Perayaan Saraswati Puja bukan sekadar ritual, menyalakan dupa, dan menyajikan banten  atau sesajen pada lontar atau buku. Lebih dari itu, ia adalah undangan untuk masuk ke ruang batin, mengakses Saraswati yang sesungguhnya—yakni kemampuan untuk hidup dengan kebenaran, kemuliaan, dan keindahan.

1. Satyam (सत्यं) → Kebenaran

  • Satyam adalah keselarasan dengan kenyataan tertinggi (ultimate reality), kebenaran yang tidak berubah meskipun waktu, tempat, atau kondisi berbeda.
  • Dalam konteks hidup, satyam berarti kejujuran, otentisitas, dan keberanian menghadapi realitas apa adanya.
  • Ketika seseorang tetap berkata benar meski harus menghadapi risiko, ia sedang menegakkan satyam.

2. Shivam (शिवं) → Kemuliaan

  • Shivam adalah kualitas kemuliaan hati, welas asih, kasih sayang, keadilan, dan kebaikan yang menyejukkan.
  • Kalau satyam lebih rasional (berbasis pada kebenaran obyektif), shivam lebih etis bagaimana kebenaran itu diwujudkan dalam tindakan yang penuh kasih.
  • Seorang hakim bisa tahu kebenaran fakta hukum (satyam), tetapi bagaimana ia memutus dengan bijaksana, penuh keadilan, itulah shivam.

3. Sundaram (सुन्दरम्) → Keindahan, Harmoni, Estetika

  • Sundaram adalah keindahan yang lahir dari keselarasan batin dan keseimbangan hidup.
  • Bukan hanya keindahan visual atau estetika seni, melainkan juga keindahan jiwa, tutur kata, tindakan, bahkan relasi antar-manusia dan dengan alam.
  • Musik, tarian, dan jenis seni lainnya adalah wujud keindahan saraswati.

“Wihout musics, life would be a mistake,” kata Friedrich Nietzsche. Begitu juga Albert Einstein, biola dan sains merupakan satu kesatuan utuh, sehingga mampu melahirkan teori relativitas yang mengguncang dunia, merorobohkan bangunan teori Newton yang berlangsung berabad-abad.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, kita kerap terjebak di level kesadaran rendah: takut kehilangan, marah terhadap perbedaan, atau bangga secara semu dengan pencapaian material. Saraswati Puja mengingatkan bahwa jalan kembali selalu ada: keberanian untuk jujur pada diri sendiri (Satyam), keluhuran sikap dalam menghadapi sesama (Shivam), dan keindahan jiwa yang menumbuhkan harmoni (Sundaram).

Guruji Anand Krishna sering menegaskan, “Layanilah Tuhan dengan melayani kemanusiaan dan masyarakat.” Pelayanan itu akan bermakna bila dilakukan dengan jiwa Saraswati—akal yang jernih, hati yang lembut, dan jiwa yang indah.

Maka, ketika kita merayakan Saraswati Puja, sejatinya kita merayakan peluang untuk naik setingkat lebih tinggi dalam tangga kesadaran Hawkins. Dari kegelapan menuju terang, dari kebingungan menuju kejernihan, dari kebencian menuju cinta, dari kehampaan menuju keindahan.

Semoga setiap doa, setiap lontar dan buku yang kita haturkan sesajen, bukan hanya menjadi simbol, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Saraswati bukanlah entitas di luar diri, melainkan potensi dalam diri yang siap mekar. Saat kita mampu menghidupi Satyam Shivam Sundaram, saat itu pula kita telah memasuki ruang kesadaran yang lebih luhur—kesadaran Saraswati itu sendiri.

Semoga kemuliaan Dewi Saraswati mewarnai setiap langkah kita semua. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya SaraswatiHari Saraswati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezeki di Hari Raya Saraswati

Next Post

“Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi”, Pameran Maha Rupa Batukaru, Diharap Jadi  Momentum Titik Balik Perkembangan Seni Rupa di Tabanan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
“Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi”, Pameran Maha Rupa Batukaru, Diharap Jadi  Momentum Titik Balik Perkembangan Seni Rupa di Tabanan

"Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi", Pameran Maha Rupa Batukaru, Diharap Jadi  Momentum Titik Balik Perkembangan Seni Rupa di Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co