SUASANA pembukaan pameran seni rupa di Santrian Art Gallery Sanur kali ini terasa berbeda dari sebelum-sebelumnya. Suara gamelam tradisional khas mengiringi enam penari Sinanggar Tulo yang berekpresi di atas stage hingga berlanjut di depan gallery. Sajian seni tari khas ini bagai magnet yang mengajak para undangan, masyarakat pecinta seni hingga wisatawan asing untuk lebih mendekat, dan secara perlahan kemudian menuju gallery.
Seorang Kadin di Australia, Bernard Tampubolon bersama Ida Bagus Gede Sidharta Putra (owner Griya Santrian) dan Seniman I Wayan Sujana ‘Suklu’ kemudian mengunting pita bunga sebagai tanda pameran seni rupa bertajuk “Тoba Bali Art Project 2025” secara resmi telah dibuka. Semua undangan kemudian memasuki gallery yang penuh dengan karya seni di atas kanvas.
“Kami merupakan kolaborasi seniman Bataka kawasan Toba dengan Bali menggelar pameran Pertiwi Negeriku bertajuk “Тoba Bali Art Project 2025” yang secara khusus menyajikan alam dan budaya Batak dalam bentuk karya seni rupa,” kata penggagas Pertiwi, Ni Ketut Ayu Sri Wardani yang juga dikenal sebagai pelukis Bali yang diberi marga boru Girsang disela-sela pembukaan pameran Тoba Bali Art Project 2025, Jumat 11 Juli 2025.

Pameran “Тoba Bali Art Project 2025” di Santrian Art Gallery Sanur | Foto: tatkala.co/Bud
Pameran ini menghadirkan 50 karya seni rupa, namun yang dipajang hanya 30 karya itu, terdiri dari 10 seniman seniman di kawasan Danau Toba berkolaborasi dengan 5 seniman rupa Bali. Mereka adalah Charis Martin Purba, Febrantonius Sinaga, Jeremy Pratama Manurung, Jesral Tambun Parulian Silaban, Adinda Cahaya Melati Purba, Angelina Ulibasa Butarbutar, Yon Riko Setiawan Pandiangan, Andy Boy Sianipar dan Aan Turnip.
Sementara perupa Bali, yaitu Ni Ketut Ayu Sri Wardani, Gusti Ketut Oka Armini, I Made Astawa (Dollar), Willy Himawan dan I Made Palguna. Kelima perupa ini merupakan anggota merupakan tim proyek Merajut Nusantara (Weaving The Colours of The Archipelago) melalui karya seni rupa. Pameran ini berlangsung hingga 30 Agustus 2025.
Karya itu lebih banyak menampilkan keindahan alam dan keunikan budaya Batak kini ada di Hotel Griya Santrian Sanur, Kota Denpasar – Bali. Suasana kota yang kental dengan keberagaman budaya dan tradisi Batak, aktivitas masyarakatnya serta adat istiadat yang kaya. Alam dan budaya Batak itu disajikan dalam bentuk karya seni rupa yang memikat di Santrian Art Gallery yang masih berada di areal Griya Santrian Hotel Sanur ini.

Pameran “Тoba Bali Art Project 2025” di Santrian Art Gallery Sanur | Foto: tatkala.co/Bud
Selain menyajikan Sinanggar Tulo, pembukaan pameran ini juga menampilkan para model yang memperagakan desain busana khas Batak. Belasan busana itu merupakan karya desainer Torang Sitorus dan Nick Djatnika yang mendapat sambutan meriah dari pecinta seni, khususnya seni rupa. Setelah beraksi di atas catwalk, para model itu kemudian memasuki ruang pameran dan berdiri di setiap sudut pameran. Kehadiran para model itu membuat bidikan kamera semakin ramai.
Di tengah keramaian itu, beberapa pengunjung justru tertuju dengan lukisan berjudul “Memetik Kopi” karya Adinda Cahaya Melati Purba. Karya ini memang indah yang mengangkat tema tentang perempuan memetik kopi. “Saya ingin menggambarkan karakter orang sudah tua, seorang ibu yang selalu bekerja memetik kopi sebagai bukti daerah Toba rata-rata para perempuannya memiliki pekerjaan memetik kopi. Karya ini, saya selesaikan sekitar dua mingu. Sekarang ini sudah terjual, saya sangat senang,” ucap Adinda Cahaya Melati Purba.

