27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri Pesugihan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan film horor Indonesia. Bahkan, saya merasa kadang-kadang rasanya lebih mudah menemukan film bertema hantu daripada menemukan film petualangan yang benar-benar bagus.

Yang menarik, dari sekian banyak film horor yang diproduksi, ada satu tema yang tampaknya tidak pernah kehabisan penonton, yaitu soal pesugihan.  Ceritanya nyaris selalu serupa. Ada orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, kekayaan yang lebih besar, atau kekuasaan yang lebih tinggi. Namun jalan yang ditempuh bukanlah kerja keras penuh dedikasi atau proses yang masuk akal. Sebaliknya, tersedia jalan pintas yang menjanjikan hasil cepat dengan syarat tertentu, dan di sini tumbal muncul sebagai bagian dari cerita.

Agak mikir juga jadinya, mengapa pola seperti ini terus diproduksi dan terus ditonton?  Kalau hanya untuk bikin takut penonton, sebenarnya para sineas itu bisa membuat ribuan variasi cerita lain. Hantu yang tinggal di rumah tua, penampakan di hutan, atau makhluk misterius yang berkeliaran di jalan sepi biar seram, lalu tambahkan jump scare, beres.

Namun kenyataannya, kisah pesugihan selalu saja kembali. Seolah-olah ada sesuatu yang membuat tema ini terasa begitu akrab bagi masyarakat Indonesia.  Nah, mungkin alasanya justru tidak terletak pada si hantunya.

Ketakutan yang Lebih Dekat daripada Hantu

Dalam banyak film horor Barat, ancaman biasanya datang dari luar. Vampir muncul dari kastil terpencil. Alien datang dari luar angkasa. Monster muncul akibat eksperimen yang gagal. Jadi, bahaya hadir sebagai sesuatu yang asing dan mengganggu kehidupan normal.  Tapi, horor Indonesia berbeda. Ancamannya tidak datang dari luar masyarakat, melainkan dari dalam masyarakat itu sendiri.

Dalam banyak kisah pesugihan yang kita tonton, tidak ada setan yang berkeliling kampung kemudian sibuk menawarkan kontrak kekayaan kepada warga. Yang terjadi justru sebaliknya. Manusialah yang aktif mencari jalan pintas tersebut, dengan cara mencari dukun sesat yang sakti, datang ke tempat-tempat keramat, dan si manusia itu sendiri yang bersedia membuat perjanjian. 

Karena itu, jika diperhatikan lebih betul-betul, tokoh yang paling seram dan kejam dalam banyak film pesugihan bukanlah setannya, tapi justru orang yang rela mengorbankan orang lain demi memenuhi keinginannya sendiri.  Saya rasa, di titik inilah film horor bisa berubah menjadi kritik moral.

Jadi, film-film tersebut sebenarnya sedang mengingatkan bahwa bahaya terbesar tidak selalu berasal dari kekuatan gaib. Bahaya terbesar muncul ketika keinginan manusia tumbuh tanpa batas dan tidak lagi dibatasi oleh pertimbangan etis. Pemikiran seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Filsuf Inggris Thomas Hobbes pernah menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terus-menerus mengejar lebih banyak kekuasaan, pengaruh, dan keuntungan selama hidupnya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, manusia sering kali tidak berhenti ketika kebutuhannya sudah terpenuhi. Orangnya tidak berhenti, yang berhenti biasanya adalah kesempatan atau kemampuan untuk terus mengambil, yang kalau sudah tidak ada lagi, baru si orang berhenti. Itu pun masih cari-cari lagi mana tahu ada jalan baru.

Tumbalnya Selalu Orang Lain

Ada satu pola menarik yang hampir selalu muncul dalam cerita pesugihan. Korban dari perjanjian dengan iblis tersebut jarang sekali berupa si pelakunya sendiri.  Yang menjadi tumbal biasanya orang lain.  Kadang anggota keluarga, kadang juga tetangga. Kadang orang yang bahkan tidak paham betul apa yang sedang terjadi. Pilihan naratif ini tampaknya bukan kebetulan.

Secara simbolik, cerita pesugihan sedang menyampaikan satu gagasan yang sangat sederhana, bahwa keuntungan besar yang diperoleh seseorang, sering kali memiliki konsekuensi pahit yang harus ditanggung oleh pihak lain.  Di sinilah tumbal menjadi konsep yang menarik. Sang tumbal bukan sekadar elemen horor, namun merupakan simbol dari pihak yang membayar harga dengan mahal tapi tidak ikut menikmati hasilnya.

Mungkin karena alasan itulah, istilah “tumbal” sering muncul dalam percakapan sosial dan politik Indonesia. Ketika masyarakat melihat adanya kebijakan, proyek, atau praktik tertentu yang dianggap menguntungkan sebagian pihak tetapi merugikan kelompok lain, kata yang sering digunakan adalah kata yang sama dengan yang muncul dalam film horor, yaitu tumbal. Nah, bahasa horor ternyata lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, daripada yang selama ini kita pikir atau bayangkan.

