MASYARAKAT Bali pada umumnya berkomunikasi dengan anaknya dengan menggunakan nama diri. Misalnya anak perempuannya bernama Indah, orang tua akan memanggilnya dengan kata itu. Saat ini masyarakat Bali juga menggunakan bentuk sapaan Kakak/Kak, Adik/Dik, Adek/Dek untuk menyapa anaknya. Bentuk sapaan ini merupakan bentuk sapaan yang dipinjam dari bahasa Indonesia. Bentuk sapaan ini sangat intensif dipergunakan dalam berkomunikasi antara orang tua dengan anaknya. Penggunaan bentuk sapaan ini sangat populer saat ini.
Kata adik awalnya dipergunakan untuk merujuk kekerabatan yang mana pasangan suami istri mempunyai dua anak atau lebih. Bentuk sapaan yang digunakan oleh adik menyapa kepada kakaknya dengan memanggil kakak begitu sebaliknya. Namun saat ini, bentuk sapaan adik/dik /dek juga digunakan oleh orang tua untuk menyapa anaknya.
Data 1
Ibu : Adik kayeh nae malu
’Adik mandi dulu.’
Anak : Ita nu ngae tugas, Mak.
’Ita masih buat tugas, Mak’
Kata adik/dik atau dek sering kali digunakan sebagai sapaan yang mencerminkan keakraban dan kasih sayang. Meskipun secara literal bahwa adik bermakna orang yang lebih muda. Penggunaannya bentuk sapaan adik dalam konteks keluarga saat ini lebih fleksibel. Penggunaan bentuk sapaan ini memberi kesan bahwa ibu ingin mengekspresikan hubungan emosional yang hangat dan penuh perhatian kepada anaknya.
Penggunaan kata adik bisa menjadi upaya ibu untuk menciptakan suasana yang akrab dan hangat di antara anggota keluarga. Dengan menyapa anak dengan cara ini, ibu dapat memperkuat ikatan emosional dan mendorong perasaan saling menghargai di antara saudara-saudara lainnya dalam keluarga. Panggilan bentuk sapaan dik tidak saja digunakan oleh orang tua dalam menyapa anaknya tetapi juga digunakan oleh nenek kepada cucunya. Perhatikan data berikut (data terekam saat di rumah makan Bali di Desa Lukluk, Kabupaten Badung, Bali)
Data 2
Nenek : Dik, sing dadi nakal.
’Dik tidak boleh nakal.’
Nenek : Aduh nakal sajan ne. Dik .. Adik.
’ Aduh nakal sekali. Dik.. Adik.’
Penggunaan kata dik untuk menunjukkan kedekatan antara penyapa dengan yang disapa. Parkinson (2020) menyatakan bahwa bentuk sapaan dipergunakan mencerminkan keakraban, ketidakakraban , kekuatan, solidaritas, dan kesetaraan. Dalam hal ini anggota keluarga (nenek) menyapa dengan menggunakan bentuk sapaan dikuntuk menjalin kedekatan emosional antara nenek dengan cucunya. Uniknya penggunaan bentuk sapaan dik digunakan untuk menyapa anaknya yang merupakan anak tunggal. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kata adik/dik /dek tidak harus merujuk bahwa anak tersebut sebagai anak yang lebih kecil. Hal ini diakibatkan oleh pengaruh penggunaan bentuk sapaan adik/dik/dek di sinetron-sinetron.
Bentuk Sapaan Kakak/Kak
Fenomena penggunaan bentuk sapaan kakak/kak sama seperti penggunaan kata adik/dik/dek. Saat ini masyarakat Bali sangat intensif menggunakan bentuk sapaan ini. Hal ini dipengaruhi oleh penggunaan bentuk sapaan ini di sinetron-sinetron yang ditayangkan beberapa stasiun televisi nasional. Penggunaan bentuk sapaan terebut karena pengaruh bahasa indonesia.
Data 3
Ibu : Kakak mandi malu.
’Kakak mandi dulu.’
Anak : Dija mandi Mak?
’ Dimana mandi Mak?’
Ibu : Di kamar mandi diwang.
’Di kamar mandi di luar’
Ibu : Kak, suba suud mandi?
’ Kak, sudah selesai mandi?’
Penggunaan bentuk sapaan kakak/kak digunakan oleh seorang ibu untuk meminta kepada anaknnya untuk segera mandi. Penggunaan bentuk sapaan kakak/kak ini untuk membangun kedekatan emosional antara ibu dengan anaknya. Susanto (2014:142) menyatakan bahwa penggunaan bentuk sapaan bertujuan untuk mengekspresikan rasa hormat, solidaritas, keakraban, serta memelihara hubungan sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kasus ini seorang ibu menggunakan bentuk sapaan kakak/kak untuk menciptakan keakraban dan mengekpresikan kasih sayang kepada anaknya. Uniknya pemakaian bentuk sapaan kakak/kak digunakan juga kepada anaknya yang merupakan anak tunggal. Hal ini dilakukan untuk mengekspresikan perasaan kasing sayang antara seorang ibu kepada anaknya.
Secara literal, kakak berarti saudara yang lebih tua, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam konteks keluarga keluarga bentuk sapaan kakak digunakan untuk menyebut atau menyapa saudara yang lebih tua. Di Luar konteks keluarga bentuk sapaan kakak digunakan untuk menyapa atau merujuk pada seseorang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan, khususnya dalam percakapan sehari-hari yang informal.
Lalu bagaimana sebaiknya bentuk sapaan yang digunakan untuk anak? Sebaiknya bentuk sapaan yang digunakan adalah nama diri. Jika anak tersebut nama Diah, sebaiknya bentuk sapaan yang digunakan adalah dengan menggunakan nama diri anak tersebut. Hal ini dilakukan agar tidak mengaburkan makna bentuk sapaan adik/dek dan kakak. [T]
Penulis: Ketut Suar Adnyana
Editor: Jaswanto



























