23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Candra Henaulu by Candra Henaulu
August 28, 2025
in Esai
Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Candra Henaulu foto bersama para penulis tatkala.co di SLF 2025 | Foto: Ist

Luka

AKU tenggelam dalam lamunan kecil di bandara Ambon yang ramai pagi itu, seperti masih bimbang dengan keputusan yang telah kuambil. Sempat terbesit dalam pikiran, “Apa aku batalkan saja keberangkatan kali ini?”; tapi di sisi lain aku tetap ingin berangkat ke Bali.

“Penumpang Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6165 menuju Makassar segera naik ke pesawat.”

Lamunanku buyar, segera kumasukan buku cerpen Jorge Luis Borges,Kitab Pasir, ke dalam ransel. Aku berkemas, menuju antrean dengan hati dilema.

Bagaimana tidak, pagi di mana saat aku memutuskan berangkat ke Bali, tepatnya untuk mengikuti kegiatan festival sastra di Singaraja, pagi itu pula aku diliputi banyak tanya di kepala, apakah keputusan ini sudah tepat.

Jadi, masalahnya begini, pagi itu kala Ambon sedang cerah berawan, Rabu, 23 Juli 2025, sebelum aku berangkat untuk mengikuti salah satu festival terbesar di Kabupaten Buleleng, yakni Singaraja Literary Festival 2025, aku dikejutkan dengan kabar kematian pamanku di kampung.

Sedih, tak bisa kutahan air mata ketika mendengar kabar itu via telepon—walau tak ada suara tangisan histeris. Jujur, pada saat itu aku dilema antara membatalkan tiket ke Singaraja atau pulang ke kampung. Di persimpangan pilihan yang rumit ini, batinku gejolak dan betapa rumit memutuskan kondisi ke mana aku akan pergi.

Tapi hidup akan terus berjalan, dan waktu terus saja berputar, mau tidak mau kita harus mengambil keputusan atas pilihan yang rumit itu. Kemudian aku memilih untuk berangkat ke Bali esok harinya, Kamis, 24 Juli 2025, lalu mengutus si bungsu (adikku) untuk menggantikanku pulang ke kampung, melayat dan mengurusi prosesi pemakaman pamanku.

Namun, apa boleh buat, keputusan sudah bulat dan mau tidak mau aku harus menanggung risiko atas pilihan yang telah diambil. Aku pergi ke Bali, semoga bisa memberiku jeda untuk mengobati luka kehilangan yang sedang aku alami.

Sepanjang beberapa jam di bandara Sultan Hasanuddin, aku habiskan dengan penyesalan dan sedikit luka batin, namun coba kutenangkan diri lewat doa, semoga prosesi pemakaman almarhum pamanku bisa berjalan dengan lancar dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Setelah doa kulantunkan, tiba-tiba terbesit di kepalaku, “Di bandara kita semua mungkin hanya penumpang, menunggu waktu untuk panggilan ke tempat yang akan kita tuju, begitu juga kehidupan di dunia ini, menunggu panggilan akhir ke tempat yang kita tuju, mungkin panggilanku belum saat ini, sementara pamanku sudah dipanggil untuk pulang duluan tapi suatu saat nanti pasti aku akan dipanggil juga”.

Langsung aku catat gumaman itu di buku catatan kecil yang biasa aku bawa. Namun, luka atas rasa bersalah itu masih ada, masih kubawa sampai malam pertama saat tiba di Singaraja. Tidur dengan harapan besar semoga besok sudah reda segala gejolak kebatinan ini.

Hari pertama gelaran festival aku seperti mendapat penawar. Jumat, 25 Juli 2025, bersama kawan-kawan Komunitas Mahima, melalui Singaraja Literary Festival aku merasakan hal tersebut. Entah kenapa, tema “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta” begitu relevan denganku hari itu, yang datang ke Singaraja dengan luka batin yang perlu disembuhkan. Wajar sekali di hari pertama itu aku melibatkan diri dalam diskusi tentang penyembuhan lewat karya seni dan sastra.

