13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendekatan Diferensiasi dalam Pembelajaran Sastra Daerah

Komang Sujana by Komang Sujana
August 17, 2025
in Esai
Pendekatan Diferensiasi dalam Pembelajaran Sastra Daerah

RUANG sastra daerah di sekolah sempit dan redup. Menurut Hidayat (2009) pembelajaran sastra daerah bersifat aktif reseptif karena siswa tidak dapat membaca karya sastra dengan benar apalagi diajari menulis. Pembelajaran bahasa, aksara, dan sastra Bali misalnya, dianggap membosankan, tidak menarik dan tidak produktif. Wayan Artika (2024) menyatakan pelajaran bahasa Bali sebagai kuliah-kuliah linguistik yang berat, hafalan, dan tidak fungsional. Buku-buku pelajaran bahasa Bali sama sekali tidak didukung oleh literasi sastra. Seperti itulah pendapat para pegiat sastra yang mencerminkan kondisi pembelajaran bahasa dan sastra daerah saat ini.

Namun, harus diakui juga pembelajaran bahasa dan sastra daerah yang aktif, produktif, dan menyenangkan di sekolah di tengah gempuran era digital dan perubahan zaman memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk diwujudkan. Jika pembelajaran dilaksanakan secara berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan, niscaya sastra daerah akan menguar dari jendela dan pintu kelas.

Hasil belajar siswa berupa cerita bergambar dengan pendekatan diferensiasi. Luh Suci Armini Putri sebagai Penulis Cerita dan Kadek Wiwin Riska Ariyani sebagai ilustrator

Tidak semua siswa memiliki minat dan bakat menulis karya sastra. Jika semua siswa diharapkan menghasilkan karya sastra berupa puisi atau cerita di akhir pembelajaran, maka ini tentu sulit untuk direalisasikan. Sebagaimana kata Ki Hadjar Dewantara, setiap murid memiliki potensi yang unik. Dengan ini keberagaman kelas adalah keniscayaan, juga tantangan sekaligus kekayaan. Jika pada akhirnya hasil atau produk belajar itu harus dipaksakan seragam, maka pembelajaran tidak memberikan kesempatan siswa untuk berkembang. Kemampuan siswa tidak dihargai. Alih-alih produktif, pembelajaran sastra malah menjadi pasif.

Siswa asyik menggambar padahal guru sedang menjelaskan materi ajar. Fenomena ini tak jarang dijumpai di ruang-ruang kelas. Salah satu bukti keragaman kelas yang sering tak disadari. Perilaku seperti ini dianggap kurang sopan hingga guru akhirnya memberikan teguran. Apakah guru salah mengingatkan siswanya agar fokus belajar tidak hilang? Tentu tidak. Akan tetapi, setelah itu, yang perlu direfleksi bersama adalah kekayaan kelas ini luput dari pemberdayaan sehingga pembelajaran menjadi tidak membahagiakan siswa karena tidak sejalan dengan kebutuhan belajarnya.

Lantas bagaimana sebaiknya pembelajaran sastra daerah dilaksanakan di ruang kelas yang unik agar tetap produktif?

Pendekatan diferensiasi memberikan kesempatan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan melalui berbagai bentuk sumber belajar (diferensiasi konten), memahami materi melalui berbagai aktivitas pembelajaran (diferensiasi proses), dan menunjukkan apa yang mereka pahami lewat berbagai bentuk (diferensiasi produk).

Pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran sastra daerah adalah upaya menciptakan pembelajaran sastra yang diselaraskan dengan kebutuhan belajar siswa. Selain menggunakan sumber belajar cetak, sejalan dengan kodrat zaman perlu juga memanfaatkan sumber belajar digital, seperti kamus bahasa daerah daring, buku nonteks digital, dan video. Agar lebih menarik minat belajar siswa perlu difasilitasi sumber belajar yang sesuai dengan kemampuan awal, konteks lingkungan dan budayanya.

Modifikasi atau penyelarasan aktivitas pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. Pendekatan pembelajaran berkelompok ini dapat membantu siswa untuk menguasai pengetahuan faktual juga aplikatif sejalan dengan teori konstruktivisme sosial. Psikolog Rusia, Lev Vygotsky menyatakan bahwa pengetahuan dikonstruksi melalui interaksi sosial.

Pengelompokan perlu dilakukan secara fleksibel. Menurut Imelda Hutapea (dalam Shibab, 2016) pengelompokan yang kaku tanpa usaha meningkatkan kemampuan pelajar adalah miskonsepsi diferensiasi. Bekerja sama dengan pelajar yang berlainan baik dari segi minat dan kesiapan memberikan kesempatan menguasai strategi belajar baru dan memperdalam apa yang telah dimilikinya.

Pembelajaran berbasis teks—menjadikan teks sebagai pusat kegiatan belajar—juga dapat digunakan untuk memodifikasi proses pembelajaran sastra. Aktivitas pembelajarannya, yaitu pemodelan teks, bekerja sama membangun teks, membangun teks secara mandiri, (Knapp dan Watkins, dalam Mahsun (2014:115). Guru menunjukkan teks sastra yang relevan dengan konteks siswa serta menjelaskan bagaimana teks itu dibangun (pemodelan). Siswa dalam kelompok belajar bersama untuk menulis karya sastra (bekerja sama membangun teks). Siswa menerapkan pengetahuan yang telah diketahui untuk mencipta teks secara mandiri (membangun teks secara mandiri).

