23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Bisnis Lontar

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Aktivitas menjemur "kertas lontar"

 

SAHABAT saya bisnisnya menjual lontar. Lontar yang dijual adalah lontar kosong. Jadi mirip penjual buku kosong, bukan buku bacaan. Juga menjual/menyediakan pangrupak (pisau tulis) dan perlengkapan bantal menulis lontar. Rumahnya pun mirip toko penjual buku tulis dan alat tulis.

Sahabat satu lagi membuka lapak menjual lontar di sebelah rumahnya di Desa Tenganan. Lontar yang dijual berupa lontar prasi, lontar bergambar. Gambarnya, dari yang sekedar drawing dekoratif pewayangan sederhana, cukilan wariga, sampai lembar-lembar perjalanan hidup dan kematian Sang Lubdaka yang diambil dari naskah Siwalatri Kalpa. Jadi lapaknya mirip penjual lukisan dekoratif sebagaimana kita bisa temukan di pasar seni Sukawati atau Kumbasari.

Lebih besar lagi ‘pelaku usaha’ lontar lain adalah sahabat saya yang sudah 40 tahun membuat daun lontar jadi ‘kertas lontar’. Hidupnya berjalan seiring perjalanan musim lontar: Memetik daun-daun lontar di kebun dan tepian pantai di timur pulau Bali, membawanya pulang, memotong dan membentuknya jadi lebih tersusun, memasak dan menjemur, memproses sampai matang dengan berbagai ramuan, menjepit berbulan-bulan sampai betul-betul menjadi lembar ideal ‘kertas lontar’ yang berkualitas dijadikan lembar menulis.

Modal yang diputar sampai sekitar Rp 50 juta. Hidup dan nafas keluarganya tak lepas dari sastra dan lontar. Rp 50 juta yang diputar itu menyangga kehidupannya yang penuh ketabahan menjalani hidup merawat tradisi baca dan tembang, serta interpretasi. Tiada terhitung sudah ratusan mahasiswa master dan PhD datang dari berbagai negeri diberi arahan dan masukan, bahkan tidak jarang dibantu menyalinkan berbagai lontar. Sahabat sepuh ini saya yakin adalah pembaca lontar terbanyak di dunia.

Ketiga sahabat itu orangnya sangat bersahaja. Tidak ada guratan wajahnya menunjukkan mereka ini ingin kaya dari lontar. Hidupnya seperti pelayan kuil yang memberikan kesempatan setiap orang yang mendekat dengannya bisa mencicipi ‘dunia lontar’. Ketiganya tidak mencari untung berlebih. Sekedar bisa membayar anak sekolah dan bertahan makan seadanya. Ketiganya, buat saya, adalah sosok ‘pahlawan literasi’ yang memperpanjang denyut tradisi lontar.

Tiga sosok ini membuat saya kagum. Hidup dijalani dengan sungguh. Tanpa keraguan. Tanpa penyesalan. Tidak banyak keluhan. Tidak punya akun sosial media, sehingga tidak sekalipun umbar status galau, serta tidak tersentuh dan tidak bergeming dengan sengkarut media sosial dan lain-lain.

Di samping ketiga sosok sahabat saya ini, sesungguhnya masih banyak sosok lain yang juga ‘bisnis lontar’. Namun, ini bukan bisnis sebagaimana halnya bisnis yang meraup untung berjuta atau beratus juta, ini lebih merupakan pilihan dan kecintaan pada dunia lontar. Mereka itu seperti: Para tukang tulis awig-awig desa pakraman’ yang sehari-hari menyalin awig-awig beraksara latin menjadi format lontar, berhuruf Bali dan ditulis di atas daun lontar.

Hidupnya lebih menyerupai ngayah dan pengabdian dibandingkan ‘bisnis’. Demikian juga para seniman lontar prasi yang bertahan hidup di beberapa wilayah di Karangasem. Sama halnya dengan pengerajin ukir dan penenun, hidupnya adalah kerja-kerja-kerja yang jauh dari hiruk-pikuk gemerlap gemerincing pelipat gandaan uang.

