25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 3, 2025
in Cerpen
Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co

KABAR terakhir yang kuterima beringin tua yang tumbuh ratusan tahun itu sekarang ini harus mati. Katanya akan ada pembangunan dan pelebaran jalan entah apa nama proyeknya. Orang-orang desa yang telah lama merawat pohon itu merasa berhutang nyawa padanya. Oksigen yang dihasilkan dari pohon itu telah menyelamatkan ratusan jiwa yang berada di dekatnya. Semestinya ucapan terima kasih yang harus diterima oleh pohon itu. Tapi, nyatanya, batang-batangnya sudah mulai ditebas satu per satu. Setiap batang yang terjatuh seperti menyuarakan kepiluan yang mendalam. Getah pohon yang meleleh berwarna merah semerah darah. Beberapa orang di sana mulai kerauhan. Ia berteriak-teriak tak bisa terima dengan kenyataan itu. Tapi, itu hanya teriakkan kecil yang tak punya makna. Gergaji terus bergerak memotong setiap dahan hingga tak ada lagi dahan-dahan yang merindanginya.

 Dulu, memang pohon itu sebagai pengingat pendirian desa. Satu pohon ditanam di simpang empat desa. Di bawahnya ada tenten, tempat orang-orang berjualan. Tetua sepakat menandai desanya dengan pohon beringin. Orang-orang desa juga menjaganya dengan memakaikan saput poleng dan mengeramatkan pohon beringin itu. Setiap hari, ada saja yang menghaturkan sajen. Jika belum sempat mempersembahkan sepasang canang sekar, rasanya belum tenang hati orang-orang di sana. Jika ada upacara ngroras, dilakukan upacara memohon daun beringin yang digunakan sebagai sekah saat upacara ngroras. Wangi dupa seakan memberikan kesadaran murni bagi yang melewati simpang empat itu.

“Apa yang mesti kita lakukan?” Tetua desa itu memulai pembicaraan. “Kita merasa bersalah tidak bisa menjaga warisan tetua desa kita. Kita hanya bisa pasrah dan tidak berbuat apapun? Ini baru satu pohon. Pohon-pohon yang lain akan menunggu gilirannya.” Tetua desa menyeka keringatnya sambil menatap warganya. Sepi. Tak ada yang berani berkata. Mereka orang-orang kalah karena kebijakan. “Baiklah! Jika tidak ada yang berani berbicara, biar tiang yang menjadi caru di desa ini. Besok, rencananya pohon  beringin itu ditumbangkan. Akar-akarnya akan dicabut dan membusuk. Kita sudah mengamputasi satu per satu pohon-pohon di desa kita dan kita yang mematung melihat pohon itu dimutilasi.”

Malam itu, tetua desa menyampaikan hati nuraninya ke hadapan pohon beringin yang tinggal batang tunggalnya. Ia tatap pohon itu beralama-lama. Ia seperti mendengar jerit tangisan dari pohon beringin itu. “Tak ada yang mau berterima kasih padaku. Pohon ini bukan sekadar pengingat desa. Ia juga pengingat napas. Berapa polusi dimurnikan kembali oleh pohon ini. Tapi nyatanya, satupun tak ada yang berani belapati. Jika pohon di simpang empat ini mati, bersiaplah bencana akan mendatangi desa ini.”

Tetua itu duduk tepekur. Ia mengusap-usap air matanya. Ketidakberaniannya membuatnya seperti ini. Pasrah bukanlah jalan keluar terbaik. Ia mesti berbuat walau dengan segala kemungkinan bisa terjadi. Ia naiki pohon itu. Ia duduk menunggu matahari pagi. Pagi menhampiri hidupnya. Ia tatap matahari sambil menyampaikan isi hatinya. Matahri dan pohon adalah satu kesatuan. Kedua energinya memberikan hidup pada semesta. Orang-orang yang melewati jalanan itu memandangnya dengan beragam raut wajah. Ada yang nyengir, ada yang menganggapnya gila, ada yang merasa kasihan. Ia tak pedulikan orang-orang itu. Hanya satu di hatinya. Pohon itu masih bisa hidup walau batang-batangnya telah dimutilasi dengan gergaji.

