ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama pada KTP-nya? Pertanyaan ini mungkin terdengar jenaka, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan mendasar tentang cara kita memandang seni, agama, politik, dan kemanusiaan. Mengapa sesuatu yang dapat dinikmati manusia lintas bangsa dan kepercayaan justru bisa menjadi sumber perdebatan yang mempertajam sekat-sekat identitas?
Musik tidak memiliki KTP. Ia tidak mempunyai kolom agama, suku, kebangsaan, apalagi afiliasi politik. Nada tidak mengenal batas negara, melodi tidak membutuhkan paspor, dan harmoni tidak meminta seseorang menunjukkan identitas sebelum menyentuh perasaannya. Musik hadir sebagai salah satu ekspresi kebudayaan manusia yang mampu melampaui perbedaan bahasa, meskipun cara manusia menciptakan dan menikmatinya tetap dipengaruhi oleh latar belakang budaya masing-masing.
Musik, Bahasa Universal Kemanusiaan
Andrea Bocelli merupakan salah satu penyanyi tenor yang suaranya dikenal luas di berbagai belahan dunia. Ketika ia menyanyikan lagu berbahasa Italia, tidak semua pendengarnya memahami arti setiap kata. Namun, mereka tetap dapat menikmati keindahan vokalnya, merasakan suasana yang dibangun, bahkan tersentuh tanpa mengetahui secara persis apa yang sedang dinyanyikannya. Bukankah di situlah salah satu keajaiban musik?
Bahasa verbal membutuhkan pemahaman atas kata-kata, sedangkan musik dapat menyampaikan pengalaman emosional tanpa harus diterjemahkan terlebih dahulu. Orang Indonesia bisa menikmati musik klasik Barat, masyarakat Eropa dapat terpesona oleh gamelan Bali, dan pendengar dari berbagai negara bisa menemukan keindahan dalam musik India. Perbedaan agama tidak serta-merta menghalangi manusia untuk merasakan pengalaman artistik yang sama.
Musik memang bukan satu-satunya bahasa universal, dan tidak semua orang meresponsnya dengan cara yang sama. Namun, kemampuannya menjembatani perbedaan merupakan potensi kemanusiaan yang sangat berharga. Ketika manusia mampu duduk bersama, mendengarkan lagu yang sama, dan menikmati keindahan yang sama, sesaat mereka dapat melampaui identitas yang biasanya memisahkan. Musik tidak mengharuskan kita menjadi sama untuk menikmati sesuatu bersama-sama.
Ketika Seni Bertemu Politik dan Agama
Polemik konser Bocelli di Indonesia memperlihatkan bahwa persoalannya tidak sesederhana urusan musik. Penolakan yang disuarakan Majelis Ulama Indonesia berkaitan dengan rekam jejak penyanyi tersebut yang dipandang menunjukkan dukungan terhadap Israel. Di tengah penderitaan rakyat Palestina, persoalan semacam ini tentu menyentuh kepekaan kemanusiaan, solidaritas, dan sikap politik masyarakat Indonesia.
Kepedulian terhadap Palestina merupakan persoalan serius. Penjajahan, penderitaan warga sipil, dan hilangnya hak-hak dasar manusia tidak boleh dianggap remeh. Amanat Pembukaan UUD 1945 pun menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Karena itu, keberatan masyarakat terhadap tindakan atau sikap yang dianggap bertentangan dengan nilai tersebut patut didengar.
Namun, kita juga perlu membedakan antara seorang seniman, karya seninya, dan sikap politik pribadinya. Ketiganya berkaitan, tetapi tidak selalu identik. Menghargai kualitas vokal Bocelli tidak otomatis berarti menyetujui seluruh pandangan politiknya. Sebaliknya, mengkritik sikap politiknya tidak mengharuskan kita menyangkal kualitas artistik yang dimilikinya.
Tentu, pembedaan tersebut bukan alasan untuk mengabaikan fakta atau membebaskan tokoh publik dari pertanggungjawaban atas sikapnya. Setiap tuduhan perlu diperiksa berdasarkan bukti dan konteks yang jelas. Yang perlu dihindari ialah penilaian serampangan, generalisasi, serta kebencian yang justru mengaburkan persoalan utama. Kita bisa tegas memperjuangkan keadilan tanpa kehilangan kemampuan berpikir jernih.
Dari Identitas Menuju Kesadaran
Persoalan ini menjadi lebih menarik ketika kita melihatnya melalui perspektif kesadaran manusia. Dalam kerangka Panca Maya Kosha, sebagaimana dijelaskan dalam Taittiriya Upanishad, manusia dapat dipahami melalui lima lapisan: Annamaya, Pranamaya, Manomaya, Vijnanamaya, dan Anandamaya Kosha. Kerangka ini dapat menjadi sarana refleksi untuk melihat bagaimana manusia merespons suatu peristiwa, dari pengalaman fisik hingga pencarian kedalaman batin.
