6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Tinjauan Budaya Bentuk terhadap Wujud Arsitektur Bali dalam Abad Pasca-Tradisi

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
June 23, 2025
in Esai
Sebuah Tinjauan Budaya Bentuk terhadap Wujud Arsitektur Bali dalam Abad Pasca-Tradisi

Sebuah Tinjauan Budaya Bentuk terhadap Wujud Arsitektur Bali dalam Abad Pasca-Tradisi

SAAT kita keluar dari Bandara I Gusti Ngurah Rai dan menuju pusat Kota Denpasar, lanskap arsitektur Bali tampak sangat beragam. Tanpa pola yang konsisten, berbagai gaya bangunan, dari yang menggabungkan elemen lokal hingga yang sepenuhnya menganut estetika global, bersatu.

Memasuki kawasan kota, seperti Renon, kita melihat pemandangan yang semakin kompleks: gedung pemerintahan bergaya neo-vernakular berdampingan dengan coffee shop berdesain industrial, dan toko roti dan restoran Eropa dengan jendela lengkung khas arsitektur Victoria muncul di sudut-sudut yang sama.

Tidak hanya di kota-kota, tetapi juga pedesaan, mulai dari Sidemen di Karangasem hingga Jatiluwih di Tabanan, mengalami perubahan. Dalam lanskap desa, hadir semakin banyak bangunan bergaya kontemporer yang dulunya asing.

Area enclave seperti Nuanu dan KEK di Sanur bahkan menjadi tempat eksperimen di mana berbagai gaya arsitektural baru muncul, seolah-olah tidak terpengaruh oleh tradisi lokal. Inilah fase perkembangan arsitektur yang saya sebut sebagai “menarik”—istilah yang sengaja saya beri tanda kutip karena, meskipun menarik, perkembangan ini mengandung dilema.

Di satu sisi, keragaman gaya dan kebebasan bereksperimen adalah bentuk kreatif yang memperkaya khasanah arsitektur Bali, membuka ruang bagi ide-ide baru, dan mendukung dinamika zaman. Pada sisi sebaliknya, keragaman yang tidak terkendali ini juga dapat menyebabkan ketidakjelasan visual, polusi bentuk, dan bahkan mempercepat pergeseran nilai dari komunalitas ke individualitas ekstrem.

Dari perspektif ilmu budaya bentuk, kondisi saat ini menunjukkan pergeseran paradigma: tradisi arsitektur Bali yang dulunya merupakan rujukan normatif sekarang hanyalah salah satu pilihan estetika di antara banyak pilihan yang tersedia di pasar global. Bentuk-bentuk arsitektur seringkali digerakkan oleh logika selera pribadi dan kapital, bukan lagi dari dialektika yang erat dengan adat, kosmologi, dan komunitas lokal.

Dengan transformasi ini, kita berada di persimpangan kritis: apakah pluralitas gaya ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan keberagaman dalam konteks, atau apakah itu justru menyebabkan pembagian ruang yang tidak terkait dengan dasar budaya?

Masyarakat Pasca-Tradisi: Tradisi sebagai Pilihan di Era Simulakra

Kemajuan arsitektur Bali saat ini dipengaruhi oleh perubahan besar dalam struktur kesadaran masyarakatnya. Kita sekarang berada di era pasca-tradisi, atau era di mana tradisi tidak lagi dianggap sebagai kebenaran absolut. Tradisi telah dipandang secara kritis oleh masyarakat Bali modern, bukan lagi sebagai sesuatu yang tak tergantikan dan sakral.

Sebaliknya, masyarakat yang semakin plural ini melihatnya sebagai salah satu pilihan dari berbagai nilai dan gaya hidup yang tersedia secara global. Sekarang, tradisi tidak lagi berfungsi sebagai dasar untuk menentukan identitas kolektif; ia berubah, bersaing, bahkan diganti oleh berbagai versi baru yang diimpor, diubah, dan dikreasi ulang.

Dalam konteks ini, teori Jean Baudrillard tentang simulacra dan hiperreality memberikan kerangka konseptual yang relevan untuk membaca fenomena tersebut. Baudrillard menguraikan bagaimana perbedaan antara yang nyata dan yang representasi menjadi tidak jelas di masyarakat modern, di mana yang kita konsumsi bukan lagi realitas itu sendiri, tetapi citra tentang realitas.

Representasi elemen-elemen arsitektur tradisional pada bangunan kontemporer | Foto: Gede Maha Putra

Tradisi di Bali saat ini sering dilihat tidak hanya sebagai ekspresi asli dari kearifan lokal, tetapi telah direplikasi, diubah, dan disesuaikan untuk memenuhi tuntutan pasar wisata dan gaya hidup kontemporer. Bangunan “berornamen Bali” yang terlihat di pusat perbelanjaan, hotel, dan resort seringkali hanyalah simulacra—tiruan tanpa referensi asli yang signifikan. Mereka tidak selalu berasal dari kesadaran budaya yang asli.

