27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
July 24, 2025
in Esai
(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla

NORMALISASI Deviasi, yakni sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Diane Vaughan – seorang sosiolog Amerika Serikat – tentang bagaimana fenomena di mana perilaku, tindakan, atau kondisi yang awalnya dianggap tidak sesuai standar, berisiko, atau abnormal secara bertahap menjadi diterima sebagai sesuatu yang normal oleh kelompok atau organisasi, karena sudah sering terjadi tanpa menimbulkan konsekuensi langsung yang serius.

Penulis khawatir bahwa situasi yang digambarkan oleh konsep tersebut terepresentasi dalam situasi ekonomi dan politik nasional saat ini. Aksi-aksi penyalahgunaan kekuasaan secara terus menerus ditampilkan dan dikonsumsi secara massal oleh warga. Mereka gusar, marah dan dendam, tetapi semuanya diekspresikan terbatas dalam sosial media, obrolan warung kopi, doa ataupun sumpah serapah. Entah mereka sudah terlalu nyaman atau menganggap tidak lagi berguna, turun ke jalan bukanlah pilihan. Akibatnya, deviasi atau penyimpangan yang terjadi menjadi sesuatu yang biasa, ternormalisasi.

Menjadi prihatin tidaklah cukup sebagai sikap dalam menghadapi fenomena ini, diperlukan keluasan berpikir dan keberanian untuk mengingat, menampung dan mengejewantahkan tindakan-tindakan demokratis yang substansial dan bermoral. Bagi penulis, kemegahan atas demokrasi yang seperti itu dapat ditemui dalam pemikiran Muhammad Hatta, sang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Hatta, bukan orang biasa. Ia adalah seseorang yang berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka, yang menikahi kekasihnya dengan mahar sebuah buku. Seorang pemimpin negara yang tidak pernah punya cukup uang untuk membeli sepatu impiannya. Tetapi, segala kesederhanaannya itu tidak dapat menutup kecemerlangan dan kemajuan pemikirannnya akan demokrasi sejati. Pemikiran mulia ini dituangkannya ke dalam tulisan-tulisan yang menjadi karya akbar, yang salah satu diantaranya adalah karyanya yang berjudul Demokrasi Kita.

Demokrasi kita adalah sebuah tulisan yang pertama kali terbit tahun 1960 di Majalah Pandji Masyarakat yang dipimpin oleh Buya Hamka, yang kemudian dibuat menjadi buku oleh Hamka pada tahun 1966 pasca keluarnya ia dari penjara. Menurut penulis, ada 2 anasir besar dalam tulisan ini yang sangat relevan untuk dijadikan muatan refleksi warga.

Pertama, tentang kegelisahannya terhadap arah demokrasi di Indonesia yang mulai menyimpang dari prinsip-prinsip dasar demokrasi dan yang kedua, tentang demokrasi Indonesia yang ideal. Dalam anasir pertama, Hatta mengkritik kecenderungan otoritarianisme dan dominasi kekuasaan eksekutif yang mengabaikan fungsi parlemen dan partisipasi rakyat dalam demokrasi terpimpin yang diawali dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Atas dekrit itu, konstituante dibubarkan dan tak lama berselang DPR juga dibubarkan lalu dibentuk lagi dengan anggota yang ditunjuk oleh Presiden.

Titik berat pemerintahan dan perundang-undangan tidak lagi pada parlemen, melainkan pada dua badan baru, yaitu Dewan Pertimbangan Agung dan Dewan Perancang Nasional yang keanggotaannya ditunjuk oleh Presiden. Dalam sistem ini, Dewan Perwakilan Rakyat tugasnya hanya memberikan dasar-dasar hukum kepada keputusan-keputusan yang ditetapkan pemerintah, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan atau usul dari dua badan tersebut.

                                                                        ***

Otoritarianisme ini dianggap Hatta adalah muara dari krisis demokrasi yang terjadi setelah Indonesia merdeka. Belum matangnya demokrasi yang diadopsi membuat penyalahgunaan kekuasaan massif terjadi. Partai politik yang bergabung ke pemerintahan disebut Hatta sebagai “Membagi Rejeki” yang artinya golongan sendiri diutamakan, masyarakat dilupakan.

