BANYAK tulisan yang mengisahkan tentang suku Baduy baik berupa opini, asumsi maupun jenis laporan termasuk tulisan berkategori kajian ilmiah yang khusus ditulis oleh seorang ahli spesifikasi keilmuan dengan berbagai estimasi, hipotesis, prediksi dan diagnosanya.
Pemerkiraanatau mengestimasi suatu situasi dan kejadian adalah merupakan kerjaan yang lazim dilakukan oleh para pemerhati, peduliawan dan researcher. Memunculkan opini adalah bagian yang tak terpisahkan dari tugasnya para juru tulis dengan tujuan untuk mengungkap sesuatu atau membantah atau menyanggah secara terhormat terhadap opini dan sudut pandang orang lain.
Derajat kemampuan mengestimasi seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor selain karena memiliki ketajaman dan keakuratan berfikir (sharpness and accuracy thinking). Sangat tergantung pula pada luas sempitnya wawasan dan kekomplitan data atau fakta yang ia miliki, serta tinggi-rendahnya atau panjang-pendeknya jam terbang (pengalaman) terhadap objek atau masalah yang ia geluti.
Minimnya data, lemah berfikir dan rendah jam terbang adalah faktor yang akan mempengaruhi dan mengurangi lezatnya suatu estimasi atau tajamnya sudut pandang seseorang. Kalau pun dipaksakan untuk dibuat jadi satu kajian atau tulisan, maka tulisannya pasti terasa hambar (lemah kurang berbobot) seperti kurang garam dan tidak terasa renyah karena kekurangan atau salah meracik menu, sehingga faktor bias akan mengiringi tulisannya.
Di media sosial kita sering menemukan jenis tulisan “asbun” (tulisan seronok asal bunyi) yang hanya berfungsi sebagai tulisan anekdot atau hiburan. Atau ada tulisan ngejlimet karena ramuan narasinya berbelit-belit dengan terlalu banyak menyisipkan dan menyusupkan berbagai kutipan dan dalil adopsian, sehingga sang pembaca kesulitan untuk menyerap isi tulisan yang akhirnya lelah dan jenuh membacanya.
Tulisan original adalah tulisan yang benar-benar dibuat dari hasil ramuan style personality dengan menjauhkan dari penggunaan kutipan atau dalil karya orang lain. Tulisan alamiah adalah tulisan yang mengalir sesuai dengan alur berfikirnya penulis. Kedua tulisan ini biasanya menggunakan bahasa sederhana tapi apik dalam merangkainya sehingga semua level pembaca (pembaca pemula sampai pembaca mahir) tertarik untuk membaca dan menikmatinya. Kedua jenis tulisan ini jarang muncul, tetapi sekali muncul biasanya boomming dan jadi tulisan best seller. Contoh: tulisanya Andrea Hirata dengan “Laskar Pelangi”nya.
Etnis Baduy selain tergolong sebagai Komunitas Adat Terpencil (KAT), ia adalah etnis yang istiqomah menjauhi atau mengasingkan diri dari pengaruh dunia modern. Tetapi anehnya masuk pada katagori 12 desa adat yang sangat populer dari 388 desa adat atau kampung adat yang sudah tercatat dan telah direvitalisasi oleh Kemendikbud, tetap menjadi list unggulan pemberitaan. Sampai saat ini para pemburu berita dan peneliti tetap rajin mempublikasi kekinian Baduy dengan berbagai ragam klasifikasi tulisannya. Kita dapat dengan mudah menemukan atau melihat adanya tulisan “asbun”, tulisan ngejlimet, tulisan original, tulisan alamiah dan tulisan ilmiah tentang suku Baduy dan tetap masih menghiasi media informasi.
Perlu adanya Opini Pembanding
Menuliskan sesuatu kejadian dan tilikan adalah hak prerogatif penulis dan itu dilindungi oleh undang-undang kebebasan berpikir mengeluarkan pendapat secara lisan dan tulisan sesuai dengan argumentasi yang dibangunnya. Oleh karenanya bila pembaca masih terus menemukan keragaman tulisan-tulisan yang mengisahkan suku Baduy jangan aneh dan kagetan, tentunya bagi para penulis jangan pula merasa gusar kalau ada tulisan lain yang berbeda pandangan dengan tulisan kita.
