26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri Pesugihan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan film horor Indonesia. Bahkan, saya merasa kadang-kadang rasanya lebih mudah menemukan film bertema hantu daripada menemukan film petualangan yang benar-benar bagus.

Yang menarik, dari sekian banyak film horor yang diproduksi, ada satu tema yang tampaknya tidak pernah kehabisan penonton, yaitu soal pesugihan.  Ceritanya nyaris selalu serupa. Ada orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, kekayaan yang lebih besar, atau kekuasaan yang lebih tinggi. Namun jalan yang ditempuh bukanlah kerja keras penuh dedikasi atau proses yang masuk akal. Sebaliknya, tersedia jalan pintas yang menjanjikan hasil cepat dengan syarat tertentu, dan di sini tumbal muncul sebagai bagian dari cerita.

Agak mikir juga jadinya, mengapa pola seperti ini terus diproduksi dan terus ditonton?  Kalau hanya untuk bikin takut penonton, sebenarnya para sineas itu bisa membuat ribuan variasi cerita lain. Hantu yang tinggal di rumah tua, penampakan di hutan, atau makhluk misterius yang berkeliaran di jalan sepi biar seram, lalu tambahkan jump scare, beres.

Namun kenyataannya, kisah pesugihan selalu saja kembali. Seolah-olah ada sesuatu yang membuat tema ini terasa begitu akrab bagi masyarakat Indonesia.  Nah, mungkin alasanya justru tidak terletak pada si hantunya.

Ketakutan yang Lebih Dekat daripada Hantu

Dalam banyak film horor Barat, ancaman biasanya datang dari luar. Vampir muncul dari kastil terpencil. Alien datang dari luar angkasa. Monster muncul akibat eksperimen yang gagal. Jadi, bahaya hadir sebagai sesuatu yang asing dan mengganggu kehidupan normal.  Tapi, horor Indonesia berbeda. Ancamannya tidak datang dari luar masyarakat, melainkan dari dalam masyarakat itu sendiri.

Dalam banyak kisah pesugihan yang kita tonton, tidak ada setan yang berkeliling kampung kemudian sibuk menawarkan kontrak kekayaan kepada warga. Yang terjadi justru sebaliknya. Manusialah yang aktif mencari jalan pintas tersebut, dengan cara mencari dukun sesat yang sakti, datang ke tempat-tempat keramat, dan si manusia itu sendiri yang bersedia membuat perjanjian. 

Karena itu, jika diperhatikan lebih betul-betul, tokoh yang paling seram dan kejam dalam banyak film pesugihan bukanlah setannya, tapi justru orang yang rela mengorbankan orang lain demi memenuhi keinginannya sendiri.  Saya rasa, di titik inilah film horor bisa berubah menjadi kritik moral.

Jadi, film-film tersebut sebenarnya sedang mengingatkan bahwa bahaya terbesar tidak selalu berasal dari kekuatan gaib. Bahaya terbesar muncul ketika keinginan manusia tumbuh tanpa batas dan tidak lagi dibatasi oleh pertimbangan etis. Pemikiran seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Filsuf Inggris Thomas Hobbes pernah menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terus-menerus mengejar lebih banyak kekuasaan, pengaruh, dan keuntungan selama hidupnya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, manusia sering kali tidak berhenti ketika kebutuhannya sudah terpenuhi. Orangnya tidak berhenti, yang berhenti biasanya adalah kesempatan atau kemampuan untuk terus mengambil, yang kalau sudah tidak ada lagi, baru si orang berhenti. Itu pun masih cari-cari lagi mana tahu ada jalan baru.

Tumbalnya Selalu Orang Lain

Ada satu pola menarik yang hampir selalu muncul dalam cerita pesugihan. Korban dari perjanjian dengan iblis tersebut jarang sekali berupa si pelakunya sendiri.  Yang menjadi tumbal biasanya orang lain.  Kadang anggota keluarga, kadang juga tetangga. Kadang orang yang bahkan tidak paham betul apa yang sedang terjadi. Pilihan naratif ini tampaknya bukan kebetulan.

Secara simbolik, cerita pesugihan sedang menyampaikan satu gagasan yang sangat sederhana, bahwa keuntungan besar yang diperoleh seseorang, sering kali memiliki konsekuensi pahit yang harus ditanggung oleh pihak lain.  Di sinilah tumbal menjadi konsep yang menarik. Sang tumbal bukan sekadar elemen horor, namun merupakan simbol dari pihak yang membayar harga dengan mahal tapi tidak ikut menikmati hasilnya.

Mungkin karena alasan itulah, istilah “tumbal” sering muncul dalam percakapan sosial dan politik Indonesia. Ketika masyarakat melihat adanya kebijakan, proyek, atau praktik tertentu yang dianggap menguntungkan sebagian pihak tetapi merugikan kelompok lain, kata yang sering digunakan adalah kata yang sama dengan yang muncul dalam film horor, yaitu tumbal. Nah, bahasa horor ternyata lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, daripada yang selama ini kita pikir atau bayangkan.

