DERING notifikasi WhatsApp grup keluarga berbunyi pagi hari. Ternyata ayahku tersayang mengirimkan video reporter media CNN yang melaporkan kehebatan herbal untuk menyembuhkan kesehatan. Tak ayal, ayah selalu memberikan informasi kesehatan karena sangat perhatian atas kondisi autoimunku. Untuk kali ini ayah memberikan video berita CNN durasi 2 (dua) menit dengan narasumber Siti Fadilah Supari, Mantan Menteri Kesehatan Indonesia dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Judul video ini cukup menggelitik bagiku “Gunakan hanya satu buah daun kelor dan 10 gram soda di pagi hari jika persendianmu terasa tidak nyaman dan sakit”. Saat itu juga aku langsung mengetahui bahwa informasi tersebut palsudan tidak valid. Hebatnya, video tersebut menunjukkan mantan Menteri Kesehatan ini benar mengatakan istimewanya daun kelor dalam menyembuhkan sakit sendi. Gerakan bibirnya sepertinya nyata mengatakan memang daun kelor sangat powerful. Tak hanya Siti Fadilah, reporter CNN pun terlihat lugas saat memberitakan si daun kelor. Namun demikian, jika melihat lebih teliti lagi, video tersebut hoax.
Dikutip dari Kementerian Komunikasi dan Digital terdapat 1.923 konten hoaks, berita bohong dan informasi palsu sepanjang tahun 2024. Konten hoaks kesehatan menempati urutan keempat dengan total 163 setelah penipuan (890 konten), politik (237 konten), dan pemerintahan (214 konten). Terlebih dengan adanya penyuntingan video berbasis AI, berita hoaks diprediksikan lebih banyak lagi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Apalagi dengan adanya fitur AI dari Google yaitu Veo 3. Masyarakat akan mendapat kemudahan untuk membuat video yang terasa nyata tanpa melakukan shooting. Mereka hanya memasukkan perintah sesuai prompt atau perintah. Sebenarnya hal ini bagus karena sebagai kemajuan teknologi terlebih untuk efisiensi. Akan tetapi ancaman mengintai, Komdigi akan bekerja lebih keras tentunya karena lagi-lagi berita hoaks akan lebih mudah dibuat dan diseminasikan.
Ancaman ini mengintai tidak hanya generasi baby boomers (1946–1964), namun seluruh generasi X (1965–1980), generasi milenial (1981–1996) dan generasi Z (1997–2012). Hal ini dilandasi atas penelitian yang dilakukan University of Cambridge selama 2 (dua) tahun yang melibatkan kurang lebih 8.000 partisipan di Amerika Serikat dan Inggris. Penelitian ini menggunakan misinformation vulnerability test di mana responden memilih mana informasi yang benar atau palsu. Hasilnya adalah 65% orang dewasa (generasi baby boomers dan X) dapat memilah informasi hoaks. Sedangkan generasi muda lebih buruk untuk dapat mengidentifikasi berita hoaks. Hanya 11% generasi muda yang dapat mengetahui informasi palsu atau tidak.
Yang kita ketahui adalah orang tua lebih tidak memahami untuk memahami suatu kebenaran informasi. Namun berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin sering individu berseluncur di sosial media, semakin mudah individu tersebut terpapar berita hoaks karena tidak melakukan validasi atas suatu informasi. Aku pun mengiyakan hal ini karena memang ayahku sering bermain ponsel apalagi beliau TikTokers.
Dengan semakin berkembangnya berita hoaks, seluruh masyarakat berperan penting baik dari pemerintah, LSM maupun individu masyarakat itu sendiri. Pemerintah khususnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan LSM bekerja sama dengan memberikan edukasi baik offline maupun online bagaimana cara menangani berita hoaks. Langkah yang dapat dilakukan seperti melakukan kroscek di website terpercaya misalnya Komdigi, Kemenkes atau IDI. Namun jika Anda tidak mendapatkan suatu informasi dari website, Anda bisa bertanya langsung dengan dokter yang memiliki kemampuan untuk menjawab.
Jadi, jangan lupa untuk melakukan validasi yah atas informasi kesehatan yang kamu terima, apalagi kalau dari WhatsApp grup keluarga. [T]
Sumber:
Komdigi. (2025). Komdigi Identifikasi 1.923 Konten Hoaks Sepanjang Tahun 2024. Diakses pada 4 Juni 2025, dari https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/komdigi-identifikasi-1923-konten-hoaks-sepanjang-tahun-2024.komdigi.go.id
Maertens, R., Götz, F.M., Golino, H.F. et al. The Misinformation Susceptibility Test (MIST): A psychometrically validated measure of news veracity discernment. Behav Res 56, 1863–1899 (2024). https://doi.org/10.3758/s13428-023-02124-2
Penulis: Deanda Dewindaru
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























