13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiga Tips Menggunakan Kecerdasan Buatan Agar Tidak Terjerat Dehumanisasi

Putu Ayu Sunia Dewi by Putu Ayu Sunia Dewi
April 12, 2025
in Esai
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

Putu Ayu Sunia Dewi

JAUH sebelum adanya pro-kontra tentang perkembangan teknologi kecerdasan buatan, sebelumnya juga ada fenomena yang sama. Yakni ketika awal mula berkembangnya teknologi ojek online.

Saat ojek online muncul, timbul konflik sosial antara para pelaku ojek konvensional vs yang sudah online. Konflik muncul karena lahan tarikan pelaku ojek konvensional seolah-olah direbut oleh ojek yang sudah online, akibat dari sifat teknologi online sendiri yang tidak kenal dengan batas-batas wilayah tarikan.

Singkat cerita konflik ini pun berujung kekalahan dari pelaku ojek konvensional yang mau tak mau harus beradaptasi ke ranah online. Kini, bahkan, rasa-rasanya ojek yang konvensional total sudah jarang kita jumpai. Justru layanan ojek online kini semakin canggih dengan merambah berbagai bidang kebutuhan dengan tawaran keuntungan yang menggiurkan.

Bergerak dari kejadian yang nyata ke scifi, mungkin kita ingat dengan film “I, Robot” yang diperankan oleh Will Smith pada tahun 2005. Film itu bercerita  tentang perkembangan robot baru yang semakin menyerupai manusia, yang hasil akhirnya justru membuat robot itu memberontak terhadap manusia yang menciptakan mereka.

Ada salah satu scene menarik di film yang melibatkan pemikiran Isacc Asimov, novelis yang bergenre futuris (masa depan) itu saat segerombolan robot baru menyerang pusat penyimpangan robot lama yang disaksikan oleh tokoh yang diperankan Will Smith itu.

Dua cerita dari sudut pandang yang berbeda ini secara garis besar menceritakan tiga kepastian kondisi yang akan kita alami dari pekembangan teknologi itu sendiri. Yaitu, pertama, kondisi dari perubahan teknologi yang bakal berpengaruh terhadap cara kita melakukan pekerjaan. Kedua, kondisi dari kebaruan  yang  membuat teknologi lama hilang tak berbekas, sehingga mau tak mau kita  juga harus mengubah teknologi yang kita pakai. Dan, ketiga, tentang kondisi ketidakkontrolan dari teknologi-teknologi baru yang justru menjadi ancaman untuk kemanusiaan bak film terminator atau “I, Robot”.

Perihal kondisi yang ketiga sebenarnya pada saat perayaan ogoh-ogoh tahun ini ada satu karya bernas dari seorang seniman ogoh-ogoh  asal Denpasar, Bli Marmar dalam karyanya berjudul KI AI NIR NUR,  menceritakan bagaimana perkembangan kecerdasan tanpa kesadaran justru membuat alam bertindak memberi balasan. Tentu kita tidak ingin perkembangan teknologi kemudian merusak batasan sehingga semesta meresponnya dengan rangkaian fenomena yang tidak kita inginkan.  

Jika kita kontekskan dalam perkembangan kecerdasan buatan yang semakin hari semakin meningkat kemampuannya itu maka tiga kondisi yang saya sebutkan sebelumya, memang  tidak dapat  hindari. Boleh-boleh saja kita terbelah ke dalam pro dan kontra, namun hasil akhirnya hanya memberikan kita dua pilihan untuk beradapatasi (menyesuaikan diri) atau malah terjebak dalam stagnasi (ketidakberubahan).

Thomas Friedman pernah berhipotesis jika kemajuan teknologi sangatlah cepat berbanding terbalik dengan kemampuan kita beradaptasi dengannya, Oleh karena itu, dalam konteks AI, kemampuan kita beradaptasi amat menentukan output yang dapat kita raih dari AI itu sendiri. Tapi, adaptasi juga ada dua kategori. yaitu  beradaptasi secara bijak atau malah  beradaptasi yang  “mengikut arus”.Pada kondisi yang pertama adaptasi kita masih terkontrol dan memberi output yang tidak  menjebak kita pada dehumanisasi sementara pada kondisi yang kedua justru terjadi sebaliknya.

