2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meredefinisi Kebangkitan Nasional di Era Digital

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

“Bangsa adalah komunitas terbayang, dan seperti komunitas lainnya, bangsa hanya hidup sejauh ia diyakini oleh orang-orang yang menjadi bagiannya.”
— Benedict Anderson, Imagined Communities (1983)–

MENYONGSONG peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, kita senantiasa dihadapkan pada suatu pekerjaan rumah yang tak pernah usai dan memang jangan usai. Yakni memperbaharui lagi semangat kebangsaan kita.  Setiap bulan Mei, kita mendengar lagi jargon-jargon lama yang dihidupkan ulang dari buku paket Pendidikan Kewarganegaraan: persatuan, nasionalisme, cita-cita bangsa.

Tapi pertanyaan reflektif  yang sekarang mulai jarang ditanyakan adalah, kebangkitan nasional ini bangkit dari apa dan untuk apa? Dan di tengah ini semua, konsep “bangsa” itu sendiri mulai terasa seperti artefak zaman baheula. Jujur saja, masih perlukah bicara soal nasionalisme ketika batas negara makin kabur, dan anak-anak muda lebih mengenal idol Korea ketimbang pahlawan nasional?

Sidang pembaca yang budiman, mari kita mulai dengan teori klasik dari Benedict Anderson. Dalam bukunya Imagined Communities, Anderson menyebut bahwa bangsa bukanlah fakta biologis, tetapi konstruksi sosial yang dibayangkan oleh sekelompok orang sebagai satu kesatuan. Mereka ini merasa satu, meskipun tak pernah bertatap muka.

Meski bukanmerupakan saudara ataupun ada hubungan keluarga. Menurut Anderson, rasa kebangsaan ini dimungkinkan adanya oleh (waktu itu) media cetak, bahasa yang diseragamkan, dan narasi sejarah yang dimiliki bersama. Inilah yang memungkinkan kita semua, baik orang Aceh, Sunda, Dayak, dan Bugis membayangkan diri sebagai “orang Indonesia”.

Tapi di era digital, yang terjadi justru sebaliknya, yaitu fragmentasi identitas. Algoritma sosial media menggiring kita masuk ke echo chamber, bergaul hanya dengan yang sepemikiran. Yang sama seleranya saja. Yang Jawa sibuk dengan konten budaya Jawa, yang urban nonton Netflix dan ngetwit pakai bahasa Jaksel, sementara yang lain tenggelam dalam grup WA keluarga lengkap dengan konsumsi hoaks berlusin-lusin. Bangsa yang dulunya dibayangkan sebagai satu tubuh bersama, kini lebih mirip kolase digital yang tak tersambung dengan rapat dan utuh. Agak-agak kendor begitu, sentil sedikit runtuh bentuknya.

Generasi yang Lupa Sejarah dan Tidak Merasa Bersalah

Kita tidak bisa menyalahkan generasi muda karena tidak hafal isi Sumpah Pemuda. Yang salah justru mereka yang masih mengira nasionalisme bisa dipaksakan lewat hafalan dan upacara bendera. Generasi ini dibesarkan dalam dunia yang serba real-time, visual, dan instan. Kita tidak akan bisa menginspirasi mereka dengan ceramah tentang Boedi Oetomo, sambil masih pakai template PowerPoint tahun 2004.

Bahwa sejarah bangsa itu sungguh penting, memang iya. Tapi, cara kita menceritakannya yang sering kali gagal membuatnya relevan. Alih-alih membuat sejarah sebagai medan refleksi kritis, kita justru menjadikannya sebagai museum steril bak pajangan saja.

Padahal, menurut Yuval Noah Harari dalam Sapiens (2011), narasi sejarah adalah salah satu alat paling kuat untuk membentuk solidaritas sosial. Tapi narasi itu harus terus diperbarui. Kalau tidak, ia akan ditinggalkan. Seperti lagu perjuangan yang terus diputar, tapi tak lagi menggugah, hanya malah mengganggu. Sejarah yang tak berevolusi hanya akan menjadi fosil, dipajang, dikenang, tapi tak lagi menggerakkan.

Bagaimana pun, setiap generasi memiliki cerminannya sendiri, tafsirnya sendiri, dan maknanya sendiri terhadap masa lalu. Jika narasi lama tak mampu kompromi dengan perubahan zaman, maka ia akan dilupakan, digeser oleh cerita hari ini yang lebih relevan, yang lebih dekat dengan denyut kehidupan sekarang. Sebab ingatan kolektif  sebagai bangsa bukan berupa susunan kata yang kita hafalkan dari buku sejarah, tapi berupa suatu semangat, semangat kebangsaan yang apinya harus terus dijaga agar tetap menyala. Sebab dalam hari-hari mendekati peringatan Kebangkitan Nasional ini, kita mau tak mau tetap harus menengok pada sejarah. Sebab saya yakin, tak ada bangsa besar yang lahir dari ingatan yang pendek dan imajinasi yang sempit.

Digitalisme, Kewarganegaraan Baru?