Beda pendapat dan sudut pandang adalah hal lumrah dan merupakan anugerah untuk saling melengkapi bukan untuk saling resistensi. Bukankah pelangi itu indah karena banyak warna yang menyatu tetapi tidak saling menganggu identitas warnanya. Tulisan tentang siapa Baduy pun begitulah adanya. Biarkan mereka (siapa pun) untuk menulis tentang Baduy sesuai dengan tingkat dan kadar pengetahuannya dengan segala kekurangan, kelebihan dan kemahirannya. Marilah kita juga menulis tentang Baduy sesuai domain, kemampuan dan style menulis kita. “Opini lawanlah dengan opini, tulisan bantah dengan tulisan, itulah jiwa kesatria sang penulis. Jadikan tulisan kita sebagai opini pembanding bukan sebagai penghancur karya tulis orang lain” (Asep Kurnia, 2025). Kebenaran dan keakuratan serta keseksian tulisan kita biarlah rasa keadilan, kecerdasan dan rasa interestnya sang pembaca yang menghakiminya.
Kondisi kekinian Baduy yang begitu mencengangkan perubahannya adalah menjadi sumber yang amat sangat menarik untuk terus ditelusuri, dibedah, dikaji dan dicari asbabunnujul-nya. Mengapa perubahan pola sosialnya terjadi sedemikian cepat dan mengagetkan? Faktor penyebab utamanya apa? Dampak pada masa depan kesukuannya akan seperti apa? Akankah nilai-nilai adat yang adiluhung kesukuan mereka meredup, hilang dan punah? Dan apakah saat ini Baduy sudah mulai menjalankan pola-pola kehidupan modern? Itu pertanyaan-pertanyaan singkat dan sederhana yang perlu dijawab, tetapi tidak dengan jawaban yang sesingkat, sederhana atau jawaban nyeleneh dan “asbun” tanpa bukti.
Jika kita-kita termasuk pemerhati atau orang yang peduli terhadap kesukuan mereka, maka menuliskan tentang kisah mereka adalah bagian dari beribadah dan amal jariah selain akan multimanfaat dan multiinspirasi sebagai pencerahan keilmuan dan atau masukan yang kondusif pada instansi terkait dan bagi para pengambil kebijakan. Menuliskan dan mendokumentasikan sendi-sendi kehidupan mereka bukan sesuatu yang tabu dan haram, malahan menurut pendapat penulis justru akan berfungsi mengabadikan kisah perjalanan kehidupan mereka sesuai zamannya yang kelak akan dibaca oleh anak cucu kita atau generasi bangsa. “Terus berjuang menjadi pejuang melalui tulisan adalah aktivis paling luhur”. (Asep Kurnia, 2025 ).
Problematika Kewilayahan yang Dihadapi Baduy
Dari waktu ke waktu, Baduy dengan segala keberadaannya memiliki permasalahan tersendiri yang unik dan kompleks. Tugas yang mendasar : Ngasuh ratu nyayak menak, memanusiakan manusia sampai pada memuliakan kehidupan, menegakan hukum agar melahirkan keadilan dan keteraturan sosial, menjaga hutan, gunung, sumber air demi tetap terjaganya keseimbangan alam bukan tugas yang ringan. Mereka harus berhadapan dengan berbagai Ancaman, Gangguan, Hambatan dan Tantangan (AGHT) yang berat dan bertubi tubi (terus menerus) baik dari dalam maupun dari luar Baduy.
Mempertahankan diri (self defensive) sebagai komunitas adat yang tetap teguh pada hukum adat demi melaksanakan amanat leluhurnya dari gempuran pemodernan dan program pemerintah yang terkadang kurang selaras atau tidak sesuai dengan kaidah hukum adat bukan hal mudah bagi mereka. Ada dilematika ketika harus berhadapan antara menerima, menyetujui dan atau mengiyahkan program pemerintah walau bertentangan atau berseberangan dengan hukum adat. Situasi antara mengiyahkan atau menolak pemodernan dikaitkan dengan kebutuhan zaman dan berbenturan dengan hukum adat adalah merupakan problematika tersendiri yang dialami suku Baduy dari waktu ke waktu.
