24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka 80 Tahun, Terjebak Penjajah Baru

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 17, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SETIAP tanggal 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan bangsa dengan cara yang khas dan hanya ada di Indonesia. Sebut saja balap karung sampai nyungsep, panjat pinang berminyak demi kipas angin, lomba makan kerupuk sampai mulut kering dan banyak lagi, yang penting aneh-aneh. Semua tertawa, semua terbahak dan  bersorak, saya juga. Tapi mungkin saking  kerasnya tawa kita, sampai lupa untuk mengkritisi tentang kemerdekaan itu sendiri.

Benar bahwa kita secara de facto dan de yure telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Tapi apakah kita sudah benar-benar merdeka, atau kita cuma ganti model penjajahan? Dulu kakek nenek menghadapi tank dan moncong senapan, sekarang  kita menghadapi tagihan pajak rupa-rupa, ancaman pengambilan tanah, kebijakan yang cuma menguntungkan segelintir elite, dan algoritma media sosial yang mengatur apa yang kita lihat dan pikirkan. Komplet pokoknya.

Nah, mari kita tengok sebentar sejarah 17-an. Tradisi perayaan kemerdekaan yang penuh lomba nyeleneh ini ternyata bukan murni hasil spontanitas rakyat. Ia lahir dari persilangan dua hal. Pertama  warisan pesta komunal Nusantara, yang sejak dulu sudah memiliki budaya merayakan panen, sedekah bumi, serta hajatan bersama;  dan yang kedua,  strategi politik negara yang melihat pesta rakyat sebagai cara ampuh memperkuat persatuan di kalangan masyarakat akar rumput.

Dari Rapat Raksasa ke Balap Karung

Sejarahnya begini. Tahun-tahun pertama kemerdekaan  sekitar 1945–1949, peringatan 17 Agustus itu nuansanya serius, politis, dan militan. Arsip surat kabar harian Merdeka edisi 18 Agustus 1946 mencatat bagaimana perayaan17-an kala itu lebih mirip konsolidasi revolusi.  Isinya adalah rapat raksasa, pidato pembakar semangat, pawai obor, hingga defile pemuda bersenjata bambu runcing.

Tidak ada balap karung apalagi lomba make up suami dengan ditutup matanya, dan yang nonton tertawa geli sampai nangis. Baru di awal 1950-an, ketika republik kita mulai stabil pasca pengakuan kedaulatan, barulah unsur hiburan rakyat mulai masuk. Koran Harian Rakjat  tanggal 17 Agustus 1953, pada beritanya memuat foto anak-anak di Lapangan Banteng berlari dalam karung goni.  Nah, momen inilah sepertinya yang bisa dibilang sebagai awal mula “olahraga resmi” 17 Agustusan.

Era Orde Barunya Pak Harto yang berlangsung dari 1966–1998,  menjadi puncak standarisasi lomba 17-an. Pemerintah kala itu mendorong tiap RT, sekolah, kantor, dan pabrik untuk  menggelar lomba dengan nuansa guyub rukun sekalian juga mengirim pesan,  inilah wajah persatuan Indonesia. TVRI, stasiun siaran televisi satu-satunya di negara kita waktu itu juga menyiarkan lomba panjat pinang dan balap karung sebagai tontonan nasional. Menurut Kitley, dalam bukunya, Television, Nation, and Culture in Indonesia (2000), banyak lomba yang sekarang kita anggap “tradisi leluhur” sebenarnya baru dibakukan di periode Orde Baru ini.

Lomba sebagai Pendidikan Politik Terselubung

Kalau kita bedah secara mendalam, lomba-lomba ini sebenarnya bukan sekadar lucu-lucuan. Sebenarnya lomba-lomba lucu ini semacam pendidikan politik yang dikemas dalam karnaval. Ada beberapa hal yang bisa kita temukan di sana berkaitan dengan pendidikan politik tersebut. Salah satunya adalah kohesi sosial, di mana dalam lomba-lomba ini  orang di kampung dari latar berbeda dipakasa untuk bekerja sama atau berkompetisi sehat. Ini membentuk social bonding (Putnam, 2000) yang krusial untuk ketahanan komunitas.

Ditemukan juga ruang simbolik demokrasi, di mana ada kesepakatan aturan, ada kompetisi, ada kesepakatan penghargaan untuk yang menang, jadi ini semacam miniatur demokrasi yang tanpa sadar dipraktikkan oleh warga +62. Lomba 17-an juga menjadi ritus kolektif, yang dalam kacamata Émile Durkheim, bisa disebut sebagai semacam upacara dan pesta massal yang akan memperkuat solidaritas mekanis. Suatu bentuk persatuan berbasis kesamaan pengalaman, yang diulang tiap tahun. 