Dalam pembelajaran menulis puisi misalnya, merujuk buku Pedoman Model Pembelajaran Bahasa Bali Tingkat SMP (Balai Bahasa Provinsi Bali, 2022) dapat digunakan model pembelajaran mind mapping dengan langkah-langkah, yaitu menentukan tema puisi, mencari kata-kata yang akan digunakan sebagai kata kunci, merumuskan menjadi kalimat, menyusun kalimat ke dalam baris-baris puisi, menghias, dan finishing.

Juga model pembelajaran pengamatan objek sekitar (POS) dengan langkah-langkah, yaitu keluar dari lingkungan keseharian, misalnya ke pasar, sungai, atau tempat apapun yang ada di sekitar, mencatat hal-hal menarik yang ditemui dalam pengamatan, menentukan hal yang akan ditulis/topik, dan menulis puisi berdasarkan hasil pengamatan.

Modifikasi produk dapat berupa hasil belajar yang selaras dengan minat dan bakatnya. Hasil belajar tidak selalu dalam bentuk teks puisi atau cerita, tetapi bisa dalam bentuk gambar, musikalisasi puisi, teks ulasan, komik, pembacaan puisi, dan lain sebagainya.

Pada tahun ajaran 2021/2022 dan 2022/2023, saya pernah mengajak siswa untuk belajar menulis puisi Bali modern. Semua siswa memang berhasil menulis, tetapi karena perbedaan minat dan bakat tidak semua mampu menunjukkan hasil karya puisi yang maksimal, hanya 12 siswa dari 120-an siswa. Walaupun demikian, saya sangat mengapresiasi usaha keras siswa untuk tetap belajar menulis.

Produk kolaborasi cerita bergambar berjudul I Moka karya Ni Luh Pebri Ani Suwarnisi sebagai penulis cerita dan Komang Andini Pradnyadewi sebagai ilustrator

Beberapa puisi-puisi terpilih sempat dimuat di majalah Suara Saking Bali—majalah daring berbahasa Bali yang memuat karya sastra berbahasa Bali. Berkat dukungan Kepala SMPN 2 Sawan, Ni Nyoman Kartikawati, S.Pd., karya-karya terpilih dari siswa tersebut kemudian diterbitkan dalam satu buku antologi Nyurat Rasa Ngupapira Basa (Pustaka Ekspresi, 2023). Publikasi karya di media digital dan dalam bentuk buku dapat memotivasi semangat belajar dan menginspirasi siswa yang lain.

Kemudian pada tahun ajaran 2024/2025, saya meninjau kembali implementasi diferensiasi produk dalam pembelajaran sastra. Siswa diberikan kebebasan untuk mengekspresikan hasilnya belajarnya tidak hanya dengan satu jenis produk. Hasilnya di luar ekspektasi. Ada siswa yang menunjukkan hasil belajarnya dengan bercerita. Ada juga siswa yang menulis cerita, siswa yang lain mengalihwahanakannya dalam bentuk gambar. Jadilah kemudian produk belajar berupa cerita bergambar.

Pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran sastra dapat menciptakan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa. Keragaman potensi siswa yang terfasilitasi menjadikan pembelajaran kaya hasil belajar. Namun, tantangannya adalah diperlukan waktu yang tak sedikit bagi guru untuk memberikan umpan balik yang relevan, apalagi produk belajar siswa yang beragam.

Apakah implementasi pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran sastra ini PR bagi guru? Iya, pembelajaran berdiferensiasi itu ribet atau rumit. Namun, orang bijak mengatakan bahwa tantangan adalah peluang. Kesulitan pembelajaran niscaya akan teratasi—tumbuh berkembang menjadi kesuksesan—jika guru senantiasa merefleksi diri, berdiskusi, dan berkolaborasi. [T]

Sumber bacaan:

  • Artika, I Wayan. (2024). Guru Bahasa Bali “Pengawi” : Kata Pengantar Buku Antologi Puisi ”Gita Rasmi Sancaya” Karya I Putu Wahya Santosa. Diakses 6 Agustus 2025 dari https://tatkala.co/2024/02/14/guru-bahasa-bali-pengawi-kata-pengantar-buku-antologi-puisi-gita-rasmi-sancaya-karya-i-putu-wahya-santosa/
  • Hidayat, A. (2009). Pembelajaran Sastra di Sekolah. INSANIA: Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 14 (2), 221-230.
  • Mahsun, (2014). Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Putra, Ida Bagus Rai, dkk. (2022). Pedoman Model Pembelajaran Bahasa Bali Tingkat SMP. Denpasar: Balai Bahasa Provinsi Bali.
  • Shihab, Najelaa, dkk. (2016). Diferensiasi Memahami Pelajar untuk Belajar Bermakna & Menyenangkan. Tangerang: Literati.

Penulis: Komang Sujana
Editor: Adnyana Ole

Merebak Ruang Sastra Daerah di Sekolah — Catatan dari Seminar Kesusastraan Daerah di Bandung
Puisi-puisi Komang Sujana | Di Binar Matamu
Membaca, Menulis, dan Kesadaran: Modal Menjadi Pemimpin Pembelajaran
Pembelajaran Sastra Inovatif Berbasis Teknologi Pendidikan Sebagai Strategi Revitalisasi Bahasa Daerah, Penguatan Literasi dan Karakter
Tags: Pendidikansastrasastra sekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Next Post

Mencegah Konflik Dokter Pasien

Komang Sujana

Komang Sujana

Guru SMP Negeri 2 Sawan. Suka menulis puisi Bali. Biasa jadi komentar dalam turnamen bola voli

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Mencegah Konflik Dokter Pasien

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co