24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Candra Henaulu by Candra Henaulu
August 28, 2025
in Esai
Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Candra Henaulu foto bersama para penulis tatkala.co di SLF 2025 | Foto: Ist

Luka

AKU tenggelam dalam lamunan kecil di bandara Ambon yang ramai pagi itu, seperti masih bimbang dengan keputusan yang telah kuambil. Sempat terbesit dalam pikiran, “Apa aku batalkan saja keberangkatan kali ini?”; tapi di sisi lain aku tetap ingin berangkat ke Bali.

“Penumpang Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6165 menuju Makassar segera naik ke pesawat.”

Lamunanku buyar, segera kumasukan buku cerpen Jorge Luis Borges,Kitab Pasir, ke dalam ransel. Aku berkemas, menuju antrean dengan hati dilema.

Bagaimana tidak, pagi di mana saat aku memutuskan berangkat ke Bali, tepatnya untuk mengikuti kegiatan festival sastra di Singaraja, pagi itu pula aku diliputi banyak tanya di kepala, apakah keputusan ini sudah tepat.

Jadi, masalahnya begini, pagi itu kala Ambon sedang cerah berawan, Rabu, 23 Juli 2025, sebelum aku berangkat untuk mengikuti salah satu festival terbesar di Kabupaten Buleleng, yakni Singaraja Literary Festival 2025, aku dikejutkan dengan kabar kematian pamanku di kampung.

Sedih, tak bisa kutahan air mata ketika mendengar kabar itu via telepon—walau tak ada suara tangisan histeris. Jujur, pada saat itu aku dilema antara membatalkan tiket ke Singaraja atau pulang ke kampung. Di persimpangan pilihan yang rumit ini, batinku gejolak dan betapa rumit memutuskan kondisi ke mana aku akan pergi.

Tapi hidup akan terus berjalan, dan waktu terus saja berputar, mau tidak mau kita harus mengambil keputusan atas pilihan yang rumit itu. Kemudian aku memilih untuk berangkat ke Bali esok harinya, Kamis, 24 Juli 2025, lalu mengutus si bungsu (adikku) untuk menggantikanku pulang ke kampung, melayat dan mengurusi prosesi pemakaman pamanku.

Namun, apa boleh buat, keputusan sudah bulat dan mau tidak mau aku harus menanggung risiko atas pilihan yang telah diambil. Aku pergi ke Bali, semoga bisa memberiku jeda untuk mengobati luka kehilangan yang sedang aku alami.

Sepanjang beberapa jam di bandara Sultan Hasanuddin, aku habiskan dengan penyesalan dan sedikit luka batin, namun coba kutenangkan diri lewat doa, semoga prosesi pemakaman almarhum pamanku bisa berjalan dengan lancar dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Setelah doa kulantunkan, tiba-tiba terbesit di kepalaku, “Di bandara kita semua mungkin hanya penumpang, menunggu waktu untuk panggilan ke tempat yang akan kita tuju, begitu juga kehidupan di dunia ini, menunggu panggilan akhir ke tempat yang kita tuju, mungkin panggilanku belum saat ini, sementara pamanku sudah dipanggil untuk pulang duluan tapi suatu saat nanti pasti aku akan dipanggil juga”.

Langsung aku catat gumaman itu di buku catatan kecil yang biasa aku bawa. Namun, luka atas rasa bersalah itu masih ada, masih kubawa sampai malam pertama saat tiba di Singaraja. Tidur dengan harapan besar semoga besok sudah reda segala gejolak kebatinan ini.

Hari pertama gelaran festival aku seperti mendapat penawar. Jumat, 25 Juli 2025, bersama kawan-kawan Komunitas Mahima, melalui Singaraja Literary Festival aku merasakan hal tersebut. Entah kenapa, tema “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta” begitu relevan denganku hari itu, yang datang ke Singaraja dengan luka batin yang perlu disembuhkan. Wajar sekali di hari pertama itu aku melibatkan diri dalam diskusi tentang penyembuhan lewat karya seni dan sastra.

