23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiga Tips Menggunakan Kecerdasan Buatan Agar Tidak Terjerat Dehumanisasi

Putu Ayu Sunia Dewi by Putu Ayu Sunia Dewi
April 12, 2025
in Esai
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

Putu Ayu Sunia Dewi

JAUH sebelum adanya pro-kontra tentang perkembangan teknologi kecerdasan buatan, sebelumnya juga ada fenomena yang sama. Yakni ketika awal mula berkembangnya teknologi ojek online.

Saat ojek online muncul, timbul konflik sosial antara para pelaku ojek konvensional vs yang sudah online. Konflik muncul karena lahan tarikan pelaku ojek konvensional seolah-olah direbut oleh ojek yang sudah online, akibat dari sifat teknologi online sendiri yang tidak kenal dengan batas-batas wilayah tarikan.

Singkat cerita konflik ini pun berujung kekalahan dari pelaku ojek konvensional yang mau tak mau harus beradaptasi ke ranah online. Kini, bahkan, rasa-rasanya ojek yang konvensional total sudah jarang kita jumpai. Justru layanan ojek online kini semakin canggih dengan merambah berbagai bidang kebutuhan dengan tawaran keuntungan yang menggiurkan.

Bergerak dari kejadian yang nyata ke scifi, mungkin kita ingat dengan film “I, Robot” yang diperankan oleh Will Smith pada tahun 2005. Film itu bercerita  tentang perkembangan robot baru yang semakin menyerupai manusia, yang hasil akhirnya justru membuat robot itu memberontak terhadap manusia yang menciptakan mereka.

Ada salah satu scene menarik di film yang melibatkan pemikiran Isacc Asimov, novelis yang bergenre futuris (masa depan) itu saat segerombolan robot baru menyerang pusat penyimpangan robot lama yang disaksikan oleh tokoh yang diperankan Will Smith itu.

Dua cerita dari sudut pandang yang berbeda ini secara garis besar menceritakan tiga kepastian kondisi yang akan kita alami dari pekembangan teknologi itu sendiri. Yaitu, pertama, kondisi dari perubahan teknologi yang bakal berpengaruh terhadap cara kita melakukan pekerjaan. Kedua, kondisi dari kebaruan  yang  membuat teknologi lama hilang tak berbekas, sehingga mau tak mau kita  juga harus mengubah teknologi yang kita pakai. Dan, ketiga, tentang kondisi ketidakkontrolan dari teknologi-teknologi baru yang justru menjadi ancaman untuk kemanusiaan bak film terminator atau “I, Robot”.

Perihal kondisi yang ketiga sebenarnya pada saat perayaan ogoh-ogoh tahun ini ada satu karya bernas dari seorang seniman ogoh-ogoh  asal Denpasar, Bli Marmar dalam karyanya berjudul KI AI NIR NUR,  menceritakan bagaimana perkembangan kecerdasan tanpa kesadaran justru membuat alam bertindak memberi balasan. Tentu kita tidak ingin perkembangan teknologi kemudian merusak batasan sehingga semesta meresponnya dengan rangkaian fenomena yang tidak kita inginkan.  

Jika kita kontekskan dalam perkembangan kecerdasan buatan yang semakin hari semakin meningkat kemampuannya itu maka tiga kondisi yang saya sebutkan sebelumya, memang  tidak dapat  hindari. Boleh-boleh saja kita terbelah ke dalam pro dan kontra, namun hasil akhirnya hanya memberikan kita dua pilihan untuk beradapatasi (menyesuaikan diri) atau malah terjebak dalam stagnasi (ketidakberubahan).

Thomas Friedman pernah berhipotesis jika kemajuan teknologi sangatlah cepat berbanding terbalik dengan kemampuan kita beradaptasi dengannya, Oleh karena itu, dalam konteks AI, kemampuan kita beradaptasi amat menentukan output yang dapat kita raih dari AI itu sendiri. Tapi, adaptasi juga ada dua kategori. yaitu  beradaptasi secara bijak atau malah  beradaptasi yang  “mengikut arus”.Pada kondisi yang pertama adaptasi kita masih terkontrol dan memberi output yang tidak  menjebak kita pada dehumanisasi sementara pada kondisi yang kedua justru terjadi sebaliknya.

