3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

Hartanto by Hartanto
May 18, 2025
in Kritik Sastra
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi.  Meskipun karyanya dalam bidang sastra ini tidak sepopuler seni visualnya, namun tetap menarik untuk dikaji.

Picasso mulai menulis puisi sekitar tahun 1935 dan melanjutkan hingga akhir hidupnya. Puisinya mencerminkan gaya surealis dan seringkali memiliki elemen-elemen yang tidak konvensional, seperti kurangnya tanda baca, permainan kata, serta pencampuran antara citra visual dan emosional.

Salah satu aspek menarik dari puisi Picasso adalah bahwa dia membawa elemen dari seni visualnya ke dalam tulisan, menciptakan teks yang sering kali sulit dipahami. Karya puisinya, penuh dengan simbolisme dan metafora. Meskipun tidak ada kumpulan puisi Picasso yang terkenal secara luas, beberapa di antaranya telah diterbitkan dalam buku berjudul “Pablo Picasso: Collected Writings” yang diterbitkan secara ‘posthumous’ (diterbitkan setelah kematian seseorang: penghargaan anumerta.)

Puisi-puisi Pablo Picasso mungkin tidak seterkenal karya rupanya, tetapi mereka menawarkan wawasan menarik tentang pemikirannya yang ‘multidimensional’ dan tidak biasa. Picasso mulai menulis puisi ketika ia sedang mengalami fase kehidupan yang penuh gejolak.

Pablo Picasso, 25 Oktober 1881 – 8 April 1973

Pada waktu itu, 1935, ia menghadapi masalah pribadi, seperti perpisahannya dengan istri pertamanya, Olga Khokhlova, serta krisis identitas dalam karyanya sebagai seniman. Inilah yang mendorongnya untuk beralih ke medium lain sebagai bentuk ekspresi diri, yaitu menulis.

Seperti halnya dalam lukisannya yang dipengaruhi oleh kubisme dan surealisme, puisi-puisi Picasso seringkali tidak mengikuti aturan linear atau struktur yang jelas. Puisinya berisi fragmen-fragmen pikiran, ide, dan citra yang seringkali aneh atau tidak masuk akal jika dilihat secara harfiah. Gaya ini serupa dengan gerakan surealis dalam sastra, yang lebih mengutamakan eksplorasi alam bawah sadar dan mimpi.

Picasso tidak hanya menulis dalam satu bahasa, ia sering mencampur berbagai bahasa seperti Spanyol, Prancis, dan kadang-kadang bahasa lain. Dia juga sering bermain dengan bentuk-bentuk kata, menciptakan frasa-frasa yang tidak biasa. Puisinya seringkali bersifat fraktal, penuh dengan pengulangan yang tidak mengikuti aturan tata bahasa yang baku. Ada banyak frasa yang tampaknya hanya berfungsi sebagai eksperimen linguistik, bukan sekadar sebagai medium komunikasi.

Banyak yang mengatakan bahwa puisi Picasso bersifat sangat “visual”, dalam artian ia menggambarkan gambar-gambar mental melalui kata-kata, sebagaimana ia menggambarkan bentuk dalam seni lukisnya. Misalnya, puisi-puisinya penuh dengan detail yang konkret, seperti warna, bentuk, dan tekstur, yang mengingatkan pada gaya kubisme dan caranya memecah objek menjadi fragmen-fragmen di atas kanvas.

Picasso sering menyebut bahwa ia menulis seperti orang menggigit kuku – sebagai kebiasaan, reaksi spontan terhadap emosi yang dirasakannya. Ia tidak menulis untuk mengikuti gaya puitis yang formal atau menghasilkan karya sastra yang sempurna. Puisinya sering tampak sebagai catatan singkat atau percikan ide yang tiba-tiba muncul di benaknya. Teksnya juga kadang penuh dengan catatan-catatan yang bersifat pribadi atau bahkan sepele.

Selain itu, Picasso acap menggunakan tanda baca dengan sangat tidak konsisten. Hal ini membuat pembaca merasa seperti “tersesat” dalam teks yang mencerminkan perasaan Picasso tentang ketidakteraturan dan fluiditas dunia serta pikirannya sendiri.

