14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meredefinisi Kebangkitan Nasional di Era Digital

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

“Bangsa adalah komunitas terbayang, dan seperti komunitas lainnya, bangsa hanya hidup sejauh ia diyakini oleh orang-orang yang menjadi bagiannya.”
— Benedict Anderson, Imagined Communities (1983)–

MENYONGSONG peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, kita senantiasa dihadapkan pada suatu pekerjaan rumah yang tak pernah usai dan memang jangan usai. Yakni memperbaharui lagi semangat kebangsaan kita.  Setiap bulan Mei, kita mendengar lagi jargon-jargon lama yang dihidupkan ulang dari buku paket Pendidikan Kewarganegaraan: persatuan, nasionalisme, cita-cita bangsa.

Tapi pertanyaan reflektif  yang sekarang mulai jarang ditanyakan adalah, kebangkitan nasional ini bangkit dari apa dan untuk apa? Dan di tengah ini semua, konsep “bangsa” itu sendiri mulai terasa seperti artefak zaman baheula. Jujur saja, masih perlukah bicara soal nasionalisme ketika batas negara makin kabur, dan anak-anak muda lebih mengenal idol Korea ketimbang pahlawan nasional?

Sidang pembaca yang budiman, mari kita mulai dengan teori klasik dari Benedict Anderson. Dalam bukunya Imagined Communities, Anderson menyebut bahwa bangsa bukanlah fakta biologis, tetapi konstruksi sosial yang dibayangkan oleh sekelompok orang sebagai satu kesatuan. Mereka ini merasa satu, meskipun tak pernah bertatap muka.

Meski bukanmerupakan saudara ataupun ada hubungan keluarga. Menurut Anderson, rasa kebangsaan ini dimungkinkan adanya oleh (waktu itu) media cetak, bahasa yang diseragamkan, dan narasi sejarah yang dimiliki bersama. Inilah yang memungkinkan kita semua, baik orang Aceh, Sunda, Dayak, dan Bugis membayangkan diri sebagai “orang Indonesia”.

Tapi di era digital, yang terjadi justru sebaliknya, yaitu fragmentasi identitas. Algoritma sosial media menggiring kita masuk ke echo chamber, bergaul hanya dengan yang sepemikiran. Yang sama seleranya saja. Yang Jawa sibuk dengan konten budaya Jawa, yang urban nonton Netflix dan ngetwit pakai bahasa Jaksel, sementara yang lain tenggelam dalam grup WA keluarga lengkap dengan konsumsi hoaks berlusin-lusin. Bangsa yang dulunya dibayangkan sebagai satu tubuh bersama, kini lebih mirip kolase digital yang tak tersambung dengan rapat dan utuh. Agak-agak kendor begitu, sentil sedikit runtuh bentuknya.

Generasi yang Lupa Sejarah dan Tidak Merasa Bersalah

Kita tidak bisa menyalahkan generasi muda karena tidak hafal isi Sumpah Pemuda. Yang salah justru mereka yang masih mengira nasionalisme bisa dipaksakan lewat hafalan dan upacara bendera. Generasi ini dibesarkan dalam dunia yang serba real-time, visual, dan instan. Kita tidak akan bisa menginspirasi mereka dengan ceramah tentang Boedi Oetomo, sambil masih pakai template PowerPoint tahun 2004.

Bahwa sejarah bangsa itu sungguh penting, memang iya. Tapi, cara kita menceritakannya yang sering kali gagal membuatnya relevan. Alih-alih membuat sejarah sebagai medan refleksi kritis, kita justru menjadikannya sebagai museum steril bak pajangan saja.

Padahal, menurut Yuval Noah Harari dalam Sapiens (2011), narasi sejarah adalah salah satu alat paling kuat untuk membentuk solidaritas sosial. Tapi narasi itu harus terus diperbarui. Kalau tidak, ia akan ditinggalkan. Seperti lagu perjuangan yang terus diputar, tapi tak lagi menggugah, hanya malah mengganggu. Sejarah yang tak berevolusi hanya akan menjadi fosil, dipajang, dikenang, tapi tak lagi menggerakkan.

Bagaimana pun, setiap generasi memiliki cerminannya sendiri, tafsirnya sendiri, dan maknanya sendiri terhadap masa lalu. Jika narasi lama tak mampu kompromi dengan perubahan zaman, maka ia akan dilupakan, digeser oleh cerita hari ini yang lebih relevan, yang lebih dekat dengan denyut kehidupan sekarang. Sebab ingatan kolektif  sebagai bangsa bukan berupa susunan kata yang kita hafalkan dari buku sejarah, tapi berupa suatu semangat, semangat kebangsaan yang apinya harus terus dijaga agar tetap menyala. Sebab dalam hari-hari mendekati peringatan Kebangkitan Nasional ini, kita mau tak mau tetap harus menengok pada sejarah. Sebab saya yakin, tak ada bangsa besar yang lahir dari ingatan yang pendek dan imajinasi yang sempit.

Digitalisme, Kewarganegaraan Baru?

