6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Tinjauan Budaya Bentuk terhadap Wujud Arsitektur Bali dalam Abad Pasca-Tradisi

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
June 23, 2025
in Esai
Sebuah Tinjauan Budaya Bentuk terhadap Wujud Arsitektur Bali dalam Abad Pasca-Tradisi

Sebuah Tinjauan Budaya Bentuk terhadap Wujud Arsitektur Bali dalam Abad Pasca-Tradisi

SAAT kita keluar dari Bandara I Gusti Ngurah Rai dan menuju pusat Kota Denpasar, lanskap arsitektur Bali tampak sangat beragam. Tanpa pola yang konsisten, berbagai gaya bangunan, dari yang menggabungkan elemen lokal hingga yang sepenuhnya menganut estetika global, bersatu.

Memasuki kawasan kota, seperti Renon, kita melihat pemandangan yang semakin kompleks: gedung pemerintahan bergaya neo-vernakular berdampingan dengan coffee shop berdesain industrial, dan toko roti dan restoran Eropa dengan jendela lengkung khas arsitektur Victoria muncul di sudut-sudut yang sama.

Tidak hanya di kota-kota, tetapi juga pedesaan, mulai dari Sidemen di Karangasem hingga Jatiluwih di Tabanan, mengalami perubahan. Dalam lanskap desa, hadir semakin banyak bangunan bergaya kontemporer yang dulunya asing.

Area enclave seperti Nuanu dan KEK di Sanur bahkan menjadi tempat eksperimen di mana berbagai gaya arsitektural baru muncul, seolah-olah tidak terpengaruh oleh tradisi lokal. Inilah fase perkembangan arsitektur yang saya sebut sebagai “menarik”—istilah yang sengaja saya beri tanda kutip karena, meskipun menarik, perkembangan ini mengandung dilema.

Di satu sisi, keragaman gaya dan kebebasan bereksperimen adalah bentuk kreatif yang memperkaya khasanah arsitektur Bali, membuka ruang bagi ide-ide baru, dan mendukung dinamika zaman. Pada sisi sebaliknya, keragaman yang tidak terkendali ini juga dapat menyebabkan ketidakjelasan visual, polusi bentuk, dan bahkan mempercepat pergeseran nilai dari komunalitas ke individualitas ekstrem.

Dari perspektif ilmu budaya bentuk, kondisi saat ini menunjukkan pergeseran paradigma: tradisi arsitektur Bali yang dulunya merupakan rujukan normatif sekarang hanyalah salah satu pilihan estetika di antara banyak pilihan yang tersedia di pasar global. Bentuk-bentuk arsitektur seringkali digerakkan oleh logika selera pribadi dan kapital, bukan lagi dari dialektika yang erat dengan adat, kosmologi, dan komunitas lokal.

Dengan transformasi ini, kita berada di persimpangan kritis: apakah pluralitas gaya ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan keberagaman dalam konteks, atau apakah itu justru menyebabkan pembagian ruang yang tidak terkait dengan dasar budaya?

Masyarakat Pasca-Tradisi: Tradisi sebagai Pilihan di Era Simulakra

Kemajuan arsitektur Bali saat ini dipengaruhi oleh perubahan besar dalam struktur kesadaran masyarakatnya. Kita sekarang berada di era pasca-tradisi, atau era di mana tradisi tidak lagi dianggap sebagai kebenaran absolut. Tradisi telah dipandang secara kritis oleh masyarakat Bali modern, bukan lagi sebagai sesuatu yang tak tergantikan dan sakral.

Sebaliknya, masyarakat yang semakin plural ini melihatnya sebagai salah satu pilihan dari berbagai nilai dan gaya hidup yang tersedia secara global. Sekarang, tradisi tidak lagi berfungsi sebagai dasar untuk menentukan identitas kolektif; ia berubah, bersaing, bahkan diganti oleh berbagai versi baru yang diimpor, diubah, dan dikreasi ulang.

Dalam konteks ini, teori Jean Baudrillard tentang simulacra dan hiperreality memberikan kerangka konseptual yang relevan untuk membaca fenomena tersebut. Baudrillard menguraikan bagaimana perbedaan antara yang nyata dan yang representasi menjadi tidak jelas di masyarakat modern, di mana yang kita konsumsi bukan lagi realitas itu sendiri, tetapi citra tentang realitas.

Representasi elemen-elemen arsitektur tradisional pada bangunan kontemporer | Foto: Gede Maha Putra

Tradisi di Bali saat ini sering dilihat tidak hanya sebagai ekspresi asli dari kearifan lokal, tetapi telah direplikasi, diubah, dan disesuaikan untuk memenuhi tuntutan pasar wisata dan gaya hidup kontemporer. Bangunan “berornamen Bali” yang terlihat di pusat perbelanjaan, hotel, dan resort seringkali hanyalah simulacra—tiruan tanpa referensi asli yang signifikan. Mereka tidak selalu berasal dari kesadaran budaya yang asli.