Seorang menteri ditugaskan partainya untuk melakukan tindakan-tindakan yang memberi keuntungan bagi partainya. Seorang menteri perekonomian, misalnya, menjalankan tugasnya sebagai menteri dengan memberikan lisensi dengan bayaran tertentu untuk dia setorkan ke kas partainya. Atau dalam pembagian lisensi itu kepada pedagang dan importir atau eksportir, yang didahulukan adalah orang separtai dengan dia. Keperluan uang untuk biaya pemilihan umum menjadi sebab kecurangan itu.

Begitu juga dalam penempatan pejabat publik yang tidak berdasarkan the right man in the right place atau yang disebut juga sistem merit. Juga dalam penempatan pegawai di jabatan publik di dalam dan luar negeri, orang lupa akan dasar tanggung jawab dan toleransi dalam demokrasi. Seringkali keanggotaan partai menjadi  ukuran, bukan berdasarkan prinsip the right man in the right place.

Pegawai yang tidak berpartai atau partainya duduk di bangku oposisi merasa kehilangan pegangan dan patah hati. Hal itu merusak ketentraman bekerja, mendorong orang untuk melakukan kecurangan, dan korupsi mental. Dengan politik kepartaian itu, alih-alih untuk memperkuat budi pekerti dan karakter pegawai, malah mengasuh orang luntur karakter. Akhirnya, orang masuk partai bukan karena keyakinan, tetapi untuk memperoleh jaminan.

Suasana politik tersebutlah yang menurut Hatta membuka jalan untuk diktator dan berdasarkan pandangan Hatta ini lah menurut penulis para warga harus bercermin. Karena sepertinya apa yang dilihat Hatta tidak jauh berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang ini. Chauvis yang sama, lobak yang sama. Dan apakah kita telah sampai di muara itu? Jawaban dari pertanyaan ini penulis serahkan kepada pembaca yang penulis yakin dapat membaca gejala dalam jelaga.

Begeser ke anasir kedua dari Hatta tentang gagasannya terkait demokrasi ideal bagi Indonesia. Hatta membawa kita menyelami falsafah negara – yang tertuang dalam pembukaan – yang harusnya menjadi landasan demokrasi Indonesia. Ada 3 hal yang digarisbawahi Hatta terkait ini, pertama, demokrasi Indonesia yang diarahkan untuk bebas dari penjajahan baik penjajahan ke negeri sendiri maupun negara lain. Kedua, demokrasi yang tidak dapat dilepaskan dengan karunia Tuhan. Ketiga, demokrasi yang berlandaskan Pancasila. Di dalam poin ketiga ini penulis beranggapan Hatta menjelaskan suatu hal yang fundamental, di mana ia membedakan 2 fondasi dalam Pancasila, yakni fondasi moral yang diwakili oleh sila pertama dan fondasi politik yang diwakili oleh sila kedua hingga kelima.

Dengan meletakan dasar moral di atas, mereka yang membuat pedoman negara ini berharap supaya negara dan pemerintahnya memiliki dasar yang kokoh, yang memerintahkan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran, serta persaudaraan ke luar dan ke dalam. Dengan politik pemerintahan yang berdasarkan kepada moral yang tinggi, diharapkan tercapainya—seperti yang tertulis dalam Pembukaan itu—“suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”

Inilah bentuk demokrasi yang ideal menurut Hatta. Demokrasi yang berlandaskan moral. Seluruh elemen bangsa bebas melakukan aktivitas politiknya asalkan tetap berlandaskan moral. Dan tidak hanya itu, Hatta secara gamblang menyerukan bahwa demokrasi Indonesia bukanlah berprinsip kedaulatan rakyat secara individualistik yang digaungkan oleh Rosseau, tapi kedaulatan rakyat yang kolektif yang dalam konteks penguasaan alat produksi dikenal sebagai koperasi, perekonomian yang disusun berdasarkan asas kekeluargaan.

Pemikiran Hatta ini sekiranya bisa “menyibukkan” kembali pemikiran penulis serta warga yang berada dalam kondisi yang ditegaskan oleh Diane Vaughan. Menjadi harapan-harapan baru dalam pertarungan paradigma dan ideologis yang amat layak untuk dimenangkan. Bagi penulis, Hatta adalah seorang pemikir besar yang idenya tetap hidup di sekitar kita, berharap untuk ditemukan, dibawa dan diperjuangkan. [T]

Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie
Militerisasi Pendidikan dan Ancaman Terhadap Demokrasi
Tags: demokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Parade Lagu Pop Bali di Festival Seni Bali Jani 2025: Nada-nada yang Bertutur

Next Post

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co