Pada lapisan fisik, konser merupakan pertunjukan yang melibatkan penyanyi, penonton, tempat, dan berbagai kepentingan ekonomi. Pada lapisan energi dan emosi, kita menjumpai antusiasme pencinta musik, kebanggaan, kemarahan, serta kepedulian terhadap penderitaan sesama. Pada lapisan intelijensia, kita dituntut memeriksa fakta, memahami konteks, dan menimbang argumentasi sebelum mengambil kesimpulan.
Sementara itu, perjalanan menuju kesadaran yang lebih dalam mengajak kita melihat persoalan tanpa diperbudak oleh ego kelompok. Ini bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan berusaha memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan. Kita tidak harus menyetujui semua tindakan seseorang untuk tetap menghormati martabatnya sebagai manusia.
Peta Kesadaran Hawkins juga dapat digunakan sebagai lensa reflektif. Kemarahan terhadap ketidakadilan dapat menjadi dorongan untuk bertindak, tetapi tindakan yang membawa perubahan membutuhkan keberanian, kebijaksanaan, dan kasih. Jika kepedulian hanya berhenti pada kemarahan terhadap pihak yang berbeda, energi kita berisiko habis dalam pertentangan. Sebaliknya, apabila kepedulian diwujudkan melalui bantuan kemanusiaan, pendidikan, dan dukungan nyata kepada mereka yang menderita, perjuangan memperoleh makna yang lebih luas.
Menikmati Musik Tanpa Kehilangan Nurani
Di sinilah kita perlu menempatkan musik secara proporsional. Universalitas musik tidak berarti semua konser harus diterima tanpa pertimbangan. Penyelenggaraan sebuah acara tetap dapat dinilai berdasarkan hukum, etika, situasi sosial, dan dampaknya. Masyarakat berhak menyampaikan keberatan secara damai, sementara penyelenggara berkewajiban menjelaskan sikap dan tanggung jawabnya secara terbuka.
Namun, jangan sampai perdebatan mengenai seorang penyanyi membuat perhatian kita terhadap penderitaan rakyat Palestina justru menyusut menjadi sekadar pertengkaran tentang sebuah konser. Solidaritas perlu dibuktikan melalui konsistensi tindakan, bukan hanya melalui simbol penolakan. Apakah kita turut mendukung bantuan kemanusiaan? Apakah kita peduli terhadap anak-anak yang kehilangan keluarga dan kesempatan belajar? Apakah kita terus menyuarakan perdamaian ketika perhatian publik beralih kepada persoalan lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengecilkan arti sikap politik. Sebaliknya, pertanyaan itu mengajak kita mengukur perjuangan berdasarkan tujuan kemanusiaannya. Jangan sampai kita begitu sibuk mempertentangkan identitas sehingga melupakan manusia yang seharusnya kita bela.
Saya teringat semangat One Earth, One Sky, One Humankind yang diperjuangkan Guruji Anand Krishna. Satu Bumi, Satu Langit, Satu Kemanusiaan. Gagasan ini tidak meminta kita menghapus identitas. Kita justru diajak melampaui pandangan sempit agar mampu memperjuangkan keadilan dan memberikan pelayanan tanpa pamrih dengan cakrawala kemanusiaan yang lebih luas.
Pada akhirnya, musik tidak punya KTP, tetapi manusia sering kali menjadikan identitas sebagai batas pergaulannya. Barangkali yang perlu kita periksa bukan identitas agama sebuah lagu, melainkan kedalaman kesadaran kita sendiri.
Musik dapat menyatukan manusia dalam keindahan, tetapi keindahan saja tidak cukup untuk mewujudkan perdamaian. Kita tetap membutuhkan keberanian melawan ketidakadilan, kejernihan menilai fakta, dan simpati yang tidak diskriminatif.
Sebagai penutup, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Saraswati, izinkan saya mengucapkan Selamat Hari Raya Saraswati. Saraswati merupakan simbol pengetahuan, kebijaksanaan, dan seni, khusunya musik. Ketiganya bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dalam perjalanan manusia menuju kesadaran yang lebih utuh. Inilah Three in One, yang mengingatkan kita pada ungkapan Satyam, Shivam, Sundaram: Kebenaran, Kebajikan atau Keilahian, dan Keindahan.
Bukankah musik merupakan salah satu ekspresi keindahan yang dapat mengantarkan manusia untuk merasakan harmoni, bahkan ketika mereka berbeda bahasa, bangsa, dan agama? Pengetahuan membantu kita memahami, kebijaksanaan menuntun kita mengambil sikap, dan seni menyentuh sisi kemanusiaan yang terkadang tidak terjangkau oleh kata-kata.
Semoga Hari Raya Saraswati mengingatkan kita bahwa pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat kehilangan arah, Pengetahuan tanpa seni akan kering dan dapat kehilangan kehangatan, dan keindahan. Sebab, pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan sekadar manusia yang berpengetahuan, melainkan manusia yang bijaksana dan mampu menghadirkan keindahan dalam kehidupan bersama. [T]






