Setidaknya ada tiga tips yang dapat kita jadikan praksis agar adaptasi kita bijak.

Tips yang pertama, jadikan kecerdasan buatan sebagai mitra kita untuk melatih cara berpikir bukan malah menumpulkan pikiran.

Kalau dicermati perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang sudah dapat berpikir layaknya manusia, apalagi setelah lulus uji tes turing yang menjadi barometer intelegensi mesin pembelajaran (machine learning), sebagaimana dirilis oleh media futurism (2025) baru-baru ini, berdasarkan hasil riset oleh Cameron Jones, peneliti di Lab Bahasa dan Kognisi UC San Diego itu dapat dijadikan sarana untuk berdialektika. Atau, dalam bahasa sederhananya bertukar dan menguji kualitas kita berpikir.

Tapi, tips yang pertama ini harus dimulai dari kemampuan kita untuk bertanya secara benar dan merespon hasil dari kecerdasan buatan itu secara kritis, tidak asal terjebak budaya copy-paste yang justru menumpulkan pikiran.

Tips yang kedua: tetapkan batasan etika dalam penggunaan AI. Sebelum mengadopsi AI, buatlah pedoman etika yang jelas dan berkomitmenlah terhadap etika itu. Sadar akan konsukensi secara sosial, agama, dan hukum menjadi hal penting yang harus dilakukan,  Misalnya, hindari penggunaan AI untuk manipulasi data atau penyebaran hoaks.

Tips yang ketiga, beri batasan terhadap peran AI ketika menyelesaikan suatu pekerjaan,  hal ini menjadi amat penting agar kita tidak terjebak dalam budaya instan yang justru menumpulkan naluri terhadap karya, karsa, dan rasa. AI memang mempermudah pekerjaan kita namun bukan berarti menjebak kita kedalam kedangkalan pola pikir ataupun perilaku, oleh karena itu beri batasan terhadap peran AI dalam setiap aktivis yang ingin kita kerjakan menggunakan AI itu sendiri. 

Pada akhirnya kemajuan AI akan berpengaruh terhadap cara kita menjalani kehidupan kedepannya, AI bagaikan pisau bermata dua yang dapat mempermudah namun juga merugikan bergantung kepada kita dalam menggunakannya.

Oleh karena itu beradaptasi secara bijak, rasional, dan beretika menjadi prinsip serta pilihan yang harus kita lakukan agar AI tidak menurunkan kualitas kemanusiaan kita yang sudah sebaik-baiknya diciptakan oleh Tuhan sebagaimana diksi teologis ‘Imago dei’ atau manusia diciptakan menurut gambar dan rupa dari pencipta itu yang tentu saja  membedakannya dari ciptaan lainnya karena memiliki kualitas seperti kecerdasan, kebebasan berkehendak, dan kemampuan untuk berhubungan yang tidak boleh rusak hanya karena perkembangan AI yang semakin muktahir. [T]

Penulis: Putu Ayu Sunia Dewi
Editor: Adnyana Ole

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?
ChatGPT, Solusi Cerdas atau Sekadar Jalan Pintas?
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme
Tags: AIkomunikasitekhnologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari SMK Fest:  Ruang Kontemplatif untuk Merefleksikan Arah Pendidikan Vokasi di Bali

Next Post

Puisi-puisi Yahya Umar | Cinta, Tuntunlah Rindu Menuju Jalan Pulang

Putu Ayu Sunia Dewi

Putu Ayu Sunia Dewi

Mahasiswa S2 di dua perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Bali mengambil konsentrasi bisnis digital dan Inti International College Malaysia mengambil jurusan informasi teknologi. Saat ini terlibat aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai ketua departemen sumber daya manusia PPI TV . Penulis dapat dihubungi di putuayusuniadewi@gmail.com

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yahya Umar | Cinta, Tuntunlah Rindu Menuju Jalan Pulang

Puisi-puisi Yahya Umar | Cinta, Tuntunlah Rindu Menuju Jalan Pulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co