25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2025
in Esai
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara | Foto: diolah tatkala.co

“Saya merasa telah kembali ke tanah air saya sendiri, tidak sebagai tamu asing tetapi sebagai saudara yang telah lama terpisah.”
— Rabindranath Tagore, saat berkunjung ke Indonesia 1927

—

DALAM sejarah peradaban Asia, dua tokoh besar—Rabindranath Tagore dari India dan Ki Hajar Dewantara dari Indonesia—berdiri sebagai mercusuar kebangkitan budaya dan pendidikan. Meskipun hanya bertemu secara fisik sekali dalam hidup mereka, pertemuan itu adalah puncak dari sebuah perjumpaan batin yang jauh lebih dalam.

Mereka disatukan oleh kesadaran spiritual, semangat kebudayaan, dan cita-cita pendidikan yang membebaskan. Pertemuan mereka menjadi simbol dialog panjang antara India dan Indonesia sebagai dua pusat kebudayaan yang memiliki akar spiritual yang serupa dan saling menyapa.

Latar Sejarah Pertemuan

Rabindranath Tagore, penyair, filsuf, dan pendidik besar dari India, melakukan perjalanan ke Hindia Belanda (Indonesia) pada tahun 1927. Salah satu tempat yang dikunjunginya adalah Taman Siswa di Yogyakarta, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Di sana, dua jiwa besar bertemu: Tagore, pendiri Shantiniketan yang menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan jiwa manusia; dan Ki Hajar, peletak dasar pendidikan nasional Indonesia yang mengusung semboyan “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Dalam kunjungan itu, Tagore menulis bahwa ia merasa seolah berada di tanah leluhurnya sendiri. Indonesia, baginya, bukan tanah asing, melainkan bagian dari peradaban spiritual yang sama—warisan India yang menyebar melalui laut dan angin, bukan dengan pedang, melainkan dengan puisi, patung, dan mantera.

Pertemuan Budaya: India dan Indonesia

Pertemuan Tagore dan Ki Hajar bukan hanya antar individu, tetapi pertemuan peradaban. India dan Indonesia memiliki sejarah panjang pertukaran budaya, agama, dan seni. Dari pengaruh Hindu-Buddha di masa klasik hingga hubungan spiritual lewat gerakan kemerdekaan, hubungan ini lebih bersifat perjumpaan batin daripada transaksi politik.

Dalam pandangan Tagore, kebudayaan adalah ekspresi jiwa manusia. Ia menolak kolonialisme bukan hanya karena penindasan fisik, tetapi karena ia menggerus roh suatu bangsa. Ki Hajar memahami hal ini. Ia mendirikan Taman Siswa sebagai bentuk perlawanan terhadap pendidikan kolonial yang menindas identitas bangsa. Keduanya memandang pendidikan sebagai jalan menuju kebebasan sejati—freedom of the soul.

Refleksi Batin: Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Tagore dan Ki Hajar sama-sama menolak model pendidikan Eropa yang kering dan mekanistik. Shantiniketan dan Taman Siswa dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan, alam, seni, dan spiritualitas. Dalam puisi dan esai Tagore, kita menemukan penghargaan mendalam terhadap alam dan kemanusiaan; dalam tulisan-tulisan Ki Hajar, kita menemukan semangat pembebasan dari ketertindasan jiwa akibat penjajahan.

Tagore berkata bahwa pendidikan harus “mengalir seperti sungai,” tidak kaku dan tertutup. Ki Hajar menyebut bahwa pendidikan yang baik adalah yang “membimbing tanpa memaksa.” Dalam pertemuan mereka, dua sungai ini menyatu, mengalir dalam satu arus nilai: pendidikan sebagai cara menghidupkan kembali jiwa bangsa.

Dialog Peradaban: Dari India ke Nusantara

Pertemuan batin itu melampaui batas waktu. Hari ini, saat globalisasi kian menenggelamkan nilai-nilai luhur kebudayaan, refleksi atas dialog Tagore dan Ki Hajar semakin relevan. Mereka mengajarkan kita pentingnya membumikan nilai-nilai universal dalam konteks lokal. Tagore membawa spiritualitas India ke dunia dengan universalitas puisi dan musik. Ki Hajar membangkitkan semangat kebangsaan dengan akar budaya Nusantara yang disinari oleh kesadaran kosmik Nusantara.

Hubungan budaya India dan Indonesia bukan hubungan kolonial, melainkan relasi antar jiwa. Arjuna dan Rama hidup dalam wayang, dalam relief Candi Prambanan dan Borobudur. Bahasa Sanskerta menyusup dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya Tagore merasa “pulang” ke Nusantara.

Anand Krishna: Melanjutkan Dialog Jiwa Lewat Aksi Nyata

Kedalaman perjumpaan batin antara dua tokoh ini tidak berhenti di masa lalu. Guruji Anand Krishna—seorang spiritual humanis, penulis lebih dari 190 judul buku spiritual—mengabadikan warisan bijak Tagore dan Ki Hajar Dewantara dalam bentuk nyata.  Perpustakaan di One Earth Yoga & Meditation Retreat Centre di Ciawi, Bogor, diberi nama Perpustakaan Dewata: Dewantara-Tagore, dua perpaduan nama yang indah penuh makna.

Tindakan ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi perwujudan dari misi pendidikan lintas budaya yang menjunjung spiritualitas universal, humanisme, dan kebebasan berpikir.

Gururuji Anand Krishna sendiri merealisasikan filosofi kedua tokoh tersebut dengan mendirikan sekolah di Bali yang diberi nama One Earth School, Sekolah Satu Bumi, sebagai representasi nyata dari visi Yayasan Anand Ashram: One Earth One Sky One Humankind.

Guruji Anand Krishna meyakini bahwa Indonesia dan India sama-sama memiliki jiwa peradaban yang luhur dan mampu menyumbangkan nilai-nilai kebijaksanaan ke dunia global yang tengah kehilangan orientasi nilai.

Kedua perpustakaan tersebut bukan sekadar tempat buku, melainkan ruang kontemplasi dan dialog batin antar generasi dan antar budaya. Dengan menghimpun literatur spiritual, filsafat Timur dan Barat, serta tulisan-tulisan para bijak seperti Tagore dan Ki Hajar, Guruji Anand Krishna melanjutkan “dialog jiwa” yang sudah dirintis para pendahulu dalam dimensi yang lebih luas dan mendalam.

Penutup: Warisan yang Perlu Dihidupkan

Pertemuan batin Tagore dan Ki Hajar Dewantara adalah warisan berharga. Di tengah krisis pendidikan hari ini, keduanya mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang utuh—manusia yang sadar akan jiwanya, budayanya, dan tanggung jawabnya sebagai warga dunia.

Refleksi atas perjumpaan itu hendaknya tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan menjadi sumber inspirasi dalam membangun pendidikan yang membebaskan, spiritualitas yang inklusif, dan dialog budaya yang saling memperkaya. Seperti yang dilakukan Guruji Anand Krishna, warisan ini layak dijaga dan dihidupkan kembali—tidak hanya di ruang akademik, tetapi di ruang hati dan tindakan nyata.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara
Dari Kartini, Chairil Anwar, Sampai Ki Hadjar Dewantara
Catatan-catatan Rabindranath Tagore tentang Bali
Dongeng Ibu: Rabindranath Tagore dan Perempuan Pemilik Rental Mobil Singaradja
Tags: baliindiaIndonesiaKI Hajar DewantaraPendidikanRabindranath TagoreShantiniketanTaman Siswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Next Post

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails
Next Post
Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali "Mbok" dan "Bli"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co