26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Tinjauan Budaya Bentuk terhadap Wujud Arsitektur Bali dalam Abad Pasca-Tradisi

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
June 23, 2025
in Esai
Sebuah Tinjauan Budaya Bentuk terhadap Wujud Arsitektur Bali dalam Abad Pasca-Tradisi

Sebuah Tinjauan Budaya Bentuk terhadap Wujud Arsitektur Bali dalam Abad Pasca-Tradisi

SAAT kita keluar dari Bandara I Gusti Ngurah Rai dan menuju pusat Kota Denpasar, lanskap arsitektur Bali tampak sangat beragam. Tanpa pola yang konsisten, berbagai gaya bangunan, dari yang menggabungkan elemen lokal hingga yang sepenuhnya menganut estetika global, bersatu.

Memasuki kawasan kota, seperti Renon, kita melihat pemandangan yang semakin kompleks: gedung pemerintahan bergaya neo-vernakular berdampingan dengan coffee shop berdesain industrial, dan toko roti dan restoran Eropa dengan jendela lengkung khas arsitektur Victoria muncul di sudut-sudut yang sama.

Tidak hanya di kota-kota, tetapi juga pedesaan, mulai dari Sidemen di Karangasem hingga Jatiluwih di Tabanan, mengalami perubahan. Dalam lanskap desa, hadir semakin banyak bangunan bergaya kontemporer yang dulunya asing.

Area enclave seperti Nuanu dan KEK di Sanur bahkan menjadi tempat eksperimen di mana berbagai gaya arsitektural baru muncul, seolah-olah tidak terpengaruh oleh tradisi lokal. Inilah fase perkembangan arsitektur yang saya sebut sebagai “menarik”—istilah yang sengaja saya beri tanda kutip karena, meskipun menarik, perkembangan ini mengandung dilema.

Di satu sisi, keragaman gaya dan kebebasan bereksperimen adalah bentuk kreatif yang memperkaya khasanah arsitektur Bali, membuka ruang bagi ide-ide baru, dan mendukung dinamika zaman. Pada sisi sebaliknya, keragaman yang tidak terkendali ini juga dapat menyebabkan ketidakjelasan visual, polusi bentuk, dan bahkan mempercepat pergeseran nilai dari komunalitas ke individualitas ekstrem.

Dari perspektif ilmu budaya bentuk, kondisi saat ini menunjukkan pergeseran paradigma: tradisi arsitektur Bali yang dulunya merupakan rujukan normatif sekarang hanyalah salah satu pilihan estetika di antara banyak pilihan yang tersedia di pasar global. Bentuk-bentuk arsitektur seringkali digerakkan oleh logika selera pribadi dan kapital, bukan lagi dari dialektika yang erat dengan adat, kosmologi, dan komunitas lokal.

Dengan transformasi ini, kita berada di persimpangan kritis: apakah pluralitas gaya ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan keberagaman dalam konteks, atau apakah itu justru menyebabkan pembagian ruang yang tidak terkait dengan dasar budaya?

Masyarakat Pasca-Tradisi: Tradisi sebagai Pilihan di Era Simulakra

Kemajuan arsitektur Bali saat ini dipengaruhi oleh perubahan besar dalam struktur kesadaran masyarakatnya. Kita sekarang berada di era pasca-tradisi, atau era di mana tradisi tidak lagi dianggap sebagai kebenaran absolut. Tradisi telah dipandang secara kritis oleh masyarakat Bali modern, bukan lagi sebagai sesuatu yang tak tergantikan dan sakral.

Sebaliknya, masyarakat yang semakin plural ini melihatnya sebagai salah satu pilihan dari berbagai nilai dan gaya hidup yang tersedia secara global. Sekarang, tradisi tidak lagi berfungsi sebagai dasar untuk menentukan identitas kolektif; ia berubah, bersaing, bahkan diganti oleh berbagai versi baru yang diimpor, diubah, dan dikreasi ulang.

Dalam konteks ini, teori Jean Baudrillard tentang simulacra dan hiperreality memberikan kerangka konseptual yang relevan untuk membaca fenomena tersebut. Baudrillard menguraikan bagaimana perbedaan antara yang nyata dan yang representasi menjadi tidak jelas di masyarakat modern, di mana yang kita konsumsi bukan lagi realitas itu sendiri, tetapi citra tentang realitas.

Representasi elemen-elemen arsitektur tradisional pada bangunan kontemporer | Foto: Gede Maha Putra

Tradisi di Bali saat ini sering dilihat tidak hanya sebagai ekspresi asli dari kearifan lokal, tetapi telah direplikasi, diubah, dan disesuaikan untuk memenuhi tuntutan pasar wisata dan gaya hidup kontemporer. Bangunan “berornamen Bali” yang terlihat di pusat perbelanjaan, hotel, dan resort seringkali hanyalah simulacra—tiruan tanpa referensi asli yang signifikan. Mereka tidak selalu berasal dari kesadaran budaya yang asli.