Ketika Horor Menjadi Bahasa Sosial

Dalam kajian budaya, cerita rakyat dan kisah horor sering dipahami sebagai cara masyarakat membicarakan kecemasan yang sulit diungkapkan secara langsung. Hantu bukan sekadar makhluk gaib. Ia sering kali menjadi simbol dari ketakutan yang hidup dalam suatu era atau zaman tertentu. Dan ini akan selalu ada di setiap jaman, tanpa memandang pada bulu si jaman itu sendiri. 

Karena itu, menarik rasanya jika melihat bagaimana tema pesugihan tetap bertahan di era sekarang yang kita rayakan sebagai zaman yang logis dan modern yang dipenuhi teknologi, kecerdasan buatan, dan transaksi digital.  Secara logika, masyarakat hari ini mungkin jauh lebih rasional dibandingkan beberapa generasi sebelumnya. Namun secara sosial, kegelisahan yang melahirkan cerita pesugihan ternyata belum benar-benar hilang.

Di era ini, banyak orang masih bertanya-tanya, mengapa kok ada sebagian orang bisa memperoleh kekayaan atau keuntungan yang luar biasa besar. Orang masih curiga ketika melihat kekayaan yang muncul terlalu cepat. Orang juga masih tetap curiga apakah ongkos dari kesuksesan itu memang benar-benar ditanggung oleh pelakunya sendiri, atau diam-diam dibebankan kepada pihak lain.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jelas tidak selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan.   Akibatnya, di bawah sadar, kisah-kisah dengan tema pesugihan tetap terasa relevan, karena menawarkan kerangka moral yang sederhana untuk memahami ketimpangan. Dalam dunia pesugihan, ada hukum yang niscaya, bahwa tidak ada kekayaan yang datang secara cuma-cuma, karena selalu ada harga yang harus dibayar, tapi siapa yang bayar?

Negeri Kita Hafal Jalan Ceritanya

Belakangan ini, misalnya,muncul berbagai kebijakan publik yang sering direspons dengan campuran antara harapan dan kecurigaan. Salah satu contohnya terlihat dalam respons sebagian masyarakat terhadap sensus, untuk pendataan ekonomi dan administrasi.  Terlepas dari tujuan resmi program-program tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dicermati, mengapa sebagian warga begitu mudah curiga? 

Jawabannya tidak terletak pada program itu sendiri, namun pada tingkat kepercayaan publik.  Ketika masyarakat berkali-kali menyaksikan kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, atau kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada mereka, maka wajar jika setiap kebijakan baru segera dibaca berdasar pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Sosiolog Max Weber pernah menjelaskan bahwa legitimasi kekuasaan bergantung pada kepercayaan masyarakat. Ketika kepercayaan itu melemah, kemampuan institusi untuk meyakinkan publik juga ikut melemah.  Dalam situasi seperti itu, masyarakat tidak hanya bertanya apa tujuan kebijakan baru itu, tapi juga mulai bertanya siapa yang bakal mendapat manfaat terbesar dari kebijakan tersebut, dan cilakanya masyarakat selalu yakin merekalah yang akhirnya harus membayar harganya. Hal ini menunjukkan bahwa logika tumbal ternyata tidak hanya hidup di layar bioskop. Ia juga hidup dalam imajinasi sosial masyarakat.

Jangan-Jangan Kita Menonton Diri Kita Sendiri

Pada akhirnya, mungkin alasan utama mengapa horor Indonesia begitu populer bukan karena masyarakat Indonesia gemar rasa takut. Bisa jadi karena masyarakat menemukan sesuatu yang terasa tidak asing di dalam cerita-cerita tersebut.

Pesugihan menawarkan kisah yang sangat sederhana, ada yang ingin memperoleh keuntungan secara cepat, ada sistem yang memungkinkan keinginan itu terwujud, lalu ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh pihak lain. Struktur cerita semacam ini terasa akrab karena ia mengingatkan kita pada banyak percakapan sehari-hari tentang kekuasaan, ketimpangan, dan keadilan.

Mungkin para pembuat film horor tidak pernah berniat membuat kritik sosial yang rumit. Namun tanpa disadari, mereka telah menciptakan sebuah metafora yang terus hidup dari generasi ke generasi.  Sebab di negeri ini, jujur saja, iziiiinn, kisah tentang seseorang yang memperoleh keuntungan besar dengan mengorbankan pihak lain sering kali terdengar lebih masuk akal, daripada cerita tentang zombie atau invasi alien. 

Jadi mengapa horor pesugihan Indonesia selalu laku, bukan karena kita percaya pada hantunya, melainkan karena kita merasa sudah terlalu mengenal jalan ceritanya. Jadi siapakah kita, apakah si pencari pesugihan, apakah hantu, atau si tumbal? Mari kita tonton bersama. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: hantuhororpesugihan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

Next Post

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
0
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

Read moreDetails

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails
Next Post
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?
Khas

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co