Seni Rupa sebagai Penyembuh

Aku tertegun di depan sebuah lukisan. Lukisan itu berbentuk bulat yang diarsir dengan garis-garis pensil hitam putih membentuk satu pola menuju tengah dan di tengahnya ada sebuah lubang hitam, judul lukisan itu “Portal”, yang di lukis oleh Nyi Nyoman Sani.

Jika lukisan ini aku lihat dari kejahuan ia seperti buah pala, atau batu Hajar Aswad. Tapi setelah mendekat, aku seperti melihat portal dan portal itu seperti membawaku pada sebuah kesedihan yang tak berujung dan tak kunjung ditemukan solusinya. Abstrak menang, tapi aku seperti di ajak menyelami portal kesedihan pelukis yang tak bisa kita telaah ke mana akhirnya.

“Lukisan-lukisan yang saya lukis, tentu saja sangat personal bagi saya. Selama hampir tiga puluh tahun saya melukis, saya memerhatikan betul medium yang saya pakai. Saya memperhatikan betul detail dan perpaduan warnanya dan walaupun hanya medium garis dan titik yang saya pakai, tapi itu bagi saya cukup personal dan dalam bagi saya sendiri sebagai pelukis,” ujar Nyi Nyoman Sani dalam sesi Diskusi Seni: Seni Rupa, Warna, dan Penyembuhan.

Sungguh sebuah lukisan yang luar biasa bagi aku yang awam ini.

Namun, satu hal yang paling aku apresiasi ialah betapa tekunnya Sani mengarsir satu persatu garis dan membuat titik yang tak terhitung jumlahnya itu. Ia bisa mengerjakannya dengan fokus dan begitu lamanya ia bergelut dengan kerja kecil hanya untuk mengatakan pada orang bahwa “kesedihan tak ada tepinya, tapi kau bisa memilih untuk tetap meratap atau beranjak keluar portal kesedihan itu, dan menjadi pengkarya yang mengubah kesedihan jadi kekuatan”.

Di titik ini, kesedihanku perihal kematian paman, sedikit demi sedikit mulai mereda. Aku sadar, sebagai manusia yang hidup di belantara dunia yang fana ini, kita akan dibenturkan dengan permasalahan dan juga pilihan seperti ini selama jantung masih degup, selama napas masih berembus.

Selama itu pula, lengan-lengan masalah serta persimpangan pilihan pasti akan selalu menguji kita. Hal ini tentu saja melahirkan dilema dan luka, namun dari luka dan dilema itulah kita tumbuh menjadi utuh. Kesadaran itu tentu saja terjadi karena aku mengambil keputusan untuk terlibat dan melibatkan diri dalam kegiatan Singaraja Literary Festival 2025—sebulan yang lalu.

Singaraja Literary Festival sudah berakhir saat aku menulis hal ini. Lukaku atas kesedihan karena kehilangan juga sedikit mereda, mungkin karena banyak hal yang mengobatiku saat itu. Aku bukan orang Bali, tapi aku merasakan energi “Buda Kecapi” seperti meliputiku hari ini— bukan oleh kekuatan gaib, tapi oleh kekuatan seni, sastra, dan kehangatan setiap manusia yang ada di dalamnya.

Waktu itu, sebelum kembali ke Ambon, aku sempat berpikir, apakah energi penyembuhan itu masih meliputiku atau malah ia akan lenyap? Aku tak tahu sampai sekarang. Tapi, dari Singaraja Literary Festival aku selalu belajar untuk sembuh dan terus tumbuh—sampai panggilanku tiba, suatu saat nanti.[T]

Penulis: Candra Henaulu
Editor: Jaswanto

Tags: Singaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Next Post

Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Candra Henaulu

Candra Henaulu

Penulis muda asal Maluku yang lahir di sebuah kampung nelayan kecil bernama Piru pada tanggal 12 Januari 1997. ia telah menerbitkan enam buah buku, serta memprakkarsai beberapa komunitas literasi lokal di Ambon, yakni Spot Bacarita, Ambon Book Party, dan Kedai Baca, serta pernah menjadi ketua umum di Forum Lingkar Pena Maluku. Candra atau yang biasa disapa dengan Senja Imrand ini senang sekali menulis dan membaca. Sampai saat ini ia ingin selalu mendedikasikan dirinya untuk menulis dan terus menulis.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co