6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni “Partisipatoris” atawa Sama Rasa Sama Rata

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 13, 2025
in Esai
Seni “Partisipatoris” atawa Sama Rasa Sama Rata

Kawan yang baik,

Engkau bertanya: “Apa maksudnya ketika orang bicara tentang metode partisipatoris dalam seni?”

Tentu artinya macam-macam. Tapi sebelum masuk ke pokok perkara, baiklah kita mundur sejenak untuk mengingat kembali perdebatan kuno ihwal benturan, pertentangan dan bahkan antagonisme antara seni sebagai pemenuhan tujuan-tujuan “individual” dengan seni untuk mencapai tujuan-tujuan “kolektif”.

Antara “kebenaran” seni pada dirinya sendiri versus “kebenaran” seni yang niscaya berkelindan dengan nilai-nilai sosial, antara tindak artistik sebagai realisasi diri individu otonom versus seni sebagai tindakan sosial, antara seni sebagai representasi dan respons atas “kenyataan” versus seni sebagai wahana untuk mengubah “kenyataan”.

Sebagaimana pernah aku katakan, sebagian orang percaya bahwa seni harus bebas sebebas-bebasnya dari segala perkara di luarnya dan tidak boleh tunduk kepada daya-daya impersonal apapun, termasuk ukuran moral dan agama. Sementara yang lain menegaskan bahwa seni dan seniman tidak jatuh dari langit atau menyembul dari batang pisang, tapi selalu berada di medan tarik-menarik relasi sosial tempatnya hidup.

.

Sebagian orang meyakini bahwa makna karya seni hanya dapat dinilai dari ukuran yang berlaku dalam seni itu sendiri, suatu makna swa-acu yang khusus, sementara yang lain percaya bahwa pencapaian tertinggi karya seni hanya dapat terwujud jika ditempatkan dalam konteks nilai-nilai kemasyarakatan.

Sebagian orang yakin bahwa karya seni yang baik adalah karya yang indah dalam kerangka pemahaman “tanpa pamrih” atawa “disinterested”. (Di sini kita dapat mengutip Immanuel Kant yang percaya bahwa dengan meletakkan status dan posisinya secara “disinterested” itulah seni baru bisa menjadi murni sekaligus “rasional”.)

Sementara sebagian lainnya percaya bahwa seni yang baik adalah seni yang berguna. Ingatlah, dulu pada zaman Yunani Klasik maupun seni tradisional di Nusantara orang percaya bahwa salah satu fungsi seni adalah sebagai wahana menyampaikan ajaran moral sehingga terbangun tata sosial yang lebih baik.

Seni tak hanya dilihat sebagai fenomena artistik belaka dan kualitasnya tidak melulu diukur berdasarkan kaidah-kaidah estetik khusus tapi juga harus dapat dievaluasi secara sosial.

Kawan yang baik,

Tentu, kita akan capek jika mencari titik akhir dari perdebatan semacam itu. Seperti yang pernah kukatakan, paling banter akhirnya orang akan mengambil kesimpulan seperti ini: Soalnya bukan pada pihak mana yang paling benar karena kebenaran mutlak semacam itu hanyalah ilusi.

Soalnya adalah seberapa jauh manusia dapat menciptakan wahana atau cara menyeimbangkan anatara dorongan subjektif dan hasrat kebebasan individu dengan tuntutan moralitas kemasyarakatan.

Membayangkan estetika yang berpangkal sekaligus bermuara pada hasrat maupun tujuan eksklusi diri individual secara total sama mustahilnya dengan memimpikan estetika yang meniadakan relasi seni dengan masyarakat maupun estetika yang sepenuhnya melayani tujuan-tujuan di luarnya.

Artinya, seniman dan karya seni yang diciptakan senantiasa mengandung nilai dan makna pada tingkatan yang berbeda-beda, tergantung pada pendekatan, metode untuk mewujududkan “bobot kehadiran” estetiknya masing-masing. Konteks nilai dan makna seni “murni” tentu berbeda dengan seni “terlibat” yang langsung masuk dalam denyut kehidupan masyarakat.

Kawan yang baik,

Nah, dengan konteks yang terakhir itulah kita baru bisa bicara tentang seni “partisipatoris”. Dalam hal ini, sebagai gambaran nyata, kita dapat mengambil contoh kasus yang pernah terjadi dalam seni pertunjukan (performing arts), yakni seni teater.

Syahdan, di jagat teater pernah muncul tokoh bernama Augusto Boal (1931-2009) yang sering menegaskan bahwa sistem teater yang bertopang pada representasi ketokohan dalam sosok-sosok protagonis individual bukanlah teater yang muncul tiba-tiba.

Pada mulanya, teater adalah bagian dari kerja bersama di mana setiap orang dapat menjadi kreator sekaligus penonton. Hal itu terjadi pada teater sebagai bagian dari ritus adat dan perayaan artistik tribal dalam masyarakat-masyarakat awal.

Pak Boal kemudian menciptakan teater sebagai “forum” di mana panggung menjadi ajang diskusi antara aktor dan pemirsa, termasuk dalam menemukan cara-cara menyusun alur cerita yang lebih baik. Di situ nyaris tidak ada dikotomi tegas antara aktor dan penonton karena setiap orang dapat mengintervensi pertunjukan guna memberikan saran dan bahkan dapat memerankan karakter tertentu yang mereka ciptakan.

Ketika menjadi walikota Rio de Janeiro, Brasil, tahun 1986, Pak Boal ini suka menggelar panggung teater sebagai “forum” terbuka di mana setiap warga dapat mengajukan usulan dalam rangka penyusunan undang-undang dan instrumen hukum untuk mengatur hajat hidup orang banyak.