Kini muncul tren baru, sering kita dengungkan sebagai warga digital global. Identitas nasional terkadang kalah penting dibanding komunitas virtual. Seorang pemuda di Indonesia bisa merasa lebih dekat dengan gamer di Finlandia ketimbang tetangga kosnya sendiri. Aneh jika ini kejadian di masa lalu, tapi kenyataan ini terasa masuk akal di jaman sekarang, kan? Apakah ini berarti sekarang nasionalisme mati? Tentu tidak, nasionalisme hanya bertransformasi.

Anak muda hari ini mungkin tidak lagi mengibarkan bendera, tapi mereka mempromosikan kopi lokal di TikTok, membuat startup untuk petani desa, atau membela Palestina dengan media desain grafis. Bentuknya berubah, tapi jiwa kolektifnya bisa tetap ada, dengan syarat, jika diberi ruang. Masalahnya, negara sering lamban menangkap sinyal ini. Pendidikan masih berpikir dalam kurikulum zaman Orde Baru. Peringatan nasional masih mengulang upacara yang sama, pidato yang sama, mungkin siapa tahu, bisa jadi typo yang sama.

Seperti dikatakan George Santayana jauh tahun dalam bukunya The Life of Reason (1905), “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”, di mana ia menjelaskan bahwa kemajuan manusia bergantung pada kemampuan untuk mempertahankan pengalaman dan belajar dari sejarah.  Maka, jika saat ini para pembaca yang budiman merasa Indonesia belum maju, jangan-jangan, kita sedang mengulang ketertinggalan yang sama, tapi dengan wajah baru, misal korupsi sistemik, kemiskinan berlarut, budaya populer yang ecek-ecek, serta bangsa yang semakin mudah dipecahambyarkan karena hoaks dan identitas sempit.

Jika dulu kebangkitan nasional artinya menolak kolonialisme Belanda, maka mestinya hari ini maknanya bisa lebih luas. Kebangkitan nasional bisa berarti melawan korupsi yang menjajah masa depan anak muda, melawan ketimpangan yang membuat pendidikan berkualitas jadi barang mewah, melawan hoaks yang memecah belah warga, atau melawan konsumerisme yang menindas budaya lokal.

Peringatan bertajuk 20 Mei mungkin hanya simbol. Tapi seperti kata Clifford Geertz, simbol adalah kunci dalam memahami budaya. Tanpa simbol, kita kehilangan pegangan kolektif. Sama seperti tiang bendera,  diam kokoh tak bergerak, tapi menopang semua makna yang berkibar di atasnya. Maka kalau ada yang tak hendak hormat pada bendera Indonesia, jelas dia tak hendak menjadi bagian dari bangsa ini. Bukan hormat pada kainnya, tapi pada makna yang dikandungnya.  

Awas Ketiduran!

Namun, kita harus hati-hati, merayakan simbol tanpa memahami makna adalah bentuk lain dari tidur lelap dalam kemerdekaan. Begitu dibangunkan, lantas tergagap-gagap bingung, karena tak punya konsep. Jangan sampai peringatan 20 Mei hanya jadi rutinitas tanpa refleksi.

Kalau kita rayakan Boedi Oetomo tapi tanpa menyadari bahwa pendidikan hari ini masih mahal dan eksklusif, kita sedang dalam kondisi munafik mode on. Kalau kita terkagum-kagum perjuangan masa lalu, tapi hari ini cuek saja pada politik dan tidak peduli lingkungan, kita sedang gagal paham tentang nasionalisme.

Sebagai warga negara di era algoritma, bangkit bisa berarti berani berpikir kritis meski berbeda dari arus utama, berani peduli saat orang lain sibuk scroll konten viral, berani terlibat dalam demokrasi, komunitas, dan perjuangan sosial, serta berani hidup sederhana ketika gaya hidup konsumtif dan  flexing dipuja. Kebangkitan nasional hari ini harus menyentuh semua kelas, semua wilayah, dan semua generasi.

Soekarno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Ironisnya, kata-kata itu makin relevan hari ini. Maka, 20 Mei seharusnya bukan perayaan romantik, tapi pengingat bahwa tugas kebangsaan belumlah usai. Kita belum bangkit sepenuhnya jika sekolah masih jadi beban biaya, bukan tempat pembebasan, jika media masih menjual kebencian demi “klik”, jika budaya lokal masih kalah dari hiburan viral yang tak jelas.

Bangsa yang lupa sejarahnya, kata Bung Karno, adalah bangsa yang rapuh. Tapi bangsa yang hanya mengenang sejarah tanpa berani tetap berjuang, waduh, itu lebih tragis lagi. Jadi, para pembaca yang budiman, selamat menyongsong Hari Kebangkitan Nasional. Masihkah kita meyakini bangsa kita ini? Semoga kali ini kita tidak tertidur lelap dalam kemerdekaan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Pendidikan Kita Sedang Tersesat?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Tags: generasi mudaHari Kebangkitan NasionalKebangkitan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Cina dan Drama Cina, Mana yang Paling Seru?

Next Post

Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer

Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co