26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 3, 2025
in Cerpen
Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co

KABAR terakhir yang kuterima beringin tua yang tumbuh ratusan tahun itu sekarang ini harus mati. Katanya akan ada pembangunan dan pelebaran jalan entah apa nama proyeknya. Orang-orang desa yang telah lama merawat pohon itu merasa berhutang nyawa padanya. Oksigen yang dihasilkan dari pohon itu telah menyelamatkan ratusan jiwa yang berada di dekatnya. Semestinya ucapan terima kasih yang harus diterima oleh pohon itu. Tapi, nyatanya, batang-batangnya sudah mulai ditebas satu per satu. Setiap batang yang terjatuh seperti menyuarakan kepiluan yang mendalam. Getah pohon yang meleleh berwarna merah semerah darah. Beberapa orang di sana mulai kerauhan. Ia berteriak-teriak tak bisa terima dengan kenyataan itu. Tapi, itu hanya teriakkan kecil yang tak punya makna. Gergaji terus bergerak memotong setiap dahan hingga tak ada lagi dahan-dahan yang merindanginya.

 Dulu, memang pohon itu sebagai pengingat pendirian desa. Satu pohon ditanam di simpang empat desa. Di bawahnya ada tenten, tempat orang-orang berjualan. Tetua sepakat menandai desanya dengan pohon beringin. Orang-orang desa juga menjaganya dengan memakaikan saput poleng dan mengeramatkan pohon beringin itu. Setiap hari, ada saja yang menghaturkan sajen. Jika belum sempat mempersembahkan sepasang canang sekar, rasanya belum tenang hati orang-orang di sana. Jika ada upacara ngroras, dilakukan upacara memohon daun beringin yang digunakan sebagai sekah saat upacara ngroras. Wangi dupa seakan memberikan kesadaran murni bagi yang melewati simpang empat itu.

“Apa yang mesti kita lakukan?” Tetua desa itu memulai pembicaraan. “Kita merasa bersalah tidak bisa menjaga warisan tetua desa kita. Kita hanya bisa pasrah dan tidak berbuat apapun? Ini baru satu pohon. Pohon-pohon yang lain akan menunggu gilirannya.” Tetua desa menyeka keringatnya sambil menatap warganya. Sepi. Tak ada yang berani berkata. Mereka orang-orang kalah karena kebijakan. “Baiklah! Jika tidak ada yang berani berbicara, biar tiang yang menjadi caru di desa ini. Besok, rencananya pohon  beringin itu ditumbangkan. Akar-akarnya akan dicabut dan membusuk. Kita sudah mengamputasi satu per satu pohon-pohon di desa kita dan kita yang mematung melihat pohon itu dimutilasi.”

Malam itu, tetua desa menyampaikan hati nuraninya ke hadapan pohon beringin yang tinggal batang tunggalnya. Ia tatap pohon itu beralama-lama. Ia seperti mendengar jerit tangisan dari pohon beringin itu. “Tak ada yang mau berterima kasih padaku. Pohon ini bukan sekadar pengingat desa. Ia juga pengingat napas. Berapa polusi dimurnikan kembali oleh pohon ini. Tapi nyatanya, satupun tak ada yang berani belapati. Jika pohon di simpang empat ini mati, bersiaplah bencana akan mendatangi desa ini.”

Tetua itu duduk tepekur. Ia mengusap-usap air matanya. Ketidakberaniannya membuatnya seperti ini. Pasrah bukanlah jalan keluar terbaik. Ia mesti berbuat walau dengan segala kemungkinan bisa terjadi. Ia naiki pohon itu. Ia duduk menunggu matahari pagi. Pagi menhampiri hidupnya. Ia tatap matahari sambil menyampaikan isi hatinya. Matahri dan pohon adalah satu kesatuan. Kedua energinya memberikan hidup pada semesta. Orang-orang yang melewati jalanan itu memandangnya dengan beragam raut wajah. Ada yang nyengir, ada yang menganggapnya gila, ada yang merasa kasihan. Ia tak pedulikan orang-orang itu. Hanya satu di hatinya. Pohon itu masih bisa hidup walau batang-batangnya telah dimutilasi dengan gergaji.