Setelah itu ia coba mengintegrasikan praksis teater “legislatif” dalam arti mendorong teater sebagai amalan politik secara langsung. Jika dalam teater “forum” berlangsung proses artistik di mana penonton dapat menjadi aktor, pada teater “politik” terjadi proses transformasi peran warga negara sebagai legislator secara langsung, di situ pada saat itu.

Dari proses tersebut kemudian lahir beberapa undang-undang selama Pak Boal menjadi pejabat publik.

Kawan yang baik,

Patut kita catat, ketika seniman menjadi salah satu partisipan dalam proses penciptaan pengalaman estetik bersama semacam itu, mau tak mau penentuan nilai dan makna seni pun menjadi terdistribusi ke banyak pihak.

Di situ, mula-mula seorang atau sekelompok seniman dapat menjadi semacam inisiator, organisator atau pemicu peristiwa agar berlangsung proses penciptaan pengalaman estetik bersama. Bisa juga ia menjadi semacam penghubung alias “mak comblang” dari entitas-entitas yang ada sehingga tercipta sehimpun relasi sosial yang baru.

Kurator seni rupa kontemporer Prancis Nicolas Borriaud menamai praktik seni serupa itu sebagai “estetika relasional”. Dalam bukunya “Esthetique relationnelle” (1998), ia menegaskan bahwa hampir semua praktik kesenian pada dasarnya terintegrasi dalam ruang sosial sehari-hari dan tidak tereksklusi secara total dari lingkungan sekitarnya.

Tentu, dalam praksis seni modern berlaku pandangan bahwa status, nilai dan makna seni ditentukan oleh relasi antar pemangku kepentingan terpenting, yakni aktor-aktor maupun “institusi-institusi” utama berikut otoritas yang dimiliki. Tapi dalam praksis seni kotemporer relasi-relasi tersebut tak lagi dimonopoli oleh para elite “institusional” dalam kerangka estetisme melainkan telah meluas ke berbagai arah.

Bahkan secara ekstrem Tuan Borriaud mengatakan bahwa jika dulu seni dibuat untuk dipertunjukkan kepada orang, seni diciptakan untuk menunjukkan atau menyingkapkan “sesuatu” kepada (manusia), kini justru sebaliknya: kita membuat seni untuk menunjukkan atau menghadirkan “diri” kepada atau bersama segala “sesuatu”.

Maka, seni seyogianya dimaknai dalam relasi yang lebih organis, yakni segala ihwal yang hidup di ruang sosial sehari-hari dalam berbagai bentuk dan skala yang paling besar maupun yang terkecil, dalam relasi-relasi global di jagat metropolis maupun di sebuah dusun terpencil sekalipun. Relasi-relasi semacam itu juga dapat dibentuk di dunia virtual dalam perayaan dunia digital, upacara adat, ulem-ulem khitanan, pesta urban dan sebagainya dan sebagainya.

Kawan yang baik,

Model perayaan relasi semacam itu dalam derajat tertentu ternyata dapat mengubah arti pengalaman dan pengetahun terhadap seni. Pengetahuan dan pengalaman estetis tidak lagi menjadi bidang atau disiplin khusus berikut kaidah dan prosedur yang nyaris tak terjangkau orang awam, tapi suatu pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari wawasan masyarakat dalam relasi-relasi makna secara kontekstual.

Meminjam istilah sosiolog Thomas Luckmann dan Peter L Berger, status pengetahuan dan pemaknaan seni di situ menjadi bagian dari “social construction of reality”. Yaitu pengetahuan yang hidup dalam sistem kesadaran kolektif sebagai bagian dari konstruksi dan model-model tata sosial yang harus dijalankan dan bagaimana konstruksi-konstruksi tersebut tersusun sehingga melahirkan struktur makna atas “kenyataan-kenyataan” sosial yang terintegrasi dan terintrapolasi secara langsung dengan segala wahana dari pelaksanaan pengetahuan yang ada.

Di situ, karya yang diciptakan bersama dapat dijadikan wahana untuk memperbaiki “kenyataan” sosial di sekelilingnya. Oleh karena itu, proses penciptaan maupun tindak resepsinya juga harus bersifat “partisipatoris” dan bukan seni yang otonom dan tanpa pamrih (disinterested).

Tapi perlu diingat bahwa seni yang melibatkan orang banyak atau seni yang digelar di ruang publik tidak serta-merta merupakan seni “partisipatoris”. Ketika satu orang atau sekelompok seniman menggelar pameran atau main teater atau bikin peristiwa heboh atau menggelar “performance art” ini-itu di tengah perkampungan atau di keriuhan pasar, bukan ujung dari tindak artistik “partisipatoris”.

Yang terjadi di situ adalah peristiwa “partisipatoris” secara pasif. Fase ini dapat dilanjutkan agar publik terlibat aktif dalam proses menciptakan dan mengaransemen relasi-relasi artistik maupun produksi pengetahuan serta pengalaman estetik di ranah sosial dalam orkestrasi bersama. Seni menjadi wahana untuk menjadikan setiap orang sebagai subjek.

Tujuan-tujuan orkestrasi pengalaman artistik bersama itu akhirnya tidak ditentukan oleh pihak yang dominan melainkan oleh jalannya orkestra itu sendiri. Semacam sama rata sama rasa. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair
Tags: performance artSeniseni pertunjukanSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [3]–Nyeri Semakin Menjadi Menjelang Masuk Tanjakan Paiton

Next Post

Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Empat Tokoh Agung yang Memilih Pihak Kurawa: Pelajaran dari Mahabharata dalam Perspektif Peta Kesadaran Hawkins

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co