Cerita Lama Sang Pengayah
PURA Dalem Bhatarateng merupakan pura ibu yang terletak di Desa Beringkit, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Catatan mengenai Pura Dalem Bhatarateng dalam bentuk prasasti dan sejenisnya tidak saya temukan. Namun cerita dari para tetua di kisaran tahun 1960-an sedikit memberi cahaya terang mengenai bagaimana keadaan Pura Dalem Bhatarateng sebelum seperti saat ini.
Pada tahun 2024 saya mencatat cerita dari seorang pengayah bernama Biang Bulan. Ia mengatakan dahulu Pura ini bernama Pura Dalem Suci. Kemudian suatu saat Desa Adat Beringkit mengikuti lomba desa, nama pura ini diubah menjadi Pura Dalem Bhatarateng. Namun sayang Biang Bulan tidak tahu apa alasan perubahan nama pura dan tanggal pasti perubahan nama tersebut.
Ingatan yang masih tersimpan rapi di kalbu Biang Bulan adalah aci tabuh rah yang rutin dilaksanakan ketika piodalan pada hari suci Buda Cemeng Klawu. Aci Tabuh Rah adalah persembahan dengan melaksanakan sabung ayam (tajen).
Kala itu sekitar tahun 1990-an saat piodalan berlangsung pedagang babi guling berjejer menjajakan dagangan mereka. Para pemain sabung ayam entah dari mana, datang untuk ikut menaruhkan ayam jagoan mereka. Sebagai jejaton atau persembahan, darah dari ayam yang kalah dihaturkan di altar pemujaan pelinggih utama Pura Dalem Bhatarateng. Selain itu, pelaksanaan aci tabuh rah juga menyumbangkan utpeti atau pajak dalam jumlah yang fleksibel kepada pihak pura.
Pelaksanaannya pun bukan hanya sebagai pelengkap upacara dan hiburan. Ia adalah simbolisasi kemenangan. Mengingat Pura Dalem Bhatarateng adalah tapak tilas terakhir dari ksatria sang Pangeran Buringkit (menurut cerita lisan dari para tetua). Sehingga keberanian melawan musuh adalah hal yang wajib bagi seorang ksatria. Hal tersebut mencerminkan jika menginginkan bendera kemenangan maka harus siap dengan darah kekalahan.
Selain mengenai pelaksaan yadnya, Biang Bulan pun sangat ingat mengenai pembangunan kori agung yang memisahkan antara nista mandala dan utama mandala. Kori agung itu dibangun secara gotong royong oleh para leluhur kami. Mereka mengumpulkan upah hasil ngedig (panen padi) saat musim panen di sawah.

Kori Agung Pura Dalem Bhatarateng setelah direstorasi | Sumber: Dokumentasi Panitia
Bahkan bahan bangunan pun mereka persiapkan secara patungan. Sebagian ada yang menyumbang bata, pasir, makanan, dan kebutuhan lainnya. Seorang penglingsir kami yang masih nyeneng saat ini menceritakan, pembangunannya dikomando oleh satu tukang dari daerah Sibang, sedangkan untuk tenaga lainnya semua disokong oleh krama pura.
Begitu kentalnya semangat ngayah mereka saat itu, tak pamerih sedikit pun kepada bantuan pemerintah yg cukup besar seperti saat ini. Mungkin menurut mereka selama kita menghaturkan hasil keringat kepada Ida Bhatara, selama itulah rejeki mereka akan terus mengalir.
Tetua lainnya mengungkapkan hal yang berbeda mengenai keberadaan Pura Dalem Bhatarateng di kisaran tahun 1960. Beliau hanya ingat upacara besar yakni karya Ngenteg Linggih pernah dilakukan sebelum peristiwa gestok. Saat itu kondisi pura masih sangat sederhana.
Atapanya terbuat dari daun ilalang kering. Cecandiannya berbahan batu bata merah. Perbaikan pura baru dapat dilaksanakan setelah Karya Ngenteg Linggih. Pembangunannya pun saat itu secara swadaya. Ada yang menyumbang batu bata, ijuk untuk atap serta pembangunannya dilakukan oleh seluruh pengempon pura.
Pahatan Sejarah Baru
Bertepatan dengan hari Buda Cemeng Klawu, 20 Agustus 2025, pangempon Pura Dalem Bhatarateng, Desa Adat Beringkit, Mengwi melaksanakan puncak Karya Ngenteg Linggih. Ngenteg linggih sendiri adalah upacara untuk menyempurnakan stana Ida Bhatara secara ritual.
Sebab tahun lalu telah dilaksanakan pemugaran total terhadap seluruh bangunan pelinggih, meliputi Palinggih Ibu, Palinggih Panca Rsi, Palinggih Ratu Ngurah, Bale Kulkul, Bale Gong, hingga restorasi kecil terhadap Kori Agung. Sehingga upaya penyeimbangan secara sekala-niskala perlu dilakukan. Pada tataran sakala wujud nyata melalui perbaikan telah rampung, sehingga penyempurnaan secara ritual untuk entitas yang tak terpikirkan pun wajib dilakukan.


