24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka 80 Tahun, Terjebak Penjajah Baru

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 17, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SETIAP tanggal 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan bangsa dengan cara yang khas dan hanya ada di Indonesia. Sebut saja balap karung sampai nyungsep, panjat pinang berminyak demi kipas angin, lomba makan kerupuk sampai mulut kering dan banyak lagi, yang penting aneh-aneh. Semua tertawa, semua terbahak dan  bersorak, saya juga. Tapi mungkin saking  kerasnya tawa kita, sampai lupa untuk mengkritisi tentang kemerdekaan itu sendiri.

Benar bahwa kita secara de facto dan de yure telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Tapi apakah kita sudah benar-benar merdeka, atau kita cuma ganti model penjajahan? Dulu kakek nenek menghadapi tank dan moncong senapan, sekarang  kita menghadapi tagihan pajak rupa-rupa, ancaman pengambilan tanah, kebijakan yang cuma menguntungkan segelintir elite, dan algoritma media sosial yang mengatur apa yang kita lihat dan pikirkan. Komplet pokoknya.

Nah, mari kita tengok sebentar sejarah 17-an. Tradisi perayaan kemerdekaan yang penuh lomba nyeleneh ini ternyata bukan murni hasil spontanitas rakyat. Ia lahir dari persilangan dua hal. Pertama  warisan pesta komunal Nusantara, yang sejak dulu sudah memiliki budaya merayakan panen, sedekah bumi, serta hajatan bersama;  dan yang kedua,  strategi politik negara yang melihat pesta rakyat sebagai cara ampuh memperkuat persatuan di kalangan masyarakat akar rumput.

Dari Rapat Raksasa ke Balap Karung

Sejarahnya begini. Tahun-tahun pertama kemerdekaan  sekitar 1945–1949, peringatan 17 Agustus itu nuansanya serius, politis, dan militan. Arsip surat kabar harian Merdeka edisi 18 Agustus 1946 mencatat bagaimana perayaan17-an kala itu lebih mirip konsolidasi revolusi.  Isinya adalah rapat raksasa, pidato pembakar semangat, pawai obor, hingga defile pemuda bersenjata bambu runcing.

Tidak ada balap karung apalagi lomba make up suami dengan ditutup matanya, dan yang nonton tertawa geli sampai nangis. Baru di awal 1950-an, ketika republik kita mulai stabil pasca pengakuan kedaulatan, barulah unsur hiburan rakyat mulai masuk. Koran Harian Rakjat  tanggal 17 Agustus 1953, pada beritanya memuat foto anak-anak di Lapangan Banteng berlari dalam karung goni.  Nah, momen inilah sepertinya yang bisa dibilang sebagai awal mula “olahraga resmi” 17 Agustusan.

Era Orde Barunya Pak Harto yang berlangsung dari 1966–1998,  menjadi puncak standarisasi lomba 17-an. Pemerintah kala itu mendorong tiap RT, sekolah, kantor, dan pabrik untuk  menggelar lomba dengan nuansa guyub rukun sekalian juga mengirim pesan,  inilah wajah persatuan Indonesia. TVRI, stasiun siaran televisi satu-satunya di negara kita waktu itu juga menyiarkan lomba panjat pinang dan balap karung sebagai tontonan nasional. Menurut Kitley, dalam bukunya, Television, Nation, and Culture in Indonesia (2000), banyak lomba yang sekarang kita anggap “tradisi leluhur” sebenarnya baru dibakukan di periode Orde Baru ini.

Lomba sebagai Pendidikan Politik Terselubung

Kalau kita bedah secara mendalam, lomba-lomba ini sebenarnya bukan sekadar lucu-lucuan. Sebenarnya lomba-lomba lucu ini semacam pendidikan politik yang dikemas dalam karnaval. Ada beberapa hal yang bisa kita temukan di sana berkaitan dengan pendidikan politik tersebut. Salah satunya adalah kohesi sosial, di mana dalam lomba-lomba ini  orang di kampung dari latar berbeda dipakasa untuk bekerja sama atau berkompetisi sehat. Ini membentuk social bonding (Putnam, 2000) yang krusial untuk ketahanan komunitas.

Ditemukan juga ruang simbolik demokrasi, di mana ada kesepakatan aturan, ada kompetisi, ada kesepakatan penghargaan untuk yang menang, jadi ini semacam miniatur demokrasi yang tanpa sadar dipraktikkan oleh warga +62. Lomba 17-an juga menjadi ritus kolektif, yang dalam kacamata Émile Durkheim, bisa disebut sebagai semacam upacara dan pesta massal yang akan memperkuat solidaritas mekanis. Suatu bentuk persatuan berbasis kesamaan pengalaman, yang diulang tiap tahun. 