Coba simak petikan puisinya, terjemahan Dewi Rinjani ini ;

“Saya menulis seperti orang lain menggigit kuku mereka.

Karena gugup, bosan, bingung, gembira, sedih, gembira, atau lelah.

Saya menulis seperti orang lain melangkah maju mundur.

Pikiran saya, sebaris semut, tak pernah diam,

tetapi mengembara dalam penjelajahannya terhadap segala hal.”

Karya puisi Picasso bersifat eksperimental, dengan seringkali mengekspresikan pikiran dan emosi yang tidak langsung. Bisa kita simak juga karya yang lainnya,  Berikut salah satu contoh puisi dari Picasso yang mencerminkan gaya surealisnya:

“Bau tempat tidur

bau malam

bau matahari

bau pergelangan tangan pembantu

bau waktu yang berlalu di bawah celah pintu…”

Di sini, kita bisa melihat bagaimana Picasso mencoba menangkap bukan hanya benda atau objek fisik, tetapi juga aspek tak kasat mata, seperti waktu dan perasaan, melalui deskripsi aroma. Puisi ini hampir seperti catatan tentang momen-momen inderawi, cara yang sangat pribadi bagi Picasso untuk mengekspresikan dunianya.

Pablo Picasso dan istrinya, Francoise Gilot 1952

Seperti kita ketahui, tahun 1930-an adalah masa ketika gerakan surealisme dan eksperimentalitas dalam seni berkembang pesat di Eropa. Penulis seperti André Breton dan pelukis Salvador Dalí adalah beberapa tokoh terkenal dari gerakan ini, yang juga berusaha menggali alam bawah sadar, mimpi, dan realitas yang tidak masuk akal. Picasso, meskipun lebih dikenal karena seni visualnya, tampaknya sangat dipengaruhi oleh trend ini dalam puisi-puisinya.

Meskipun tidak sepopuler karya visualnya, puisi-puisi Pablo Picasso telah menarik perhatian beberapa kritikus sastra. Mereka tertarik dengan pendekatan unik Picasso terhadap bahasa dan bentuk. Reaksi para kritikus terhadap puisi Picasso bervariasi, mulai dari kekaguman terhadap eksperimen bahasanya hingga kebingungan atas sifat puisinya yang sulit diakses (Istilah penyair Umbu Landu : ‘puisi gelap’). Berikut adalah beberapa pandangan kritikus sastra tentang karya puisinya:

Banyak kritikus mengakui bahwa puisi-puisi Picasso sangat eksperimental, mencerminkan sifat “avant-garde” yang sama dengan lukisan-lukisannya. Mereka menekankan bahwa Picasso tidak mengikuti norma-norma puitis tradisional, seperti ritme atau meter yang teratur. Dia menggunakan kata-kata seperti sapuan kuas, menciptakan gambar mental dan atmosfer yang bersifat fraktal dan tidak logis. Beberapa kritikus membandingkan teknik puisinya dengan gerakan surealis dan dadaisme, yang sama-sama mendekonstruksi konvensi linguistik.

Beberapa kritikus menganggap puisi Picasso sebagai perpanjangan dari seni visualnya, di mana ia terus bermain dengan bentuk, warna, dan ruang, tetapi dalam medium kata-kata. Saya menyebutnya kosa bentuk, kosa warna, kosa garis, kosa ruang – dalam memahami perbendaharaan teknik senirupa. Menurut mereka, meskipun Picasso adalah seorang pelukis dan pematung yang terlatih secara visual, dia mencoba mengubah persepsi pembaca melalui bahasa seperti halnya dia mengubah persepsi penikmat melalui gambar kubistik

Penulis dan kritikus sastra Pierre Daix, misalnya, mengomentari bahwa puisi Picasso mencerminkan kebebasan berpikir yang sama yang diterapkan dalam karya-karya visualnya. Ini, sebuah upaya untuk melepaskan diri dari batasan logika atau narasi linier. Daix melihat puisi-puisi Picasso sebagai “coretan-coretan pikiran” yang mirip dengan bagaimana Picasso bekerja di atas kanvas: spontan dan eksperimental.