Buat saya mereka punya andil besar memperpanjang nafas tradisi tulis dan bahasa Bali. Tanpa banyak pidato, mereka penjaga tradisi aksara dan penulisan lontar di garda depan.

Melihat para ‘pekerja lontar’ tersebut, yang saya sebutkan di atas, saya sering berpikir:

1). Kita semestinya mensupport mereka dengan memesan ‘kertas lontar’ sebanyaknya dan kita bagikan untuk anak-anak sekolah untuk belajar atau mencoba menulis lontar. Seperti halnya seni ukir kayu atau pasir, serta paras, lembar lontar-lontar kosong itu adalah bahan untuk berlatih. Anak-anak semasa bersekolah akan bagus sekali punya kesempatan mencoba menulis atau membuat prasi, dan dengan sendirinya pemesanan ini akan membuat para pembuat/penyedian lontar bisa mendapat pesanan dan tradisi membuat ‘kertas-lembar lontar’ ini bertahan.

2). Jika kita punya uang lebih — dibanding gonta-ganti HP terbaru — penting memesan secakep dua cakep lontar buat koleksi keluarga. Ditaruh pajang di ruang tamu sebagai mana layaknya buku atau koleksi patung atau lukis, sehingga anak-anak terbiasa melihat lontar sebagai ‘buku Bali’ yang ditulis dengan kesabaran, keindahan, dan bisa bercermin bahwa Bali punya tradisi panjang sampai awal abad masehi yang akarnya dari aksara Pre-Negari, setidaknya tahu bahwa Bali telah punya kegandrungan literasi semenjak zaman raja-raja Gelgel.

3). Sekolah-sekolah bisa membuat atau melengkapi koleksi buku-buku di perpustakaan mereka dengan koleksi lontar. Ini bisa dilakukan dengan menyalin lontar-lontar koleksi Gedong Kirtya, Pusat Dokumentasi Bali, atau koleksi milik warga (orang tua siswa) sehingga perpustakaan sekolah minimal punya sebiji sampai 10 cakep lontar yang bisa dipajang dan bisa dibaca di masing-masing perpustakaan sekolah di seluruh Bali. Banyak sekali sumber dana pengadaan dan peningkatan kualitas sekolah membuka peluang pengadaan naskah lontar ini. Ini sangat mungkin. Kalaupun tidak banyak tersedia dana, bisa mengkoleksi karya-karya lontar yang ditulis siswa sekolah bersangkutan yang menjadi pemenang lomba ‘nyurat lontar’.

4). Minimal, kalau tidak bisa di tiap sekolah, sebagaimana perpustakaan yang perlu hadir di setiap sudut kota dan kabupaten di seluruh Bali, idealnya semua sudut-sudut perpustakaan yang ada itu melengkapi koleksinya dengan pengadaan salinan lontar-lontar. Jadi perpustakaan kabupaten dan kota punya koleksi lontar-lontar yang relevan dengan kebutuhan warganya, seperti kepemangkuan, seni sastra, usada, pertanian dan bidang lainnya.

Di tengah perkembangan berbagai sektor ‘bisnis’ lain di Bali yang cukup berlimpah dolar, empat hal di atas tidak muluk-muluk. Secara nasional ketersediaan dana pendidikan dari pusat sangat besar, dan PAD di kabupaten dan kota makin meningkat. Semua itu bisa jadi berkah buat hidupnya ‘bisnis lontar’ dan kelanjutan tradisi literasi kita sepanjang kita paham pentingnya merawat tradisi literasi berbasis bahasa Ibu dan berbasis warisan tradisi pengetahuan kuno dalam menyongsong masa depan yang kian tercerabut dari akar.

Lontar adalah buku orang Bali. Membuat kertas lontar, memperjualbelikan lontar kosong, menulis dan membaca, menggandakan isi lontar serta mengkajinya adalah sebuah kegiatan-kegiatan yang sangat mendasar untuk merawat tradisi literasi yang perlu didukung sebagaimana ‘mempromosikan’ kebiasaan membaca buku sejak dini. (T)

*Catatan Harian, 17 Nopember 2017.

Tags: balibisnislontar
Share82TweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki Garam

Next Post

Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 - Gambar Umbul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co