Ketika Horor Menjadi Bahasa Sosial

Dalam kajian budaya, cerita rakyat dan kisah horor sering dipahami sebagai cara masyarakat membicarakan kecemasan yang sulit diungkapkan secara langsung. Hantu bukan sekadar makhluk gaib. Ia sering kali menjadi simbol dari ketakutan yang hidup dalam suatu era atau zaman tertentu. Dan ini akan selalu ada di setiap jaman, tanpa memandang pada bulu si jaman itu sendiri. 

Karena itu, menarik rasanya jika melihat bagaimana tema pesugihan tetap bertahan di era sekarang yang kita rayakan sebagai zaman yang logis dan modern yang dipenuhi teknologi, kecerdasan buatan, dan transaksi digital.  Secara logika, masyarakat hari ini mungkin jauh lebih rasional dibandingkan beberapa generasi sebelumnya. Namun secara sosial, kegelisahan yang melahirkan cerita pesugihan ternyata belum benar-benar hilang.

Di era ini, banyak orang masih bertanya-tanya, mengapa kok ada sebagian orang bisa memperoleh kekayaan atau keuntungan yang luar biasa besar. Orang masih curiga ketika melihat kekayaan yang muncul terlalu cepat. Orang juga masih tetap curiga apakah ongkos dari kesuksesan itu memang benar-benar ditanggung oleh pelakunya sendiri, atau diam-diam dibebankan kepada pihak lain.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jelas tidak selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan.   Akibatnya, di bawah sadar, kisah-kisah dengan tema pesugihan tetap terasa relevan, karena menawarkan kerangka moral yang sederhana untuk memahami ketimpangan. Dalam dunia pesugihan, ada hukum yang niscaya, bahwa tidak ada kekayaan yang datang secara cuma-cuma, karena selalu ada harga yang harus dibayar, tapi siapa yang bayar?

Negeri Kita Hafal Jalan Ceritanya

Belakangan ini, misalnya,muncul berbagai kebijakan publik yang sering direspons dengan campuran antara harapan dan kecurigaan. Salah satu contohnya terlihat dalam respons sebagian masyarakat terhadap sensus, untuk pendataan ekonomi dan administrasi.  Terlepas dari tujuan resmi program-program tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dicermati, mengapa sebagian warga begitu mudah curiga? 

Jawabannya tidak terletak pada program itu sendiri, namun pada tingkat kepercayaan publik.  Ketika masyarakat berkali-kali menyaksikan kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, atau kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada mereka, maka wajar jika setiap kebijakan baru segera dibaca berdasar pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Sosiolog Max Weber pernah menjelaskan bahwa legitimasi kekuasaan bergantung pada kepercayaan masyarakat. Ketika kepercayaan itu melemah, kemampuan institusi untuk meyakinkan publik juga ikut melemah.  Dalam situasi seperti itu, masyarakat tidak hanya bertanya apa tujuan kebijakan baru itu, tapi juga mulai bertanya siapa yang bakal mendapat manfaat terbesar dari kebijakan tersebut, dan cilakanya masyarakat selalu yakin merekalah yang akhirnya harus membayar harganya. Hal ini menunjukkan bahwa logika tumbal ternyata tidak hanya hidup di layar bioskop. Ia juga hidup dalam imajinasi sosial masyarakat.

Jangan-Jangan Kita Menonton Diri Kita Sendiri

Pada akhirnya, mungkin alasan utama mengapa horor Indonesia begitu populer bukan karena masyarakat Indonesia gemar rasa takut. Bisa jadi karena masyarakat menemukan sesuatu yang terasa tidak asing di dalam cerita-cerita tersebut.

Pesugihan menawarkan kisah yang sangat sederhana, ada yang ingin memperoleh keuntungan secara cepat, ada sistem yang memungkinkan keinginan itu terwujud, lalu ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh pihak lain. Struktur cerita semacam ini terasa akrab karena ia mengingatkan kita pada banyak percakapan sehari-hari tentang kekuasaan, ketimpangan, dan keadilan.

Mungkin para pembuat film horor tidak pernah berniat membuat kritik sosial yang rumit. Namun tanpa disadari, mereka telah menciptakan sebuah metafora yang terus hidup dari generasi ke generasi.  Sebab di negeri ini, jujur saja, iziiiinn, kisah tentang seseorang yang memperoleh keuntungan besar dengan mengorbankan pihak lain sering kali terdengar lebih masuk akal, daripada cerita tentang zombie atau invasi alien. 

Jadi mengapa horor pesugihan Indonesia selalu laku, bukan karena kita percaya pada hantunya, melainkan karena kita merasa sudah terlalu mengenal jalan ceritanya. Jadi siapakah kita, apakah si pencari pesugihan, apakah hantu, atau si tumbal? Mari kita tonton bersama. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: hantuhororpesugihan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

Next Post

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co