Mereka yang hidup dalam masyarakat pasca-tradisi tidak lagi terikat pada kebutuhan akan makna asli; sebaliknya, mereka hidup dalam era hyperreality, di mana citra dan representasi lebih dominan daripada kenyataan. Dalam konteks ini, pilihan arsitektural semakin bebas. Dengan pemahaman ini, kemajuan arsitektur Bali dewasa ini dapat dilihat sebagai gejala kultural dari masyarakat yang telah melampaui batas tradisi tetapi juga berisiko terjebak dalam ruang-ruang representasi yang kaya secara visual tetapi tidak memiliki makna yang mendalam.

Komodifikasi Tradisi dalam Masyarakat Bali Modern

Kerangka budaya yang diturunkan secara linear dari masa lalu tidak lagi digunakan oleh masyarakat di era pasca-tradisi. Anthony Giddens mengatakan bahwa modernitas radikal telah menciptakan cara-cara untuk melepaskan orang dari keterikatan tradisional.

Sekarang masyarakat Bali tidak lagi menganggap tradisi sebagai sesuatu yang diterima secara otomatis. Sebaliknya, mereka secara sadar memilih—atau bahkan mengubah—tradisi sesuai dengan kebutuhan masa kini mereka. Hal yang sebetulnya bisa mengarah kepada sesuatu yang positif.

Upaya pemerintah daerah Bali untuk mempertahankan tradisi dengan menetapkan peraturan, seperti Peraturan Daerah tentang Arsitektur Bali, pada dasarnya terkesan progresif secara normatif. Akan tetapi, Perda ini seringkali berkontribusi pada produksi simulacra.
Selama proses perizinan bangunan, perda sering digunakan sebagai checklist administratif, bukan menghidupkan kembali semangat tradisi yang signifikan.

Banyak pengembang dan pemilik bangunan melihat ornamen Bali sebagai syarat formal untuk mendapatkan IMB (Izin Mendirikan Bangunan), bukan sebagai penghormatan terhadap filosofi dan kosmologi Bali. Akibatnya, peraturan yang seharusnya menjaga budaya berubah menjadi alat untuk melegitimasi simulacra baru.

Perda seperti ini cenderung mendorong homogenisasi visual yang dangkal, di mana bangunan harus “terlihat Bali” secara superficial tanpa benar-benar menjiwai tata ruang sakral-profan, orientasi ruang, atau prinsip desa-kala-patra yang menjadi dasar arsitektur Bali.

Dengan kata lain, yang dipertahankan bukan esensi, melainkan fasad. Kondisi ini menunjukkan bagaimana birokrasi dan logika pasar bekerja sama untuk membuat Bali menjadi hyperreality, sebuah Bali yang terlihat tradisional di permukaan tetapi kehilangan makna budaya yang lebih dalam.

Selain itu, simulasi ini memiliki potensi untuk mempercepat proses Disneyfikasi budaya Bali, sehingga alih-alih berfungsi sebagai ruang hidup budaya yang otentik, Bali akan menjadi panggung estetis yang terus-menerus mereproduksi dirinya untuk kepuasan visual.

Simulacra Arsitektur Bali Kontemporer

Fenomena simulacra dalam arsitektur Bali saat ini dapat dengan mudah ditemukan dalam berbagai bentuk pembangunan, seperti pusat perbelanjaan, bangunan komersial, dan infrastruktur kota. Beberapa pola dapat diidentifikasi sebagai manifestasi nyata dari gejala ini.

Salah satu contohnya adalah kemunculan mal baru di wilayah utara Kota Denpasar, yang dengan bangga menampilkan candi bentar di fasad depannya. Secara tradisional, candi bentar berfungsi sebagai batas antara dua bagian dengan tatanan nilai yang berbeda—profan dan sakral, luar dan dalam. Namun, dalam mal ini, fungsi tersebut tidak lagi dilakukan. Meskipun memiliki nilai filosofis, ia hanya direduksi menjadi dekorasi tempel yang memikat pengunjung. Bentuknya ada, tetapi maknanya hilang. Ini adalah simulacra murni, menurut Baudrillard, yang sepenuhnya terpisah dari referensi awal.

Beberapa bangunan di sepanjang jalan utama kota menampilkan desain Bali seperti ukiran, patung, atau atap limasan. Namun, denah, struktur, dan material bangunan tersebut tidak mengikuti prinsip desain setempat. Banyak bangunan kontemporer yang meniru arsitektur internasional, tetapi diberi “sentuhan Bali” untuk mematuhi peraturan perda atau untuk memenuhi harapan visual pasar.

Ornamen-ornamen ini tidak berasal dari pemahaman mendalam tentang desa-kala-patra (kesesuaian tempat, waktu, dan kondisi), tetapi sebagai aksesori yang dapat dipasang dan dilepas tanpa mengubah wujud serta fungsi utama bangunan.

Pergeseran ke hyperreality semakin jelas dengan kehadiran perabot kota seperti lampu jalan, tempat sampah, dan pagar pedestrian yang dihiasi dengan motif Bali. Seringkali, komponen ini dipasang secara identik di berbagai ruas jalan, tanpa mempertimbangkan hubungannya dengan struktur spasial adat atau konteks lingkungannya.

