12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meredefinisi Kebangkitan Nasional di Era Digital

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

“Bangsa adalah komunitas terbayang, dan seperti komunitas lainnya, bangsa hanya hidup sejauh ia diyakini oleh orang-orang yang menjadi bagiannya.”
— Benedict Anderson, Imagined Communities (1983)–

MENYONGSONG peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, kita senantiasa dihadapkan pada suatu pekerjaan rumah yang tak pernah usai dan memang jangan usai. Yakni memperbaharui lagi semangat kebangsaan kita.  Setiap bulan Mei, kita mendengar lagi jargon-jargon lama yang dihidupkan ulang dari buku paket Pendidikan Kewarganegaraan: persatuan, nasionalisme, cita-cita bangsa.

Tapi pertanyaan reflektif  yang sekarang mulai jarang ditanyakan adalah, kebangkitan nasional ini bangkit dari apa dan untuk apa? Dan di tengah ini semua, konsep “bangsa” itu sendiri mulai terasa seperti artefak zaman baheula. Jujur saja, masih perlukah bicara soal nasionalisme ketika batas negara makin kabur, dan anak-anak muda lebih mengenal idol Korea ketimbang pahlawan nasional?

Sidang pembaca yang budiman, mari kita mulai dengan teori klasik dari Benedict Anderson. Dalam bukunya Imagined Communities, Anderson menyebut bahwa bangsa bukanlah fakta biologis, tetapi konstruksi sosial yang dibayangkan oleh sekelompok orang sebagai satu kesatuan. Mereka ini merasa satu, meskipun tak pernah bertatap muka.

Meski bukanmerupakan saudara ataupun ada hubungan keluarga. Menurut Anderson, rasa kebangsaan ini dimungkinkan adanya oleh (waktu itu) media cetak, bahasa yang diseragamkan, dan narasi sejarah yang dimiliki bersama. Inilah yang memungkinkan kita semua, baik orang Aceh, Sunda, Dayak, dan Bugis membayangkan diri sebagai “orang Indonesia”.

Tapi di era digital, yang terjadi justru sebaliknya, yaitu fragmentasi identitas. Algoritma sosial media menggiring kita masuk ke echo chamber, bergaul hanya dengan yang sepemikiran. Yang sama seleranya saja. Yang Jawa sibuk dengan konten budaya Jawa, yang urban nonton Netflix dan ngetwit pakai bahasa Jaksel, sementara yang lain tenggelam dalam grup WA keluarga lengkap dengan konsumsi hoaks berlusin-lusin. Bangsa yang dulunya dibayangkan sebagai satu tubuh bersama, kini lebih mirip kolase digital yang tak tersambung dengan rapat dan utuh. Agak-agak kendor begitu, sentil sedikit runtuh bentuknya.

Generasi yang Lupa Sejarah dan Tidak Merasa Bersalah

Kita tidak bisa menyalahkan generasi muda karena tidak hafal isi Sumpah Pemuda. Yang salah justru mereka yang masih mengira nasionalisme bisa dipaksakan lewat hafalan dan upacara bendera. Generasi ini dibesarkan dalam dunia yang serba real-time, visual, dan instan. Kita tidak akan bisa menginspirasi mereka dengan ceramah tentang Boedi Oetomo, sambil masih pakai template PowerPoint tahun 2004.

Bahwa sejarah bangsa itu sungguh penting, memang iya. Tapi, cara kita menceritakannya yang sering kali gagal membuatnya relevan. Alih-alih membuat sejarah sebagai medan refleksi kritis, kita justru menjadikannya sebagai museum steril bak pajangan saja.

Padahal, menurut Yuval Noah Harari dalam Sapiens (2011), narasi sejarah adalah salah satu alat paling kuat untuk membentuk solidaritas sosial. Tapi narasi itu harus terus diperbarui. Kalau tidak, ia akan ditinggalkan. Seperti lagu perjuangan yang terus diputar, tapi tak lagi menggugah, hanya malah mengganggu. Sejarah yang tak berevolusi hanya akan menjadi fosil, dipajang, dikenang, tapi tak lagi menggerakkan.

Bagaimana pun, setiap generasi memiliki cerminannya sendiri, tafsirnya sendiri, dan maknanya sendiri terhadap masa lalu. Jika narasi lama tak mampu kompromi dengan perubahan zaman, maka ia akan dilupakan, digeser oleh cerita hari ini yang lebih relevan, yang lebih dekat dengan denyut kehidupan sekarang. Sebab ingatan kolektif  sebagai bangsa bukan berupa susunan kata yang kita hafalkan dari buku sejarah, tapi berupa suatu semangat, semangat kebangsaan yang apinya harus terus dijaga agar tetap menyala. Sebab dalam hari-hari mendekati peringatan Kebangkitan Nasional ini, kita mau tak mau tetap harus menengok pada sejarah. Sebab saya yakin, tak ada bangsa besar yang lahir dari ingatan yang pendek dan imajinasi yang sempit.

Digitalisme, Kewarganegaraan Baru?