Mereka yang hidup dalam masyarakat pasca-tradisi tidak lagi terikat pada kebutuhan akan makna asli; sebaliknya, mereka hidup dalam era hyperreality, di mana citra dan representasi lebih dominan daripada kenyataan. Dalam konteks ini, pilihan arsitektural semakin bebas. Dengan pemahaman ini, kemajuan arsitektur Bali dewasa ini dapat dilihat sebagai gejala kultural dari masyarakat yang telah melampaui batas tradisi tetapi juga berisiko terjebak dalam ruang-ruang representasi yang kaya secara visual tetapi tidak memiliki makna yang mendalam.

Komodifikasi Tradisi dalam Masyarakat Bali Modern

Kerangka budaya yang diturunkan secara linear dari masa lalu tidak lagi digunakan oleh masyarakat di era pasca-tradisi. Anthony Giddens mengatakan bahwa modernitas radikal telah menciptakan cara-cara untuk melepaskan orang dari keterikatan tradisional.

Sekarang masyarakat Bali tidak lagi menganggap tradisi sebagai sesuatu yang diterima secara otomatis. Sebaliknya, mereka secara sadar memilih—atau bahkan mengubah—tradisi sesuai dengan kebutuhan masa kini mereka. Hal yang sebetulnya bisa mengarah kepada sesuatu yang positif.

Upaya pemerintah daerah Bali untuk mempertahankan tradisi dengan menetapkan peraturan, seperti Peraturan Daerah tentang Arsitektur Bali, pada dasarnya terkesan progresif secara normatif. Akan tetapi, Perda ini seringkali berkontribusi pada produksi simulacra.
Selama proses perizinan bangunan, perda sering digunakan sebagai checklist administratif, bukan menghidupkan kembali semangat tradisi yang signifikan.

Banyak pengembang dan pemilik bangunan melihat ornamen Bali sebagai syarat formal untuk mendapatkan IMB (Izin Mendirikan Bangunan), bukan sebagai penghormatan terhadap filosofi dan kosmologi Bali. Akibatnya, peraturan yang seharusnya menjaga budaya berubah menjadi alat untuk melegitimasi simulacra baru.

Perda seperti ini cenderung mendorong homogenisasi visual yang dangkal, di mana bangunan harus “terlihat Bali” secara superficial tanpa benar-benar menjiwai tata ruang sakral-profan, orientasi ruang, atau prinsip desa-kala-patra yang menjadi dasar arsitektur Bali.

Dengan kata lain, yang dipertahankan bukan esensi, melainkan fasad. Kondisi ini menunjukkan bagaimana birokrasi dan logika pasar bekerja sama untuk membuat Bali menjadi hyperreality, sebuah Bali yang terlihat tradisional di permukaan tetapi kehilangan makna budaya yang lebih dalam.

Selain itu, simulasi ini memiliki potensi untuk mempercepat proses Disneyfikasi budaya Bali, sehingga alih-alih berfungsi sebagai ruang hidup budaya yang otentik, Bali akan menjadi panggung estetis yang terus-menerus mereproduksi dirinya untuk kepuasan visual.

Simulacra Arsitektur Bali Kontemporer

Fenomena simulacra dalam arsitektur Bali saat ini dapat dengan mudah ditemukan dalam berbagai bentuk pembangunan, seperti pusat perbelanjaan, bangunan komersial, dan infrastruktur kota. Beberapa pola dapat diidentifikasi sebagai manifestasi nyata dari gejala ini.

Salah satu contohnya adalah kemunculan mal baru di wilayah utara Kota Denpasar, yang dengan bangga menampilkan candi bentar di fasad depannya. Secara tradisional, candi bentar berfungsi sebagai batas antara dua bagian dengan tatanan nilai yang berbeda—profan dan sakral, luar dan dalam. Namun, dalam mal ini, fungsi tersebut tidak lagi dilakukan. Meskipun memiliki nilai filosofis, ia hanya direduksi menjadi dekorasi tempel yang memikat pengunjung. Bentuknya ada, tetapi maknanya hilang. Ini adalah simulacra murni, menurut Baudrillard, yang sepenuhnya terpisah dari referensi awal.

Beberapa bangunan di sepanjang jalan utama kota menampilkan desain Bali seperti ukiran, patung, atau atap limasan. Namun, denah, struktur, dan material bangunan tersebut tidak mengikuti prinsip desain setempat. Banyak bangunan kontemporer yang meniru arsitektur internasional, tetapi diberi “sentuhan Bali” untuk mematuhi peraturan perda atau untuk memenuhi harapan visual pasar.

Ornamen-ornamen ini tidak berasal dari pemahaman mendalam tentang desa-kala-patra (kesesuaian tempat, waktu, dan kondisi), tetapi sebagai aksesori yang dapat dipasang dan dilepas tanpa mengubah wujud serta fungsi utama bangunan.

Pergeseran ke hyperreality semakin jelas dengan kehadiran perabot kota seperti lampu jalan, tempat sampah, dan pagar pedestrian yang dihiasi dengan motif Bali. Seringkali, komponen ini dipasang secara identik di berbagai ruas jalan, tanpa mempertimbangkan hubungannya dengan struktur spasial adat atau konteks lingkungannya.