Problematika dan dilema suku Baduy saat ini selain tentang keterbatasan tanah ulayat yang paling merisaukan dan merisikan adalah haruskah mereka tetap tradisional demi mempertahankan adat budaya sementara pemenuhan kebutuhan hidup makin sulit karena harus berinteraksi dengan dunia luar? Dan atau berubah mengadopsi pola kehidupan modern demi mudah dan lancarnya memenuhi kebutuhan hidup?
Sementara perubahan dan tuntutan zaman begitu menghimpit dan menekan mereka. Tidak berubah maka akan tertinggal dan terisolir dari pergaulan hidup, berubah mengadopsi pola hidup modern maka lambat laun tapi pasti nilai-nilai budaya adiluhung sebagai the living philosophy akan terkikis dan memudar. Mereka sedang berada di persimpangan jalan antara tetap tradisional atau belok menuju arah modern. Ia memerlukan “Sang Pencerah dan Sang Pengarah” yang bijak agar mereka tidak salah memilih jalan kehidupan yang akan berisiko terhadap masa depan kehidupan mereka. Masukan dari penulis: “Adopsi, Integrasi dan Hibridisasi budayaadalah pilihan yang mungkin bisa mereka terimaagar mereka mengalamidinamisasi pola hidupsesuai dengan tuntutan zamantetapi tidak serta merta memudarkan adat istiadat” (Asep Kurnia, 2025).
Problematika yang dipaparkan di atas adalah sebuah prediksi atau hipotesa penulis yang muncul dari rasa kekhawatiran akan adanya “badai perubahan dan malapetaka moral” atau lebih ngerinya akan kena oleh teorinya Prof. Sihabudin apa yang disebut “technetronic ethnocide” (pembunuhan budaya karena tehnologi elektronika) di kesukuan Baduy yang tentunya akan berimplikasi pada situasi menggerus keberadaan mereka dari nominasi masyarakat yang patuh dan teguh dengan hukum adat menjadi masyarakat terbuka dengan kemodernan karena keterpaksaan oleh kencangnya berbagai ragam intervensi dari pihak luar.
Kita paham bahwa apa yang menjadi kekhawatiran kita belum tentu menjadi kekhawatiran mereka. Apa yang kita anggap baik belum tentu baik buat mereka. Mungkin saja bahwa situasi perubahan sporadis yang terjadi di mereka itu adalah kehendak mereka dan harapan mereka agar secepatnya bisa mengimbangi kehidupan masyarakat di luar Baduy dengan segala konsekuensinya. Mungkin pula itu adalah by design dari pihak yang menginginkan mereka berubah kearah positif dan berkesejahteraan.
Namun yang jelas bahwa perubahan dan perubahan akan terus mengiringi di kehidupan mereka sesuai dengan perjalanan zaman. Memilih dan menyeleksi pola kehidupan dunia luar untuk diintegrasikan dengan pola budaya adat adalah hak dan kewenangan mereka. Kita bukan siapa siapa mereka, kita hanya sekedar pihak luar yang terbatas hanya bisa memberi advice, itu pun bila mereka menerima dan memerlukan.
Maka penulis setuju dengan quotes : “Biarkan mereka bicara dan biarkan mereka memilih jalan hidupnya sesuai dengan tuntutan dan perubahan zaman”.
Lalu bagaimana dengan pengadopsian berbagai pola hidup modern yang lebih pada nuansa menciptakan manusia money oriented? Dan program-program pemerintah apa yang mereka terima dan diintegrasikan di wilayah tanah ulayat mereka? Di bagian berikutnya akan terjawab. [T]
Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, Juli 2025
Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole
- BACA esai-esai tentang BADUY
- BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA










![Bandara Internasional Bali Utara [BIBU]: Berkah atau Serapah?](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/07/BIBU-75x75.png)















