6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
July 24, 2025
in Esai
(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla

NORMALISASI Deviasi, yakni sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Diane Vaughan – seorang sosiolog Amerika Serikat – tentang bagaimana fenomena di mana perilaku, tindakan, atau kondisi yang awalnya dianggap tidak sesuai standar, berisiko, atau abnormal secara bertahap menjadi diterima sebagai sesuatu yang normal oleh kelompok atau organisasi, karena sudah sering terjadi tanpa menimbulkan konsekuensi langsung yang serius.

Penulis khawatir bahwa situasi yang digambarkan oleh konsep tersebut terepresentasi dalam situasi ekonomi dan politik nasional saat ini. Aksi-aksi penyalahgunaan kekuasaan secara terus menerus ditampilkan dan dikonsumsi secara massal oleh warga. Mereka gusar, marah dan dendam, tetapi semuanya diekspresikan terbatas dalam sosial media, obrolan warung kopi, doa ataupun sumpah serapah. Entah mereka sudah terlalu nyaman atau menganggap tidak lagi berguna, turun ke jalan bukanlah pilihan. Akibatnya, deviasi atau penyimpangan yang terjadi menjadi sesuatu yang biasa, ternormalisasi.

Menjadi prihatin tidaklah cukup sebagai sikap dalam menghadapi fenomena ini, diperlukan keluasan berpikir dan keberanian untuk mengingat, menampung dan mengejewantahkan tindakan-tindakan demokratis yang substansial dan bermoral. Bagi penulis, kemegahan atas demokrasi yang seperti itu dapat ditemui dalam pemikiran Muhammad Hatta, sang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Hatta, bukan orang biasa. Ia adalah seseorang yang berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka, yang menikahi kekasihnya dengan mahar sebuah buku. Seorang pemimpin negara yang tidak pernah punya cukup uang untuk membeli sepatu impiannya. Tetapi, segala kesederhanaannya itu tidak dapat menutup kecemerlangan dan kemajuan pemikirannnya akan demokrasi sejati. Pemikiran mulia ini dituangkannya ke dalam tulisan-tulisan yang menjadi karya akbar, yang salah satu diantaranya adalah karyanya yang berjudul Demokrasi Kita.

Demokrasi kita adalah sebuah tulisan yang pertama kali terbit tahun 1960 di Majalah Pandji Masyarakat yang dipimpin oleh Buya Hamka, yang kemudian dibuat menjadi buku oleh Hamka pada tahun 1966 pasca keluarnya ia dari penjara. Menurut penulis, ada 2 anasir besar dalam tulisan ini yang sangat relevan untuk dijadikan muatan refleksi warga.

Pertama, tentang kegelisahannya terhadap arah demokrasi di Indonesia yang mulai menyimpang dari prinsip-prinsip dasar demokrasi dan yang kedua, tentang demokrasi Indonesia yang ideal. Dalam anasir pertama, Hatta mengkritik kecenderungan otoritarianisme dan dominasi kekuasaan eksekutif yang mengabaikan fungsi parlemen dan partisipasi rakyat dalam demokrasi terpimpin yang diawali dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Atas dekrit itu, konstituante dibubarkan dan tak lama berselang DPR juga dibubarkan lalu dibentuk lagi dengan anggota yang ditunjuk oleh Presiden.

Titik berat pemerintahan dan perundang-undangan tidak lagi pada parlemen, melainkan pada dua badan baru, yaitu Dewan Pertimbangan Agung dan Dewan Perancang Nasional yang keanggotaannya ditunjuk oleh Presiden. Dalam sistem ini, Dewan Perwakilan Rakyat tugasnya hanya memberikan dasar-dasar hukum kepada keputusan-keputusan yang ditetapkan pemerintah, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan atau usul dari dua badan tersebut.

                                                                        ***

Otoritarianisme ini dianggap Hatta adalah muara dari krisis demokrasi yang terjadi setelah Indonesia merdeka. Belum matangnya demokrasi yang diadopsi membuat penyalahgunaan kekuasaan massif terjadi. Partai politik yang bergabung ke pemerintahan disebut Hatta sebagai “Membagi Rejeki” yang artinya golongan sendiri diutamakan, masyarakat dilupakan.