Semakin siang, alat pencabut nyawa pohon mulai mendekat. Negosiasi berjalan. Tetua desa tak mau menjawab. Ia seperti seorang pertapa yang khususk memuja semesta. “Pak, kami menjalan perintah. Kami juga kasihan pohon ini dicabut. Tapi, kami mesti menjalankan perintah. Tolong hormati tugas kami juga.” Tetua desa itu tetap mematung. Ia semakin khusuk memohon agar pohon itu masih hidup.

Orang-orang itu menelepon seseorang, ia katakan situasi yang dihadapi. “Jika demikian urungkan saja pencabutan pohon itu hari ini. Kita pilih hari lain lagi. Tiang yakin, tetua itu tak akan kuat bertahan di pohon itu. Saat ia lengah, kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya.”

“Baik Pak!” Orang-orang pencabut itu kembali. Tak ada pencabutan hari itu. Untuk sementara masih bisa berdiri batang pohon beringin itu. Wajah ceria terlihat pada orang-orang di tempat itu. Semua memuji keberanian tetua desanya. Tetua desa tak mau berkomentar banyak. Ia menyadari kekalahan akan mendekatinya. Ia tahu kekuatannya tak seberapa. Tapi, itu lebih baik dibandingkan tanpa ada perlawanan. Ia turun setelah pencabut pohon itu menjauh. Ia peluk pohon beringin itu erat sekali. Rasa sayangnya teramat amat. Ia pergi setelah dirasakan cukup. “Maaf, tiang mungkin tak bisa menjagamu lagi. Tiang sudah berusaha, tapi tak mungkin bisa bertahan. Maaf, jika tiang tidak bisa menjaga kehidupanmu lagi.” Ia tinggalkan pohon beringin itu. Ia menenangkan hatinya. Ia temui istri tercintanya.

“Beli, tiang sudah dengar Beli menjaga pohon itu hingga semalaman. Kita tak akan bisa terus menjaganya. Kita orang-orang kalah Beli. Kita hanya bisa memohon pada Hyang Widhi agar tidak terjadi apapun di desa kita. Kita sudah berusaha merawat dan menjaganya. Tapi, tiang yakin tak akan bisa.” Perempuan yang setia pada suaminya itu menyuguhkan kopi pahit kesukaan suaminya. Ia ceruput kopi itu bertemankan ubi rebus. Aromanya menyegarkan kembali pikirannya. Ia menatap wajah istrinya. “Jika terjadi sesuatu terhadap beli. Tolong rawat anak-anak kita. Dia adalah masa depan kita. Beli yakin ada yang tidak etrima dengan sikap beli ini.”

Perempuan pemegang janji setia itu memeluknya. “Tak usah meragukan kesetiaan tiang Beli. Apapun yang Beli lakukan di rel kebenaran, tiang akan tetap mendampingi Beli.”

Tetua desa itu melepaskan rasa lelahnya. Ia tertidur lelap sekali. Alam mimpinya membawanya pada pohon beringin itu. Ia lihat gergaji dan alat pencabut pohon beringin berdatangan. Wajah-wajah ceria tanda kemenangan berseliweran di matanya. Ia marah pada dirinya. Ia benci pada hidupnya. Ia mau bangun, tapi matanya tak bisa dibukanya. Ia gerak-gerakkan tubuhnya mau berlari menuju pohon beringin itu, tapi tubuhnya terasa kaku. [T]

Catatan:

  • Beli: kakkak
  • Kerauhan: kesurupan
  • tenten,: pasar kecil    
  • saput poleng: kain berwarna hitam putih
  • canang sekar: saji kembang rampai
  • caru: kurban
  • belapati: bertaruh nyawa
  • tiang: saya
  • ngoras: upacara penyucian roh setelah upacara ngaben
  • sekah: stana roh pada upacara ngroras

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahanada di UVJF 2025: Bukan Sekadar Anak Muda Bernyanyi Jazz, Tapi Generasi Penerus Jazz

Next Post

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co