Sementara itu, kritikus John Richardson dalam biografinya tentang Picasso, menulis bahwa puisi Picasso sulit untuk dipahami dalam konteks sastra tradisional, tetapi bila dilihat sebagai ekspresi artistik yang lebih luas, maka akan ditemui refleksi dari pikirannya yang selalu terobsesi dengan bentuk dan komposisi.

Coretan puisi Picasso

Di sisi lain, ada juga kritikus yang merasa bahwa puisi Picasso terlalu eksperimental dan sulit diakses. Kritik ini terutama berasal dari mereka yang mencari kejelasan dan struktur dalam puisi. Mereka menyoroti bahwa meskipun eksperimentasi linguistik Picasso menarik, hal itu kadang membuat puisinya sulit untuk dibaca secara menyeluruh atau dinikmati sebagai karya sastra mandiri.

Salah satu kritik datang dari Geoffrey Grigson, seorang penyair dan kritikus sastra, yang mengatakan bahwa puisi Picasso tampak seperti latihan spontan yang tidak pernah benar-benar disusun atau diperhalus. Bagi Grigson, karya-karya ini tampak seperti “buku catatan pribadi” daripada karya sastra yang lengkap dan koheren. Beberapa kritikus lain setuju dengan pandangan ini, menilai bahwa puisi Picasso lebih merupakan produk dari percobaan pribadi daripada upaya serius untuk menciptakan sastra yang bertahan lama.

Saya pribadi kurang setuju dengan Grigson. Menurut saya, karya Picasso membuka jalur baru untuk memahami hubungan antara bahasa dan gambar. Saya melihat  bagaimana seniman seperti Picasso menggunakan puisi untuk menjelajahi apa yang tidak dapat audiens capai dengan gambar, yaitu permainan linguistik, suara, dan arti kata-kata.Saya menghargai keberanian Picasso untuk mengeksplorasi bahasa dan bentuk baru, meskipun hasil akhirnya mungkin tidak selalu berhasil menurut standar puitis konvensional. Saya menyebut upaya Picasso ini sebagai tekstualisasi karya rupa.

Pablo Picasso dan Olga Khokhlova

Namun, bagi sebagian besar pembaca umum, puisi Picasso sering kali dinilai terlalu eksperimental atau tidak mudah dimengerti. Beberapa kritikus bahkan berpendapat bahwa puisi-puisinya mungkin tidak akan dihargai sebanyak ini jika bukan karena nama besar Picasso sebagai seniman visual, sebuah kritik yang menunjukkan bahwa reputasi Picasso sebagai pelukis bisa jadi membayangi karyanya di bidang sastra.

Memang harus kita akui bahwa karyanya sangat eksperimental dan tidak mengikuti konvensi sastra tradisional. Namun, saya  melihatnya sebagai perpanjangan alami dari karya visualnya yang penuh dengan kebebasan dan eksperimentasi. Masih menurut saya, puisi-puisi Picasso tetap menjadi bagian penting dari upayanya yang lebih luas dalam mengeksplorasi berbagai bentuk seni, dan menawarkan perspektif tambahan tentang pemikirannya sebagai seorang seniman yang selalu medobrak batas-batas kreativitas. Picasso, setidaknya mengajari kita semua tentang bagaimana meretas ‘dinding beku’ kreatifitas. Baiknya, saya petik puisi Picasso yang berjudul “A Lonely Road Is That I Walked”. …// Aku berjalan di jalan sepi, satu-satunya yang pernah kukenal// Aku tidak tahu ke mana arahnya, tetapi aku terus berjalan dan terus berjalan//….(Hartanto)

  • Puisi-puisi Pablo Picasso, dikutip dari https://www.poemhunter.com/pablo-picasso/ – Di terjemahkan oleh : Dewi Rinjani.
  • Sejumlah referensi dan foto-foto diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
‘Narasi Naïve Visual’ Ni Komang Atmi Kristia Dewi
‘Prosa Liris Visual’ Made Gunawan
‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa
Satire Visual Wayan Setem
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Tags: Pablo PicassoPuisiSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata

Next Post

Film Cina dan Drama Cina, Mana yang Paling Seru?

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
0
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

Read moreDetails

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
0
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails
Next Post
Film Cina dan Drama Cina, Mana yang Paling Seru?

Film Cina dan Drama Cina, Mana yang Paling Seru?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co