Mereka yang hidup dalam masyarakat pasca-tradisi tidak lagi terikat pada kebutuhan akan makna asli; sebaliknya, mereka hidup dalam era hyperreality, di mana citra dan representasi lebih dominan daripada kenyataan. Dalam konteks ini, pilihan arsitektural semakin bebas. Dengan pemahaman ini, kemajuan arsitektur Bali dewasa ini dapat dilihat sebagai gejala kultural dari masyarakat yang telah melampaui batas tradisi tetapi juga berisiko terjebak dalam ruang-ruang representasi yang kaya secara visual tetapi tidak memiliki makna yang mendalam.

Komodifikasi Tradisi dalam Masyarakat Bali Modern

Kerangka budaya yang diturunkan secara linear dari masa lalu tidak lagi digunakan oleh masyarakat di era pasca-tradisi. Anthony Giddens mengatakan bahwa modernitas radikal telah menciptakan cara-cara untuk melepaskan orang dari keterikatan tradisional.

Sekarang masyarakat Bali tidak lagi menganggap tradisi sebagai sesuatu yang diterima secara otomatis. Sebaliknya, mereka secara sadar memilih—atau bahkan mengubah—tradisi sesuai dengan kebutuhan masa kini mereka. Hal yang sebetulnya bisa mengarah kepada sesuatu yang positif.

Upaya pemerintah daerah Bali untuk mempertahankan tradisi dengan menetapkan peraturan, seperti Peraturan Daerah tentang Arsitektur Bali, pada dasarnya terkesan progresif secara normatif. Akan tetapi, Perda ini seringkali berkontribusi pada produksi simulacra.
Selama proses perizinan bangunan, perda sering digunakan sebagai checklist administratif, bukan menghidupkan kembali semangat tradisi yang signifikan.

Banyak pengembang dan pemilik bangunan melihat ornamen Bali sebagai syarat formal untuk mendapatkan IMB (Izin Mendirikan Bangunan), bukan sebagai penghormatan terhadap filosofi dan kosmologi Bali. Akibatnya, peraturan yang seharusnya menjaga budaya berubah menjadi alat untuk melegitimasi simulacra baru.

Perda seperti ini cenderung mendorong homogenisasi visual yang dangkal, di mana bangunan harus “terlihat Bali” secara superficial tanpa benar-benar menjiwai tata ruang sakral-profan, orientasi ruang, atau prinsip desa-kala-patra yang menjadi dasar arsitektur Bali.

Dengan kata lain, yang dipertahankan bukan esensi, melainkan fasad. Kondisi ini menunjukkan bagaimana birokrasi dan logika pasar bekerja sama untuk membuat Bali menjadi hyperreality, sebuah Bali yang terlihat tradisional di permukaan tetapi kehilangan makna budaya yang lebih dalam.

Selain itu, simulasi ini memiliki potensi untuk mempercepat proses Disneyfikasi budaya Bali, sehingga alih-alih berfungsi sebagai ruang hidup budaya yang otentik, Bali akan menjadi panggung estetis yang terus-menerus mereproduksi dirinya untuk kepuasan visual.

Simulacra Arsitektur Bali Kontemporer

Fenomena simulacra dalam arsitektur Bali saat ini dapat dengan mudah ditemukan dalam berbagai bentuk pembangunan, seperti pusat perbelanjaan, bangunan komersial, dan infrastruktur kota. Beberapa pola dapat diidentifikasi sebagai manifestasi nyata dari gejala ini.

Salah satu contohnya adalah kemunculan mal baru di wilayah utara Kota Denpasar, yang dengan bangga menampilkan candi bentar di fasad depannya. Secara tradisional, candi bentar berfungsi sebagai batas antara dua bagian dengan tatanan nilai yang berbeda—profan dan sakral, luar dan dalam. Namun, dalam mal ini, fungsi tersebut tidak lagi dilakukan. Meskipun memiliki nilai filosofis, ia hanya direduksi menjadi dekorasi tempel yang memikat pengunjung. Bentuknya ada, tetapi maknanya hilang. Ini adalah simulacra murni, menurut Baudrillard, yang sepenuhnya terpisah dari referensi awal.

Beberapa bangunan di sepanjang jalan utama kota menampilkan desain Bali seperti ukiran, patung, atau atap limasan. Namun, denah, struktur, dan material bangunan tersebut tidak mengikuti prinsip desain setempat. Banyak bangunan kontemporer yang meniru arsitektur internasional, tetapi diberi “sentuhan Bali” untuk mematuhi peraturan perda atau untuk memenuhi harapan visual pasar.

Ornamen-ornamen ini tidak berasal dari pemahaman mendalam tentang desa-kala-patra (kesesuaian tempat, waktu, dan kondisi), tetapi sebagai aksesori yang dapat dipasang dan dilepas tanpa mengubah wujud serta fungsi utama bangunan.

Pergeseran ke hyperreality semakin jelas dengan kehadiran perabot kota seperti lampu jalan, tempat sampah, dan pagar pedestrian yang dihiasi dengan motif Bali. Seringkali, komponen ini dipasang secara identik di berbagai ruas jalan, tanpa mempertimbangkan hubungannya dengan struktur spasial adat atau konteks lingkungannya.

