16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri Pesugihan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan film horor Indonesia. Bahkan, saya merasa kadang-kadang rasanya lebih mudah menemukan film bertema hantu daripada menemukan film petualangan yang benar-benar bagus.

Yang menarik, dari sekian banyak film horor yang diproduksi, ada satu tema yang tampaknya tidak pernah kehabisan penonton, yaitu soal pesugihan.  Ceritanya nyaris selalu serupa. Ada orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, kekayaan yang lebih besar, atau kekuasaan yang lebih tinggi. Namun jalan yang ditempuh bukanlah kerja keras penuh dedikasi atau proses yang masuk akal. Sebaliknya, tersedia jalan pintas yang menjanjikan hasil cepat dengan syarat tertentu, dan di sini tumbal muncul sebagai bagian dari cerita.

Agak mikir juga jadinya, mengapa pola seperti ini terus diproduksi dan terus ditonton?  Kalau hanya untuk bikin takut penonton, sebenarnya para sineas itu bisa membuat ribuan variasi cerita lain. Hantu yang tinggal di rumah tua, penampakan di hutan, atau makhluk misterius yang berkeliaran di jalan sepi biar seram, lalu tambahkan jump scare, beres.

Namun kenyataannya, kisah pesugihan selalu saja kembali. Seolah-olah ada sesuatu yang membuat tema ini terasa begitu akrab bagi masyarakat Indonesia.  Nah, mungkin alasanya justru tidak terletak pada si hantunya.

Ketakutan yang Lebih Dekat daripada Hantu

Dalam banyak film horor Barat, ancaman biasanya datang dari luar. Vampir muncul dari kastil terpencil. Alien datang dari luar angkasa. Monster muncul akibat eksperimen yang gagal. Jadi, bahaya hadir sebagai sesuatu yang asing dan mengganggu kehidupan normal.  Tapi, horor Indonesia berbeda. Ancamannya tidak datang dari luar masyarakat, melainkan dari dalam masyarakat itu sendiri.

Dalam banyak kisah pesugihan yang kita tonton, tidak ada setan yang berkeliling kampung kemudian sibuk menawarkan kontrak kekayaan kepada warga. Yang terjadi justru sebaliknya. Manusialah yang aktif mencari jalan pintas tersebut, dengan cara mencari dukun sesat yang sakti, datang ke tempat-tempat keramat, dan si manusia itu sendiri yang bersedia membuat perjanjian. 

Karena itu, jika diperhatikan lebih betul-betul, tokoh yang paling seram dan kejam dalam banyak film pesugihan bukanlah setannya, tapi justru orang yang rela mengorbankan orang lain demi memenuhi keinginannya sendiri.  Saya rasa, di titik inilah film horor bisa berubah menjadi kritik moral.

Jadi, film-film tersebut sebenarnya sedang mengingatkan bahwa bahaya terbesar tidak selalu berasal dari kekuatan gaib. Bahaya terbesar muncul ketika keinginan manusia tumbuh tanpa batas dan tidak lagi dibatasi oleh pertimbangan etis. Pemikiran seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Filsuf Inggris Thomas Hobbes pernah menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terus-menerus mengejar lebih banyak kekuasaan, pengaruh, dan keuntungan selama hidupnya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, manusia sering kali tidak berhenti ketika kebutuhannya sudah terpenuhi. Orangnya tidak berhenti, yang berhenti biasanya adalah kesempatan atau kemampuan untuk terus mengambil, yang kalau sudah tidak ada lagi, baru si orang berhenti. Itu pun masih cari-cari lagi mana tahu ada jalan baru.

Tumbalnya Selalu Orang Lain

Ada satu pola menarik yang hampir selalu muncul dalam cerita pesugihan. Korban dari perjanjian dengan iblis tersebut jarang sekali berupa si pelakunya sendiri.  Yang menjadi tumbal biasanya orang lain.  Kadang anggota keluarga, kadang juga tetangga. Kadang orang yang bahkan tidak paham betul apa yang sedang terjadi. Pilihan naratif ini tampaknya bukan kebetulan.

Secara simbolik, cerita pesugihan sedang menyampaikan satu gagasan yang sangat sederhana, bahwa keuntungan besar yang diperoleh seseorang, sering kali memiliki konsekuensi pahit yang harus ditanggung oleh pihak lain.  Di sinilah tumbal menjadi konsep yang menarik. Sang tumbal bukan sekadar elemen horor, namun merupakan simbol dari pihak yang membayar harga dengan mahal tapi tidak ikut menikmati hasilnya.

Mungkin karena alasan itulah, istilah “tumbal” sering muncul dalam percakapan sosial dan politik Indonesia. Ketika masyarakat melihat adanya kebijakan, proyek, atau praktik tertentu yang dianggap menguntungkan sebagian pihak tetapi merugikan kelompok lain, kata yang sering digunakan adalah kata yang sama dengan yang muncul dalam film horor, yaitu tumbal. Nah, bahasa horor ternyata lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, daripada yang selama ini kita pikir atau bayangkan.

