6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 6, 2025
in Esai
Saraswati Puja: Saatnya Mengakses Satyam Shivam Sundaram Dalam Diri

SUNGGUH membahagiakan, saya dapat hadir dalam acara Ruang Bicara Penulis Hindu bertajuk “Samudra Sastra Nusantara” yang diselenggarakan oleh Yayasan Jnana Saraswati bekerja sama dengan Dharma Literary Festival (DLF), di Gedung PHDI Provinsi Bali, Jalan Ratna No. 71 Denpasar, Jumat, 5 September 2025. Kegiatan ini terasa istimewa karena dilaksanakan menjelang Hari Suci Saraswati yang jatuh pada Sabtu, 6 September 2025. Sebuah momentum yang tepat untuk merawat dan menghidupkan literasi Dharma sebagai dasar spiritualitas Nusantara.

Yang membuat saya surprise adalah kesempatan untuk kembali bertemu dengan Ida Acharya Wedananda (Prof. Made Titib, Ph.D.), seorang guru, cendekiawan, sekaligus teladan intelektual Hindu di Indonesia, sekaligus dosen saya tahun 1996 di Sekolah Tinggi Manajemen. Acara yang dipandu oleh Ketua DLF 2025, Dr. N.K. Surpi Arya Dharma, menghadirkan sejumlah penulis antara lain, Dr. I Gede Suwantana, Dr. Ayu Veronika Somawati, Jero Jemiwi, dr. I Gusti Ngurah Putra Eka Santosa, M.Fis., AIFO-K (dekan Fakultas Kedokteran Universitas Maha Saraswati), Ir. Nyoman Merta, M.I.Kom dari majalah Craddha,  Guru Dharma dan beberapa penulis lain.

Ida Acharya Wedananda mengungkapkan bahwa selama ini terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan pasukan yang mendukung Rama dalam menyerang Alengka. Berdasarkan sumber otentik dan pengalaman beliau sebagai anggota TNI, mereka sesungguhnya bukanlah pasukan kera, namun seperti tentara yang dalam penyamaran memakai topeng kera sebagai kamuflase. Sedangkan Dr. Surpi Arya Dharma menjelaskan kekeliruan Max Muller menterjemahkan upacara penghormatan sapi sebagai upacara pengorbanan sapi. Penghormatan dan pengorbanan adalah dua kata yang berbeda.  

Berdasarkan pengalaman saya selama 20 tahun lebih belajar di Anand Ashram di bawah bimbingan langsung dari Guruji Anand Krishna, dan masih berlanjut sampai saat ini, walaupun beliau telah tiada secara fisik, saya sepakat dengan kedua pendapat di atas. Bagaimana mungkin Sanatana Dharma yang mengagungkan Sapi sebagai sosok Ibu Illahi, justru mengorbankan sapi? Soal adanya tradisi yang masih melakukan penyembelihan terhadap sapi, hal itu tidak perlu diperdebatkan karena menyangkut pemahaman sesusi dengan tingkat kesadaran masyarakat setempat.

Saya jadi teringat pengalaman saat mengikuti sebuah training di Sagamihara Jepang tahu 1994 saat masih aktif dalam tugas profesional di sebuah BUMN. Saat memperkenalkan diri sebagai seorang Hindu dari Bali, salah seorang dari staf perusahaan Tamura Telecomunication terkaget-kaget, ketika saya menyantap steak sapi yang dihidangkan. “Sebagai penganut Hindu kamu menyantap daging sapi?” Saya Cuma menjawab sesuai realita. “Tradisi kami di Bali ini sudah biasa.” Jawabannya tentu akan berbeda kalau dia menanyakan pada tahun 2003, setelah saya mengambil pensiun dini, karena telah menjalani Upavasa Vegetarian sampai saat ini. Mungkin saya akan menjawab: “Tipat cantok dan Begul (Beguling) bisa berdampingan secara harmonis di Bali.” Contonya di jalan Sutomo Denpasar, dagang Be Guling bisa bersebelahan dengan dagang Tipat Cantok ataupum Tahu Gerenceng.

Pertemuan menjelang Hari Saraswati ini mengingatkan saya pada artikel Guruji Anand Krishna berjudul “Saraswati Puja dan Cendekiawan” yang terbit dalam Warta Hindu Dharma edisi 343 tahun 1995, dan kemudian dibukukan secara utuh dalam salah satu bab dari karya beliau Intisari Ajaran Terkuno Umat Manusia: Memahami Kembali Ajaran Vedanta tahun 2024 lalu. Dalam tulisan tersebut, Guruji menjelaskan bahwa Saraswati adalah lambang tingkat kesempurnaan hidup yang meliputi tiga nilai utama: Satyam (kebenaran), Shivam (kemuliaan), dan Sundaram (keindahan).