Ornamentasi yang dulunya memiliki makna simbolik sekarang direplikasi secara massal, menjadi standar visual yang kehilangan maknanya dan terlihat seperti menghadirkan “Bali” tetapi sebenarnya hanyalah simulacrum.

Fenomena yang lebih menarik di daerah seperti Canggu, yang sekarang menjadi pusat tren arsitektur geometris dan minimalis dengan beton ekspos, kaca besar, dan garis-garis bersih yang sepenuhnya melepaskan diri dari referensi lokal. Gaya-gaya ini menjadi sangat populer dan bahkan menjadi trendsetter di pasar properti Bali.

Canggu, yang pada awalnya merupakan tempat pertanian dengan referensi budaya yang lemah secara spasial, sekarang menjadi kanvas kosong bagi selera global yang tidak terikat pada konteks lokal.

Di sinilah kita melihat bagaimana kekuatan pasar menjadi faktor dominan dalam membentuk gaya arsitektur Bali modern. Sejak Bali dibuka untuk investasi internasional pada dekade 1970-an, pasar telah memainkan peran penting dalam menentukan selera dan standar arsitektural.

Representasi elemen-elemen arsitektur tradisional pada bangunan kontemporer | Foto: Gede Maha Putra

Pasar global pada saat itu terobsesi dengan yang “autentik”, sehingga arsitektur Bali berkembang menjadi pelayan harapan akan budaya yang autentik. Namun, arsitektur Bali kini mengikuti tren global yang lebih industrial, geometris, dan minimalis. Perubahan ini menunjukkan bahwa kesadaran budaya lokal tidak lagi memengaruhi arsitektur Bali kontemporer, tetapi lebih pada perubahan pasar dan logika ekonomi kapitalis global.

Ruang Alternatif: Arsitektur Bali yang Bergerak Melampaui Simulacra:

Tentu tidak seluruh lanskap arsitektur Bali hari ini terjebak dalam pusaran simulacra dan komodifikasi visual. Di tengah derasnya arus pasar global dan reproduksi bentuk-bentuk superfisial, kita masih dapat menemukan karya-karya arsitektur yang memilih jalur berbeda—yakni jalur pemajuan tradisi secara kritis dan kontekstual.

Karya-karya ini tidak hanya meniru gaya lama atau menggunakan elemen tradisional sebagai hiasan tempel. Sebaliknya, mereka berusaha untuk menjaga semangat tradisi, menginterpretasikannya, dan mengartikulasikannya sesuai dengan kebutuhan modern tanpa kehilangan makna budayanya yang mendalam.

Sebagian besar, arsitektur yang mengikuti jalur ini beradaptasi dengan kebutuhan pasar, seperti tuntutan industri pariwisata global, tetapi mereka tidak menggunakan pasar sebagai satu-satunya referensi desain. Mereka mempertimbangkan dengan cermat bagaimana bentuk, fungsi, dan arti ruang berhubungan satu sama lain dan dengan lingkungan dan komunitas.

Dengan kata lain, mereka tidak terjebak dalam logika hyperreality di mana citra mengalahkan esensi. Sebaliknya, mereka memberikan cara inovatif yang memungkinkan tradisi bertahan, bukan hanya sebagai hiasan.

Bahkan beberapa karya dalam kategori ini memperluas makna tradisi dengan memungkinkan dialog produktif antara bentuk-bentuk vernakular dan material, teknologi, dan kebutuhan modern. Mereka mencoba menciptakan sebuah continuum di mana arsitektur Bali dapat tetap berkembang dan relevan tanpa kehilangan akarnya, daripada terjebak dalam dualisme kaku antara “tradisional” dan “modern”.

Jenis arsitektur ini menunjukkan bahwa Bali masih memiliki tempat untuk mengembangkan tradisi yang bertanggung jawab. Dalam konteks ini, tradisinya tidak dianggap sebagai beban masa lalu; sebaliknya, itu dianggap sebagai sumber inspirasi yang dinamis, terbuka, dan hidup. Metode ini membuat arsitektur Bali tidak stagnan, tidak terjebak dalam pelestarian gaya kuno, dan tidak hanyut dalam euforia pasar yang hanya mengejar pencitraan visual.

Jalur ini sangat penting untuk masyarakat pasca-tradisi karena ia menawarkan model hibrida yang dapat berbicara dengan globalitas sambil tetap terhubung dengan lokalitas. Arsitektur Bali dapat menjadi ruang budaya yang terus bergerak, berkomunikasi, dan memberi makna baru bagi masyarakatnya. Tidak perlu terperangkap dalam simulasi kosong atau artefak statis. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Catatan Ringkas dari Seminar Lontar Asta Kosala Kosali Koleksi Museum Bali
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Tags: arsitekturarsitektur balipendidikan arsitektur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Next Post

Budaya  Tidak Sekadar Warisan Statis, Melainkan Kekuatan Dinamis yang Terus Hidup

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Budaya  Tidak Sekadar Warisan Statis, Melainkan Kekuatan Dinamis yang Terus Hidup

Budaya  Tidak Sekadar Warisan Statis, Melainkan Kekuatan Dinamis yang Terus Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co