22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
September 3, 2025
in Esai
Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Foto ilustrasi | Sumber: Wikipedia

DI Indonesia, ada lagu yang seolah tak pernah kehilangan konteks. Setiap kali kasus korupsi mencuat, atau rakyat kecil jadi korban kelalaian negara, liriknya seakan otomatis terngiang di telinga publik. Lagu itu adalah “Tikus-tikus Kantor” karya Iwan Fals dalam album Ethiopia (1986). Lagu ini menjadi semacam soundtrack abadi bangsa: sindiran keras bagi pejabat dan wakil rakyat yang menjadikan jabatan bukan sebagai amanah, melainkan ladang untuk menggerogoti rakyatnya sendiri.

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji lalu sembunyi

Di balik meja teman sekerja
Di dalam lemari dari baja
Kucing datang cepat ganti muka
Segera menjelma bagai tak tercela
Masa bodoh hilang harga diri
Asal tak terbukti ah tentu sikat lagi

Tikus-tikus tak kenal kenyang
Rakus, rakus, bukan kepalang
Otak tikus memang bukan otak udang
Kucing datang tikus menghilang

Begitulah penggalan lirik lagu “Tikus-tikus Kantor”. Metafora “tikus” terasa sederhana, tapi justru itulah kekuatannya. Tikus adalah makhluk rakus, beranak pinak di tempat gelap, dan sulit diberantas. Persis seperti perilaku koruptor yang bersembunyi di balik gedung parlemen, berpakaian rapi, dan bersuara lantang soal kepentingan rakyat. Namun pada kenyataannya, sibuk mengutamakan diri sendiri.

DPR dan tikus-tikus yang tak pernah hilang

Sejak era orde baru hingga kini, skandal korupsi di DPR dan elite politik tak pernah surut. Dari proyek e-KTP yang menyeret sejumlah nama besar, dana bansos di masa pandemi, hingga praktik jual beli kursi kekuasaan, semuanya memperkuat kesan bahwa gedung parlemen adalah rumah mewah bagi tikus-tikus kantor.

Ironisnya, meski publik sudah berkali-kali disuguhi drama penangkapan koruptor, lagu Iwan Fals tetap relevan tanpa perlu diganti satu bait pun. Justru semakin hari, ia terdengar kian tepat. Seperti ramalan yang terus jadi kenyataan: wakil rakyat yang terhormat bisa berubah menjadi makhluk rakus yang merayap pelan-pelan, menggigit diam-diam, tapi meninggalkan lubang besar di tubuh bangsa.

Lebih menyedihkan lagi, budaya impunitas ─ pembebasan dari hukuman ─ membuat mereka sering lolos dari jerat hukum. Ada yang divonis ringan, ada yang kembali duduk di kursi kekuasaan setelah keluar penjara, bahkan ada yang tetap dielu-elukan pendukungnya. Semua itu menunjukkan bahwa tikus-tikus kantor bukan sekadar individu, melainkan cerminan sistem politik yang bobrok.

Kasus Affan Kurniawan: nyawa rakyat yang murah

Di tengah kabar korupsi yang tak ada habisnya, publik baru-baru ini dikejutkan oleh tragedi yang menyayat hati. Affan Kurniawan, seorang driver ojek online, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob saat mengantar pesanan makanan di lokasi demo di Jakarta (28/8/25). Peristiwa ini segera memicu gelombang protes nasional, bukan hanya karena hilangnya nyawa seorang anak bangsa, tapi juga karena respons negara terasa klise dan kosong.

Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan belasungkawa dan janji mengawal proses hukum. Komisi III mendesak agar oknum Brimob ditindak tegas. Partai-partai politik berlomba terlihat peduli. Namun rakyat sudah hapal pola semacam ini: pernyataan manis, janji evaluasi, lalu senyap. Pada akhirnya, keluarga korban harus menanggung duka, sementara elite kembali sibuk dengan agenda politiknya.

Tragedi Affan menjadi simbol nyata betapa murahnya harga nyawa rakyat kecil di negeri ini. Ia tidak mati karena pilihan politiknya, bukan pula karena aksi melawan, melainkan hanya karena menjalankan profesinya. Namun kematiannya ditanggapi dengan bahasa birokratis yang kering, seakan lebih peduli pada citra daripada keadilan.

Dalam konteks inilah lagu “Tikus-Tikus Kantor” terasa kembali menohok. Bukan hanya tentang korupsi uang, tapi juga korupsi empati. Saat elite politik sibuk memainkan narasi, sementara rakyat kecil yang menjadi korban hanya dicatat sebagai ‘insiden’ yang akan dievaluasi.

Lagu Iwan Fals telah berusia lebih dari tiga dekade, tapi isinya sama sekali belum basi. Justru semakin segar, karena realitas politik kita tak kunjung berubah. “Tikus-tikus kantor” terus beranak-pinak, berganti wajah, berganti partai, berganti jargon, tapi tetap dengan pola yang sama: menggerogoti dari dalam, merampas yang bukan haknya, dan menutup telinga dari jeritan rakyat. Di satu sisi, lagu ini adalah karya seni yang jenius, simbolik, tajam, dan mudah diingat. Tapi di sisi lain, keabadiannya justru menyedihkan, karena ia abadi bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kenyataan yang terus berulang. Kita menyanyikannya bukan karena rindu masa lalu, melainkan karena masa kini masih persis sama.

Kasus Affan seharusnya menjadi momentum untuk menyadarkan DPR dan institusi negara bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan angka-angka atau prosedur semata, melainkan dengan nyawa manusia. Sayangnya, pola yang terjadi selalu berulang: rakyat marah, elite berjanji, lalu semua perlahan dilupakan. Mungkin inilah yang membuat lagu “Tikus-Tikus Kantor” terasa begitu pahit sekaligus nyata. Ia bukan sekadar musik, melainkan dokumen moral. Ia mengingatkan bahwa tanpa kesadaran kritis, sejarah akan terus berulang: gedung DPR tetap megah, tikus-tikus tetap beranak pinak, dan rakyat tetap jadi korban.

DPR boleh saja memasang slogan “Berbenah untuk Rakyat” di gedungnya yang berkilau. Tapi di luar sana, rakyat justru membaca spanduk lain: “Tikus-Tikus Kantor Masih Hidup dan Sehat.” Pertanyaannya kini, apakah kita akan terus bernyanyi lagu ini hanya sebagai pelampiasan kritik, atau menjadikannya pemicu untuk perubahan nyata? Apakah DPR akan terus sibuk mengatur citra, atau benar-benar membersihkan kandangnya sendiri dari tikus-tikus rakus yang terus menggerogoti bangsa?

Sampai hari itu tiba, “Tikus-Tikus Kantor” akan tetap menjadi lagu sepanjang masa yang sebenarnya, karena sejarah kita yang gagal berubah, dan elite yang gagal belajar. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Anti KorupsidemonstrasiDPRKorupsiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Next Post

“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co