Semakin siang, alat pencabut nyawa pohon mulai mendekat. Negosiasi berjalan. Tetua desa tak mau menjawab. Ia seperti seorang pertapa yang khususk memuja semesta. “Pak, kami menjalan perintah. Kami juga kasihan pohon ini dicabut. Tapi, kami mesti menjalankan perintah. Tolong hormati tugas kami juga.” Tetua desa itu tetap mematung. Ia semakin khusuk memohon agar pohon itu masih hidup.

Orang-orang itu menelepon seseorang, ia katakan situasi yang dihadapi. “Jika demikian urungkan saja pencabutan pohon itu hari ini. Kita pilih hari lain lagi. Tiang yakin, tetua itu tak akan kuat bertahan di pohon itu. Saat ia lengah, kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya.”

“Baik Pak!” Orang-orang pencabut itu kembali. Tak ada pencabutan hari itu. Untuk sementara masih bisa berdiri batang pohon beringin itu. Wajah ceria terlihat pada orang-orang di tempat itu. Semua memuji keberanian tetua desanya. Tetua desa tak mau berkomentar banyak. Ia menyadari kekalahan akan mendekatinya. Ia tahu kekuatannya tak seberapa. Tapi, itu lebih baik dibandingkan tanpa ada perlawanan. Ia turun setelah pencabut pohon itu menjauh. Ia peluk pohon beringin itu erat sekali. Rasa sayangnya teramat amat. Ia pergi setelah dirasakan cukup. “Maaf, tiang mungkin tak bisa menjagamu lagi. Tiang sudah berusaha, tapi tak mungkin bisa bertahan. Maaf, jika tiang tidak bisa menjaga kehidupanmu lagi.” Ia tinggalkan pohon beringin itu. Ia menenangkan hatinya. Ia temui istri tercintanya.

“Beli, tiang sudah dengar Beli menjaga pohon itu hingga semalaman. Kita tak akan bisa terus menjaganya. Kita orang-orang kalah Beli. Kita hanya bisa memohon pada Hyang Widhi agar tidak terjadi apapun di desa kita. Kita sudah berusaha merawat dan menjaganya. Tapi, tiang yakin tak akan bisa.” Perempuan yang setia pada suaminya itu menyuguhkan kopi pahit kesukaan suaminya. Ia ceruput kopi itu bertemankan ubi rebus. Aromanya menyegarkan kembali pikirannya. Ia menatap wajah istrinya. “Jika terjadi sesuatu terhadap beli. Tolong rawat anak-anak kita. Dia adalah masa depan kita. Beli yakin ada yang tidak etrima dengan sikap beli ini.”

Perempuan pemegang janji setia itu memeluknya. “Tak usah meragukan kesetiaan tiang Beli. Apapun yang Beli lakukan di rel kebenaran, tiang akan tetap mendampingi Beli.”

Tetua desa itu melepaskan rasa lelahnya. Ia tertidur lelap sekali. Alam mimpinya membawanya pada pohon beringin itu. Ia lihat gergaji dan alat pencabut pohon beringin berdatangan. Wajah-wajah ceria tanda kemenangan berseliweran di matanya. Ia marah pada dirinya. Ia benci pada hidupnya. Ia mau bangun, tapi matanya tak bisa dibukanya. Ia gerak-gerakkan tubuhnya mau berlari menuju pohon beringin itu, tapi tubuhnya terasa kaku. [T]

Catatan:

  • Beli: kakkak
  • Kerauhan: kesurupan
  • tenten,: pasar kecil    
  • saput poleng: kain berwarna hitam putih
  • canang sekar: saji kembang rampai
  • caru: kurban
  • belapati: bertaruh nyawa
  • tiang: saya
  • ngoras: upacara penyucian roh setelah upacara ngaben
  • sekah: stana roh pada upacara ngroras

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahanada di UVJF 2025: Bukan Sekadar Anak Muda Bernyanyi Jazz, Tapi Generasi Penerus Jazz

Next Post

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co