SEBETULNYA mudah sekali memahami betapa pentingnya hubungan baik antara dokter dan pasien itu. Ini didasari oleh kepentingan yang sama yaitu mewujudkan suatu kesembuhan. Kesembuhan yang diharapka oleh pasien dan keluarganya, pun kesembuhan yang didambakan oleh dokter dan RS. Pasien ingin keluar dari penderitaan sakitnya dan dokter punya tanggung jawab profesional untuk memberi kesembuhan kepada pasiennya. Pasien dapat kembali hidup sehat dan produktif, termasuk rasa percaya diri yang pulih, sementara kepuasan serta rasa bangga diraih oleh dakter dan RS memperoleh citra positif.
Dari prinsip-prinsip yang sudah sedemikian nyata dan lugas tersebut, maka tiada pilihan selain dokter dan pasien harus rukun, solid dan kolaboratif. Tentunya dengan dukungan keluarga pasien dan manajemen RS di mana dokter tersebut bekerja. RS, dokter dan nakes dengan pasien dan keluarganya adalah sebuah team work. Tim yang punya spirit dan motivasi kuat bergerak kearah yang sama, menuju suatu kesembuhan. Namun mengapa belakangan ini kerap kali terjadi konflik dan benturan antara dokter dan RS dengan pasien dan keluarganya, alih-alih kompak bersatu?
Ada sebuah konsep paling mendasar yang harus dipahami oleh pasien serta keluarganya dan dokter. Konsep itu adalah kesepakatan upaya maksimal, setinggi-tingginya, antara dokter dan RS dengan pasien dan keluarga dalam proses pengobatan yang akan dijalani pasien. Jadi bukan kesepakatan untuk mencapai kesembuhan. Melainkan sekali lagi, sebuah kesepakatan upaya. Sudah barang tentu dokter dan RS wajib berusaha semaksimal mungkin dalam memberikan prosedur pelayanan medis kepada pasien yang dirawat. Sarana terbaik yang tersedia serta SDM dokter maupun nakes yang paling kompeten dan profesional di RS tersebut.
Bahkan jika perlu, menerapkan prosedur rujukan ke RS lebih lengkap bila ada indikasi medis yang kuat. Demikian pula pasien dan keluarganya, harus betul-betul memahami prinsip kesepakatan upaya tersebut. Mencapai kesembuhan adalah harapan setiap pasien. Namun kesembuhan dan kematian sepenuhnya kuasa Tuhan. Maka pasien dan keluarga mesti ikhlas menerima apapun hasil terapi dokter, jika itu telah dilakukan dengan maksimal.
Konflik dokter pasien sesungguhnya tidak banyak disebabkan oleh faktor teknis medis belaka. Perselisihan dokter dan pasien, bahkan hingga tindakan fisik, lebih banyak disebabkan oleh karena faktor komunikasi. Ini merupakan area yang sangat rentan dan krusial mengingat dokter dan pasien berada pada level literasi yang berbeda soal medis. Kemudahan mengakses media di bidang apapun, termasuk medis, hingga AI, bukannya menjembatani kesenjangan literasi medis dokter dan pasien. Kontraproduktif, justru sering memperdalam jurang persepsi dokter dengan pasiennya.
Pasien yang tidak memiliki latar belakang komprehensif terkait teori medis, kadang tiba-tiba merasa pintar hanya dengan sekali baca. Pengetahuan yang tergesa-gesa tersebut akhirnya berhadapan dengan sikap para dokter yang kadang juga terlalu konservatif dan kaku. Seakan kebenaran sepenuhnya ada dalam genggaman mereka, yang memang telah digalinya bahkan sampai belasan tahun, dalam proses pendidikan yang tak mudah.
Di era kemudahan informasi ini, sudah saatnya para dokter membuka diri dan menyediakan waktu lebih banyak melayani pasien maupun keluarganya yang tiba-tiba pintar karena Chat GPT atau platform AI yang lain. Sikap luwes dan apresiatif dalam berkomunikasi justru memberikan tempat bagi para dokter pada posisi yang lebih terhormat di hati pasien dan keluarganya. Bukannya justru menurunkan kredibilitas maupun kapasitas seorang dokter. Ingat, kehebatan apapun AI saat ini dan kedepannya, itu takkan mampu menggantikan relasi batiniah dokter dengan pasien.
Semakin rendah hati, semakin positif sikap seorang dokter kepada pasien dan keluarganya, itu sudah merupakan suatu terapi awal yang sangat efektif dan investasi di kemudian hari terkait apapun hasil terapi yang diberikan. Saat pasien dan keluarga tetap mengucapkan terimakasih meski hasil terapi tidak sesuai dengan yang diharapakan, itu adalah sebuah investasi. Maka gedung RS yang nyaman, sarana medis yang modern, SDM yang kompeten takkan berarti apa-apa, tanpa hubungan baik dengan pasien dan keluarganya.
Untuk sebuah kesembuhan, seorang pasien perlu menjadi pasien yang baik. Sikap baik pasien dapat menjadi salah satu prediktor untuk kesembuhannya. Baik tidkak hanya dalam hal Ikhlas menerima sakit yang diderita saat ini dan gigih menjalani pengobatan, namun baik dalam menjaga hubungan dengan dokter dan nakes yang merawat.
Bagaimana mungkin, para nakes akan melayani dengan baik setipa hari jika pasien dan keluarganya misalnya merasa lebih pintar dan kuasa. Mengintervensi terapi hanya karena informasi dari Chat GPT atau menuntut keistimewaan dengan memanfaatkan orang dalam atau para pejabat yang kebetulan adalah sahabat atau kerabatnya.
Percayalah, cara-cara itu takkan bermanfaat. Sama halnya dengan sikap yang harus diacu oleh seorang dokter, sikap itu pun harus diterapkan oleh para pasien, yaitu sikap rendah hati. Secara alamiah, sikap tersebut akan menyatukan dokter dan pasiennya untuk solid melawan satu musuh bersama yaitu diagnosis penyakit. [T]
Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole
Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA


