Kini muncul tren baru, sering kita dengungkan sebagai warga digital global. Identitas nasional terkadang kalah penting dibanding komunitas virtual. Seorang pemuda di Indonesia bisa merasa lebih dekat dengan gamer di Finlandia ketimbang tetangga kosnya sendiri. Aneh jika ini kejadian di masa lalu, tapi kenyataan ini terasa masuk akal di jaman sekarang, kan? Apakah ini berarti sekarang nasionalisme mati? Tentu tidak, nasionalisme hanya bertransformasi.

Anak muda hari ini mungkin tidak lagi mengibarkan bendera, tapi mereka mempromosikan kopi lokal di TikTok, membuat startup untuk petani desa, atau membela Palestina dengan media desain grafis. Bentuknya berubah, tapi jiwa kolektifnya bisa tetap ada, dengan syarat, jika diberi ruang. Masalahnya, negara sering lamban menangkap sinyal ini. Pendidikan masih berpikir dalam kurikulum zaman Orde Baru. Peringatan nasional masih mengulang upacara yang sama, pidato yang sama, mungkin siapa tahu, bisa jadi typo yang sama.

Seperti dikatakan George Santayana jauh tahun dalam bukunya The Life of Reason (1905), “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”, di mana ia menjelaskan bahwa kemajuan manusia bergantung pada kemampuan untuk mempertahankan pengalaman dan belajar dari sejarah.  Maka, jika saat ini para pembaca yang budiman merasa Indonesia belum maju, jangan-jangan, kita sedang mengulang ketertinggalan yang sama, tapi dengan wajah baru, misal korupsi sistemik, kemiskinan berlarut, budaya populer yang ecek-ecek, serta bangsa yang semakin mudah dipecahambyarkan karena hoaks dan identitas sempit.

Jika dulu kebangkitan nasional artinya menolak kolonialisme Belanda, maka mestinya hari ini maknanya bisa lebih luas. Kebangkitan nasional bisa berarti melawan korupsi yang menjajah masa depan anak muda, melawan ketimpangan yang membuat pendidikan berkualitas jadi barang mewah, melawan hoaks yang memecah belah warga, atau melawan konsumerisme yang menindas budaya lokal.

Peringatan bertajuk 20 Mei mungkin hanya simbol. Tapi seperti kata Clifford Geertz, simbol adalah kunci dalam memahami budaya. Tanpa simbol, kita kehilangan pegangan kolektif. Sama seperti tiang bendera,  diam kokoh tak bergerak, tapi menopang semua makna yang berkibar di atasnya. Maka kalau ada yang tak hendak hormat pada bendera Indonesia, jelas dia tak hendak menjadi bagian dari bangsa ini. Bukan hormat pada kainnya, tapi pada makna yang dikandungnya.  

Awas Ketiduran!

Namun, kita harus hati-hati, merayakan simbol tanpa memahami makna adalah bentuk lain dari tidur lelap dalam kemerdekaan. Begitu dibangunkan, lantas tergagap-gagap bingung, karena tak punya konsep. Jangan sampai peringatan 20 Mei hanya jadi rutinitas tanpa refleksi.

Kalau kita rayakan Boedi Oetomo tapi tanpa menyadari bahwa pendidikan hari ini masih mahal dan eksklusif, kita sedang dalam kondisi munafik mode on. Kalau kita terkagum-kagum perjuangan masa lalu, tapi hari ini cuek saja pada politik dan tidak peduli lingkungan, kita sedang gagal paham tentang nasionalisme.

Sebagai warga negara di era algoritma, bangkit bisa berarti berani berpikir kritis meski berbeda dari arus utama, berani peduli saat orang lain sibuk scroll konten viral, berani terlibat dalam demokrasi, komunitas, dan perjuangan sosial, serta berani hidup sederhana ketika gaya hidup konsumtif dan  flexing dipuja. Kebangkitan nasional hari ini harus menyentuh semua kelas, semua wilayah, dan semua generasi.

Soekarno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Ironisnya, kata-kata itu makin relevan hari ini. Maka, 20 Mei seharusnya bukan perayaan romantik, tapi pengingat bahwa tugas kebangsaan belumlah usai. Kita belum bangkit sepenuhnya jika sekolah masih jadi beban biaya, bukan tempat pembebasan, jika media masih menjual kebencian demi “klik”, jika budaya lokal masih kalah dari hiburan viral yang tak jelas.

Bangsa yang lupa sejarahnya, kata Bung Karno, adalah bangsa yang rapuh. Tapi bangsa yang hanya mengenang sejarah tanpa berani tetap berjuang, waduh, itu lebih tragis lagi. Jadi, para pembaca yang budiman, selamat menyongsong Hari Kebangkitan Nasional. Masihkah kita meyakini bangsa kita ini? Semoga kali ini kita tidak tertidur lelap dalam kemerdekaan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Pendidikan Kita Sedang Tersesat?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Tags: generasi mudaHari Kebangkitan NasionalKebangkitan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Cina dan Drama Cina, Mana yang Paling Seru?

Next Post

Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer

Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co