MUSIM Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 kembali menyapa dunia pendidikan kita. SPMB seolah menjadi siklus tahunan yang menggairahkan, namun sekaligus penuh ironi dan anomali. Ribuan siswa SMP dan sederajat berlomba menentukan pilihan sekolah dan jurusan yang akan menjadi jalan hidup mereka. Namun benarkah semuanya paham betul akan apa yang sedang mereka pilih?
Tidak terkecuali dalam pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk jenjang SMK. Di balik gegap gempita semangat masuk sekolah kejuruan, terselip problematika sistemik yang patut menjadi catatan kritis. Apakah itu? Ya, pemilihan jurusan yang sepi peminat, jurusan yang justru melonjak tanpa logika industri terkini, serta pengambilan keputusan oleh siswa yang kerap hanya berdasarkan gengsi atau ajakan teman.
Salah satu keanehan paling mencolok adalah fenomena anomali jurusan Hospitality. Di tengah melesunya sektor pariwisata Bali pascapandemi Covid 19 dan menurunnya permintaan tenaga kerja hotel secara nyata, jurusan Perhotelan masih menjadi primadona pilihan siswa. Bahkan, sekolah-sekolah yang baru saja membuka jurusan ini langsung dibanjiri peminat—meskipun belum memiliki sarana praktik lengkap, apalagi guru yang memadai ataupun relasi DUDI yang kuat. Fakta ini menggelitik dan mengusik akal sehat. Mengapa jurusan yang infrastruktur dan SDM-nya masih minim bisa begitu menarik di mata calon siswa?

Jawabannya mungkin ada pada imajinasi glamor yang melekat pada dunia pariwisata, bahwa dunia pariwisata itu bersih, berbau harum, seragam rapi, dan (katanya) cepat menghasilkan dollar. Sebuah fantasi yang tentu saja membuat lulusan SMP sangat tergiur. Fantasi yang ditawarkan lewat media sosial dan narasi gaya hidup yang glamor. Namun kenyataannya, belum mutlak sesuai dengan realitas dunia kerja. Sementara itu, jurusan-jurusan seperti Agribisnis Tanaman, Peternakan, dan Perikanan—yang sejatinya sangat potensial dalam mendukung kemandirian pangan dan ketahanan ekonomi Bali—justru minim peminat. Ini merupakan sinyal bahaya bagi masa depan pertanian dan keberlanjutan pulau ini.
Boleh dikatakan, setiap tahun ajaran baru, pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMK di Provinsi Bali menjadi medan pertarungan senyap antar satuan pendidikan kejuruan. Tahun 2025 tidak terkecuali. Data terbaru dari dashboard Dinas Pendidikan menunjukkan ketimpangan yang mencolok antara jurusan-jurusan favorit dan jurusan yang sepi peminat. Bahkan beberapa kompetensi keahlian seperti Agribisnis Tanaman, Agribisnis Ternak, dan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan seolah kehilangan daya tariknya. Sementara itu, jurusan Perhotelan dan Tata Boga justru dibanjiri pendaftar meski sarana, prasarana, bahkan gurunya masih belum lengkap.
Sekali lagi, ini sebuah anomali. Jurusan-jurusan agribisnis yang jelas-jelas menjadi tulang punggung ketahanan pangan dan masa depan ekologi Bali justru makin terpinggirkan. Pada hal, banyak hotel dan restoran kelas dunia saat ini justru membutuhkan tenaga kerja yang paham pertanian organik, florikultura, peternakan berkelanjutan, dan pengolahan hasil pangan lokal. Apakah ini tidak terbaca oleh para calon siswa dan orang tua?
Fenomena ini juga diperparah oleh rendahnya pemahaman siswa terhadap pilihan jurusan. Banyak siswa meng-klik dua sampai tiga jurusan tanpa mengetahui dengan benar apa yang mereka pilih. Bahkan ada yang asal pilih sekolah hanya karena nama atau popularitasnya, tanpa mempertimbangkan jarak dan aksesibilitasnya. Ini jelas bukan keputusan berbasis bakat, minat, dan kemampuan, melainkan karena ikut-ikutan teman karib semasa SMP. Fenomena “asal bersama teman” ini justru memperbesar risiko salah jurusan, salah asuhan, dan pada akhirnya salah jalan hidup.
Belum lagi soal bagaimana SPMB menjadi semacam ajang “pamer performa” sekolah. Setiap sekolah, negeri maupun swasta, berlomba-lomba menampilkan citra terbaiknya. Mereka aktif melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah asal, memproduksi konten visual dan narasi yang menarik, bahkan menggaet alumni sukses sebagai role model. Namun, keputusan akhir tetap ada di tangan siswa dan orang tua. Tanpa literasi karier yang kuat, semua promosi itu bisa justru memperparah kebingungan.
Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi sistemik. Literasi karier harus dimasukkan sejak dini dalam kurikulum SMP. Para guru Bimbingan Konseling misalnya, tidak boleh bekerja sendirian. Perlu sinergi antar Dinas Pendidikan, sekolah asal, dan sekolah tujuan agar siswa mendapatkan informasi yang utuh. Pendampingan pemilihan jurusan harus berbasis data psikologis, minat, dan proyeksi masa depan, bukan sekadar ikut arus.
Selain itu, citra pertanian, peternakan, dan perikanan harus diperbaiki. Jangan lagi dilabeli sebagai dunia “kotor dan miskin”. Sebenarnya sudah banyak alumni SMK bidang agribisnis yang sukses sebagai entrepreneur, eksportir tanaman hias, hingga influencer edukatif berbasis pertanian di media sosial. Bahkan, dengan sentuhan teknologi, sektor agribisnis menjadi seksi dan strategis untuk generasi muda.
Jika pola rekrutmen siswa hanya berpijak pada popularitas jurusan, bukan pada relevansi kebutuhan daerah dan daya saing global, maka pendidikan vokasi kehilangan arah. SMK bukan tempat mengejar mimpi glamor semata, melainkan ruang tumbuh untuk mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan industri, pangan, dan teknologi masa depan.
Data dari Dashboard Dinas Pendidikan Provinsi Bali Tahun 2025 menunjukkan bahwa jurusan agribisnis hanya menempati kurang dari 10% dari total pilihan jurusan yang dipilih oleh calon siswa. Bahkan di kabupaten-kabupaten penyangga yang memiliki potensi pertanian tinggi, jurusan pertanian justru dilirik sebelah mata.
Fenomena ini semakin pelik saat dikaitkan dengan mekanisme sistem pemilihan jurusan yang bersifat digital dan terbuka. Banyak siswa yang memilih jurusan karena mengikuti pilihan teman atau sekadar ingin “coba-coba” alias “iseng”. Mereka memilih 2–3 jurusan tanpa pemahaman memadai akan bidang tersebut. Bukan hanya itu, mereka bahkan mendaftar ke sekolah yang secara geografis sangat jauh dari tempat tinggal mereka—sehingga kemungkinan untuk benar-benar bersekolah di sana sangat kecil. Pilihan ini bukan hanya membingungkan tetapi juga membuang potensi kuota sekolah dan menyulitkan pemetaan kebutuhan sarana belajar oleh Dinas.
Kondisi ini benar-benar menunjukkan bahwa literasi karier siswa SMP terhadap dunia vokasi masih sangat perlu untuk ditingkatkan. Mungkin saja, sosialisasi dan career guidance masih bersifat formalistik dan belum menyentuh pemahaman mendalam tentang dunia kerja berbasis kejuruan. Akibatnya, banyak siswa memilih jurusan hanya berdasarkan ikut-ikutan teman atau karena terdengar keren, tanpa mempertimbangkan minat, bakat, kemampuan dan prospek jangka panjangnya.
Sebenarnya, banyak lulusan SMK pertanian, perikanan dan peternakan sebenarnya sangat dibutuhkan industri, termasuk sektor pariwisata. Hotel-hotel kini mulai mencari tenaga kerja yang paham hidroponik, pertanian organik, landscape gardening, hingga pengelolaan limbah berbasis kompos. Konsep hotel eco-friendly bahkan menjamur dan mencari lulusan SMK bidang pertanian dan lingkungan hidup. Demikian juga sektor perhotelan berbasis farm-to-table, sangat mengandalkan lulusan agribisnis dan peternakan.
Oleh karena itu, perlu ada strategi sistemik yang solutif. Pertama, Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan wajib memperkuat sistem bimbingan karier sejak jenjang SMP. Kedua, perlu keterlibatan nyata dunia usaha dan industri (DUDI) untuk mempromosikan prospek cerah jurusan agribisnis, perikanan, dan peternakan secara konkret, bukan sekadar narasi. Ketiga, sekolah vokasi perlu membangun narasi baru yang mengangkat harga diri petani modern—yang melek teknologi, berdaya saing, dan berorientasi ekspor.
Jika hal ini tidak segera ditangani, maka bagi sebagian siswa, SPMB hanya akan menjadi ajang coba-coba, bukan pilihan pendidikan yang strategis dan berkelanjutan. Dunia pendidikan vokasi akan terjebak dalam ilusi glamor yang menyesatkan, sementara sektor pangan dan ketahanan ekonomi yang sudah pasti dibutuhkan, akan terus kehilangan generasi penerusnya.
Saatnya menyelamatkan sektor strategis dengan narasi yang kuat dan sistem yang berpihak. Pendidikan vokasi bukan soal ikut-ikutan, tetapi tentang masa depan. Perlu akarnya diperkuat agar batang dan rantingnya juga kuat untuk menghasilkan buah yang manis dan menarik bagi kehidupan pendidikan vokasi itu sendiri. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis I WAYAN YUDANA



