Prosesi Puncak Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem Bhatarateng | Sumber Foto: Penulis
Sebelum Puncak Karya, masyarakat pengempon telah melaksanakan rangkaian yang panjang selama kurang lebih dua minggu. Rakaiannya pun beragam, seperti upacara Nyukat Karang Setra, Ngingsah, Mecaru rsi gana hingga Melasti di Pantai Seseh.
Panitia karya I Gusti Nyoman Ratnata mengungkapkan, antusisme masyarakat pangempon dalam mengikuti rangkaian acara sangat baik. Hal tersebut didasarkan atas komunikasi yang lancar antara panitia dan masyarakat. Sehingga masyarakat akan secara bergiliran untuk mohon ijin di tempat kerja untuk dapat mengikuti rangkaian upacara.
Pada setiap ritual hingga puncak karya dipuput oleh Ida Pedanda Gede Mandhara Putra Kekeran serta dibantu oleh Pemangku Kahyangan Tiga Desa Adat Beringkit. Sebelum upacara dimulai Ida Pedanda Gede Mandhara Putra Kekeran menjelaskan esensial palaksanaan upacara ngenteg linggih.
Ia menjelaskan bahwa ngenteg linggih bukan hanya menyempurnakan stana Hyang Widhi, namun yang terpenting masyarakat pangempon lebih sadar dan memiliki pikiran yang tajam dalam menyembah beliau. Sehingga dalam kehidupan senantiasa dianugrahi keselamatan dan keharmonisan.

Ida Pedanda Gede Mandhara Putra Kekeran saat melakukan puja di Pura Dalem Bhatarateng. Sumber Foto: Penulis
Upakara banten yang dihaturkan adalah pangenteg, panyegjeg, ngingkup, bebangun ayu dan berbagai banten pelengkap lainnya. Suasana saat upacara berlangsung ramai dan riuh. Puja dari Ida Sulinggih diikuti oleh Puja Sang Arjuna Kepada Bhatara Siwa dari lantunan Kakawin Arjuna Wiwaha oleh Sekha Santhi. Iringan semakin bergemuruh ketika Sekha Gong menabuh seluruh alat musik mereka. Suara kulkul bersahutan, Pangenter parikrama (MC) memandu upacara dengan pelantang suara.


Prosesi Puncak Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem Bhatarateng | Sumber Foto: Penulis
Suasana kedamaian dalam keriuhan sangat terasa saat itu. Karya Ngenteg Linggih bukan saja upaya untuk menyempurnakan linggih sang entitas yang maha gaib. Namun ia menyemai pesan penting kepada para manusia. Bahwa kesempurnaan dan kesadaran sangat diperlukan dalam kehidupan. Ia diperlukan dalam setiap aspek bukan saja saat memuja.
Setelah nyejer selama tiga hari, tepat pada hari sabtu, 23 Agustus 2025 dilaksanakan upacara makebat daun dan nyenuk. Menurut Ida Padanda Gede Mandhara Putra Kekeran tujuan dari upacara makebat daun adalah untuk memohon kerahayuan dan kesejahteraan, kebat bermakna memohon dan daun bermakna tangan.
Sedangkan upacara nyenuk memohon kehadapan Bhatara Bhatari agar berkenan jenek atau bersetana di Pura Dalem Bhatarateng. Dengan berakhirnya upacara nyenuk maka seluruh rangkaian Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem Bhatarateng selesai dengan sampurna.
Tidak ada yang harus dalam Agama Hindu. Kemampuan dan keiklasan hendaknya menjadi dasar ketika melaksanakan yadnya. Sebab yadnya hanya dikatakan satwika ketika dilaksanakan secara damai. [T]
Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























