6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri Pesugihan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan film horor Indonesia. Bahkan, saya merasa kadang-kadang rasanya lebih mudah menemukan film bertema hantu daripada menemukan film petualangan yang benar-benar bagus.

Yang menarik, dari sekian banyak film horor yang diproduksi, ada satu tema yang tampaknya tidak pernah kehabisan penonton, yaitu soal pesugihan.  Ceritanya nyaris selalu serupa. Ada orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, kekayaan yang lebih besar, atau kekuasaan yang lebih tinggi. Namun jalan yang ditempuh bukanlah kerja keras penuh dedikasi atau proses yang masuk akal. Sebaliknya, tersedia jalan pintas yang menjanjikan hasil cepat dengan syarat tertentu, dan di sini tumbal muncul sebagai bagian dari cerita.

Agak mikir juga jadinya, mengapa pola seperti ini terus diproduksi dan terus ditonton?  Kalau hanya untuk bikin takut penonton, sebenarnya para sineas itu bisa membuat ribuan variasi cerita lain. Hantu yang tinggal di rumah tua, penampakan di hutan, atau makhluk misterius yang berkeliaran di jalan sepi biar seram, lalu tambahkan jump scare, beres.

Namun kenyataannya, kisah pesugihan selalu saja kembali. Seolah-olah ada sesuatu yang membuat tema ini terasa begitu akrab bagi masyarakat Indonesia.  Nah, mungkin alasanya justru tidak terletak pada si hantunya.

Ketakutan yang Lebih Dekat daripada Hantu

Dalam banyak film horor Barat, ancaman biasanya datang dari luar. Vampir muncul dari kastil terpencil. Alien datang dari luar angkasa. Monster muncul akibat eksperimen yang gagal. Jadi, bahaya hadir sebagai sesuatu yang asing dan mengganggu kehidupan normal.  Tapi, horor Indonesia berbeda. Ancamannya tidak datang dari luar masyarakat, melainkan dari dalam masyarakat itu sendiri.

Dalam banyak kisah pesugihan yang kita tonton, tidak ada setan yang berkeliling kampung kemudian sibuk menawarkan kontrak kekayaan kepada warga. Yang terjadi justru sebaliknya. Manusialah yang aktif mencari jalan pintas tersebut, dengan cara mencari dukun sesat yang sakti, datang ke tempat-tempat keramat, dan si manusia itu sendiri yang bersedia membuat perjanjian. 

Karena itu, jika diperhatikan lebih betul-betul, tokoh yang paling seram dan kejam dalam banyak film pesugihan bukanlah setannya, tapi justru orang yang rela mengorbankan orang lain demi memenuhi keinginannya sendiri.  Saya rasa, di titik inilah film horor bisa berubah menjadi kritik moral.

Jadi, film-film tersebut sebenarnya sedang mengingatkan bahwa bahaya terbesar tidak selalu berasal dari kekuatan gaib. Bahaya terbesar muncul ketika keinginan manusia tumbuh tanpa batas dan tidak lagi dibatasi oleh pertimbangan etis. Pemikiran seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Filsuf Inggris Thomas Hobbes pernah menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terus-menerus mengejar lebih banyak kekuasaan, pengaruh, dan keuntungan selama hidupnya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, manusia sering kali tidak berhenti ketika kebutuhannya sudah terpenuhi. Orangnya tidak berhenti, yang berhenti biasanya adalah kesempatan atau kemampuan untuk terus mengambil, yang kalau sudah tidak ada lagi, baru si orang berhenti. Itu pun masih cari-cari lagi mana tahu ada jalan baru.

Tumbalnya Selalu Orang Lain

Ada satu pola menarik yang hampir selalu muncul dalam cerita pesugihan. Korban dari perjanjian dengan iblis tersebut jarang sekali berupa si pelakunya sendiri.  Yang menjadi tumbal biasanya orang lain.  Kadang anggota keluarga, kadang juga tetangga. Kadang orang yang bahkan tidak paham betul apa yang sedang terjadi. Pilihan naratif ini tampaknya bukan kebetulan.

Secara simbolik, cerita pesugihan sedang menyampaikan satu gagasan yang sangat sederhana, bahwa keuntungan besar yang diperoleh seseorang, sering kali memiliki konsekuensi pahit yang harus ditanggung oleh pihak lain.  Di sinilah tumbal menjadi konsep yang menarik. Sang tumbal bukan sekadar elemen horor, namun merupakan simbol dari pihak yang membayar harga dengan mahal tapi tidak ikut menikmati hasilnya.

Mungkin karena alasan itulah, istilah “tumbal” sering muncul dalam percakapan sosial dan politik Indonesia. Ketika masyarakat melihat adanya kebijakan, proyek, atau praktik tertentu yang dianggap menguntungkan sebagian pihak tetapi merugikan kelompok lain, kata yang sering digunakan adalah kata yang sama dengan yang muncul dalam film horor, yaitu tumbal. Nah, bahasa horor ternyata lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, daripada yang selama ini kita pikir atau bayangkan.