Setidaknya ada tiga tips yang dapat kita jadikan praksis agar adaptasi kita bijak.

Tips yang pertama, jadikan kecerdasan buatan sebagai mitra kita untuk melatih cara berpikir bukan malah menumpulkan pikiran.

Kalau dicermati perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang sudah dapat berpikir layaknya manusia, apalagi setelah lulus uji tes turing yang menjadi barometer intelegensi mesin pembelajaran (machine learning), sebagaimana dirilis oleh media futurism (2025) baru-baru ini, berdasarkan hasil riset oleh Cameron Jones, peneliti di Lab Bahasa dan Kognisi UC San Diego itu dapat dijadikan sarana untuk berdialektika. Atau, dalam bahasa sederhananya bertukar dan menguji kualitas kita berpikir.

Tapi, tips yang pertama ini harus dimulai dari kemampuan kita untuk bertanya secara benar dan merespon hasil dari kecerdasan buatan itu secara kritis, tidak asal terjebak budaya copy-paste yang justru menumpulkan pikiran.

Tips yang kedua: tetapkan batasan etika dalam penggunaan AI. Sebelum mengadopsi AI, buatlah pedoman etika yang jelas dan berkomitmenlah terhadap etika itu. Sadar akan konsukensi secara sosial, agama, dan hukum menjadi hal penting yang harus dilakukan,  Misalnya, hindari penggunaan AI untuk manipulasi data atau penyebaran hoaks.

Tips yang ketiga, beri batasan terhadap peran AI ketika menyelesaikan suatu pekerjaan,  hal ini menjadi amat penting agar kita tidak terjebak dalam budaya instan yang justru menumpulkan naluri terhadap karya, karsa, dan rasa. AI memang mempermudah pekerjaan kita namun bukan berarti menjebak kita kedalam kedangkalan pola pikir ataupun perilaku, oleh karena itu beri batasan terhadap peran AI dalam setiap aktivis yang ingin kita kerjakan menggunakan AI itu sendiri. 

Pada akhirnya kemajuan AI akan berpengaruh terhadap cara kita menjalani kehidupan kedepannya, AI bagaikan pisau bermata dua yang dapat mempermudah namun juga merugikan bergantung kepada kita dalam menggunakannya.

Oleh karena itu beradaptasi secara bijak, rasional, dan beretika menjadi prinsip serta pilihan yang harus kita lakukan agar AI tidak menurunkan kualitas kemanusiaan kita yang sudah sebaik-baiknya diciptakan oleh Tuhan sebagaimana diksi teologis ‘Imago dei’ atau manusia diciptakan menurut gambar dan rupa dari pencipta itu yang tentu saja  membedakannya dari ciptaan lainnya karena memiliki kualitas seperti kecerdasan, kebebasan berkehendak, dan kemampuan untuk berhubungan yang tidak boleh rusak hanya karena perkembangan AI yang semakin muktahir. [T]

Penulis: Putu Ayu Sunia Dewi
Editor: Adnyana Ole

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?
ChatGPT, Solusi Cerdas atau Sekadar Jalan Pintas?
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme
Tags: AIkomunikasitekhnologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari SMK Fest:  Ruang Kontemplatif untuk Merefleksikan Arah Pendidikan Vokasi di Bali

Next Post

Puisi-puisi Yahya Umar | Cinta, Tuntunlah Rindu Menuju Jalan Pulang

Putu Ayu Sunia Dewi

Putu Ayu Sunia Dewi

Mahasiswa S2 di dua perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Bali mengambil konsentrasi bisnis digital dan Inti International College Malaysia mengambil jurusan informasi teknologi. Saat ini terlibat aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai ketua departemen sumber daya manusia PPI TV . Penulis dapat dihubungi di putuayusuniadewi@gmail.com

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yahya Umar | Cinta, Tuntunlah Rindu Menuju Jalan Pulang

Puisi-puisi Yahya Umar | Cinta, Tuntunlah Rindu Menuju Jalan Pulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co