25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2025
in Esai
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara | Foto: diolah tatkala.co

“Saya merasa telah kembali ke tanah air saya sendiri, tidak sebagai tamu asing tetapi sebagai saudara yang telah lama terpisah.”
— Rabindranath Tagore, saat berkunjung ke Indonesia 1927

—

DALAM sejarah peradaban Asia, dua tokoh besar—Rabindranath Tagore dari India dan Ki Hajar Dewantara dari Indonesia—berdiri sebagai mercusuar kebangkitan budaya dan pendidikan. Meskipun hanya bertemu secara fisik sekali dalam hidup mereka, pertemuan itu adalah puncak dari sebuah perjumpaan batin yang jauh lebih dalam.

Mereka disatukan oleh kesadaran spiritual, semangat kebudayaan, dan cita-cita pendidikan yang membebaskan. Pertemuan mereka menjadi simbol dialog panjang antara India dan Indonesia sebagai dua pusat kebudayaan yang memiliki akar spiritual yang serupa dan saling menyapa.

Latar Sejarah Pertemuan

Rabindranath Tagore, penyair, filsuf, dan pendidik besar dari India, melakukan perjalanan ke Hindia Belanda (Indonesia) pada tahun 1927. Salah satu tempat yang dikunjunginya adalah Taman Siswa di Yogyakarta, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Di sana, dua jiwa besar bertemu: Tagore, pendiri Shantiniketan yang menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan jiwa manusia; dan Ki Hajar, peletak dasar pendidikan nasional Indonesia yang mengusung semboyan “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Dalam kunjungan itu, Tagore menulis bahwa ia merasa seolah berada di tanah leluhurnya sendiri. Indonesia, baginya, bukan tanah asing, melainkan bagian dari peradaban spiritual yang sama—warisan India yang menyebar melalui laut dan angin, bukan dengan pedang, melainkan dengan puisi, patung, dan mantera.

Pertemuan Budaya: India dan Indonesia

Pertemuan Tagore dan Ki Hajar bukan hanya antar individu, tetapi pertemuan peradaban. India dan Indonesia memiliki sejarah panjang pertukaran budaya, agama, dan seni. Dari pengaruh Hindu-Buddha di masa klasik hingga hubungan spiritual lewat gerakan kemerdekaan, hubungan ini lebih bersifat perjumpaan batin daripada transaksi politik.

Dalam pandangan Tagore, kebudayaan adalah ekspresi jiwa manusia. Ia menolak kolonialisme bukan hanya karena penindasan fisik, tetapi karena ia menggerus roh suatu bangsa. Ki Hajar memahami hal ini. Ia mendirikan Taman Siswa sebagai bentuk perlawanan terhadap pendidikan kolonial yang menindas identitas bangsa. Keduanya memandang pendidikan sebagai jalan menuju kebebasan sejati—freedom of the soul.

Refleksi Batin: Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Tagore dan Ki Hajar sama-sama menolak model pendidikan Eropa yang kering dan mekanistik. Shantiniketan dan Taman Siswa dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan, alam, seni, dan spiritualitas. Dalam puisi dan esai Tagore, kita menemukan penghargaan mendalam terhadap alam dan kemanusiaan; dalam tulisan-tulisan Ki Hajar, kita menemukan semangat pembebasan dari ketertindasan jiwa akibat penjajahan.

Tagore berkata bahwa pendidikan harus “mengalir seperti sungai,” tidak kaku dan tertutup. Ki Hajar menyebut bahwa pendidikan yang baik adalah yang “membimbing tanpa memaksa.” Dalam pertemuan mereka, dua sungai ini menyatu, mengalir dalam satu arus nilai: pendidikan sebagai cara menghidupkan kembali jiwa bangsa.

Dialog Peradaban: Dari India ke Nusantara

Pertemuan batin itu melampaui batas waktu. Hari ini, saat globalisasi kian menenggelamkan nilai-nilai luhur kebudayaan, refleksi atas dialog Tagore dan Ki Hajar semakin relevan. Mereka mengajarkan kita pentingnya membumikan nilai-nilai universal dalam konteks lokal. Tagore membawa spiritualitas India ke dunia dengan universalitas puisi dan musik. Ki Hajar membangkitkan semangat kebangsaan dengan akar budaya Nusantara yang disinari oleh kesadaran kosmik Nusantara.

Hubungan budaya India dan Indonesia bukan hubungan kolonial, melainkan relasi antar jiwa. Arjuna dan Rama hidup dalam wayang, dalam relief Candi Prambanan dan Borobudur. Bahasa Sanskerta menyusup dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya Tagore merasa “pulang” ke Nusantara.

Anand Krishna: Melanjutkan Dialog Jiwa Lewat Aksi Nyata

Kedalaman perjumpaan batin antara dua tokoh ini tidak berhenti di masa lalu. Guruji Anand Krishna—seorang spiritual humanis, penulis lebih dari 190 judul buku spiritual—mengabadikan warisan bijak Tagore dan Ki Hajar Dewantara dalam bentuk nyata.  Perpustakaan di One Earth Yoga & Meditation Retreat Centre di Ciawi, Bogor, diberi nama Perpustakaan Dewata: Dewantara-Tagore, dua perpaduan nama yang indah penuh makna.

Tindakan ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi perwujudan dari misi pendidikan lintas budaya yang menjunjung spiritualitas universal, humanisme, dan kebebasan berpikir.

Gururuji Anand Krishna sendiri merealisasikan filosofi kedua tokoh tersebut dengan mendirikan sekolah di Bali yang diberi nama One Earth School, Sekolah Satu Bumi, sebagai representasi nyata dari visi Yayasan Anand Ashram: One Earth One Sky One Humankind.

Guruji Anand Krishna meyakini bahwa Indonesia dan India sama-sama memiliki jiwa peradaban yang luhur dan mampu menyumbangkan nilai-nilai kebijaksanaan ke dunia global yang tengah kehilangan orientasi nilai.

Kedua perpustakaan tersebut bukan sekadar tempat buku, melainkan ruang kontemplasi dan dialog batin antar generasi dan antar budaya. Dengan menghimpun literatur spiritual, filsafat Timur dan Barat, serta tulisan-tulisan para bijak seperti Tagore dan Ki Hajar, Guruji Anand Krishna melanjutkan “dialog jiwa” yang sudah dirintis para pendahulu dalam dimensi yang lebih luas dan mendalam.

Penutup: Warisan yang Perlu Dihidupkan

Pertemuan batin Tagore dan Ki Hajar Dewantara adalah warisan berharga. Di tengah krisis pendidikan hari ini, keduanya mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang utuh—manusia yang sadar akan jiwanya, budayanya, dan tanggung jawabnya sebagai warga dunia.

Refleksi atas perjumpaan itu hendaknya tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan menjadi sumber inspirasi dalam membangun pendidikan yang membebaskan, spiritualitas yang inklusif, dan dialog budaya yang saling memperkaya. Seperti yang dilakukan Guruji Anand Krishna, warisan ini layak dijaga dan dihidupkan kembali—tidak hanya di ruang akademik, tetapi di ruang hati dan tindakan nyata.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara
Dari Kartini, Chairil Anwar, Sampai Ki Hadjar Dewantara
Catatan-catatan Rabindranath Tagore tentang Bali
Dongeng Ibu: Rabindranath Tagore dan Perempuan Pemilik Rental Mobil Singaradja
Tags: baliindiaIndonesiaKI Hajar DewantaraPendidikanRabindranath TagoreShantiniketanTaman Siswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Next Post

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali "Mbok" dan "Bli"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co