Pameran “Тoba Bali Art Project 2025” di Santrian Art Gallery Sanur | Foto: tatkala.co/Bud
Di sampingnya, dipajang karya Angelina Ulibasa Butarbutar berjudul “Partungkoan-I Love My Batak Culture”. Karya ini mengangkat sebuah pertokoan atau gedung tinggi yang menunjukan karya kota di daerah Toba yang diperkenalkan kepada masayuarakat luas. “Sawa awalnya sebagai pemain musik, kali ini mencoba ikut melukis, dan pameran ini sekaligus untuk jelan-jelan di Bali,” sebut Angelina Ulibasa Butarbutar.
Ayu Sri Wardani kemudian menjelaskan proses pameran di Bali ini. Pamera Тoba Bali Art Project ini sesungguhnya sebuah perjalanan dari tahun 2023, tepatnya awal Maret. Dirinya mengawalai dengan mengajak lima seniman Bali ke kawasan Toba Sumatera, untuk lebih dekat dengan Toba, meneyentuh alam air, melihat lingkungan, serta masyarakat dan budayanya yang khas. “Awalnya, kami datang ke sana berlima, kemudian sendiri sebanyak lima kali,” ucapnya.
Seniman Bali ini datang untuk mengedukasi anak-anak tingkat SMP, SMA dan dewasa untuk mengenalkan seni lukis. Terutama, orang-orang yang tinggal di kawasan Danau Toba. Saat itu, melakukan pemeran di 7 kota, seperti di Kawasan Danau Toba. Mulai dari Kampus IT DEL Laguboti, Toba Caldera Resort (The Kaldera), Coffee Hotel Ayola Dolok Sanggul, Damar Toba Balige, Toba Art Gallery Balige, Piltik Coffee Silangit, dan Pondok Berata Dapdap Tarabunga.
Kelima seniman itu, kemudian menjadikan pengalaman itu sebuah karya, lalu berkolaborasi dengan mereka untuk menggelar pameran. “Tujuannya, seperti visi Indonesia, yaitu merajut nusantara melalui karya seni. Salah satunya daerah Toba ini yang kita garap. Karena daerah ini sering memandang sebelah mata terhadap seni rupa, karena mereka lebih banyak menggeluti seni suara musik, sehingga penghargaan terhadap seni rupa itu rendah,” imbuhnya.

Adinda Cahaya Melati Purba dan karyanya yang berjudul Memetik Kopi pada Pameran “Тoba Bali Art Project 2025” di Santrian Art Gallery Sanur | Foto: tatkala.co/Bud
Intinya, ke Toba untuk membangun infrastruktur eko sistem seni rupa. Ini memang berat, karena biasanya itu menjadi tugas negara. “Saya berpikir, dari pada saya mengkritik, lebih baik membangun bangsa dengan apa yang ada pada diri saya. Kebetulan, kami berlima ini memliki visi yang sama, sehingga sejalan. Sebagai seniman, apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat. Di kawasan itu banyak bibit yang bagus, sehingga kami datang, mereka menjadi lebih semangat berkarya,” paparnya.
Selama di Bali, mereka tidak hanya mengurusi pameran, tetapi juga melakukan kegiatan lain sebagai upaya penyegeran wawasan, seperti diajak ke Taman Budata Art Center untuk melihat cara memajang karya, ke Instiut Seni Indonesia (ISI) Bali, ke studio seniman-seniman, gallery, museum dan ke tempat-tempat pusat seni rupa di Bali. “Setelah pulang, mereka bisa mendapat sesuatu untuk dikembangkan di Toba,” harapnya.
Anak-anak yang diajak berpameran adalah mereka yang mengikuti workshop yang jumlahnya sangat beragam, mulai dari usia 14 tahun hingga 49 tahun. Anak-anak yang ingin ikut pameran itu sangat banyak, tetapi karena ini pameram tetap melakukan seleksi karya, sehingga yang berhasil seleksi hanya 10 anak itu. “Bali ini sudah dikenal di seluruh dunia, tetapi Toba ini bagus namun kurang dikenal, sehingga pameran ini menjadi ajang memperkenalkan alam dan budaya Batak,” papar Charis Martin Purba, seniman Toba yang terlibat dalam pemeran itu.

Angelina Ulibasa Butarbutar dan karyanya yang berjudul Partungkoan: I Love My Batak Culture pada Pameran “Тoba Bali Art Project 2025” di Santrian Art Gallery Sanur | Foto: tatkala.co/Bud
Charis Martin Purba mengaku senang bisa ikut berpameran di pudat pariwisata dunia ini. Ajang ini memberikan mafaat bagi dirinya dan perkembangan seni lukis di Toba. Di Bali, mereka bisa melihat seniman Bali dalam berkarya, serta meniru seniman Bali untuk rumbuh besar. “Pameran ke Bali ini memang diajak oleh teman-teman di Bali. Kami bersyukur sekali,” akunya polos.
Melalui pametran ini, pihaknya kemudian berharap bisa meningkatkan kemampuan seniman Toba, sekaligus bertambah. Semua pengalaman di Bali ini, akan dibawa dan di pratekan di Toba, sehingga dapat meningkatkan kemampuan untuk menghasilkan karya. “Orang tua kami, memanjakan kami dulu. Tetapi, sekarang kami berusaha menumbuhkan diri juga orang lain untuk menjadi seniman lukis,” tekadnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























