SORE itu, halaman depan Ruang Kadisbud Buleleng berubah menjadi ruang percakapan yang hangat. Di bawah langit Singaraja yang perlahan meredup, tiga sosok penggerak festival sastra Indonesia duduk berhadapan dengan publik. Mereka bertiga ialah Windy Ariestanti, Kadek Sonia Piscayanti, dan Gustra Adnyana, yang dipandu oleh Juli Sastrawan.
Sesi bertajuk “Menghidupkan Buku, Menghidupkan Kota” ini menjadi salah satu inti dari Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025, yang menghadirkan gagasan besar: bagaimana buku tidak hanya dibaca, tetapi juga menghidupkan ekosistem sosial, budaya, dan spiritual sebuah kota.
Diskusi ini bukan sekadar berbicara tentang penerbitan atau literasi. Windy, yang membawa pengalaman dari Patjarmerah, menekankan bahwa buku adalah denyut awal sebuah peradaban kota.

Dari kiri ke kanan: Gustra Adnyana, Windy Ariestanti, Kadek Sonia Piscayanti, dan Juli Sastrawan pada diskusi “Menghidupkan Buku, Menghidupkan Kota” | Foto: Dok. SLF
“Ketika buku hadir di tengah masyarakat, ia bukan hanya benda. Ia menjadi pemantik percakapan, imajinasi, dan pada akhirnya, kehidupan itu sendiri,” ujarnya. Kata-kata itu bergema di tengah audiens, sebagian besar terdiri dari pelajar, peneliti, dan pegiat buku.
Kadek Sonia Piscayanti, penggagas SLF, membawa perspektif Singaraja sebagai rumah manuskrip terbesar di Bali, Gedong Kirtya.
“Kita punya ribuan lontar yang berisi pengetahuan hidup. Itu bukan sekadar arsip; itu adalah napas kota ini. Pertanyaannya: bagaimana kita membuat napas itu tetap hidup, bukan hanya di rak, tapi di jalanan, di obrolan masyarakat, di denyut kota?” tuturnya.
Pernyataan ini menyentuh inti tema SLF 2025, Buda Kecapi, yang mengangkat energi penyembuhan semesta. Buku, dalam konteks ini, dilihat sebagai media penyembuh; bukan hanya untuk individu, tetapi untuk kota secara kolektif.

Dari kiri ke kanan: Windy Ariestanti, Kadek Sonia Piscayanti, dan Juli Sastrawan pada diskusi “Menghidupkan Buku, Menghidupkan Kota” | Foto: Dok. SLF
Gustra Adnyana, dengan latar belakang pengembangan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), menambahkan lapisan penting: kota yang hidup oleh buku adalah kota yang berani membuka ruang dialog.
“Buku bukan untuk disimpan sendirian. Buku untuk dibicarakan, dihidupi. Ketika kota memberi ruang bagi buku, kota itu sedang memberi ruang bagi manusianya sendiri untuk tumbuh,” ucapnya.
Diskusi mengalir dengan intensitas yang lembut namun dalam. Audiens tidak hanya mendengar, mereka ikut merenung. Seorang mahasiswa bertanya, “Apakah mungkin kota seperti Singaraja hidup oleh buku, ketika tantangan teknologi begitu besar?”
Windy menjawab dengan senyum, “Justru karena itu, buku harus kembali ke masyarakat. Buku tidak melawan teknologi. Buku menawarkan kedalaman, sesuatu yang tidak tergantikan.”

Foto bersama seusai diskusi “Menghidupkan Buku, Menghidupkan Kota” | Foto: Dok. SLF
SLF 2025 dengan sesi ini membuktikan dirinya lebih dari sekadar festival sastra. Ia menjadi ruang eksperimen sosial dan kultural, tempat di mana manuskrip lontar, buku kontemporer, dan ide-ide masa depan bertemu.
Dari Gedong Kirtya yang menyimpan ribuan lontar hingga percakapan sore itu, terlihat benang merah: buku bukan artefak mati, buku adalah organisme hidup yang menghidupkan kota.
Ketika diskusi usai, halaman itu tidak langsung sepi. Orang-orang masih bertahan, membicarakan ulang kalimat-kalimat yang baru saja mereka dengar.
Di antara mereka, ada rasa bahwa kota ini, dengan buku-bukunya, dengan lontar-lontarnya, sedang perlahan menemukan cara baru untuk berdenyut. SLF tidak hanya merayakan sastra, tetapi juga sedang membangun kesadaran: bahwa sebuah kota bisa benar-benar hidup jika manusia di dalamnya berani menghidupkan buku.[T]
Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Jaswanto



























