12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025

Jaswanto by Jaswanto
August 2, 2025
in Ulas Pentas
Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025

Ayu Laksmi dalam pertunjukan Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

IA memasuki panggung dengan balutan pakaian serba putih. Di atas panggung ada meja rias (yang juga berwarna putih), dupa, alat musik tradisional, lampu tua yang temaram, dan beberapa alat peraga lainnya (set property dan hand property)—yang mendukung pementasan. Panggung yang biasanya penuh cahaya, kini menjelma remang yang magis. Suasana itu mencipta tafsir yang ganjil. Kemuraman, kepasrahan, kesembuhan, harapan, bercampur-aduk menjadi satu.

Ayu Laksmi dalam pertunjukan Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Ia mulai bermonolog. “Namaku Ayu Laksmi. Ayu artinya rahayu, damai. Laksmi artinya kekuatan. Aku bekerja dalam dua kata itu, sebagai bahan membuat kekuatan sendiri—damai dan kuat,” katanya dengan suara yang lembut dan penuh percaya diri. Semesta seperti bergeming. Tak lama kemudian ia bernyanyi, menari dengan selendang warna-warni, mekidung, mendekap dan memainkan penting (alat musik tradisional Karangasem, Bali), bermain-main layaknya anak kecil, dan menangis. Malam itu ia menampilkan kisah, berswacakap, yang belum pernah ia bagikan sebelumnya—sepanjang perjalanan hidupnya—kepada siapa pun.

Demikianlah pentas monolog Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri oleh Ayu Laksmi. Pentas teater tentang sedikit kisah hidup Ayu Laksmi ini diselenggarakan oleh Singaraja Literary Festival 2025 dalam program “Monolog 100 Perempuan Komunitas Mahima” di panggung Sasana Budaya, Singaraja, Sabtu, 26 Juli 2025. Kadek Sonia Piscayanti menyutradarai sekaligus menulis naskah ini.

Ayu Laksmi dalam pertunjukan Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Dan sebagai seorang aktor profesional, tentu saja Ayu Laksmi tampil begitu mengesankan—apalagi ia sedang mengisahkan perjalanan hidupnya sendiri. Saat sempat terjadi kesalahan teknis pun (gambar-foto insiden kecelakaan ayahnya tidak muncul di layar nyaris lima menit) Ayu Laksmi tetap melanjutkan pertunjukan dengan gerakan-gerakan spontan, improvisasi, yang membuat penonton tidak menyadari adanya kendala teknis.                                    

Malam itu Ayu Laksmi berusaha menampilkan percakapan tentang dirinya di masa silam, masa kini, dan masa depan; pun tentang bagaimana ia berubah, berbenah, dan berkeluh kesah. Dan itu menurut saya bagian yang menarik.

Ya, yang terasa amat menggugah saya sejak semula adalah ini monolog memoar Ayu Laksmi. Selama ini kritik film atau musik telah mengosongkan segi-segi pribadinya dari uraian yang cenderung berpanjang-panjang. Tapi malam itu, dalam teater kita bisa menengok kembali kehidupan pribadi sang bintang yang tidak pernah diungkapkan oleh kritik film atau kritik musik mana pun. Melalui teater—dalam hal ini monolog—kita dapat melihat Ayu Laksmi sebagai manusia yang berdarah-daging, sebagai manusia-seniman dalam pusaran kehidupan yang ternyata memilukan.

Itulah kenapa dalam waktu pentas sepanjang 30 menit pemilihan fokus cerita pribadi sang tokoh—yang belum pernah dikisahkan sebelumnya—menjadi penting.

Pertunjukan Melodramatik dan Reflektif

Pertunjukan Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri saya kira bisa dikatakan sebagai kisah dengan pendekatan melodramatik dan reflektif jika dilihat dari narasi naskah, suasana, gambar-gambar yang ditampilkan di layar, dan bahasa renungan atau senandikan Ayu Laksmi tentang bagaimana ia menerima banyak hal, menyerah dan kalah, lalu sembuh, dan pulang—menjadi satu dengan ayah ibuku.

Ayu Laksmi dalam pertunjukan Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Bagaimanapun, seperti kata Zen Hae dalam buku Sembilan Lima Empat (2021), penonton kita hari ini masih menggemari kisah-kisa melodramatik: bangkit dari kegagalan, sembuh dari penyakit, cinta  yang kandas, hati yang mendua, pengkhianatan—di samping kematian yang mengundang iba.

Namun, selain itu, Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri juga sangat refektif. Pertunjukan ini menampilkan ingatan, kenangan, “pengetahuan diri”, mengenai perjalanan hidup Ayu Laksmi. Ingatan tersebut divisualisasikan dalam bentuk bahasa dan kolase foto yang ditampilkan di layar.

Ayu Laksmi dalam pertunjukan Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Melalui narasi yang diucapkan Ayu Laksmi, penonton seperti diajak untuk menyelami kembali kenangan-kenangan—atau barangkali trauma—di masa lalu yang pernah dialami. Dengan musik yang melankoli, penonton seperti tanpa sadar memasuki lorong masa lalu yang barangkali sudah lama tak mereka kunjungi. Saya kira, ini juga soal orientasi kisah. Setiap kisah ditulis untuk menjadi bahan hiburan dan renungan penonton.

Ayu Laksmi, menurut saya, mencoba memainkan psikologi penonton dengan mengajak mereka kembali memutar memori lama di kepala masing-masing. Ini semacam usaha pertemuan sekaligus perjalanan temporal, spasial, dan historis, yang implikasi dan pemaknaannya diarahkan mampu mewakili lanskap yang lebih luas.

Ayu Laksmi dalam pertunjukan Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Setiap kenangan bisa dianggap berharga juga problematik jika itu menjelma menjadi trauma. Tetapi, bagaimanapun, seandainya memang yang kita punya sekarang tinggal kenangan, itu sudah sangat berharga. Seperti kata Mumu Aloha, orang tak ingin kehilangan apa yang pernah dialaminya.

Kita pernah di sana, hari ini berada di sini, besok pergi ke mana, dan semua itu akan berlalu, tertimbun waktu. Tapi, kita tak ingin melupakannya. Kita akan menjadikannya cerita masa lalu. Kita akan mengenangnya, suatu saat nanti, seperti lemari nenek yang berisi bermacam benda. Saya kira, Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri juga demikian—yang menganggap kenangan getir bukan sebagai kutukan, melainkan suatu pelajaran hidup yang menumbuhkan dan mungkin menyembuhkan.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025
Singaraja Literary Festival  2025: Cara Mahima Mengimplementasikan Resep Buda Kecapi — Catatan dari Pengunjung
Bongkar Pasang Andre Syahreza dalam Novel “Semua Karena Nirankara”
Bincang Buku “Lolohin Malu”: Pahit, Getir, Tapi Menyembuhkan
Tags: Ayu LaksmiMonologSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Teater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-Anak dan Bait-Bait Puisi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025

Next Post

Terjebak dan Mematung di Forum Diskusi “Puisi yang Mengobati Diri”—Catatan dari Festival Sastra di Singaraja

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Terjebak dan Mematung di Forum Diskusi “Puisi yang Mengobati Diri”—Catatan dari Festival Sastra di  Singaraja

Terjebak dan Mematung di Forum Diskusi “Puisi yang Mengobati Diri”—Catatan dari Festival Sastra di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co