Ketika Horor Menjadi Bahasa Sosial

Dalam kajian budaya, cerita rakyat dan kisah horor sering dipahami sebagai cara masyarakat membicarakan kecemasan yang sulit diungkapkan secara langsung. Hantu bukan sekadar makhluk gaib. Ia sering kali menjadi simbol dari ketakutan yang hidup dalam suatu era atau zaman tertentu. Dan ini akan selalu ada di setiap jaman, tanpa memandang pada bulu si jaman itu sendiri. 

Karena itu, menarik rasanya jika melihat bagaimana tema pesugihan tetap bertahan di era sekarang yang kita rayakan sebagai zaman yang logis dan modern yang dipenuhi teknologi, kecerdasan buatan, dan transaksi digital.  Secara logika, masyarakat hari ini mungkin jauh lebih rasional dibandingkan beberapa generasi sebelumnya. Namun secara sosial, kegelisahan yang melahirkan cerita pesugihan ternyata belum benar-benar hilang.

Di era ini, banyak orang masih bertanya-tanya, mengapa kok ada sebagian orang bisa memperoleh kekayaan atau keuntungan yang luar biasa besar. Orang masih curiga ketika melihat kekayaan yang muncul terlalu cepat. Orang juga masih tetap curiga apakah ongkos dari kesuksesan itu memang benar-benar ditanggung oleh pelakunya sendiri, atau diam-diam dibebankan kepada pihak lain.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jelas tidak selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan.   Akibatnya, di bawah sadar, kisah-kisah dengan tema pesugihan tetap terasa relevan, karena menawarkan kerangka moral yang sederhana untuk memahami ketimpangan. Dalam dunia pesugihan, ada hukum yang niscaya, bahwa tidak ada kekayaan yang datang secara cuma-cuma, karena selalu ada harga yang harus dibayar, tapi siapa yang bayar?

Negeri Kita Hafal Jalan Ceritanya

Belakangan ini, misalnya,muncul berbagai kebijakan publik yang sering direspons dengan campuran antara harapan dan kecurigaan. Salah satu contohnya terlihat dalam respons sebagian masyarakat terhadap sensus, untuk pendataan ekonomi dan administrasi.  Terlepas dari tujuan resmi program-program tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dicermati, mengapa sebagian warga begitu mudah curiga? 

Jawabannya tidak terletak pada program itu sendiri, namun pada tingkat kepercayaan publik.  Ketika masyarakat berkali-kali menyaksikan kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, atau kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada mereka, maka wajar jika setiap kebijakan baru segera dibaca berdasar pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Sosiolog Max Weber pernah menjelaskan bahwa legitimasi kekuasaan bergantung pada kepercayaan masyarakat. Ketika kepercayaan itu melemah, kemampuan institusi untuk meyakinkan publik juga ikut melemah.  Dalam situasi seperti itu, masyarakat tidak hanya bertanya apa tujuan kebijakan baru itu, tapi juga mulai bertanya siapa yang bakal mendapat manfaat terbesar dari kebijakan tersebut, dan cilakanya masyarakat selalu yakin merekalah yang akhirnya harus membayar harganya. Hal ini menunjukkan bahwa logika tumbal ternyata tidak hanya hidup di layar bioskop. Ia juga hidup dalam imajinasi sosial masyarakat.

Jangan-Jangan Kita Menonton Diri Kita Sendiri

Pada akhirnya, mungkin alasan utama mengapa horor Indonesia begitu populer bukan karena masyarakat Indonesia gemar rasa takut. Bisa jadi karena masyarakat menemukan sesuatu yang terasa tidak asing di dalam cerita-cerita tersebut.

Pesugihan menawarkan kisah yang sangat sederhana, ada yang ingin memperoleh keuntungan secara cepat, ada sistem yang memungkinkan keinginan itu terwujud, lalu ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh pihak lain. Struktur cerita semacam ini terasa akrab karena ia mengingatkan kita pada banyak percakapan sehari-hari tentang kekuasaan, ketimpangan, dan keadilan.

Mungkin para pembuat film horor tidak pernah berniat membuat kritik sosial yang rumit. Namun tanpa disadari, mereka telah menciptakan sebuah metafora yang terus hidup dari generasi ke generasi.  Sebab di negeri ini, jujur saja, iziiiinn, kisah tentang seseorang yang memperoleh keuntungan besar dengan mengorbankan pihak lain sering kali terdengar lebih masuk akal, daripada cerita tentang zombie atau invasi alien. 

Jadi mengapa horor pesugihan Indonesia selalu laku, bukan karena kita percaya pada hantunya, melainkan karena kita merasa sudah terlalu mengenal jalan ceritanya. Jadi siapakah kita, apakah si pencari pesugihan, apakah hantu, atau si tumbal? Mari kita tonton bersama. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: hantuhororpesugihan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

Next Post

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010
Gaya

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

by tatkala
July 16, 2026
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa
Panggung

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik
Panggung

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co