Kini muncul tren baru, sering kita dengungkan sebagai warga digital global. Identitas nasional terkadang kalah penting dibanding komunitas virtual. Seorang pemuda di Indonesia bisa merasa lebih dekat dengan gamer di Finlandia ketimbang tetangga kosnya sendiri. Aneh jika ini kejadian di masa lalu, tapi kenyataan ini terasa masuk akal di jaman sekarang, kan? Apakah ini berarti sekarang nasionalisme mati? Tentu tidak, nasionalisme hanya bertransformasi.

Anak muda hari ini mungkin tidak lagi mengibarkan bendera, tapi mereka mempromosikan kopi lokal di TikTok, membuat startup untuk petani desa, atau membela Palestina dengan media desain grafis. Bentuknya berubah, tapi jiwa kolektifnya bisa tetap ada, dengan syarat, jika diberi ruang. Masalahnya, negara sering lamban menangkap sinyal ini. Pendidikan masih berpikir dalam kurikulum zaman Orde Baru. Peringatan nasional masih mengulang upacara yang sama, pidato yang sama, mungkin siapa tahu, bisa jadi typo yang sama.

Seperti dikatakan George Santayana jauh tahun dalam bukunya The Life of Reason (1905), “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”, di mana ia menjelaskan bahwa kemajuan manusia bergantung pada kemampuan untuk mempertahankan pengalaman dan belajar dari sejarah.  Maka, jika saat ini para pembaca yang budiman merasa Indonesia belum maju, jangan-jangan, kita sedang mengulang ketertinggalan yang sama, tapi dengan wajah baru, misal korupsi sistemik, kemiskinan berlarut, budaya populer yang ecek-ecek, serta bangsa yang semakin mudah dipecahambyarkan karena hoaks dan identitas sempit.

Jika dulu kebangkitan nasional artinya menolak kolonialisme Belanda, maka mestinya hari ini maknanya bisa lebih luas. Kebangkitan nasional bisa berarti melawan korupsi yang menjajah masa depan anak muda, melawan ketimpangan yang membuat pendidikan berkualitas jadi barang mewah, melawan hoaks yang memecah belah warga, atau melawan konsumerisme yang menindas budaya lokal.

Peringatan bertajuk 20 Mei mungkin hanya simbol. Tapi seperti kata Clifford Geertz, simbol adalah kunci dalam memahami budaya. Tanpa simbol, kita kehilangan pegangan kolektif. Sama seperti tiang bendera,  diam kokoh tak bergerak, tapi menopang semua makna yang berkibar di atasnya. Maka kalau ada yang tak hendak hormat pada bendera Indonesia, jelas dia tak hendak menjadi bagian dari bangsa ini. Bukan hormat pada kainnya, tapi pada makna yang dikandungnya.  

Awas Ketiduran!

Namun, kita harus hati-hati, merayakan simbol tanpa memahami makna adalah bentuk lain dari tidur lelap dalam kemerdekaan. Begitu dibangunkan, lantas tergagap-gagap bingung, karena tak punya konsep. Jangan sampai peringatan 20 Mei hanya jadi rutinitas tanpa refleksi.

Kalau kita rayakan Boedi Oetomo tapi tanpa menyadari bahwa pendidikan hari ini masih mahal dan eksklusif, kita sedang dalam kondisi munafik mode on. Kalau kita terkagum-kagum perjuangan masa lalu, tapi hari ini cuek saja pada politik dan tidak peduli lingkungan, kita sedang gagal paham tentang nasionalisme.

Sebagai warga negara di era algoritma, bangkit bisa berarti berani berpikir kritis meski berbeda dari arus utama, berani peduli saat orang lain sibuk scroll konten viral, berani terlibat dalam demokrasi, komunitas, dan perjuangan sosial, serta berani hidup sederhana ketika gaya hidup konsumtif dan  flexing dipuja. Kebangkitan nasional hari ini harus menyentuh semua kelas, semua wilayah, dan semua generasi.

Soekarno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Ironisnya, kata-kata itu makin relevan hari ini. Maka, 20 Mei seharusnya bukan perayaan romantik, tapi pengingat bahwa tugas kebangsaan belumlah usai. Kita belum bangkit sepenuhnya jika sekolah masih jadi beban biaya, bukan tempat pembebasan, jika media masih menjual kebencian demi “klik”, jika budaya lokal masih kalah dari hiburan viral yang tak jelas.

Bangsa yang lupa sejarahnya, kata Bung Karno, adalah bangsa yang rapuh. Tapi bangsa yang hanya mengenang sejarah tanpa berani tetap berjuang, waduh, itu lebih tragis lagi. Jadi, para pembaca yang budiman, selamat menyongsong Hari Kebangkitan Nasional. Masihkah kita meyakini bangsa kita ini? Semoga kali ini kita tidak tertidur lelap dalam kemerdekaan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Pendidikan Kita Sedang Tersesat?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Tags: generasi mudaHari Kebangkitan NasionalKebangkitan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Cina dan Drama Cina, Mana yang Paling Seru?

Next Post

Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer

Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co