Ornamentasi yang dulunya memiliki makna simbolik sekarang direplikasi secara massal, menjadi standar visual yang kehilangan maknanya dan terlihat seperti menghadirkan “Bali” tetapi sebenarnya hanyalah simulacrum.

Fenomena yang lebih menarik di daerah seperti Canggu, yang sekarang menjadi pusat tren arsitektur geometris dan minimalis dengan beton ekspos, kaca besar, dan garis-garis bersih yang sepenuhnya melepaskan diri dari referensi lokal. Gaya-gaya ini menjadi sangat populer dan bahkan menjadi trendsetter di pasar properti Bali.

Canggu, yang pada awalnya merupakan tempat pertanian dengan referensi budaya yang lemah secara spasial, sekarang menjadi kanvas kosong bagi selera global yang tidak terikat pada konteks lokal.

Di sinilah kita melihat bagaimana kekuatan pasar menjadi faktor dominan dalam membentuk gaya arsitektur Bali modern. Sejak Bali dibuka untuk investasi internasional pada dekade 1970-an, pasar telah memainkan peran penting dalam menentukan selera dan standar arsitektural.

Representasi elemen-elemen arsitektur tradisional pada bangunan kontemporer | Foto: Gede Maha Putra

Pasar global pada saat itu terobsesi dengan yang “autentik”, sehingga arsitektur Bali berkembang menjadi pelayan harapan akan budaya yang autentik. Namun, arsitektur Bali kini mengikuti tren global yang lebih industrial, geometris, dan minimalis. Perubahan ini menunjukkan bahwa kesadaran budaya lokal tidak lagi memengaruhi arsitektur Bali kontemporer, tetapi lebih pada perubahan pasar dan logika ekonomi kapitalis global.

Ruang Alternatif: Arsitektur Bali yang Bergerak Melampaui Simulacra:

Tentu tidak seluruh lanskap arsitektur Bali hari ini terjebak dalam pusaran simulacra dan komodifikasi visual. Di tengah derasnya arus pasar global dan reproduksi bentuk-bentuk superfisial, kita masih dapat menemukan karya-karya arsitektur yang memilih jalur berbeda—yakni jalur pemajuan tradisi secara kritis dan kontekstual.

Karya-karya ini tidak hanya meniru gaya lama atau menggunakan elemen tradisional sebagai hiasan tempel. Sebaliknya, mereka berusaha untuk menjaga semangat tradisi, menginterpretasikannya, dan mengartikulasikannya sesuai dengan kebutuhan modern tanpa kehilangan makna budayanya yang mendalam.

Sebagian besar, arsitektur yang mengikuti jalur ini beradaptasi dengan kebutuhan pasar, seperti tuntutan industri pariwisata global, tetapi mereka tidak menggunakan pasar sebagai satu-satunya referensi desain. Mereka mempertimbangkan dengan cermat bagaimana bentuk, fungsi, dan arti ruang berhubungan satu sama lain dan dengan lingkungan dan komunitas.

Dengan kata lain, mereka tidak terjebak dalam logika hyperreality di mana citra mengalahkan esensi. Sebaliknya, mereka memberikan cara inovatif yang memungkinkan tradisi bertahan, bukan hanya sebagai hiasan.

Bahkan beberapa karya dalam kategori ini memperluas makna tradisi dengan memungkinkan dialog produktif antara bentuk-bentuk vernakular dan material, teknologi, dan kebutuhan modern. Mereka mencoba menciptakan sebuah continuum di mana arsitektur Bali dapat tetap berkembang dan relevan tanpa kehilangan akarnya, daripada terjebak dalam dualisme kaku antara “tradisional” dan “modern”.

Jenis arsitektur ini menunjukkan bahwa Bali masih memiliki tempat untuk mengembangkan tradisi yang bertanggung jawab. Dalam konteks ini, tradisinya tidak dianggap sebagai beban masa lalu; sebaliknya, itu dianggap sebagai sumber inspirasi yang dinamis, terbuka, dan hidup. Metode ini membuat arsitektur Bali tidak stagnan, tidak terjebak dalam pelestarian gaya kuno, dan tidak hanyut dalam euforia pasar yang hanya mengejar pencitraan visual.

Jalur ini sangat penting untuk masyarakat pasca-tradisi karena ia menawarkan model hibrida yang dapat berbicara dengan globalitas sambil tetap terhubung dengan lokalitas. Arsitektur Bali dapat menjadi ruang budaya yang terus bergerak, berkomunikasi, dan memberi makna baru bagi masyarakatnya. Tidak perlu terperangkap dalam simulasi kosong atau artefak statis. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Catatan Ringkas dari Seminar Lontar Asta Kosala Kosali Koleksi Museum Bali
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Tags: arsitekturarsitektur balipendidikan arsitektur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Next Post

Budaya  Tidak Sekadar Warisan Statis, Melainkan Kekuatan Dinamis yang Terus Hidup

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Budaya  Tidak Sekadar Warisan Statis, Melainkan Kekuatan Dinamis yang Terus Hidup

Budaya  Tidak Sekadar Warisan Statis, Melainkan Kekuatan Dinamis yang Terus Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co