12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendekatan Diferensiasi dalam Pembelajaran Sastra Daerah

Komang Sujana by Komang Sujana
August 17, 2025
in Esai
Pendekatan Diferensiasi dalam Pembelajaran Sastra Daerah

RUANG sastra daerah di sekolah sempit dan redup. Menurut Hidayat (2009) pembelajaran sastra daerah bersifat aktif reseptif karena siswa tidak dapat membaca karya sastra dengan benar apalagi diajari menulis. Pembelajaran bahasa, aksara, dan sastra Bali misalnya, dianggap membosankan, tidak menarik dan tidak produktif. Wayan Artika (2024) menyatakan pelajaran bahasa Bali sebagai kuliah-kuliah linguistik yang berat, hafalan, dan tidak fungsional. Buku-buku pelajaran bahasa Bali sama sekali tidak didukung oleh literasi sastra. Seperti itulah pendapat para pegiat sastra yang mencerminkan kondisi pembelajaran bahasa dan sastra daerah saat ini.

Namun, harus diakui juga pembelajaran bahasa dan sastra daerah yang aktif, produktif, dan menyenangkan di sekolah di tengah gempuran era digital dan perubahan zaman memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk diwujudkan. Jika pembelajaran dilaksanakan secara berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan, niscaya sastra daerah akan menguar dari jendela dan pintu kelas.

Hasil belajar siswa berupa cerita bergambar dengan pendekatan diferensiasi. Luh Suci Armini Putri sebagai Penulis Cerita dan Kadek Wiwin Riska Ariyani sebagai ilustrator

Tidak semua siswa memiliki minat dan bakat menulis karya sastra. Jika semua siswa diharapkan menghasilkan karya sastra berupa puisi atau cerita di akhir pembelajaran, maka ini tentu sulit untuk direalisasikan. Sebagaimana kata Ki Hadjar Dewantara, setiap murid memiliki potensi yang unik. Dengan ini keberagaman kelas adalah keniscayaan, juga tantangan sekaligus kekayaan. Jika pada akhirnya hasil atau produk belajar itu harus dipaksakan seragam, maka pembelajaran tidak memberikan kesempatan siswa untuk berkembang. Kemampuan siswa tidak dihargai. Alih-alih produktif, pembelajaran sastra malah menjadi pasif.

Siswa asyik menggambar padahal guru sedang menjelaskan materi ajar. Fenomena ini tak jarang dijumpai di ruang-ruang kelas. Salah satu bukti keragaman kelas yang sering tak disadari. Perilaku seperti ini dianggap kurang sopan hingga guru akhirnya memberikan teguran. Apakah guru salah mengingatkan siswanya agar fokus belajar tidak hilang? Tentu tidak. Akan tetapi, setelah itu, yang perlu direfleksi bersama adalah kekayaan kelas ini luput dari pemberdayaan sehingga pembelajaran menjadi tidak membahagiakan siswa karena tidak sejalan dengan kebutuhan belajarnya.

Lantas bagaimana sebaiknya pembelajaran sastra daerah dilaksanakan di ruang kelas yang unik agar tetap produktif?

Pendekatan diferensiasi memberikan kesempatan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan melalui berbagai bentuk sumber belajar (diferensiasi konten), memahami materi melalui berbagai aktivitas pembelajaran (diferensiasi proses), dan menunjukkan apa yang mereka pahami lewat berbagai bentuk (diferensiasi produk).

Pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran sastra daerah adalah upaya menciptakan pembelajaran sastra yang diselaraskan dengan kebutuhan belajar siswa. Selain menggunakan sumber belajar cetak, sejalan dengan kodrat zaman perlu juga memanfaatkan sumber belajar digital, seperti kamus bahasa daerah daring, buku nonteks digital, dan video. Agar lebih menarik minat belajar siswa perlu difasilitasi sumber belajar yang sesuai dengan kemampuan awal, konteks lingkungan dan budayanya.

Modifikasi atau penyelarasan aktivitas pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. Pendekatan pembelajaran berkelompok ini dapat membantu siswa untuk menguasai pengetahuan faktual juga aplikatif sejalan dengan teori konstruktivisme sosial. Psikolog Rusia, Lev Vygotsky menyatakan bahwa pengetahuan dikonstruksi melalui interaksi sosial.

Pengelompokan perlu dilakukan secara fleksibel. Menurut Imelda Hutapea (dalam Shibab, 2016) pengelompokan yang kaku tanpa usaha meningkatkan kemampuan pelajar adalah miskonsepsi diferensiasi. Bekerja sama dengan pelajar yang berlainan baik dari segi minat dan kesiapan memberikan kesempatan menguasai strategi belajar baru dan memperdalam apa yang telah dimilikinya.

Pembelajaran berbasis teks—menjadikan teks sebagai pusat kegiatan belajar—juga dapat digunakan untuk memodifikasi proses pembelajaran sastra. Aktivitas pembelajarannya, yaitu pemodelan teks, bekerja sama membangun teks, membangun teks secara mandiri, (Knapp dan Watkins, dalam Mahsun (2014:115). Guru menunjukkan teks sastra yang relevan dengan konteks siswa serta menjelaskan bagaimana teks itu dibangun (pemodelan). Siswa dalam kelompok belajar bersama untuk menulis karya sastra (bekerja sama membangun teks). Siswa menerapkan pengetahuan yang telah diketahui untuk mencipta teks secara mandiri (membangun teks secara mandiri).