Bahkan panjat pinang dapat menjadi pelajaran kolektif bahwa hadiah, yang seringkali merupakan barang-barang kekinian,  bisa diraih namun butuh kerja sama, jalannya licin, dan kadang harus berkorban demi kelancaran orang lain yang sama-sama berjuang di atas. Balap karung juga menjadi simbol bahwa perjalanan menuju tujuan, kadang dibatasi langkah terbatas yang membuat kita terhuyung-huyung.  Sementara tarik tambang adalah narasi paling sederhana utnuk memahami arti kekuatan kekompakan, persatuan dan kerjasama.

Merayakan Esensi Kemerdekaan, Bukan Sekadar Masa Lalu

Masalahnya, makna kemerdekaan yang kita rayakan seringkali berhenti di titik momen 1945. Padahal, bentuk penjajahan sekarang lebih licin dari tiang panjat pinang. Penjajahan baru yang datang tanpa senapan, tapi membuat rakyat tertekan dan sulit bergerak bebas dalam kehidupan. Tengok saja dari sisi ekonomi, di mana kita memiliki  ketergantungan besar pada impor pangan, pada utang luar negeri, dan investasi asing yang buntutnya menguras sumber daya Indonesia.

Dari sisi budaya, arus budaya global yang kuat  membuat kita minder dengan karya sendiri. Di sisi politik, sepertinya semua kita sudah pada paham, bagaimana wajah oligarki akut di negara kita membatasi ruang partisipasi rakyat. Semua itu kemudian membuat bangsa kita punya mental  inferioritas, konsumtif, dan apatis di mana warga tidak lagi merasa berdaya.  Itulah sebabnya, setiap perayaan kemerdekaan seharusnya juga jadi ajang evaluasi, apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam berpikir, merdeka dalam menentukan kebijakan sendiri, dan merdeka dalam mengelola kekayaan negeri kita sendiri.

Tiap tahun saya mengikuti renungan malam tasyakuran di RT, isinya kembali mengingatkan tentang bagaimana perjuangan para kakek dan nenek moyang berjuang saat jaman penjajahan dulu. Ya memang tentu hal itu harus diajarkan. Jangan ditinggalkan. Namun jangan kemudian hanya berhenti di situ, karena buat generasi yang lahir tahun 2000-an, kolonialisme fisik adalah bab sejarah yang seringkali tidak menyentuh pengalaman hidup mereka.

Kesadaran tentang penjajahan harus diupdate sesuai zaman. Karena tanpa reinterpretasi, 17 Agustus bisa terasa hambar, sekadar lomba memukul plastik isi air, dan bukan lagi momen perjuangan. Padahal peringatan 17 Agustus mestinya adalah untuk mengobarkan kembali rasa syukur akan kemerdekaan,  semangat perjuangan, dan cinta tanah air.

Jadi dalam hemat saya, pesta rakyat macam lomba-lomba 17-an ini bisa dimanfaatkan untuk menanamkan pesan bahwa kemerdekaan adalah proyek yang tidak pernah selesai. Balap karung bukan cuma seru-seruan, tapi juga latihan menghadapi keterbatasan. Panjat pinang bukan cuma olahraga absurd, tapi juga metafora perjuangan kolektif. Dan yang terpenting, kesadaran bagi semua, bahwa  kemerdekaan harus dijaga dari segala bentuk penjajahan baru yang kadang,  justru kita undang sendiri lewat kebijakan yang salah arah.

Sebenarnya perayaan keerdekaan kita  ini luar biasa.  Bayangkan saja, sebuah pesta di seluruh penjuru negeri, yang bikin semua warga tertawa, berkeringat, dan bersorak,  tapi sekaligus menyelipkan latihan mental melawan penindasan. Itulah lomba 17-an. Durkheim mungkin akan bilang ini adalah bentuk collective effervescence, suatu momen ketika emosi bersama membentuk rasa persatuan. Sementara di sisi politik, ini adalah soft power di mana negara dan masyarakat sama-sama menjaga kesetiaan pada ide kemerdekaan, tapi tanpa paksaan yang formal.

Kerupuk Menggoda tapi Tetap Waspada

Perayaan 17 Agustus yang biasa kita lakukan, dengan segala lomba nyeleneh dan keseruannya, adalah gabungan unik antara tradisi komunal Nusantara, strategi politik negara, dan ruang edukasi warga.  Ia bisa jadi arena untuk membangun solidaritas, namun sekaligus menjadi sarana untuk memperluas makna kemerdekaan, dari sekadar bebas dari kolonialisme fisik, menuju kepada bebas dari segala bentuk penjajahan, termasuk segala bentuk penjajahan halus akibat ulah kita sendiri.

Maka, tahun ini, ketika Anda ikut lomba makan kerupuk mari sama-sama kita sadar dan ingat bahwa ini bukan sekadar soal kerupuk. Ini soal memastikan apakah kita semua masih punya gigi, yang bukan hanya untuk mengunyah kerupuk, tapi untuk merobek setiap bentuk penindasan, baik model lama maupun model baru. Baik dari luar maupun dari dalam. Merdeka..! Merdekaaa..!!! [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh
Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaankolonial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lokakarya “Cultural Heritage Digitization and Preservation”: Digitalisasi Museum Langkah Strategis

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co