Seorang menteri ditugaskan partainya untuk melakukan tindakan-tindakan yang memberi keuntungan bagi partainya. Seorang menteri perekonomian, misalnya, menjalankan tugasnya sebagai menteri dengan memberikan lisensi dengan bayaran tertentu untuk dia setorkan ke kas partainya. Atau dalam pembagian lisensi itu kepada pedagang dan importir atau eksportir, yang didahulukan adalah orang separtai dengan dia. Keperluan uang untuk biaya pemilihan umum menjadi sebab kecurangan itu.

Begitu juga dalam penempatan pejabat publik yang tidak berdasarkan the right man in the right place atau yang disebut juga sistem merit. Juga dalam penempatan pegawai di jabatan publik di dalam dan luar negeri, orang lupa akan dasar tanggung jawab dan toleransi dalam demokrasi. Seringkali keanggotaan partai menjadi  ukuran, bukan berdasarkan prinsip the right man in the right place.

Pegawai yang tidak berpartai atau partainya duduk di bangku oposisi merasa kehilangan pegangan dan patah hati. Hal itu merusak ketentraman bekerja, mendorong orang untuk melakukan kecurangan, dan korupsi mental. Dengan politik kepartaian itu, alih-alih untuk memperkuat budi pekerti dan karakter pegawai, malah mengasuh orang luntur karakter. Akhirnya, orang masuk partai bukan karena keyakinan, tetapi untuk memperoleh jaminan.

Suasana politik tersebutlah yang menurut Hatta membuka jalan untuk diktator dan berdasarkan pandangan Hatta ini lah menurut penulis para warga harus bercermin. Karena sepertinya apa yang dilihat Hatta tidak jauh berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang ini. Chauvis yang sama, lobak yang sama. Dan apakah kita telah sampai di muara itu? Jawaban dari pertanyaan ini penulis serahkan kepada pembaca yang penulis yakin dapat membaca gejala dalam jelaga.

Begeser ke anasir kedua dari Hatta tentang gagasannya terkait demokrasi ideal bagi Indonesia. Hatta membawa kita menyelami falsafah negara – yang tertuang dalam pembukaan – yang harusnya menjadi landasan demokrasi Indonesia. Ada 3 hal yang digarisbawahi Hatta terkait ini, pertama, demokrasi Indonesia yang diarahkan untuk bebas dari penjajahan baik penjajahan ke negeri sendiri maupun negara lain. Kedua, demokrasi yang tidak dapat dilepaskan dengan karunia Tuhan. Ketiga, demokrasi yang berlandaskan Pancasila. Di dalam poin ketiga ini penulis beranggapan Hatta menjelaskan suatu hal yang fundamental, di mana ia membedakan 2 fondasi dalam Pancasila, yakni fondasi moral yang diwakili oleh sila pertama dan fondasi politik yang diwakili oleh sila kedua hingga kelima.

Dengan meletakan dasar moral di atas, mereka yang membuat pedoman negara ini berharap supaya negara dan pemerintahnya memiliki dasar yang kokoh, yang memerintahkan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran, serta persaudaraan ke luar dan ke dalam. Dengan politik pemerintahan yang berdasarkan kepada moral yang tinggi, diharapkan tercapainya—seperti yang tertulis dalam Pembukaan itu—“suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”

Inilah bentuk demokrasi yang ideal menurut Hatta. Demokrasi yang berlandaskan moral. Seluruh elemen bangsa bebas melakukan aktivitas politiknya asalkan tetap berlandaskan moral. Dan tidak hanya itu, Hatta secara gamblang menyerukan bahwa demokrasi Indonesia bukanlah berprinsip kedaulatan rakyat secara individualistik yang digaungkan oleh Rosseau, tapi kedaulatan rakyat yang kolektif yang dalam konteks penguasaan alat produksi dikenal sebagai koperasi, perekonomian yang disusun berdasarkan asas kekeluargaan.

Pemikiran Hatta ini sekiranya bisa “menyibukkan” kembali pemikiran penulis serta warga yang berada dalam kondisi yang ditegaskan oleh Diane Vaughan. Menjadi harapan-harapan baru dalam pertarungan paradigma dan ideologis yang amat layak untuk dimenangkan. Bagi penulis, Hatta adalah seorang pemikir besar yang idenya tetap hidup di sekitar kita, berharap untuk ditemukan, dibawa dan diperjuangkan. [T]

Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie
Militerisasi Pendidikan dan Ancaman Terhadap Demokrasi
Tags: demokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Parade Lagu Pop Bali di Festival Seni Bali Jani 2025: Nada-nada yang Bertutur

Next Post

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co