Ornamentasi yang dulunya memiliki makna simbolik sekarang direplikasi secara massal, menjadi standar visual yang kehilangan maknanya dan terlihat seperti menghadirkan “Bali” tetapi sebenarnya hanyalah simulacrum.

Fenomena yang lebih menarik di daerah seperti Canggu, yang sekarang menjadi pusat tren arsitektur geometris dan minimalis dengan beton ekspos, kaca besar, dan garis-garis bersih yang sepenuhnya melepaskan diri dari referensi lokal. Gaya-gaya ini menjadi sangat populer dan bahkan menjadi trendsetter di pasar properti Bali.

Canggu, yang pada awalnya merupakan tempat pertanian dengan referensi budaya yang lemah secara spasial, sekarang menjadi kanvas kosong bagi selera global yang tidak terikat pada konteks lokal.

Di sinilah kita melihat bagaimana kekuatan pasar menjadi faktor dominan dalam membentuk gaya arsitektur Bali modern. Sejak Bali dibuka untuk investasi internasional pada dekade 1970-an, pasar telah memainkan peran penting dalam menentukan selera dan standar arsitektural.

Representasi elemen-elemen arsitektur tradisional pada bangunan kontemporer | Foto: Gede Maha Putra

Pasar global pada saat itu terobsesi dengan yang “autentik”, sehingga arsitektur Bali berkembang menjadi pelayan harapan akan budaya yang autentik. Namun, arsitektur Bali kini mengikuti tren global yang lebih industrial, geometris, dan minimalis. Perubahan ini menunjukkan bahwa kesadaran budaya lokal tidak lagi memengaruhi arsitektur Bali kontemporer, tetapi lebih pada perubahan pasar dan logika ekonomi kapitalis global.

Ruang Alternatif: Arsitektur Bali yang Bergerak Melampaui Simulacra:

Tentu tidak seluruh lanskap arsitektur Bali hari ini terjebak dalam pusaran simulacra dan komodifikasi visual. Di tengah derasnya arus pasar global dan reproduksi bentuk-bentuk superfisial, kita masih dapat menemukan karya-karya arsitektur yang memilih jalur berbeda—yakni jalur pemajuan tradisi secara kritis dan kontekstual.

Karya-karya ini tidak hanya meniru gaya lama atau menggunakan elemen tradisional sebagai hiasan tempel. Sebaliknya, mereka berusaha untuk menjaga semangat tradisi, menginterpretasikannya, dan mengartikulasikannya sesuai dengan kebutuhan modern tanpa kehilangan makna budayanya yang mendalam.

Sebagian besar, arsitektur yang mengikuti jalur ini beradaptasi dengan kebutuhan pasar, seperti tuntutan industri pariwisata global, tetapi mereka tidak menggunakan pasar sebagai satu-satunya referensi desain. Mereka mempertimbangkan dengan cermat bagaimana bentuk, fungsi, dan arti ruang berhubungan satu sama lain dan dengan lingkungan dan komunitas.

Dengan kata lain, mereka tidak terjebak dalam logika hyperreality di mana citra mengalahkan esensi. Sebaliknya, mereka memberikan cara inovatif yang memungkinkan tradisi bertahan, bukan hanya sebagai hiasan.

Bahkan beberapa karya dalam kategori ini memperluas makna tradisi dengan memungkinkan dialog produktif antara bentuk-bentuk vernakular dan material, teknologi, dan kebutuhan modern. Mereka mencoba menciptakan sebuah continuum di mana arsitektur Bali dapat tetap berkembang dan relevan tanpa kehilangan akarnya, daripada terjebak dalam dualisme kaku antara “tradisional” dan “modern”.

Jenis arsitektur ini menunjukkan bahwa Bali masih memiliki tempat untuk mengembangkan tradisi yang bertanggung jawab. Dalam konteks ini, tradisinya tidak dianggap sebagai beban masa lalu; sebaliknya, itu dianggap sebagai sumber inspirasi yang dinamis, terbuka, dan hidup. Metode ini membuat arsitektur Bali tidak stagnan, tidak terjebak dalam pelestarian gaya kuno, dan tidak hanyut dalam euforia pasar yang hanya mengejar pencitraan visual.

Jalur ini sangat penting untuk masyarakat pasca-tradisi karena ia menawarkan model hibrida yang dapat berbicara dengan globalitas sambil tetap terhubung dengan lokalitas. Arsitektur Bali dapat menjadi ruang budaya yang terus bergerak, berkomunikasi, dan memberi makna baru bagi masyarakatnya. Tidak perlu terperangkap dalam simulasi kosong atau artefak statis. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Catatan Ringkas dari Seminar Lontar Asta Kosala Kosali Koleksi Museum Bali
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Tags: arsitekturarsitektur balipendidikan arsitektur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Next Post

Budaya  Tidak Sekadar Warisan Statis, Melainkan Kekuatan Dinamis yang Terus Hidup

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

by Chusmeru
June 5, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails
Next Post
Budaya  Tidak Sekadar Warisan Statis, Melainkan Kekuatan Dinamis yang Terus Hidup

Budaya  Tidak Sekadar Warisan Statis, Melainkan Kekuatan Dinamis yang Terus Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co