Ketika Horor Menjadi Bahasa Sosial

Dalam kajian budaya, cerita rakyat dan kisah horor sering dipahami sebagai cara masyarakat membicarakan kecemasan yang sulit diungkapkan secara langsung. Hantu bukan sekadar makhluk gaib. Ia sering kali menjadi simbol dari ketakutan yang hidup dalam suatu era atau zaman tertentu. Dan ini akan selalu ada di setiap jaman, tanpa memandang pada bulu si jaman itu sendiri. 

Karena itu, menarik rasanya jika melihat bagaimana tema pesugihan tetap bertahan di era sekarang yang kita rayakan sebagai zaman yang logis dan modern yang dipenuhi teknologi, kecerdasan buatan, dan transaksi digital.  Secara logika, masyarakat hari ini mungkin jauh lebih rasional dibandingkan beberapa generasi sebelumnya. Namun secara sosial, kegelisahan yang melahirkan cerita pesugihan ternyata belum benar-benar hilang.

Di era ini, banyak orang masih bertanya-tanya, mengapa kok ada sebagian orang bisa memperoleh kekayaan atau keuntungan yang luar biasa besar. Orang masih curiga ketika melihat kekayaan yang muncul terlalu cepat. Orang juga masih tetap curiga apakah ongkos dari kesuksesan itu memang benar-benar ditanggung oleh pelakunya sendiri, atau diam-diam dibebankan kepada pihak lain.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jelas tidak selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan.   Akibatnya, di bawah sadar, kisah-kisah dengan tema pesugihan tetap terasa relevan, karena menawarkan kerangka moral yang sederhana untuk memahami ketimpangan. Dalam dunia pesugihan, ada hukum yang niscaya, bahwa tidak ada kekayaan yang datang secara cuma-cuma, karena selalu ada harga yang harus dibayar, tapi siapa yang bayar?

Negeri Kita Hafal Jalan Ceritanya

Belakangan ini, misalnya,muncul berbagai kebijakan publik yang sering direspons dengan campuran antara harapan dan kecurigaan. Salah satu contohnya terlihat dalam respons sebagian masyarakat terhadap sensus, untuk pendataan ekonomi dan administrasi.  Terlepas dari tujuan resmi program-program tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dicermati, mengapa sebagian warga begitu mudah curiga? 

Jawabannya tidak terletak pada program itu sendiri, namun pada tingkat kepercayaan publik.  Ketika masyarakat berkali-kali menyaksikan kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, atau kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada mereka, maka wajar jika setiap kebijakan baru segera dibaca berdasar pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Sosiolog Max Weber pernah menjelaskan bahwa legitimasi kekuasaan bergantung pada kepercayaan masyarakat. Ketika kepercayaan itu melemah, kemampuan institusi untuk meyakinkan publik juga ikut melemah.  Dalam situasi seperti itu, masyarakat tidak hanya bertanya apa tujuan kebijakan baru itu, tapi juga mulai bertanya siapa yang bakal mendapat manfaat terbesar dari kebijakan tersebut, dan cilakanya masyarakat selalu yakin merekalah yang akhirnya harus membayar harganya. Hal ini menunjukkan bahwa logika tumbal ternyata tidak hanya hidup di layar bioskop. Ia juga hidup dalam imajinasi sosial masyarakat.

Jangan-Jangan Kita Menonton Diri Kita Sendiri

Pada akhirnya, mungkin alasan utama mengapa horor Indonesia begitu populer bukan karena masyarakat Indonesia gemar rasa takut. Bisa jadi karena masyarakat menemukan sesuatu yang terasa tidak asing di dalam cerita-cerita tersebut.

Pesugihan menawarkan kisah yang sangat sederhana, ada yang ingin memperoleh keuntungan secara cepat, ada sistem yang memungkinkan keinginan itu terwujud, lalu ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh pihak lain. Struktur cerita semacam ini terasa akrab karena ia mengingatkan kita pada banyak percakapan sehari-hari tentang kekuasaan, ketimpangan, dan keadilan.

Mungkin para pembuat film horor tidak pernah berniat membuat kritik sosial yang rumit. Namun tanpa disadari, mereka telah menciptakan sebuah metafora yang terus hidup dari generasi ke generasi.  Sebab di negeri ini, jujur saja, iziiiinn, kisah tentang seseorang yang memperoleh keuntungan besar dengan mengorbankan pihak lain sering kali terdengar lebih masuk akal, daripada cerita tentang zombie atau invasi alien. 

Jadi mengapa horor pesugihan Indonesia selalu laku, bukan karena kita percaya pada hantunya, melainkan karena kita merasa sudah terlalu mengenal jalan ceritanya. Jadi siapakah kita, apakah si pencari pesugihan, apakah hantu, atau si tumbal? Mari kita tonton bersama. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: hantuhororpesugihan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

Next Post

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails
Next Post
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co