Seni Rupa sebagai Penyembuh

Aku tertegun di depan sebuah lukisan. Lukisan itu berbentuk bulat yang diarsir dengan garis-garis pensil hitam putih membentuk satu pola menuju tengah dan di tengahnya ada sebuah lubang hitam, judul lukisan itu “Portal”, yang di lukis oleh Nyi Nyoman Sani.

Jika lukisan ini aku lihat dari kejahuan ia seperti buah pala, atau batu Hajar Aswad. Tapi setelah mendekat, aku seperti melihat portal dan portal itu seperti membawaku pada sebuah kesedihan yang tak berujung dan tak kunjung ditemukan solusinya. Abstrak menang, tapi aku seperti di ajak menyelami portal kesedihan pelukis yang tak bisa kita telaah ke mana akhirnya.

“Lukisan-lukisan yang saya lukis, tentu saja sangat personal bagi saya. Selama hampir tiga puluh tahun saya melukis, saya memerhatikan betul medium yang saya pakai. Saya memperhatikan betul detail dan perpaduan warnanya dan walaupun hanya medium garis dan titik yang saya pakai, tapi itu bagi saya cukup personal dan dalam bagi saya sendiri sebagai pelukis,” ujar Nyi Nyoman Sani dalam sesi Diskusi Seni: Seni Rupa, Warna, dan Penyembuhan.

Sungguh sebuah lukisan yang luar biasa bagi aku yang awam ini.

Namun, satu hal yang paling aku apresiasi ialah betapa tekunnya Sani mengarsir satu persatu garis dan membuat titik yang tak terhitung jumlahnya itu. Ia bisa mengerjakannya dengan fokus dan begitu lamanya ia bergelut dengan kerja kecil hanya untuk mengatakan pada orang bahwa “kesedihan tak ada tepinya, tapi kau bisa memilih untuk tetap meratap atau beranjak keluar portal kesedihan itu, dan menjadi pengkarya yang mengubah kesedihan jadi kekuatan”.

Di titik ini, kesedihanku perihal kematian paman, sedikit demi sedikit mulai mereda. Aku sadar, sebagai manusia yang hidup di belantara dunia yang fana ini, kita akan dibenturkan dengan permasalahan dan juga pilihan seperti ini selama jantung masih degup, selama napas masih berembus.

Selama itu pula, lengan-lengan masalah serta persimpangan pilihan pasti akan selalu menguji kita. Hal ini tentu saja melahirkan dilema dan luka, namun dari luka dan dilema itulah kita tumbuh menjadi utuh. Kesadaran itu tentu saja terjadi karena aku mengambil keputusan untuk terlibat dan melibatkan diri dalam kegiatan Singaraja Literary Festival 2025—sebulan yang lalu.

Singaraja Literary Festival sudah berakhir saat aku menulis hal ini. Lukaku atas kesedihan karena kehilangan juga sedikit mereda, mungkin karena banyak hal yang mengobatiku saat itu. Aku bukan orang Bali, tapi aku merasakan energi “Buda Kecapi” seperti meliputiku hari ini— bukan oleh kekuatan gaib, tapi oleh kekuatan seni, sastra, dan kehangatan setiap manusia yang ada di dalamnya.

Waktu itu, sebelum kembali ke Ambon, aku sempat berpikir, apakah energi penyembuhan itu masih meliputiku atau malah ia akan lenyap? Aku tak tahu sampai sekarang. Tapi, dari Singaraja Literary Festival aku selalu belajar untuk sembuh dan terus tumbuh—sampai panggilanku tiba, suatu saat nanti.[T]

Penulis: Candra Henaulu
Editor: Jaswanto

Tags: Singaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Next Post

Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Candra Henaulu

Candra Henaulu

Penulis muda asal Maluku yang lahir di sebuah kampung nelayan kecil bernama Piru pada tanggal 12 Januari 1997. ia telah menerbitkan enam buah buku, serta memprakkarsai beberapa komunitas literasi lokal di Ambon, yakni Spot Bacarita, Ambon Book Party, dan Kedai Baca, serta pernah menjadi ketua umum di Forum Lingkar Pena Maluku. Candra atau yang biasa disapa dengan Senja Imrand ini senang sekali menulis dan membaca. Sampai saat ini ia ingin selalu mendedikasikan dirinya untuk menulis dan terus menulis.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co