Dalam pembelajaran menulis puisi misalnya, merujuk buku Pedoman Model Pembelajaran Bahasa Bali Tingkat SMP (Balai Bahasa Provinsi Bali, 2022) dapat digunakan model pembelajaran mind mapping dengan langkah-langkah, yaitu menentukan tema puisi, mencari kata-kata yang akan digunakan sebagai kata kunci, merumuskan menjadi kalimat, menyusun kalimat ke dalam baris-baris puisi, menghias, dan finishing.

Juga model pembelajaran pengamatan objek sekitar (POS) dengan langkah-langkah, yaitu keluar dari lingkungan keseharian, misalnya ke pasar, sungai, atau tempat apapun yang ada di sekitar, mencatat hal-hal menarik yang ditemui dalam pengamatan, menentukan hal yang akan ditulis/topik, dan menulis puisi berdasarkan hasil pengamatan.

Modifikasi produk dapat berupa hasil belajar yang selaras dengan minat dan bakatnya. Hasil belajar tidak selalu dalam bentuk teks puisi atau cerita, tetapi bisa dalam bentuk gambar, musikalisasi puisi, teks ulasan, komik, pembacaan puisi, dan lain sebagainya.

Pada tahun ajaran 2021/2022 dan 2022/2023, saya pernah mengajak siswa untuk belajar menulis puisi Bali modern. Semua siswa memang berhasil menulis, tetapi karena perbedaan minat dan bakat tidak semua mampu menunjukkan hasil karya puisi yang maksimal, hanya 12 siswa dari 120-an siswa. Walaupun demikian, saya sangat mengapresiasi usaha keras siswa untuk tetap belajar menulis.

Produk kolaborasi cerita bergambar berjudul I Moka karya Ni Luh Pebri Ani Suwarnisi sebagai penulis cerita dan Komang Andini Pradnyadewi sebagai ilustrator

Beberapa puisi-puisi terpilih sempat dimuat di majalah Suara Saking Bali—majalah daring berbahasa Bali yang memuat karya sastra berbahasa Bali. Berkat dukungan Kepala SMPN 2 Sawan, Ni Nyoman Kartikawati, S.Pd., karya-karya terpilih dari siswa tersebut kemudian diterbitkan dalam satu buku antologi Nyurat Rasa Ngupapira Basa (Pustaka Ekspresi, 2023). Publikasi karya di media digital dan dalam bentuk buku dapat memotivasi semangat belajar dan menginspirasi siswa yang lain.

Kemudian pada tahun ajaran 2024/2025, saya meninjau kembali implementasi diferensiasi produk dalam pembelajaran sastra. Siswa diberikan kebebasan untuk mengekspresikan hasilnya belajarnya tidak hanya dengan satu jenis produk. Hasilnya di luar ekspektasi. Ada siswa yang menunjukkan hasil belajarnya dengan bercerita. Ada juga siswa yang menulis cerita, siswa yang lain mengalihwahanakannya dalam bentuk gambar. Jadilah kemudian produk belajar berupa cerita bergambar.

Pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran sastra dapat menciptakan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa. Keragaman potensi siswa yang terfasilitasi menjadikan pembelajaran kaya hasil belajar. Namun, tantangannya adalah diperlukan waktu yang tak sedikit bagi guru untuk memberikan umpan balik yang relevan, apalagi produk belajar siswa yang beragam.

Apakah implementasi pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran sastra ini PR bagi guru? Iya, pembelajaran berdiferensiasi itu ribet atau rumit. Namun, orang bijak mengatakan bahwa tantangan adalah peluang. Kesulitan pembelajaran niscaya akan teratasi—tumbuh berkembang menjadi kesuksesan—jika guru senantiasa merefleksi diri, berdiskusi, dan berkolaborasi. [T]

Sumber bacaan:

  • Artika, I Wayan. (2024). Guru Bahasa Bali “Pengawi” : Kata Pengantar Buku Antologi Puisi ”Gita Rasmi Sancaya” Karya I Putu Wahya Santosa. Diakses 6 Agustus 2025 dari https://tatkala.co/2024/02/14/guru-bahasa-bali-pengawi-kata-pengantar-buku-antologi-puisi-gita-rasmi-sancaya-karya-i-putu-wahya-santosa/
  • Hidayat, A. (2009). Pembelajaran Sastra di Sekolah. INSANIA: Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 14 (2), 221-230.
  • Mahsun, (2014). Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Putra, Ida Bagus Rai, dkk. (2022). Pedoman Model Pembelajaran Bahasa Bali Tingkat SMP. Denpasar: Balai Bahasa Provinsi Bali.
  • Shihab, Najelaa, dkk. (2016). Diferensiasi Memahami Pelajar untuk Belajar Bermakna & Menyenangkan. Tangerang: Literati.

Penulis: Komang Sujana
Editor: Adnyana Ole

Merebak Ruang Sastra Daerah di Sekolah — Catatan dari Seminar Kesusastraan Daerah di Bandung
Puisi-puisi Komang Sujana | Di Binar Matamu
Membaca, Menulis, dan Kesadaran: Modal Menjadi Pemimpin Pembelajaran
Pembelajaran Sastra Inovatif Berbasis Teknologi Pendidikan Sebagai Strategi Revitalisasi Bahasa Daerah, Penguatan Literasi dan Karakter
Tags: Pendidikansastrasastra sekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Next Post

Mencegah Konflik Dokter Pasien

Komang Sujana

Komang Sujana

Guru SMP Negeri 2 Sawan. Suka menulis puisi Bali. Biasa jadi komentar dalam turnamen bola voli

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Mencegah Konflik Dokter Pasien

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co