Bahkan panjat pinang dapat menjadi pelajaran kolektif bahwa hadiah, yang seringkali merupakan barang-barang kekinian,  bisa diraih namun butuh kerja sama, jalannya licin, dan kadang harus berkorban demi kelancaran orang lain yang sama-sama berjuang di atas. Balap karung juga menjadi simbol bahwa perjalanan menuju tujuan, kadang dibatasi langkah terbatas yang membuat kita terhuyung-huyung.  Sementara tarik tambang adalah narasi paling sederhana utnuk memahami arti kekuatan kekompakan, persatuan dan kerjasama.

Merayakan Esensi Kemerdekaan, Bukan Sekadar Masa Lalu

Masalahnya, makna kemerdekaan yang kita rayakan seringkali berhenti di titik momen 1945. Padahal, bentuk penjajahan sekarang lebih licin dari tiang panjat pinang. Penjajahan baru yang datang tanpa senapan, tapi membuat rakyat tertekan dan sulit bergerak bebas dalam kehidupan. Tengok saja dari sisi ekonomi, di mana kita memiliki  ketergantungan besar pada impor pangan, pada utang luar negeri, dan investasi asing yang buntutnya menguras sumber daya Indonesia.

Dari sisi budaya, arus budaya global yang kuat  membuat kita minder dengan karya sendiri. Di sisi politik, sepertinya semua kita sudah pada paham, bagaimana wajah oligarki akut di negara kita membatasi ruang partisipasi rakyat. Semua itu kemudian membuat bangsa kita punya mental  inferioritas, konsumtif, dan apatis di mana warga tidak lagi merasa berdaya.  Itulah sebabnya, setiap perayaan kemerdekaan seharusnya juga jadi ajang evaluasi, apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam berpikir, merdeka dalam menentukan kebijakan sendiri, dan merdeka dalam mengelola kekayaan negeri kita sendiri.

Tiap tahun saya mengikuti renungan malam tasyakuran di RT, isinya kembali mengingatkan tentang bagaimana perjuangan para kakek dan nenek moyang berjuang saat jaman penjajahan dulu. Ya memang tentu hal itu harus diajarkan. Jangan ditinggalkan. Namun jangan kemudian hanya berhenti di situ, karena buat generasi yang lahir tahun 2000-an, kolonialisme fisik adalah bab sejarah yang seringkali tidak menyentuh pengalaman hidup mereka.

Kesadaran tentang penjajahan harus diupdate sesuai zaman. Karena tanpa reinterpretasi, 17 Agustus bisa terasa hambar, sekadar lomba memukul plastik isi air, dan bukan lagi momen perjuangan. Padahal peringatan 17 Agustus mestinya adalah untuk mengobarkan kembali rasa syukur akan kemerdekaan,  semangat perjuangan, dan cinta tanah air.

Jadi dalam hemat saya, pesta rakyat macam lomba-lomba 17-an ini bisa dimanfaatkan untuk menanamkan pesan bahwa kemerdekaan adalah proyek yang tidak pernah selesai. Balap karung bukan cuma seru-seruan, tapi juga latihan menghadapi keterbatasan. Panjat pinang bukan cuma olahraga absurd, tapi juga metafora perjuangan kolektif. Dan yang terpenting, kesadaran bagi semua, bahwa  kemerdekaan harus dijaga dari segala bentuk penjajahan baru yang kadang,  justru kita undang sendiri lewat kebijakan yang salah arah.

Sebenarnya perayaan keerdekaan kita  ini luar biasa.  Bayangkan saja, sebuah pesta di seluruh penjuru negeri, yang bikin semua warga tertawa, berkeringat, dan bersorak,  tapi sekaligus menyelipkan latihan mental melawan penindasan. Itulah lomba 17-an. Durkheim mungkin akan bilang ini adalah bentuk collective effervescence, suatu momen ketika emosi bersama membentuk rasa persatuan. Sementara di sisi politik, ini adalah soft power di mana negara dan masyarakat sama-sama menjaga kesetiaan pada ide kemerdekaan, tapi tanpa paksaan yang formal.

Kerupuk Menggoda tapi Tetap Waspada

Perayaan 17 Agustus yang biasa kita lakukan, dengan segala lomba nyeleneh dan keseruannya, adalah gabungan unik antara tradisi komunal Nusantara, strategi politik negara, dan ruang edukasi warga.  Ia bisa jadi arena untuk membangun solidaritas, namun sekaligus menjadi sarana untuk memperluas makna kemerdekaan, dari sekadar bebas dari kolonialisme fisik, menuju kepada bebas dari segala bentuk penjajahan, termasuk segala bentuk penjajahan halus akibat ulah kita sendiri.

Maka, tahun ini, ketika Anda ikut lomba makan kerupuk mari sama-sama kita sadar dan ingat bahwa ini bukan sekadar soal kerupuk. Ini soal memastikan apakah kita semua masih punya gigi, yang bukan hanya untuk mengunyah kerupuk, tapi untuk merobek setiap bentuk penindasan, baik model lama maupun model baru. Baik dari luar maupun dari dalam. Merdeka..! Merdekaaa..!!! [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh
Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaankolonial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lokakarya “Cultural Heritage Digitization and Preservation”: Digitalisasi Museum Langkah Strategis

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co