Saraswati: Harmoni Sains dan Seni

Saraswati bukan sekadar dewi ilmu pengetahuan, melainkan representasi keselarasan antara sains dan seni, otak kiri dan otak kanan. Tanpa sentuhan seni, seorang cendekiawan berisiko menjadi kering, dingin, bahkan menyerupai robot dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Sebaliknya, seorang seniman tanpa ketajaman berpikir hanya akan melahirkan sentimentalitas yang rapuh. Maka, Saraswati adalah jembatan yang menyatukan logika dan rasa, analisis dan imajinasi, struktur dan keindahan.

Refleksi: Mengakses Saraswati dalam Diri

Perayaan Saraswati Puja bukan sekadar ritual, menyalakan dupa, dan menyajikan banten  atau sesajen pada lontar atau buku. Lebih dari itu, ia adalah undangan untuk masuk ke ruang batin, mengakses Saraswati yang sesungguhnya—yakni kemampuan untuk hidup dengan kebenaran, kemuliaan, dan keindahan.

1. Satyam (सत्यं) → Kebenaran

  • Satyam adalah keselarasan dengan kenyataan tertinggi (ultimate reality), kebenaran yang tidak berubah meskipun waktu, tempat, atau kondisi berbeda.
  • Dalam konteks hidup, satyam berarti kejujuran, otentisitas, dan keberanian menghadapi realitas apa adanya.
  • Ketika seseorang tetap berkata benar meski harus menghadapi risiko, ia sedang menegakkan satyam.

2. Shivam (शिवं) → Kemuliaan

  • Shivam adalah kualitas kemuliaan hati, welas asih, kasih sayang, keadilan, dan kebaikan yang menyejukkan.
  • Kalau satyam lebih rasional (berbasis pada kebenaran obyektif), shivam lebih etis bagaimana kebenaran itu diwujudkan dalam tindakan yang penuh kasih.
  • Seorang hakim bisa tahu kebenaran fakta hukum (satyam), tetapi bagaimana ia memutus dengan bijaksana, penuh keadilan, itulah shivam.

3. Sundaram (सुन्दरम्) → Keindahan, Harmoni, Estetika

  • Sundaram adalah keindahan yang lahir dari keselarasan batin dan keseimbangan hidup.
  • Bukan hanya keindahan visual atau estetika seni, melainkan juga keindahan jiwa, tutur kata, tindakan, bahkan relasi antar-manusia dan dengan alam.
  • Musik, tarian, dan jenis seni lainnya adalah wujud keindahan saraswati.

“Wihout musics, life would be a mistake,” kata Friedrich Nietzsche. Begitu juga Albert Einstein, biola dan sains merupakan satu kesatuan utuh, sehingga mampu melahirkan teori relativitas yang mengguncang dunia, merorobohkan bangunan teori Newton yang berlangsung berabad-abad.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, kita kerap terjebak di level kesadaran rendah: takut kehilangan, marah terhadap perbedaan, atau bangga secara semu dengan pencapaian material. Saraswati Puja mengingatkan bahwa jalan kembali selalu ada: keberanian untuk jujur pada diri sendiri (Satyam), keluhuran sikap dalam menghadapi sesama (Shivam), dan keindahan jiwa yang menumbuhkan harmoni (Sundaram).

Guruji Anand Krishna sering menegaskan, “Layanilah Tuhan dengan melayani kemanusiaan dan masyarakat.” Pelayanan itu akan bermakna bila dilakukan dengan jiwa Saraswati—akal yang jernih, hati yang lembut, dan jiwa yang indah.

Maka, ketika kita merayakan Saraswati Puja, sejatinya kita merayakan peluang untuk naik setingkat lebih tinggi dalam tangga kesadaran Hawkins. Dari kegelapan menuju terang, dari kebingungan menuju kejernihan, dari kebencian menuju cinta, dari kehampaan menuju keindahan.

Semoga setiap doa, setiap lontar dan buku yang kita haturkan sesajen, bukan hanya menjadi simbol, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Saraswati bukanlah entitas di luar diri, melainkan potensi dalam diri yang siap mekar. Saat kita mampu menghidupi Satyam Shivam Sundaram, saat itu pula kita telah memasuki ruang kesadaran yang lebih luhur—kesadaran Saraswati itu sendiri.

Semoga kemuliaan Dewi Saraswati mewarnai setiap langkah kita semua. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya SaraswatiHari Saraswati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezeki di Hari Raya Saraswati

Next Post

“Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi”, Pameran Maha Rupa Batukaru, Diharap Jadi  Momentum Titik Balik Perkembangan Seni Rupa di Tabanan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
“Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi”, Pameran Maha Rupa Batukaru, Diharap Jadi  Momentum Titik Balik Perkembangan Seni Rupa di Tabanan

"Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi", Pameran Maha Rupa Batukaru, Diharap Jadi  Momentum Titik Balik Perkembangan Seni Rupa di Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co